
Jam dinding menunjukkan tepat pukul enam pagi saat sebuah mobil berhenti di depan kediaman kakek Yamazaki. Seorang gadis berpakaian putih turun membawa seikat bunga di tangannya. Ia keluar setelah menerima uluran tangan seorang pria berpakaian hitam di depannya. Senyum terlukis di masing-masing wajah dua sejoli ini.
Ya, mereka Mone dan Yamaken. Pasangan muda berbeda usia ini nampaknya sedang ada di puncak kebahagiaannya. Setelah penolakan yang Mone lakukan sebelumnya, pada akhirnya ia berani menyambut perasaan aktor yang dijuluki sebagai Husbu Sejuta Umat ini.
"Kamu cantik," puji Yamaken pada kekasihnya.
"Tentu saja. Aku tahu itu," jawab Mone percaya diri membuat Ken mencubit pipinya yang menggemaskan.
Keduanya melangkah bersama, memasuki pintu utama kediaman kakek Yamazaki. Tak ada siapapun disana, hanya terlihat tuan Kobayashi di kejauhan. Pria yang tak muda lagi itu, tampak sibuk memberikan pengarahan pada bawahannya, para pengawal dan pelayan yang bekerja di rumah ini.
Yamaken melihat tuan Kobayashi ada di rumah ini sejak ia masih kecil, bahkan mungkin beliau sudah bekerja di sini sebelum ia lahir. Sama halnya dengan Kosuke yang bekerja pada Ken sejak bertahun-tahun yang lalu, tuan Kobayashi juga sudah mengabdi pada kakek Yamazaki sejak keduanya masih sama-sama muda.
Saat itu, kakeknya adalah samurai yang disegani di seluruh Yokohama. Bahkan namanya juga dikenal di seantero negeri sakura ini. Entah berapa puluh, atau mungkin ratusan nyawa yang sudah menjadi korban keganasan katana milik kakek. Mendengar ceritanya saja, membuat Yamaken menelan ludah dengan paksa. Dan beliau memberikan hak warisnya pada Ken, kakak kembarnya. Karena beliau tidak memiliki anak laki-laki.
Nyonya Sumari adalah anak semata wayang kakek Yamazaki dengan mendiang istrinya. Entah kenapa kakek tidak menyerahkan katana miliknya, senjata legendaris keluarga Yamazaki pada ibunya itu, mungkin karena dia seorang perempuan. Dan dalam persepsi seorang yakuza, perempuan adalah makhluk yang seharusnya dilindungi, bukan mendapat tanggung jawab seberat ini.
"Selamat pagi, Tuan Muda, Nona," sapa pria itu sambil menundukkan kepala, membuat semua gambaran di kepala Yamaken seketika sirna.
"Pagi," jawab Mone ramah. Sebuah senyum hangat terukir di wajahnya. "Kobayashi-san, dimana kak Aira?" lanjutnya.
"Nyonya Aira ada di taman belakang bersama dengan Tuan Muda," jawabnya singkat. "Ada yang bisa saya bantu?"
"Aku membawa beberapa manisan buah dan juga ada kesemek kering. Bisakah Anda menyimpan ini untuk kakak? Dia sangat menyukainya." Mone menyerahkan keranjang yang sedari tadi ada di genggaman tangan Yamaken.
"Tentu saja, Nona. Saya akan melakukannya dengan senang hati." Pria lanjut usia itu menerima pemberian Mone.
"Apa Anda ingin pergi menyusul Nyonya?"
"Ah, tidak. Biarkan saja. Aku tidak ingin mengganggu mereka." Mone menyunggingkan senyum terbaiknya. "Dimana anak-anak? Aku ingin melihat mereka."
"Mari saya antar." Tuan Kobayashi mempersilakan Mone dan Yamaken mengikutinya ke ruangan yang khusus disiapkan untuk ketiga pewaris klan yakuza ini. Sebuah ruangan yang cukup tersembunyi, dimana tidak seorang pun bisa memasukinya tanpa izin dari kakek Yamazaki.
"Tuan Besar ada di dalam. Silakan masuk. Saya permisi," ucap tuan Kobayashi, undur diri dari tempat itu.
Mone terdiam di tempatnya berdiri. Ia masih merasa canggung bertemu dengan kakek Yamazaki. Kilatan memori saat beliau mengulurkan pedang di depan wajahnya, sungguh membuat Mone trauma.
"Jangan takut. Ada aku disini." Genggaman tangan Yamaken semakin erat. Ia memberikan dukungan pada gadis yang berstatus sebagai calon istrinya ini.
Mone mengangguk mantap. Ia tahu, cepat atau lambat, ia pasti akan bertemu dengan kakek Yamazaki. Apapun risikonya, ia harus bisa menghadapinya agar tetap bisa membersamai pria yang dicintainya ini.
__ADS_1
Greg
Pintu geser di depannya terbuka saat itu juga. Tampak lelaki tua dengan rambut memutih, berdiri di ambang pintu. Netranya langsung bertumbuk dengan Mone. Ekspresi wajahnya yang dingin dan kejam, berhasil membuat gadis dua puluh tahun ini menelan salivanya dengan paksa. Aura yakuza terpancar darinya, membuat Mone langsung menundukkan kepala.
"Selamat pagi, Kek," sapa Yamaken.
Kakek Yamazaki mengangkat satu tangannya, tak ingin mendengar apapun dari cucunya. Ia masih marah pada Mone dan tidak ingin melihatnya lebih lama lagi. Pria 70 tahunan itu pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun, membuat Mone tak enak hati.
"Ah, kalian sudah datang. Ayo masuk," ajak nyonya Sumari pada Ken dan Mone.
"Bu, ada sesuatu yang harus aku lakukan. Bisakah ibu menjaganya untukku?" tanya Yamaken sambil melirik Mone.
"Tentu saja. Pergilah!" Nyonya Sumari meraih tangan calon menantunya, membawanya masuk ke ruangan berwarna coklat ini.
Mone sedikit tergeragap saat nyonya Sumari memaksanya duduk di ruangan itu, sedangkan sosok Yamaken sudah menghilang dari pintu. Seorang wanita berjilbab duduk sambil memangku Azami. Mone mengamatinya sekilas. Dari penampilannya yang memakai penutup kepala, Mone yakin ini adalah ibu Aira dari Indonesia. Tapi dari wajahnya, wanita ini sama sekali tidak mirip dengan kakak sepupunya itu.
"Kamu Mone?" tanya wanita itu dengan bahasa Indonesia yang kemudian diterjemahkan oleh Sakura.
Mone mengangguk.
"Jadi kamu putri Rosa Maheswari, adikku?"
Jantung Mone terasa berhenti saat mendengar nama itu. Nama yang telah terlupakan sejak puluhan tahun yang lalu, ternyata masih ada yang mengingatnya.
"Kamu cantik, sama seperti ibumu." Pujian itu berhasil membuat Mone menitikkan air mata. Ia menunduk dalam, tak ingin menunjukkan wajah sedihnya.
Melihat hal itu, nyonya Sumari segera meraih tubuh mungil gadis ini ke dalam dekapannya. Sedikit banyak ia tahu kisah keluarga Kamishiraishi. Minami sudah menceritakan semuanya, termasuk hubungan kekerabatan antara Aira dengan Mone yang tak pernah diduga oleh siapapun.
"Kamu ingin mendengar cerita tentang ibumu?" Bu Anita mendekat ke arah Mone setelah meletakkan cucunya di atas box. Ia meraih jemari mungil gadis yang ada di hadapannya.
Disaat yang sama, Yamaken datang ke kamar pribadi kakekknya. Ia ingin membicarakan tentang hubungannya dengan Mone. Ia bertemu tuan Kobayashi di sana.
"Apa kakek di dalam?" tanya Yamaken sopan.
"Mohon maaf, Tuan sedang istirahat. Beliau tidak ingin menemui siapapun saat ini."
Yamaken mengangguk lemah. Ia tahu kakek masih marah padanya yang begitu lemah karena seorang wanita. Ia tidak bisa memaksakan diri. Lebih baik ia menunggu kemarahan kakek sedikit mereda, dan akan meminta restu darinya saat itu. Tanpa restu pria tua itu, Yamaken tidak akan pernah bisa mengubah status Mone menjadi istrinya.
Kakinya melangkah meninggalkan tempat itu. Ia berjalan tanpa arah, mencoba menenangkan hatinya yang merasa tidak nyaman. Tanpa Yamaken sadari, ia sampai di taman belakang yang mengarah pada tempat latihan berkuda. Langkahnya terhenti saat melihat kemesraan antara Ken dan kakak iparnya.
'Mereka terlihat begitu mesra,' batin Yamaken.
__ADS_1
Ia baru mengagumi dalam hati, bahwa kakaknya begitu beruntung mendapatkan istri yang ada di pangkuannya itu. Tapi detik berikutnya, netranya membola. Ia melihat dengan mata kepalanya sendiri saat Aira menarik dasi yang melingkar di leher kakaknya. Tentu saja itu pemandangan yang sangat langka untuknya. Seorang mafia bisnis yang begitu kejam, kalah pada istrinya?
"Aku memang mengaku kalah, tapi aku tidak mengatakan bahwa aku bersedia menciummu," ucap Aira dengan suara yang sedikit lantang.
"Kamu?!" geram Ken.
"Hahaha, gomen ne," tukas Aira sambil melambaikan tangannya dari kejauhan. Ia melangkah mundur sambil tetap menampilkan senyum kemenangannya.
"Ai-chan. Awas belakangmu!" teriak Ken, namun sudah terlambat.
Dukk
"Ma... maaf," ucapnya terbata. Ia membulatkan matanya saat mengenali sosok di hadapannya. "Kamu?!"
Aira terhenyak menatap adik iparnya yang kini berdiri menjulang di hadapannya. Surai hitamnya semakin panjang, bahkan mungkin bisa dikuncir dua. Kumis dan jambang tipisnya, benar-benar membuat penampilannya terlihat lain dibandingkan saat Aira melihatnya terakhir kali.
"Apa kabar, Kakak ipar?" tanya Yamaken pada Aira. Ia mengulurkan tangannya, bersiap membantu wanita di depannya untuk berdiri.
"Daijoubu?" tanya Ken khawatir. Ia segera menyelipkan tangannya di ketiak Aira dan membawanya berdiri detik itu juga.
(Kamu baik-baik saja?)
Aira mengangguk cepat. Ia menepuk baju bagian belakangnya yang sedikit kotor akibat jatuh terduduk di atas jalan setapak ini.
"Ada apa dengan wajahmu? Kenapa muram begitu?" tanya Aira saat menangkap raut tegang yang terpancar dari wajah adik iparnya. Ia tahu, sepertinya Yamaken ada masalah.
Yamaken masih diam. Ia tidak tahu dari mana ia harus mulai bercerita tentang permasalahannya.
"Kamu datang sendiri?" lanjut Aira saat mendapati Yamaken hanya membatu di tempatnya berdiri. Mulutnya terkatup rapat seolah ada lem super yang menautkan kedua bibirnya.
"Kakek marah padaku," jawab Yamaken lirih. "Apa yang harus aku lakukan?"
...****************...
Ugh si abang Yanto bapakable banget siiiyy 😍😍😍😍 Ngga kuat Author tuh 😂😂
See you,
Hanazawa Easzy
__ADS_1