
Yoshiro, Yu, serta Mone menyusul Shun dan Kaori yang ada di Thailand. Mereka langsung terbang kesana begitu mendengar berita kecelakaan yang menimpa Kaori. Melihat apa yang terjadi pada keduanya, pastilah bukan perkara yang mudah untuk menangkap tuan Harada dan orang-orang yang ada di belakang pria itu.
Itulah yang kakek Yamazaki pikirkan. Dia masih terjaga meski waktu menunjukkan pukul tiga pagi. Matanya menatap siluet bulan sabit di angkasa. Kobayashi-san masih setia menemaninya duduk di ruangan tanpa dinding yang kesemuanya terbuat dari kayu ini. Dia tetap diam di tempatnya, menunggu titah tuan besarnya ini.
Seorang pria berbaju hitam mendekat. Dia membisikkan sesuatu pada kepala pelayan di rumah ini, membuat pria paruh baya itu mengangguk satu kali. Dia menangkap informasi penting yang bawahannya sampaikan kali ini.
"Ada apa?" suara berat itu akhirnya terdengar juga. Kakek Yamazaki membuka mulutnya, tanpa melepaskan matanya dari bulan sebagian di atas sana.
"Mereka mulai bergerak, Tuan. Para pengawal yang Anda tugaskan juga sudah tiba di lokasi. Mereka akan memantau keadaan sekitar sebelum keempat muda-mudi itu mengambil alih penyerangan." Pria dengan kimono tradisional Jepang ini mulai menjelaskan. "Nona Yamada Kaori memilih tinggal di hotel dengan alasan tubuhnya masih belum pulih."
"Awasi dia, jangan sampai mengacaukan rencana cucu-cucuku ini." Kakek Yamazaki melirik asistennya sekilas sebelum menyesap teh di hadapannya. Beliau sudah menganggap Yu dan Mone sebagai cucunya. Meskipun tidak ada pertalian darah di antara mereka, namun kakek menyukai karakter dua gadis itu yang mandiri dan bisa diandalkan.
"Jika perlu, kunci dia di dalam kamar. Putus semua sambungan telepon ataupun internet yang ada. Jangan biarkan dia menghubungi mantan suaminya. Dia lemah dan tidak bisa dipercaya."
Tuan Kobayashi sedikit terhenyak. Dia tidak menyangka akan pendapat yang diungkapkan oleh tuannya ini. Bagaimana mungkin Kaori akan berkhianat pada suaminya? Itu hal yang mustahil 'kan? Tapi, berpuluh-puluh tahun ia melayani orang tua ini, firasatnya tidak pernah salah. Meski tak banyak bicara, tapi sekali melihat saja dia bisa tahu kepribadian seseorang.
"Dia wanita dewasa. Siapa yang menguntungkan untuknya, pasti akan dia pertahankan. Namun dia tidak akan melupakan kebaikan seseorang begitu saja. Harada memperlakukan gadis itu dengan baik awalnya. Juga suami dan ibu mertuanya, selalu bersikap hangat padanya. Jika saja dia tidak kehilangan anak itu, pasti mereka menjadi keluarga yang harmonis hingga sekarang."
Tuan Kobayashi lagi-lagi tak bisa berkomentar. Semua yang pria ini ucapkan benar adanya. Di usianya yang menginjak tahun ke 77 ini, pemikirannya semakin tajam dan berwibawa.
"Si Oguri itu, sayang sekali dia harus melabuhkan hatinya pada wanita seperti itu."
"Bukankah nona Kaori banyak membantu misi tuan muda dan nona Aira? Saya pikir perasaannya tulus dalam berteman." Akhirnya tuan Kobayashi berani bersuara. Pendapatnya membuat kakek tersenyum.
"Itu karena dia merasa berhutang budi pada keluarga ini. Jika tidak, mungkin dia akan berdiri di sisi yang berseberangan dengan kita."
"Tuan, maksud Anda .... "
"Sudahlah. Dia masih bisa kita kendalikan." Kakek Yamazaki memotong ucapan yang akan asisten pribadinya ungkapkan. "Bagaimana dengan cucu kesayanganku? Dia tidak bersikeras pergi?" tanya pria lanjut usia itu, mengarah pada Yamazaki Kenzo.
"Tidak. Nona Aira berhasil menahannya di rumah. Peringatan dokter Hugo berhasil membuat Tuan Muda ketakutan."
"Hmm. Apa itu?" Kakek tampak tertarik dengan jawaban ambigu yang didengarnya. Dia paham betul, Kenzo tidak akan mudah ditakut-takuti oleh apapun atau siapapun.
"Dokter mengatakan bahwa mungkin tuan muda tidak akan produktif lagi kedepannya jika terus memaksakan diri untuk pergi. Sekarang tubuhnya belum pulih seperti biasanya."
__ADS_1
"Tidak produktif?" Kakek mengerutkan keningnya, membuat dua alis tebalnya hampir bertaut.
"Itu karena tuan muda sangat menginginkan seorang putri lagi untuk menemani nona kecil bermain nantinya."
"HAHAHA." Seketika tawa pria tua itu pecah saat mendengar penjelasan Kobayashi. "Bedebah kecil itu. Apa dia sebodoh itu?" Kakek tak habis pikir dengan cucu andalannya yang begitu disegani orang-orang di luar sana, justru termakan candaan tak berbobot dari dokter kepercayaannya.
"Nona yang meminta dokter Hugo melakukannya. Itu karena dia bosan dan kesal, tuan muda terus saja merengek meminta adik kecil untuk nona Ayame." Kobayashi kembali menjelaskan.
"Anak itu benar-benar menarik. Pilihan yang tepat untuk mempertahankannya di sisi cucuku. Terus awasi keduanya. Jika mereka kesulitan, segera kirimkan bantuan tanpa perlu melapor padaku," titah pria yang kini beranjak bangun dari duduknya.
"Baik, Tuan." Kobayashi ikut berdiri. Dia menundukkan kepalanya 15 derajat saat tuannya mulai melangkah.
"Perketat pengawasan pada wanita di Thailand itu. Aku tidak ingin ada kesalahan. Harada sudah memilih jalannya sendiri. Biarkan dia tahu apa akibatnya menentangku," pungkas kakek sebelum benar-benar pergi dari gazebo ini. Dia harus memberi pelajaran pada Harada, akibat dari pengkhianatannya kali ini. Geng Naga Hitam harus dimusnahkan hingga ke akar-akarnya. Harus!
Dia memasuki kamarnya yang ada di samping aula pertemuan. Cahaya lentera dipadamkan, artinya pria usia senja itu siap istirahat.
Tuan Kobayashi segera bergerak. Ia mendekati pria yang tadi melapor padanya dan memberikan tugas baru, yakni memblokir segala kemungkinan pergerakan Kaori. Wanita itu mungkin saja melakukan hal-hal di luar nalar.
Dan benar saja apa yang dikatakan oleh kakek Yamazaki. Ribuan kilometer dari Tokyo, tepatnya di salah satu hotel yang ada di Bangkok, Kaori tengah berjalan kesana kemari dengan gelisah. Dia seperti tengah memikirkan sesuatu, terlihat dari matanya yang bergerak menatap sekitarnya dengan pandangan bingung.
Dengan tangan bergetar, Kaori mengambil ponsel miliknya yang tersimpan di dalam laci. Dia membuka aplikasi pengirim pesan dan mencari nomor ponsel Harada Yuki, mantan suaminya.
Sedetik kemudian, ada keraguan di dalam hatinya. Bagaimana bisa ia menjadi gelisah seperti ini? Padahal biasanya ia selalu menampilkan sikap tenang dimanapun ia berada, tidak peduli seberapa hebat gangguan yang diterimanya. Bahkan saat tuan Harada mengusirnya dulu, dia masih bisa mengucapkan kalimat selamat tinggal pada Yuki dengan senyum terkembang.
Kaori melempar ponsel miliknya ke atas ranjang. Dia tidak seharusnya ikut campur pada urusan tuan Harada ini. Dia bisa saja mendapat hukuman, atau bahkan kehilangan kepercayaan daei suaminya sendiri. Dia tidak boleh melakukannya.
Swushh swushh
Kaori membasuh wajahnya di kamar mandi, berharap merasa lebih segar dan otaknya kembali fresh. Ia menatap pantulan wajahnya di depan cermin. Kilatan memori masa lalunya kembali menyapa. Bagaimana sikap hangat nyonya Suzuki padanya saat itu, senyum yang tuan Harada tunjukkan padanya, membuatnya merasa dihargai. Ia menemukan sosok ayah dan ibunya dalam diri kedua orang tua suaminya kala itu.
Hal itu membuat Kaori bergegas mengambil ponselnya, mengetik nama Harada Yuki dalam buku kontak. Setidaknya ia harus memberitahu Yuki tentang apa yang mungkin terjadi pada ayahnya beberapa jam lagi. Dia berada dalam bahaya.
Baru saja Kaori akan menekan ikon telepon yang akan menghubungkannya dengan Yuki, tiba-tiba sinyalnya menghilang, menampilkan tanda silang di bagian atas layar ponsel ini.
"Heh? Kenapa tidak ada jaringan di sini?" Kaori menggoyang-goyangkan ponselnya ke atas, berharap jaringan telepon ponselnya kembali normal seperti sedia kala.
__ADS_1
"Apa-apaan ini?" Kaori memeriksa setelan ponselnya, tak ada yang salah sama sekali. Ia segera mengambil telepon kabel yang ada di bawah lampu tidur. Entah kenapa dia merasa semakin gelisah. Jemarinya berkeringat, membuat gerakannya salah-salah saat menekan tuts angka di depannya. Ia berkejaran dengan waktu yang semakin terbatas.
Terhitung sudah tiga puluh menit Shun dan kawan-kawan pergi dari sini, menuju tempat persembunyian tuan Harada. Tidak banyak waktu yang tersisa, tapi tidak ada yang bisa ia lakukan tanpa ponsel pintarnya ini. Kemana dia bisa meminta bantuan?
Klik
Lampu padam seketika, membuat ruangan tempatnya berada menjadi gelap gulita. Padahal bangunan lain di sebelah gedung ini terang benderang. Mungkinkah jaringan listrik di hotel itu sedang bermasalah?
Kaori beranjak dari depan telepon. Ia menyalakan lampu belakang dari ponselnya untuk menerangi langkahnya. Dia harus menanyakan hal ini pada petugas hotel. Kalaupun benar listrik di sini mengalami gangguan, maka setidaknya dia bisa meminjam ponsel salah satu staf yang bekerja di sini.
Kaori mengambil mantel miliknya. Dia berjalan menyusuri koridor hotel yang lengang. Tak ada seorang pun yang ia temui sepanjang perjalanannya turun dari lantai tiga ini. Semua pintu yang ia lewati masih tertutup, sepertinya mereka masih terlelap dalam tidurnya masing-masing. Lagipula masih terlalu pagi untuk beraktifitas.
Kaori tersenyum lega saat kakinya sampai di lobi hotel. Tampak dua orang staf wanita berdiri di belakang resepsionis. Salah satu dari mereka memegang ponsel sebagai penerangan, sama sepertinya. Dia semakin mempercepat langkahnya.
"Maaf, apa ada masalah dengan jaringan listrik di sini? Saya harus ... akh." Ucapan Kaori tak terselesaikan.
Brukk
Tanpa Kaori sadari, seseorang memukul tengkuknya dari belakang, membuat tubuhnya limbung detik itu juga. Ia kehilangan kesadaran beberapa saat kemudian. Tubuh rampingnya ditangkap oleh staf resepsionis tadi.
"Maaf, Nyonya. Ini demi kebaikan Anda."
Setidaknya wanita ini akan pingsan hingga satu jam ke depan. Dan saat terbangun nanti, misi empat orang itu pasti sudah selesai. Tidak membutuhkan waktu lama bagi para ahli senjata seperti mereka untuk memusnahkan tujuh puluh orang dengam kemampuan biasa-biasa saja. Mereka tidak sebanding, jelas-jelas Shun dan rombongannya yang akan menang nantinya.
Meskipun begitu, roda masih terus berputar. Entah apa yang akan terjadi. Peluru dari senjata api yang mereka lesatkan tak memiliki arah yang pasti. Nyawa mereka tetap dalam bahaya di sana. Hanya Tuhan yang lebih tahu akhir dari pertempuran mereka nantinya. Juga nasib Kaori selanjutnya, ia sendiri tidak tahu apa yang akan terjadi padanya.
...****************...
Double up 💃💃
Ada yang mau dikasih tripel up hari ini? 😂😂
See you,
Hanazawa Easzy
__ADS_1