
Kosuke terlihat kepayahan menggantikan Ken mengurus perusahaan. Dia tampak kacau, ingin segera bermanja-manja pada istrinya. Namun, hal itu hanya sebatas keinginannya saja. Nyatanya, Minami terus menyibukkan diri di depan komputer jinjing miliknya.
Wanita ini tengah menyiapkan dokumen untuk rapat esok hari. Ada beberapa data yang harus ia pilah pilih dulu sebelum diserahkan pada para sekretaris di ruangan sebelah. Hal itu mengharuskannya mengabaikan Sang Suami, Kosuke Murasawa.
"Apa pekerjaan itu lebih penting dari suamimu?" tanya Kosuke, wajahnya masih menempel di meja yang dilapisi kaca transparan, berharap Minami mengasihaninya.
"Tentu saja. Pekerjaan ini tidak akan selesai dengan sendirinya jika aku tidak mengurusnya. Tapi kamu, meskipun aku tidak memberikan perhatianku, kamu bisa mengurus dirimu sendiri."
Tak tak tak
Jemari Minami masih asik bekerja, menekan huruf demi huruf yang terus bermunculan di layar. Perhatiannya terpusat pada benda elektronik berdaya listrik ini. Tak ada yang bisa mengusik konsentrasinya jika sudah seperti ini.
Dukk!
"Ugh!" Tendangan bayi di dalam perut Minami membuat wanita itu mengaduh tertahan. Tangannya segera memegangi bagian kanan perutnya yang terasa nyeri. Sepertinya itu bentuk protes buah hati mereka karena Sang Ibu tidak memerhatikan ayahnya.
"Ada apa? Kamu kenapa?" Kosuke panik. Dia mendekat ke arah Minami dan membungkukkan badan, memeriksa istrinya dengan seksama.
Minami tidak menjawab. Dia masih memegang perutnya, justru sekarang menggunakan kedua tangannya. Tendangan buah hatinya semakin intens, membuatnya menggigit bibir.
"Ayo." Kosuke memapah istrinya, membantunya duduk di sebuah kursi sofa yang biasa digunakan oleh para tamu wakil presdir.
Minami berusaha mengatur napasnya, terlihat dari dadanya yang naik turun dengan teratur. Dia berusaha tetap tenang dan tidak panik. Gerakan bayinya ini terlalu keras, jadi membuatnya sedikit terkejut. Biasanya hanya terasa desiran-desiran halus seperti isi di dalam perutnya tengah berputar.
"Minumlah." Kosuke mengambilkan air bening untuk istrinya. Dia memberikan benda cair itu setelah raut wajah Minami terlihat tenang seperti biasanya.
"Kita ke dokter?" tawar Kosuke pada istrinya.
Minami menggeleng, "Aku baik-baik saja. Tolong ambilkan laptop itu, aku belum selesai mengerjakan tugasku."
Kosuke menggertakkan giginya, merasa gemas pada permintaan istrinya ini. Bagaimana mungkin setelah dia terlihat begitu kesakitan beberapa menit yang lalu, sekarang yang dia pikirkan adalah pekerjaan? Sungguh workaholic sejati.
"Menurutlah padaku." Kosuke segera menggendong istrinya, mengabaikan permintaan wanita itu yang meminta diambilkan laptop.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Minami saat tubuhnya melayang di udara, melewati pintu yang membawanya pada ruangan pribadi tempat Ken biasa istirahat.
Kosuke menurunkan tubuh istrinya di atas kasur dengan hati-hati. Dia melepas sepatu yang Minami pakai dan menyimpannya di bawah ranjang.
"Apa kamu gila? Ini ruang istirahat tuan muda Yamazaki!"
"Diam disini atau aku akan meminta Nona memberhentikanmu dengan paksa!"
Glek!
Ancaman Kosuke berhasil membuat Minami terhenyak. Ini pertama kalinya wanita ini melihat suaminya marah. Pria 30 tahun ini tidak menampilkan ekspresi apapun di wajahnya, membuat Minami sedikit takut. Aura gelap segera menyelimuti calon ayah ini.
"Apa kamu marah padaku?" tanya Minami takut-takut. Kesepuluh jari tangannya teranyam di atas pangkuan, menunjukkan adanya rasa gentar dan tidak nyaman di dalam hatinya.
__ADS_1
Kosuke diam. Ia mengambil napas dalam-dalam sebelum memejamkan matanya. Emosinya memuncak hanya karena hal sepele, dan sekarang dia harus meredamnya agar tidak membuat Minami ketakutan.
"Murasawa-san, gomen ne," ucap Minami lirih sambil menatap wajah suaminya. Dia benar-benar tulus meminta pengampunan dari suaminya ini meski dia belum menyadari apa kesalahannya.
(Maaf)
"Sudahlah. Istirahat di sini satu atau dua jam. Tuan Yamazaki tidak akan keberatan. Aku akan minta seseorang membersihkannya nanti. Kondisi kesehatanmulah yang lebih penting. Lagipula, pria arogan itu tidak akan datang dalam waktu dekat."
"Siapa yang kamu maksud pria arogan itu?" Sebuah suara menginterupsi pasangan suami istri ini, membuat keduanya menatap ke arah pintu yang masih terbuka lebar.
"Tu .... Tuan muda," ucap Kosuke tergagap. Netranya menangkap sosok yang tengah ia bicarakan ini. "Itu .... Itu. Aku ... "
"Ada apa? Kamu sakit?" Ken mengabaikan Kosuke. Dia terus melangkah, mendekati Minami. Netranya menatap wanita hamil di depannya, menuntut jawaban.
"Dia sedikit kelelahan. Jadi saya memintanya istirahat sejenak. Jika ini membuat Anda tidak nyaman, saya akan segera membawanya keluar dari ruangan ini." Kosuke yang sigap menjawab karena memang dia yang berinisiatif membawa Minami kemari. Detik berikutnya, Kosuke melakukan ojigi. Dia menundukkan kepalanya dalam-dalam, minta maaf pada atasannya yang terkenal kejam dan tak berbelas kasih ini. Nyatanya, Ken tidaklah seburuk itu.
"Tidak masalah. Dia bisa tetap di sana sampai kapan pun dia mau. Sebagai gantinya, kamu ikut denganku. Sekarang!" titah Ken mendominasi.
Tap tap tap
Ken meninggalkan ruangan istirahatnya. Dia masuk ke dalam ruang kerjanya, mengamati beberapa dokumen yang sudah tertata rapi di atas meja. Itu hasil kerja Kosuke dan Minami selama dia tidak ada di kantornya.
Srett
"Tunggu! Aku tidak boleh ada di sini." Minami menahan ujung jas suaminya, berharap bisa keluar dari tempat pribadi milik tuannya ini.
Minami masih tampak ragu. Dia merasa tidak enak hati pada pria yang ada di kasta tertinggi perusahaan ini. Selain tuan Tsuguri, Presiden Direktur Miracle Corporation, Yamazaki Kenzo benar-benar petinggi yang menentukan keberlanjutan perusahaan internasional ini. Tentunya, asisten pribadi sepertinya, tidak layak menggunakan fasilitas milik Kenzo.
"Tapi ... "
"Aku pergi. Istirahatlah."
Cup
Kosuke mencium kening istrinya dengan lembut sebelum berjalan menjauh. Dia menoleh ke belakang saat ada di depan pintu, bersiap keluar dari ruangan ini.
"Kamu harus istirahat," pesannya sambil tersenyum.
Minami menatap kepergian suaminya dengan senyum tertahan. Dia merasa berdosa karena tidak bisa menyelesaikan tugas yang diembannya. Namun, pergerakan bayinya semakin aktif, membuatnya tak leluasa bekerja. Konsentrasi dan fokusnya terpecah, menahan ngilu akibat tendangan Sang Buah Hati.
Kosuke segera menyusul Ken di ruangan sebelah setelah menutup pintu kamar tempat istrinya berada. Dia sempat berhenti sejenak, menyiapkan mentalnya demi menghadapi boss luar biasa ini.
"Maaf atas kelancangan saya sebelumnya." Kosuke memecah keheningan, dia kini berdiri dua langkah di belakang Ken. "Ada yang bisa saya bantu, Tuan?"
"Carikan rujak untuk istriku."
__ADS_1
"Heih?" Kosuke terhenyak. Dia tidak tahu apa yang diminta oleh wakil direktur ini. Ini pertama kalinya dia mendengar istilah itu. Kosuke bahkan tidak tahu itu jenis makanan, benda, pakaian, atau apa.
Ken menunjukkan ponselnya yang menampilkan gambar rujak buah khas Indonesia dengan sambal di atasnya.
"Sepuluh restoran Indonesia sudah aku datangi, tapi tidak ada satu pun yang menjual makanan ini. Mereka memintaku datang ke sini." Sebuah kartu nama Ken berikan pada asistennya. "Aku masih harus pergi ke tempat lain, jadi kamu urus sisanya."
Ken pergi setelah mendapat kesanggupan dari Kosuke. Dia berencana pergi ke satu tempat yang sudah ia pikirkan sejak keluar dari rumah satu jam yang lalu.
Krekk
Kosuke kembali mendatangi istrinya. Sebuah outwear warna hitam melingkupi tubuhnya, dia siap pergi menjalankan tugas mendadak ini.
"Ada apa?" tanya Minami penasaran.
"Tuan memintaku membeli sesuatu. Aku tidak akan lama, kamu istirahatlah di sini. Jangan pergi kemana pun sebelum aku menjemputmu."
"Umm." Minami mengangguk. Keduanya berpisah detik berikutnya.
...****************...
Di saat yang sama, sebuah mobil silver berhenti di pelataran rumah Ken dan Aira. Sepasang muda-mudi tampak ada di dalamnya.
Klik
Mone segera melepas kait sabuk pengaman yang ada di sebelah pinggangnya. Masih dengan wajah tanpa ekspresi, dia keluar dari kendaraan roda empat ini, meninggalkan Yamaken di tempat duduknya.
Hubungan keduanya belum membaik. Yamaken masih merasa canggung dan Mone tetap enggan berbicara. Sepertinya dia harus meminta bantuan pada kakak iparnya, Aira.
Detik berikutnya, Yamaken terkesiap saat Mone membuka pintu belakang dan mengambil belanjaan mereka sebelumnya. Dia berusaha membawa semua paperbag yang ada di sana.
"Biar ku bantu." Yamaken berniat menolong gadis ini, tapi justru tatapan tajam yang ia dapatkan.
Tap tap tap
Tanpa menghiraukan keadaan mental Yamaken yang terperosok begitu dalam, Mone melangkah masuk ke dalam rumah. Dia yang terbiasa mandiri, sama sekali tidak merasa kesulitan membawa empat kantung belanja berisi berbagai sayur dan buah-buahan segar itu.
Dan di belakang sana, Yamaken hanya bisa menundukkan kepalanya dalam-dalam. Hatinya patah lagi. Bukan karena penolakan Mone secara verbal, melainkan dia merasa bahwa Mone terlalu sempurna untuknya yang lemah ini.
...****************...
Huhuhuuu Si Abang jadi sad boy lagi 😢ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜
Sini, Bang, sama adek aja 😂😂
See you next episode, jangan lupa like, komen & vote yaak biar Author makin semangat nulisnya.
__ADS_1
Hanazawa Easzy