Gangster Boy

Gangster Boy
Gangster Boy : CITO!


__ADS_3

Senja menyapa, menyiratkan sinar jingga di angkasa. Seorang wanita berlari melewati koridor rumah sakit yang cukup lengang. Bunyi gemeletuk sepatu hak yang menapak lantai terdengar bersahutan, membuat beberapa orang menengok ke sumber suara. Tiga orang berpakaian hitam menyusul di belakang, mengikuti jejak wanita 52 tahun itu, menuju salah satu ruang perawatan di lantai dua. Wajahnya menampilkan rasa takut dan khawatir di saat yang bersamaan.


"Dimana dia?" tanya nyonya Sumari pada Kosuke yang berdiri di depan pintu dengan beberapa luka di wajahnya.


"Tuan masih ada di ruang operasi," jawabnya dengan suara bergetar.


Plakk


Sebuah tamparan mendarat di wajah pria berkulit putih itu.


"Apa yang kamu lakukan sampai membuat putraku terluka? Kemasi barangmu dan jangan pernah muncul di hadapanku!" hardik nyonya Sumari pada asisten pribadi anaknya. Ia begitu emosi saat mendengar kabar dari Yamaken tentang kondisi kakak kembarnya setengah jam yang lalu.


"Bu, sudahlah. Ayo duduk." Yamaken membawa ibunya ke tempat duduk, menjauh dari Kosuke yang hanya bisa menundukkan kepala karena merasa bersalah. Ia paham benar seperti apa sifat Nyonya di keluarga yang telah ia layani selama bertahun-tahun ini.


"Sayang, bagaimana keadaanmu? Apa kamu terluka?" tanya nyonya Sumari sambil meraih tangan menantunya. Ia menangkup pipi Aira yang memasang wajah tanpa ekspresi.


Aira hanya menggeleng lemah. Matanya sayu, sembap dan layu. Semangat hidupnya meredup, tak ada lagi cahaya yang terlihat di sana. Wajahnya pucat pasi seperti mayat hidup.


"Oeek... oeekk.... " Tangisan Aya memecah keheningan di depan ruang operasi itu.


"Maaf, Nyonya, nona Aya terus menangis." Sakura mendekat, membawa bayi yang belum genap berusia empat puluh hari itu pada Aira.


Aira mengambil alih putrinya, memeluknya ke dalam dekapan dan masuk ke ruangan khusus yang bisa digunakan untuk menyusui. Ia duduk di salah satu sisi ruangan dan mulai menyusui putrinya.


Jemari Aira mengelus pipi kemerahan Aya, matanya berkaca-kaca. Perasaannya tertohok saat kembali mengingat keadaan Ken.


FLASHBACK


Pertempuran melawan geng Naga Hitam di bawah pimpinan Tuan Harada berakhir dengan kemenangan mereka. Berkat bantuan ninja bayangan utusan kakek, ratusan orang itu akhirnya berhasil ditaklukkan.


Mereka bernapas lega saat berhasil memenangi pergulatan ini. Mereka bersiap pulang dan istirahat di rumah masing-masing. Namun agaknya keadaan tak sesuai harapan. Ken yang kehilangan banyak darah, tak sadarkan diri dan membuat Aira panik detik itu juga. Ia mengguncang puncak lengan suaminya beberapa kali. Nihil. Tak ada respon sedikitpun.


Dokter Kaori segera mendekat. Ia memeriksa denyut nadi di pergelangan tangan Ken yang semakin melemah. Matanya segera memindai tubuh tak berdaya di depannya dan menangkap adanya luka di puncak lengan Ken yang terus mengeluarkan darah.


"Yu, kotak P3K!" teriak Kaori pada sahabatnya, meminta gadis cantik itu mencarikan kotak obat untuknya.


Yu segera berlari menuju salah satu mobil yang terparkir di tepi halaman luas ini. Ia berusaha membuka pintu salah satunya, namun sayang sekali pintunya terkunci.


'Sial!' geram Yu tertahan di dalam hati. Waktunya tidak banyak. Melihat ekspresi Kaori dan Rara, ia yakin kondisi Ken tidak baik-baik saja saat ini.


PYARR

__ADS_1


Yu terpaksa menghancurkan kaca mobik di depannya dengan siku dan mengambil satu kotak yang diminta Kaori. Kotak berwarna putih itu berisi perban, plester, sarung tangan sekali pakai, tisu pembersih bebas alkohol, gunting, pinset, krim antiseptik, obat pereda nyeri, obat batuk, tablet antihistamin, cairan pembasuh luka dan kantong plastik bersih.


"Aira, tolong bantu aku." Kaori berusaha mengehentikan pendarahan yang terjadi pada Ken dengan cara menekan area yang terluka. "Tekan seperti ini!" pinta Kaori.


Dokter cantik itu mengambil perban yang Yu ulurkan. Ia kembali menekan luka bekas tebasan katana itu, berharap darah Ken tidak lagi merembes ke luar. Namun agaknya keadaan tidak sesuai seperti yang ia harapkan. Darah yang keluar dari lengan Ken tak juga berhenti, menembus melewati perban putih yang kini berubah warna menjadi merah.


Dengan cekatan, Kaori melapisi perban sebelumnya dengan kapas dan menutupnya lagi dengan perban yang baru. Ia terus menekannya hingga pendarahan berhenti.


"Jangan membuka perban ini sebelum sampai ke rumah sakit. Cukup cek secara berkala untuk memeriksa apakah darahnya sudah berhenti mengucur atau belum!" Kaori menatap tepat di manik mata Aira yang tak henti menangis dalam diam.


Beberapa orang segera datang, membawa tandu dan membantu menaikkan Ken ke dalam ambulan yang baru saja datang. Kosuke sigap memanggilnya sesaat setelah pertempuran ini berhenti.


"Apa dia akan baik-baik saja?" tanya Aira dengan suara serak. Ia ikut naik ke dalam ambulan bersama Kaori, bersiap menuju rumah sakit yang berjarak beberapa kilometer dari pegunungan ini.


"Dia akan baik-baik saja selama mendapat pertolongan yang tepat. Tenanglah, kita akan segera sampai di rumah sakit."


Kendaraan medis itu segera melaju menuruni bukit dengan suara sirene yang meraung-raung, tepat saat matahari berada di atas ubun-ubun.


Kaori sibuk memeriksa tanda vital pasiennya. Ia memasang ventilator di hidung Ken setelah merasakan napas Ken semakin melemah. Sesekali ia memeriksa perban di lengan kanan Ken yang kini berubah menjadi warna merah. Ia menatap arloji di pergelangan tangannya.


"Siapkan ruangan operasi. CITO!" Kaori berucap setelah panggilan teleponnya terhubung.


Bila seorang dokter bedah mengatakan bahwa seorang pasien perlu operasi cito artinya operasi harus dipersiapkan sesegera mungkin untuk menyelamatkan nyawa atau mencegah kecacatan permanen.


Aira paham benar apa arti istilah medis itu. Genggaman tangannya pada jemari Ken semakin erat. Suaminya kehilangan banyak darah sekarang. Hal ini dapat mengurangi pasokan oksigen ke organ-organ vital tubuh, seperti otak dan jantungnya. Peredaran darah yang terganggu, kemungkinan itulah penyebab utama suaminya pingsan.


"Aira, tolong buka kancing baju suamimu atau longgarkan ikat pinggangnya. Itu akan membuat napasnya sedikit lega." Kaori kembali sibuk membersihkan luka lainnya yang ada di tubuh Ken. Ia mengabaikan lukanya sendiri demi menyelamatkan orang paling berpengaruh di Miracle ini.


Aira menuruti perintah Kaori. Ia melonggarkan ikat pinggang yang Ken pakai dan membuka dua kancing teratas kemeja suaminya. Sepatu hitam yang tampak berdebu juga Aira lepas. Setelahnya ia kembali menggenggam jemari Ken.


'Sayang, bertahanlah demi anak-anak kita,' lirih Aira dalam hati.


Ingatan akan kelas medis kembali berputar di kepalanya. Kata-kata instrukturnya kala itu kembali terngiang-ngiang di telinganya.


Ada 2 tipe perdarahan, yaitu perdarahan yang berasal dari pembuluh darah vena dan perdarahan yang berasal dari pembuluh darah arteri. Perdarahan pada pembuluh darah vena berwarna agak gelap dan mengalir secara spontan. Sedangkan perdarahan dari pembuluh darah arteri warnanya lebih terang dan alirannya memancar dari tubuh yang terluka.


Perdarahan pada arteri dapat menyebabkan kondisi kritis, karena biasanya darah yang terpompa akan keluar dengan kecepatan melebihi rata-rata. Akibatnya, korban akan banyak kehilangan darah.


Kendaraan itu sampai di sebuah rumah sakit daerah di Nagano, membuat beberapa petugas segera berlari. Mereka dengan sigap mengambil alih Ken yang kondisinya semakin melemah.


Aira dan Kaori ikut berlari bersama petugas rumah sakit setempat. Mereka menuju ruang operasi seperti yang sudah mereka persiapkan.

__ADS_1


"Maaf, Nyonya. Silakan tunggu di luar!" seorang petugas menahan Aira dan Kaori di depan pintu, mencegah keduanya agar tidak memasuki ruangan steril di belakangnya.


Brukk


Tubuh Aira melangsai ke bawah. Ia terduduk di lantai, merasa lemas dan tidak bertenaga sama sekali. Air mata kembali membasahi pipinya. Dadanya terasa sesak saat harus berpisah dengan orang tersayangnya.


"Aira, ayo duduk." Kaori membantu Aira berdiri. Keduanya duduk di kursi tunggu dengan keadaan kacau. Bau anyir darah segera menyapa indera penciuman Kaori. Ia memeriksa wanita di sampingnya ini dan mendapati luka menganga di punggung tangannya


"Astaga, Aira! Tanganmu terluka! Ayo kita bersihkan." Kaori mengajak Aira beranjak dari tempat itu namun Aira menolak. Ia menggeleng lemah, tak ingin berada jauh dari suaminya.


"Ken akan baik-baik saja di dalam sana. Ayo!" Kaori menyeret tubuh mungil Aira dengan sedikit paksaan. Ia membawanya ke ruangan yang lain dan menghubungi salah satu temannya yang bekerja di rumah sakit ini untuk meminta bantuan. Tubuh Aira terasa begitu dingin. Luka-lukanya harus segera dibersihkan sebelum kondisi fisiknya menjadi semakin buruk.


FLASHBACK END


"Sayang... " Suara nyonya Sumari membangunkan Aira dari lamunannya. Ia mengangkat wajahnya, menatap wanita yang kini berdiri di hadapannya. "Berikan Aya pada Sakura. Kamu harus istirahat," pintanya dengan suara lembut. Ia tidak tega melihat menantunya yang terlihat pucat dan lemah.


Aira menyerahkan putrinya pada pengasuh yang sebulan terakhir membantunya ini. "Dimana Akari dan Azami?" tanya Aira lirih. Ia menatap sekeliling namun tak mendapati kedua putranya dimanapun.


"Mereka masih ada di kediaman Tuan Besar. Nona Aya terus menangis semenjak Anda pergi, jadi saya terpaksa membawanya kemari." Sakura menundukkan kepalanya, merasa bersalah karena tidak bisa menjaga amanah puannya dengan baik.


Klekk


Minami masuk membawa nampan berisi makanan untuk Aira. Ia segera datang setelah Kosuke memberitahunya tentang keadaan tuan mereka yang tengah dalam kondisi kritis.


"Nyonya, makanlah dulu." Minami meletakkan nampan yang dibawanya ke atas meja.


"Minami-chan." Aira memeluk asisten pribadinya dengan erat. Ia kembali menangis dalam pelukan wanita yang telah begitu berjasa selama ini. Hubungan keduanya sangat dekat, lebih dari sekadar asisten dan atasannya, lebih seperti sahabat. Bahkan Aira sudah menganggap wanita ini seperti saudaranya sendiri.


Mereka harus berpisah karena Minami kembali ke Miracle untuk membantu Kosuke. Kerinduan yang Aira rasakan pada sabahatnya itu, bercampur dengan kesedihan hatinya akan kondisi Ken, membuatnya tak bisa lagi membendung tangis. Ia membasahi pakaian Minami dengan air matanya yang tak kunjing berhenti.


Minami menepuk-nepuk punggung nona-nya ini dengan lembut. Ia ikut merasakan kesedihan yang Aira rasakan.


"Nona, saya ada di sini. Tuan Muda akan baik-baik saja," hibur wanita hamil itu setulus hati


...****************...


Speechless Author 😢😭😭😭


Get well soon abang Ken ❤


Hanazawa Easzy

__ADS_1


__ADS_2