Gangster Boy

Gangster Boy
Season 3 : Hanya Mimpi Buruk


__ADS_3

"Selamat tinggal.." ucap Aira dengan suara serak. Ada tebing curam di belakang Erina dan Aira. Kedua wanita itu terus mundur tanpa melihat ke arah belakang.


"TIDAK!! AI-CHAN TETAP DI SANA!!" teriak Ken frustasi.


Aira melambaikan tangannya dengan wajah tanpa ekspresi. Ia dan Erina jatuh ke dalam jurang.


"AI-CHAAAAANNNN..." Ken berteriak memanggil wanita kesayangannya.


Tit tit tiiiittt


Dokter dan perawat yang ada di ruangan ini seketika menoleh ke arah monitor. Layar datar itu menampilkan laporan tanda vital Ken yang terus menurun dan kini hanya menampilkan garis lurus, menimbulkan bunyi yang memekakkan telinga.


Ia mengalami kecelakaan tunggal. Mobil yang dikendarainya menabrak bahu jalan, membuatnya tak sadarkan diri dan dilarikan ke rumah sakit. Kesadaran Ken menurun drastis, nafasnya melemah, jantungnya tak lagi berdetak.


"Dok, pasien kehilangan kesadaran." ucap Kaori pada dokter Hugo. Beliau adalah dokter yang dulu menangani Aira. Dokter kepercayaan keluarga Yamazaki.


"Siapkan defibrilator." perintah dokter senior itu.


Defribrilator (alat pacu jantung) adalah alat yang digunakan untuk mengatasi gangguan irama jantung yang mengancam jiwa. Alat ini akan ditempelkan pada dada pasien untuk mengirimkan kejutan berupa listrik ke jantung. Adanya aliran listrik tersebut akan merangsang otot-otot jantung kembali bekerja dengan normal. (sumber : hellosehat.com)



Deg


Monitor kembali menunjukkan tanda-tanda kehidupan dari pria yang kini terbaring di atas bed operasi.


"Kondisi pasien sudah stabil, dok." suara seorang wanita dengan pakaian biru yang melingkupi tubuhnya. Ia berdiri di sebelah Kaori, ikut andil bagian untuk menyelamatkan nyawa Ken. Semua orang memakai masker dan penutup kepala dengan warna yang senada. Pakaian khusus yang dikenakan di ruang operasi


2 jam berlalu...


Dokter Hugo keluar dari dalam ruang operasi bersama Kaori dan beberapa dokter lain. Selain dokter keluarga, beliau adalah sahabat baik tuan Tsuguri, ayah Ken.


"Bagaimana keadaan putraku?" tanya pria dengan wajah penuh kekhawatiran itu.


"Dia sudah melewati masa kritisnya. Mari bicarakan ini di ruangan saya." ucapnya sebelum melangkah lebih dulu.

__ADS_1


Tuan Tsuguri dan Aira mengikuti dokter, melewati koridor panjang berwarna hijau. Di belakangnya, ada Minami yang selalu menyertai nonanya. Ketiga orang itu masuk ke dalam ruangan 6 x 8 meter dengan dekorasi minimalis.


"Operasinya berjalan lancar. Meski detak jantungnya sempat terhenti sesaat di tengah operasi, tapi sekarang kondisinya baik-baik saja. Dia akan segera siuman." dokter Hugo mengambil hasil rontgen Ken dan memasang lembaran hitam itu di atas X-Ray Rontgen Viewer yang tertanam di dinding.


*X-Ray Rontgen Viewer adalah alat untuk menampilkan hasil film X ray dengan bantuan lampu LED agar dapat melihat hasil foto rontgen lebih rata dan jelas. 


"Tulang pergelangan kaki kanannya patah, selain itu tangan kanannya juga retak. Dia berkendara di bawah pengaruh alkohol. Meskipun kadarnya rendah, itu cukup berpengaruh untuk mengganggu kesadarannya dalam berkendara." jelas dokter Hugo sembari menatap bergantian pada dua orang yang duduk di depannya, "Dia tidak bisa minum minuman dengan kadar alkohol tinggi atau nyawanya dalam bahaya. Meski terlihat kuat, dia memiliki jantung yang sensitif. Hampir sama seperti adiknya (Yamaken)."


Tok tok tok


Terdengar suara ketukan dari pintu di belakang Minami.


"Masuk." perintah dokter Hugo.


Tampak seorang perawat masuk dan menunduk takzim pada orang-orang yang ada di depannya, "Pasien sudah siuman. Mohon dokter untuk memeriksanya." pintanya dengan sopan.


"Baik." jawabnya sambil beranjak berdiri.


"Apa putramu kebal anestesi? Atau dia tidak bisa merasakan sakit? Seharusnya ia baru akan bangun satu jam lagi." terang dokter Hugo. Ia mematikan lampu LED di sisi kiri badannya dan beranjak dari duduknya.


Perkataan itu membuat tuan Tsuguri membulatkan matanya. Ia segera mengikuti dokter Hugo menuju ruang perawatan putranya, mengabaikan menantunya yang masih diam di tempat duduknya.


"Nona..." panggil Minami lirih. Ia mendekat ke arah wanita hamil yang kini mematung dengan pandangan kosong. Minami memberanikan diri memegang jemari Aira. Ia bersimpuh di depan nona-nya, menggenggam jemarinya dengan erat.


"Dia ingkar janji." ucap Aira lirih namun Minami masih bisa mendengarnya.


"Nona..."


"Dia berjanji tidak akan minum alkohol setetes pun. Tapi kenapa dia melanggar ucapannya sendiri?" raut kekecewaan jelas terpancar dari wajahnya.


"Nona, bukankah tuan muda hanya manusia biasa?" Minami mengelus punggung tangan Aira dengan lembut, "Setiap manusia pasti bisa melakukan kesalahan dalam hidupnya. Saya masih ingat kata-kata nona saat memaafkan dokter Kaori : Bahkan Tuhan saja mengampuni dosa hamba-Nya meski sebanyak buih di lautan. Bukankah terlalu sombong jika kita sebagai makhluk ciptaan-Nya justru enggan memaafkan satu sama lain?"


Aira tertegun mendengar penuturan asistennya. Ia pernah berkata seperti itu pada Kaori beberapa bulan yang lalu dan Minami masih mengingatnya.


"Jadi, mari lihat kondisi tuan. Meskipun Anda tidak ingin menemuinya, mungkin mereka merindukan ayahnya." Minami memegang perut Aira yang mulai tampak buncit. Kehamilan kembar ini membuat ukuran perutnya lebih cepat membesar dibandingkan kehamilan tunggal.

__ADS_1


Aira mengangguk, "Terima kasih, Minami." ucapnya terharu.


Ia berjalan dengan cepat ke arah yang dituju dokter Hugo dan ayah mertuanya beberapa saat yang lalu. Perkataan Minami menyadarkannya bahwa ia maupun suaminya hanya manusia biasa, makhluk lemah ciptaan Tuhan. Ia tidak berhak menghakimi suaminya yang khilaf menenggak minuman keras. Meskipun tidak menyukai hal itu, Ken tetaplah suaminya.


Ken bukan pemabuk. Ia bahkan tidak bisa minum minuman dengan kadar alkohol tinggi. Meski berkecimpung di dunia gelap, bukan berarti dia bisa meneguk minuman memabukkan itu dengan leluasa. Bagaimana pun juga ia memiliki kelainan jantung seperti Yamaken. Meskipun tidak separah adiknya yang menderita lemah jantung, bukan berarti suaminya tidak memiliki kelemahan sama sekali.


Lagipula, semua orang tahu peredaran minuman keras diperbolehkan di seluruh Jepang. Hanya saja ada aturan tertentu seperti usia minimal seseorang diperbolehkan mengonsumsi miras/rokok. Ada beberapa negara yang menentukan usia 18 tahun, dan ada pula beberapa negara lainnya yang menetapkan usia 20 atau 21 tahun sebagai usia legal. Di Jepang, usia legal yang ditetapkan adalah 20 tahun.


Di Jepang, ada undang-undang larangan minum alkohol untuk orang berusia di bawah 20 tahun, baik membeli maupun meminum alkohol. Selain undang-undang larangan minum alkohol di bawah umur, Jepang tidak memiliki batasan ketat terhadap alkohol, dan siapa saja akan dapat dengan mudah menemukannya dijual di minimarket dan supermaket.


Tidak hanya di bar dan izakaya (pub Jepang), orang-orang juga dapat membeli alkohol di berbagai restoran. Meskipun sudah tidak lagi umum di kota-kota besar seperti Tokyo dan Osaka, mereka bahkan dapat membeli alkohol dari mesin penjual otomatis di beberapa daerah. Dengan kata lain, karena pada dasarnya alkohol bisa didapatkan kapan saja dan di mana saja, undang-undang di Jepang mungkin kelihatan lebih longgar bagi sebagian orang. Peraturan tentang tempat yang diperbolehkan untuk meminum alkohol juga terbilang cukup santai. Baik di luar minimarket atau restoran, di taman, stasiun kereta, atau bahkan di shinkansen (kereta cepat), mereka bisa minum alkohol di mana saja di ruang publik dan di luar ruangan. Tentu saja ini berbeda dengan keadaan di Indonesia yang mayoritas penduduknya memeluk agama Islam.


(sumber: tsunagujapan.com)


"Ai-chan.." panggil Ken dengan suara lemah. Ia memaksakan diri memanggil istrinya meski dokter sudah mewanti-wanti agar dia istirahat. Kebanyakan orang tidak akan sadar saat pengaruh anestesi belum benar-benar hilang dari tubuhnya, tapi tentu saja hal itu tidak akan terjadi pada Ken. Dia terbiasa merasakan luka yang lebih sakit dari ini. Bahkan sekali waktu ia pernah mengeluarkan peluru yang bersarang di lengannya tanpa bantuan anestesi sedikitpun. Kosuke yang membantunya kala itu hanya bisa menatap Ken dengan heran. Ia bertanya-tanya, mungkinkah tuan mudanya mati rasa dan tidak bisa merasakan sakit?


"Aku disini." jawab Aira sembari meraih jemari Ken yang berusaha menggapainya, "Kamu harus istirahat. Tidurlah, aku tidak akan pergi kemanapun." janjinya sambil sesekali mencium punggung tangan suaminya.


Ken tersenyum, "Arigatou." bisik Ken tanpa suara. Ia kembali memejamkan matanya setelah memastikan Aira masih bersamanya. Ken takut apa yang ia lihat sebelumnya menjadi kenyataan, itulah sebabnya ia memaksakan diri untuk memulihkan kesadarannya. Demi memastikan Aira tidak benar-benar pergi. Dan ia tenang sekarang karena bayangan yang ia lihat sebelumnya hanyalah mimpi saat ia kehilangan kesadaran. Itu hanya mimpi buruk.


*Arigatou: Terima kasih


...****************...


Hai minasan....


Jadi udah ngga bingung yaa sama episode kemarin? 🤗


Maaf kalo ada yang ngga ngeh. Author emang sengaja bikin cerita yang sedikit abstrak, tapi semoga ngga berasa aneh yaa. Intinya Ken cuma manusia biasa, dia juga bisa ngelakuin kesalahan. Dia jauh dari kata sempurna, begitupun juga dengan Aira. Ada hal-hal yang mereka sendiri ngga bisa kontrol, jadi jangan mudah men-judge (memvonis) keadaan seseorang yaa, dear 😊


Kita ngga tahu kan seberapa babak belurnya mereka untuk sampai di titik ini. Kita memiliki peran masing-masing, jadi ngga perlu tengok kanan kiri terus. Syukuri apa yang kita punya.


Jika kita tidak bisa memiliki apa yang kita cintai, maka cintailah apa yang kita miliki.


See you next episode, bye... 😄😄

__ADS_1


Hanazawa easzy 💞


__ADS_2