
"Dia bukan kakakku." jawab Mone dingin.
"Ayolah, itu sudah lama berlalu. Kamishiraishi... mm, maksudku ayahmu saja tak pernah menyalahkan Shun atas kematiannya. Bukankah dia tersenyum di akhir hayatnya?"
"Fakta ayahku meninggal karena melindungi orang itu tetap tak bisa dihapuskan. Jika aku memaafkannya, apakah ayahku akan hidup lagi?" ucap Mone dengan amarah di dadanya, mengingat kejadian pahit 5 tahun yang lalu.
"Kita sudah sampai." ucap Takeshi menyadarkan Mone dari lamunan panjangnya.
"Para hackers dari Jepang itu berhasil menemukan datamu. Haruskah aku memblokir mereka?" tanya Takeshi memastikan tindakannya sesuai keinginan putri angkatnya.
"Tentu saja. Aku tidak ingin berhubungan dengannya lagi." jawabnya yakin.
"Shun terus mencarimu sepanjang waktu, dia bahkan berkeliling Thailand demi menemukanmu. Informasi palsu itu benar-benar menyesatkannya selama bertahun-tahun." terang Takeshi sambil melepas sabuk pengaman dari tubuhnya.
"Siapa suruh dia meracik obat-obatan mematikan dan memancing amarah wanita itu. Jika dia bermain cantik dan tidak menunjukkan wajahnya, pasti semua aman dan ayahku tidak harus melindunginya sampai mengorbankan nyawa." ucap Mone ketus.
"Mone-chan..."
"Aku tidak ingin mendengar apapun. Jika uncle terus memaksaku bertemu dengannya, aku akan pergi dan auntie akan depresi lagi seperti dulu. Itukah yang Anda inginkan, Takeshi Kaneshiro-sama?" tanya Mone dengan senyum miring menghiasi bibirnya. Ia sengaja menyebut nama lengkap ayah angkatnya dan bersikap formal karena menurutnya, ia sedang bernegosiasi kali ini.
Lelaki 47 tahun itu diam, ia tidak sanggup melihat istrinya kembali depresi akibat kematian putrinya yang seusia Mone. Demi menghibur Anna, Takeshi membawa Mone dalam perlindungannya setelah gadis itu menyelesaikan pendidikannya di Italia.
Tentu saja bukan pendidikan biasa, melainkan sekolah khusus para mafia. Sekolah itu membuat Mone menguasai bela diri dan lihai memakai berbagai senjata tajam, termasuk membuat atau menjinakkan bom.
"Ayo masuk, mommy sudah menunggu kita." ajak Mone dengan senyum ceria di wajahnya. Ia benar-benar pandai bermain peran. Jika saja semua orang bisa menjadi nominator pemenang piala Oscar, mungkin Mone pantas dijadikan salah satunya karena kelihaian aktingnya saat di depan Anna. Ia memasang wajah imut dan lucunya di depan wanita Rusia itu, namun berubah jadi iblis kecil yang bengis dan kejam di depan para musuhnya atau orang-orang yang menghalangi keinginannya.
*****
Mentari terbit di ufuk timur dengan sinar sendu yang tidak menyilaukan sama sekali. Ya, di puncak musim dingin seperti sekarang ini, matahari tampaknya mengalah pada salju yang bertebaran di langit dunia. Ia membiarkan kristal es itu menguasai bumi, menyihirnya menjadi putih di sana sini.
"Ohayou..." sapa Ken sambil menyajikan segelas susu vanila hangat untuk istrinya.
"Ohayou otou-san." jawab Aira tanpa mengalihkan pandangannya dari tablet di depannya. Sejak beberapa hari yang lalu, Aira lebih suka memanggil Ken dengan sebutan itu daripada memanggil namanya langsung.
*Ohayou : selamat pagi
__ADS_1
Otou-san : ayah
"Apa yang sedang kamu lihat?" tanya Ken mendekati istrinya. Ia duduk di sebelah Aira tanpa memberikan jarak sedikitpun.
"Mone Kamishiraishi. Dia cantik ya?" tanya Aira sambil mengarahkan layar sentuh di depannya pada Ken, membuat pria itu mengerutkan kening.
"Dari mana kamu mendapatkan file itu?" tanya Ken heran. Ia masih menatap potret gadis 20 tahun yang tengah merentangkan tangannya dengan berlatar laut biru di belakangnya.
"Rahasia." jawab Aira sambil mencubit hidung Ken dan menjauhkan tabletnya dari hadapan Ken.
"Ai-chan.. Bukankah kita sudah sepakat untuk tidak melanjutkan masalah ini?" tanya Ken sambil menatap wajah istrinya dari samping.
Pertanyaan itu membuat gerakan jari Aira yang tengah bergerak naik turun di atas layar terhenti, ia menatap Ken dengan senyum terukir di bibir. Namun Ken tahu dengan pasti, ada nada kesedihan dari sorot mata istrinya.
"Maaf, aku tidak akan melakukannya lagi." ucap Aira sambil menyimpan benda persegi itu di samping badannya dan meminum susu yang Ken siapkan.
"Hubungan mereka memburuk karena peristiwa penembakan 5 tahun yang lalu." terang Ken sambil menatap Aira.
"Ya. Sebelumnya hubungan Shun dan Mone baik-baik saja, bahkan mereka sangat dekat. Mone adalah putri tunggal tuan Kamishiraishi. Suatu hari, Mone dibully oleh teman-temannya. Mereka melemparinya dengan telur dan tomat busuk karena ayah Mone adalah pemilik kasino/tempat judi. Saat itu Shun melindunginya dan membawanya pulang.
Sebagai rasa terima kasihnya, tuan Kamishiraishi memutuskan mengambil Shun dari panti asuhan dan menjadikannya sebagai anak angkat. Shun sangat menyayangi Mone dan begitu juga sebaliknya. Hubungan mereka sangat dekat sampai peristiwa memilukan itu terjadi." jelas Ken panjang lebar.
"Apa yang terjadi pada mereka?" Aira menggenggam tangan Ken, menunggu kelanjutan cerita yang suaminya tuturkan.
"Saat itu Mone sedang mengikuti pertukaran pelajar di Thailand, sama sepertimu. Ayahnya menyiapkan pesta ulang tahun yang meriah untuknya, bahkan menyewa pesawat pribadi untuk menjemputnya agar kembali ke Osaka. Dan pesta itu berlangsung seperti rencana tuan Kamishiraishi. Tapi tiba-tiba seorang wanita menargetkan Shun dengan pistolnya.
Tuan Kamishiraishi yang melihatnya berusaha melindungi Shun dengan tubuhnya sendiri dan mengakibatkan peluru itu mendarat di dadanya. Nyawanya tak tertolong."
Aira menutup mulutnya, terkejut dengan penjelasan Ken. Ia tidak menyangka ada cerita pilu dibalik menghilangnya Mone Kamishiraishi 5 tahun yang lalu.
"Apa yang terjadi selanjutnya?"
"Perayaan yang mewah berubah menjadi peristiwa berdarah yang membuat Mone histeris. Ia dikabarkan kembali ke Thailand malam itu juga untuk menenangkan diri. Ia bahkan tak menghadiri upacara kematian ayahnya saat itu."
__ADS_1
"Apa dia baik-baik saja?" tanya Aira penasaran. Detak jantungnya berpacu lebih cepat merasakan tekanan tersendiri mendengar cerita dari Ken.
"Dia menghilang." jawab Ken meragu.
"Menghilang?"
"Ya. Shun mencarinya ke seluruh penjuru Thailand tapi tak mendapati Mone-chan disana. Informasi terakhir, seorang koleganya berkata pernah melihat Mone di Italia. Tapi sampai sekarang tidak ada yang tahu keberadaannya, seolah seseorang memang sengaja melindunginya agar Shun tidak bisa menemukan adik angkatnya itu."
Aira menunduk, ia mengurut pelipisnya sejenak. Masih bingung atas semua kejadian di masa lalu Shun dan Mone.
"Singkatnya, Mone menghilang setelah penembakan ayahnya. Entah itu dia bersembunyi atau seseorang menyembunyikannya, tidak ada yang tahu. Tapi menurut dugaanku, dia mungkin mendapat perlindungan dari seseorang yang cukup berpengaruh."
Aira dan Ken diam cukup lama. Mereka sibuk dengan pemikirannya masing-masing.
"Aku akan mencobanya." cetus Aira tiba-tiba.
"Apa maksudmu?" tanya Ken tak mengerti.
"Aku akan mencari tahu, kenapa dia tiba-tiba menghilang dan memperbaiki hubungan keduanya. Sepertinya ada salah paham disini." ungkap Aira yakin.
"Ai-chan, itu terlalu berbahaya. Jangan bertindak bodoh." cegah Ken.
"Aku hanya ingin memperbaiki hubungan mereka. Aku tahu rasanya sendirian tak memiliki saudara satupun. Dan aku pikir aku tahu alasan Mone menghilang. "
"Alasan?"
"Dia berpikir ayahnya meninggal karena Shun dan itu sebabnya ia menghilang karena enggan melihat wajahnya lagi." ungkap Aira
*****
Gomen ne kalo agak muter-muter ceritanya. Ditunggu kritik dan saran kalian biar author tahu kekurangan karya ini.
See you next day,
Hanazawa easzy ^^
__ADS_1