
Jam dinding menunjukkan pukul tujuh pagi saat Ken keluar dari kamar dibantu oleh Aira. Ia membawa suaminya yang duduk di atas kursi roda sampai di depan meja makan. Sudah ada Kosuke, Minami dan juga Mone yang duduk manis di kursi mereka masing-masing.
Kosuke beranjak berdiri saat melihat Ken keluar, berniat menjemputnya, namun langkahnya terhenti saat mendapati gelengan kepala Aira.
"Selamat pagi semuanya. Wah, pagi ini ada banyak orang ya," sapa Aira dengan senyum terkembang, berbanding terbalik dengan Ken yang berwajah masam.
"Selamat pagi, Tuan Muda, Nona," jawab Kosuke dan Minami berbarengan.
Mone tersenyum menatap Aira yang terlihat sangat bahagia pagi ini. Mungkin hal baik terjadi padanya semalam, entahlah. Ia berdoa dalam hati, semoga kakaknya selalu berbahagia.
"Apa aku boleh ikut bergabung?" tanya sebuah suara yang tidak asing di telinga Aira, membuatnya menoleh ke arah pintu masuk. Disana berdiri seorang pria yang serupa dengan suaminya. Ia membawa seikat bunga di tangannya dengan tatap mata yang menggoda. Tangan kirinya bersandar di dinding, seolah bersiap menggoda gadis pujaannya.
"Yamaken," Aira segera berlalu ke arah adik iparnya di depan pintu, menyambut pria itu dengan senyum termanis yang ia miliki, "Manager bilang kamu tidak ada waktu."
"Wanna play with me?" bisik Yamaken, mengerlingkan sebelah matanya pada Aira, "Lets do it."
(Ingin bermain denganku? Ayo kita lakukan)
"Ah, Pak Tua itu? Lain kali langsung hubungi ponselku saja. Aku akan datang kapanpun kakak memanggilku," rayunya seraya menyerahkan bucket mawar merah itu pada Aira, sengaja memancing kecemburuan Ken.
Aira mencium aroma bunga yang masih segar itu, "Terima kasih. Apa kamu memetiknya sendiri?" tanya Aira basa-basi.
"Tentu saja, demi kakak iparku tersayang, aku akan melakukan apa saja. Jangankan bunga mawar, pohon kelapa pun bisa aku cabut jika kakak yang memintanya," canda Ken yang membuat semua orang di ruangan ini tersenyum, kecuali Ken.
"Ekhemm," Ken berdeham untuk mengingatkan Aira tentang keberadaannya di tempat ini. Ia tidak suka karena istrinya lebih memperhatikan adik kembarnya.
Aira segera berbalik menatap suaminya yang mulai mengeluarkan aura gelap di sekitarnya. Ia kesal, marah, dan tentu saja cemburu. Bunga dari Yamaken diletakkan begitu saja di atas meja, urusan nanti jika Ken sudah berangkat ke kantor. Ya, hari ini suaminya akan berangkat bekerja karena ada hal-hal yang tidak bisa hanya diwakili oleh Kosuke selaku asisten pribadi. Beberapa klien memaksa ingin bertemu Ken untuk membicarakan kerjasama bisnis mereka.
Aira menyajikan semangkuk nasi putih hangat untuk suaminya, terlihat dari asap halus yang menguar di atasnya sebelum menghilang sempurna. Di sebelahnya ada mangkuk lain berisi tamagoyaki (telur gulung) dan sup ayam yang berkuah bening. Makanan permintaan Ken.
"Ah, Yamaken, ayo makan bersama. Mone yang memasak semua ini. Dia pintar memasak, aku pastikan kamu tidak akan kelaparan nantinya," jelas Aira sembari sibuk meladeni suaminya.
"Eh?" Mone sedikit terlonjak mendengar ucapan Aira, "Nani kore?"
(Apa-apaan ini?)
Aira mengerlingkan matanya pada Mone, berniat menggodanya. Ia tahu bahwa adik sepupunya ini menaruh simpati pada adik iparnya.
"Apa kabar?" sapa Yamaken pada Mone yang duduk tepat di depannya.
"Ba.. Baik," jawab Mone tergagap. Ia tidak tahu Yamaken akan datang. Aira tidak memberitahunya sama sekali.
"Sayang, bisa tolong siapkan makanan untuk Yamaken?" Aira menatap Mone sambil memberikan kode bahwa gadis itu harus mengambil mangkuk tambahan untuk adik iparnya.
"Saya akan menyiapkannya," Kosuke bersiap pergi saat Minami menahan lengannya.
"Nona tidak menyuruhmu!" geram Minami pada suaminya. Ia semakin mencengkeram lengan Kosuke agar mengurungkan niatnya. Pria ini tidak peka pada kode yang Aira berikan. Jelas-jelas Aira meminta Mone untuk 'melayani' kembar identik tuan mereka itu.
__ADS_1
"Adikku sayang," Aira tersenyum ke arah Mone dan melirik dapur dimana peralatan makan disimpan.
"Baiklah,"
Mone meninggalkan meja makan demi menuruti keinginan Aira. Ia heran kenapa Yamaken tiba-tiba datang. Padahal dia pasti memiliki segudang agenda yang tidak bisa ditinggalkan. Wanita hamil itu pasti sedang berusaha menjodohkannya dengan Yamaken.
"Yang benar saja," Mone mengangkat sebelah bibirnya sambil bergumam tak jelas. Sedetik kemudian ia merubah ekspresinya, tersenyum ceria, "Jika kami memang bisa berjodoh, kenapa tidak?" celotehnya lirih.
"Jangan gunakan panggilan itu untuknya!"
"Nani?" tanya Aira tak mengerti maksud pembicaraan suaminya.
(Apa?)
"Satu-satunya orang yang boleh kamu panggil dengan sebutan sayang hanya aku seorang. Tidak ada yang lain!" titah Ken pada istrinya.
"Puftt...," Aira menutup mulutnya dengan tangan, menahan tawanya yang bersiap meledak. Ia gemas sekali pada suaminya ini. Bahkan memanggil Mone dengan sebutan 'sayang' saja tidak boleh.
"Apa kamu juga cemburu pada wanita? Kenapa aku tidak boleh memanggilnya 'sayang'? Kamu tidak berhak melarangku. Terlebih dia itu adik sepupuku sendiri, bukan orang lain. Jadi tidak masalah jika aku ingin memanggilnya sayang, honey, bunny, sweetie, lovely, hearty, atau apapun itu," sanggah Aira.
"Tidak boleh!" tegas Ken tanpa tapi.
"Kenapa tidak boleh? Kamu lupa hukumanmu?" tanya Aira sembari meletakkan mangkuk yang tadi ia pegang, "Kalau begitu makan saja sendiri. Aku tidak akan menyuapimu,"
"Hukuman? Kakak ipar sedang menghukum kakakku? Hukuman seperti apa itu?" tanya Yamaken penasaran.
"Dia kehilangan hak dominasinya selama perban di tangan dan kakinya belum dilepas," jawab Aira penuh percaya diri. Ia merasa di atas awan sekarang setelah menentukan hukuman yang tepat untuk suaminya semalam.
"Aku baru pernah mendengarnya," Yamaken mengerutkan keningnya karena heran. Ia bertanya setelah mengucapkan terima kasih pada Mone tanpa bersuara, hanya menggerakkan bibirnya saat keduanya beradu pandang sekilas.
"Benar. Dominasi adalah penguasaan pihak yang lebih kuat terhadap pihak yang lebih lemah. Dan suamiku sedang berada di titik lemahnya sekarang. Dia akan kesulitan makan ataupun berjalan tanpa bantuan orang lain. Itu artinya, aku yang lebih berkuasa di sini. Benar kan?"
Lagi-lagi semua orang kembali tersenyum, kagum pada hukuman aneh itu. Dan ternyata alasan Aira lebih aneh lagi. Bukannya mendukung suaminya yang masih dalam masa penyembuhan, memberikan motivasi atau apalah itu, ia justru menikmati kelemahan suaminya dengan bersikap semena-mena padanya. Namun Kosuke-Minami maupun Yamaken dan Mone, mereka diam-diam menyetujui gagasan anti mainstream itu.
*anti mainstream : tidak biasa
Mungkin bagi sebagian orang, penindasan akan membuat mereka semakin terpuruk. Lain halnya dengan pria bermarga Yamazaki ini. Semakin seseorang menindasnya, semakin besar keinginannya untuk berjuang. Dan Aira sangat memahami hal itu. Tentu saja Aira hanya bercanda tentang hak dominasi yang ia ungkapkan, ia hanya ingin Ken menurutinya agar lukanya cepat membaik.
"Jadi, sebelum tangan dan kakinya sembuh, kakak ipar adalah pemegang kekuasaan tertinggi di rumah ini?" pancing Yamaken. Ia ingin membuat Ken semakin kesal. Jarang-jarang ada kesempatan emas semacam ini, kan?
"100," jawab Aira membenarkan ucapan Yamaken. Ia menunjukkan ibu jari dan jari telunjuknya di bawah dagu yang membentuk tanda ceklis.
Ken memutar matanya dengan malas. Ia heran sejak kapan istrinya bersikap narsis seperti ini? Rasanya Ken melihat sosok yang lain pada wanita kesayangannya ini. Aneh.
"Ah, makanannya sudah dingin. Ayo makan!" perintah Aira.
"Itadakimasu..."
(Selamat makan)
__ADS_1
Wanita hamil itu menyuapi Ken dengan telaten. Ia bahkan menunda sarapannya sendiri demi mengurus 'bayi besar'nya ini. Ia tidak ingin Ken kelaparan dan membuat fokus bekerjanya terganggu.
Makan pagi selesai beberapa menit kemudian. Mone sedang membersihkan bekas makan mereka dibantu oleh Minami. Kosuke sibuk di ruang kerja Ken guna membereskan beberapa dokumen yang sempat ia kirimkan kemarin. Ada beberapa pengajuan kerjasama yang harus dibaca terlebih dulu oleh atasannya itu sebelum mereka bertemu dengan klien.
"Ada apa dengan lehermu?" tanya Yamaken yang kini duduk santai di balkon, menatap butiran salju yang sesekali turun di penghujung musim dingin ini.
"Apa?" tanya Ken sembari mengarahkan ponselnya ke leher. Benda pipih itu difungsikan sebagai cermin olehnya.
"Mungkinkah itu tanda cinta yang dibuat kakak ipar semalam?" goda Yamaken pada kakak kembar identiknya.
Kelopak mata Ken membulat saat bayangan di ponsel menampilkan ceruk lehernya yang memerah di beberapa bagian. Dan itu terlihat sangat jelas. Ken tidak sadar ada 'bekas cinta' yang sengaja Aira tinggalkan semalam. Istrinya itu pasti sengaja melakukannya.
"Jadi, dia benar-benar menguasaimu semalam? Aku terkejut, Kak. Kakak ipar yang dulu hanya seorang gadis lemah tak berdaya, sekarang benar-benar mendominasi dalam segala hal."
"Semua orang bisa berubah. Dan aku seperti ini karena kakakmu yang mengajarkannya padaku," cetus Aira yang tiba-tiba berdiri di belakang Ken. Ia mengalungkan syal berwarna hitam di leher suaminya untuk menutupi bekas kemerahan hasil perbuatannya semalam, "Maaf jika ini tidak nyaman untukmu, tapi aku tidak ingin siapapun menertawakan suamiku yang tak berdaya ini," canda Aira.
Cup
Wanita hamil itu mengalungkan tangannya dari belakang tubuh Ken dan mencium pipinya sekilas, "Ayo berangkat." ajaknya sambil tersenyum.
Yamaken berdiri dan membantu mendorong kursi roda kakaknya sampai ke ruang tamu. Disana ada Minami yang siap sedia mengantarkan tuan dan nona muda mereka ke kantor.
"Yamaken, bisakah kamu mengantarkan Mone pulang ke rumah?" tanya Aira pada Yamaken.
"Aku bisa pulang sendiri," tolak Mone segera.
"Baiklah. Pulanglah sendiri dan jangan pernah datang kemari lagi!" ancam Aira dengan senyum di wajahnya. Senyuman yang menunjukkan bahwa ia tidak bisa dibantah.
"Kakak..," rengek Mone.
"Yamaken, aku serahkan dia padamu. Kami akan berangkat sekarang. Sampai jumpa," pamitnya pada dua orang yang tertinggal beberapa langkah di belakangnya.
Ken, Aira dan Minami masuk ke dalam lift yang akan membawa mereka turun ke lantai dasar dimana Kosuke sudah menunggu di dalam mobil.
"Kamu ingin menjodohkan mereka berdua?" tanya Ken, menatap pantulan istrinya di dinding lift yang tampak mengilap.
"Benar. Apa kamu keberatan?" tanya Aira mengonfirmasi, "Mereka cocok satu sama lain, kenapa tidak?"
Ken hanya bisa menghembuskan nafas sambil meraup wajahnya dengan tangan, ia benar-benar tidak tahu betapa 'liarnya' Aira sekarang. Benarkah perubahan sikap istrinya ini karena ia yang mengajarinya? Entahlah...
...****************...
Weekday lagi...
Kerja lagi...
Ya udah sii, syukuri yang ada 😄
Bye-bye
__ADS_1
Hanazawa Easzy 💞