Gangster Boy

Gangster Boy
Season 3 : Provokator


__ADS_3

"Kakak ipar, kamu masih hidup?" Mone mengerlingkan sebelah matanya pada Aira, ia datang untuk mengganggu keduanya.


'Setan kecil ini..,' batin Ken kesal. Pertanyaan Mone berhasil memancing ketidaksukaannya pada gadis 20 tahun itu.


"Aku sedang berbaik hati. Kakak ipar, kamu beruntung hari ini. Aku bawakan sesuatu untukmu." Mone meletakkan sebuah kotak segi empat di pangkuan Ken dengan sembarang. Ia sengaja melakukannya untuk memancing kemarahan Ken.



Gadis itu kini jongkok di depan Aira, memposisikan lututnya sebagi tumpuan di lantai keramik berwarna putih bersih. Tangannya segera menggenggam tangan kiri Aira yang terbebas di sisi badannya.


"Maaf membuatmu menunggu lama, Kak. Aku harus antre untuk membeli itu," ucap Mone sembari melirik box yang belum Ken sentuh sama sekali. Kedua tangan pria itu masih sibuk menggenggam tangan kanan Aira. Ken tidak melepaskan jemari Aira sedetik pun sejak keduanya duduk bersama di tempat ini.


"Setidaknya aku harus sedikit tahu diri jika ingin mengunjungi 'orang sakit'," lanjut Mone dengan penekanan di dua kata terakhirnya, merujuk pada Ken.


Hal itu membuat Ken jengah, "Kalau memang tidak mau datang, jangan memaksakan diri. Tidak ada orang yang minta belas kasihan darimu," jawab Ken ketus.


"Memangnya aku mau ke sini? Jika bukan kakak yang memintaku, aku juga tidak ingin menemuimu," balas Mone tanpa sedikit pun merasa takut pada pewaris keluarga Yamazaki ini.


"Kau?!!" geram Ken sambil mengeratkan giginya, menimbulkan bunyi gemeletuk yang terdengar sampai ke telinga Aira.


"Huh!" Ken menghembuskan nafasnya dengan kasar dan menatap ke arah lain. Enggan melihat penampakan yang membuatnya urat lehernya menonjol karena menahan marah.


"Hello baby boy, auntie datang untuk kalian," ucap Mone sembari melambaikan tangan di depan perut buncit Aira seolah ada kamera yang terhubung dengan kedua keponakannya di dalam sana. Padahal jelas-jelas perut Aira tertutup baju hangat berlapis-lapis.


*baby boy : bayi laki-laki


*auntie : bibi


"Hello auntie..," jawab Aira mewakili putranya.


"Aku berharap mereka perempuan," Mone merajuk pada Aira yang hanya ditanggapi dengan senyuman, "Jika mereka perempuan, aku akan mengantarkannya banyak hal. Memanah, menembak, berkuda."


"Hey, itu bukan mainan anak perempuan!" tegur Ken karena merasa apa yang disebutkan Mone, kesemuanya adalah aktivitas yang acapkali dilakukan oleh kaum pria.


"Memangnya kenapa? Buktinya Kak Aira bisa melakukan itu semua. Tentu saja anak-anaknya juga harus bisa melakukannya," sanggah Mone. Lagi lagi ia berbeda pendapat dengan kakak iparnya.


"Awas kau!" Ken menatap Mone dengan tajam dan mengisyaratkan dengan dua jarinya, seolah mengatakan 'Aku mengawasimu!' pada Mone.

__ADS_1


"Huhuhu, kakak ipar mengancamku," rengek Mone sembari menggoyang-goyangkan tangan Aira, mengadu atas ancaman Ken, "Aku takut sekali, Kak.."


Ken kembali membuang pandangannya sambil menarik nafas dalam-dalam. Rasanya stok kesabarannya semakin menipis jika lebih lama berinteraksi dengan gadis bermarga Kamishiraishi ini. Ia tidak tahu saat itu Mone menunjukkan jempolnya, tanda bahwa misinya sukses membuat Ken marah.


Dan sekali lagi, Ken bisa mengendalikan emosinya. Ia tetap tenang meski dalam hatinya ingin menelan Mone hidup-hidup. Atau jika Aira mengizinkannya, ia akan membuang gadis menyebalkan ini ke kutub utara. Seharusnya Ken cukup menendangnya saja langsung dari Rusia, tidak perlu repot-repot membawanya kembali ke Jepang. Ah, sayangnya itu hanya sebatas angan-angan yang tak mungkin terwujud. Aira akan melindungi Mone sampai kapan pun, apapun risikonya.


"Baby boy, kapan kalian keluar? Aku tidak sabar ingin bermain dengan kalian. Aku akan mengajak kalian makan enak," Mone mengelus perut kakak sepupunya dengan sayang, "Ah, apa? Kalian lapar?" tanya Mone sembari mendekatkan telinganya pada perut Aira seolah kedua keponakannya sedang membisikinya sesuatu.


"Apa ayah kalian tidak punya uang untuk membeli makanan?" tanya Mone dengan suara yang lebih keras dari sebelumnya, sengaja menyindir Ken lagi. Pria itu membulatkan matanya mendengar celotehan Mone.


"Ah, iya iya.. Auntie tahu, dia memang pelit. Lihat saja ibu kalian. Dia bahkan harus menahan diri untuk berbelanja karena ayah kalian tidak mengizinkannya pergi jauh. Selain itu, ayah kalian itu sudah seperti kepala militer angkatan darat saja. Apa-apa pasti ada hukumannya. Nanti saat kalian besar, auntie ajarkan bagaimana caranya melawan ayah kalian ya," ucap Mone pura-pura berbisik di depan perut Aira. Tapi suaranya masih terdengar jelas sampai ke telinga Ken, membuat pria itu mengepalkan tangannya. Mone benar-benar berniat menjadi provokator.


*provokator adalah orang yg melakukan provokasi/perang terselubung


"Saat kalian besar nanti, jangan seperti ayah kalian yang pemarah, suka memaksa, keras kepala, egois, perhitungan, pendendam. Pokoknya kalian harus seperti ibu kalian yang lembut dan penyayang. Jika ayah kalian tidak mengizinkan kalian bermain, katakan saja pada auntie, auntie pastika... mmhh..." kata-kata Mone terjeda saat Ken tiba-tiba memasukkan bulatan coklat yang ia beli sebelumnya.


"Eh?" Aira ikut terkejut dengan kejadian di depannya. Ia sedang tersenyum mendengar provokasi Mone untuk memancing kemarahan Ken.


"Dia sedang lapar, makanya banyak bicara," ucap Ken tanpa merasa bersalah sama sekali. Ia mengambil satu bulatan coklat di pangkuannya dan menggigitnya separuh sebelum menyuapkannya pada Aira, "Mau?"


"Ihu hehas hihihanhu (itu bekas gigitanmu)," protes Mone dengan suara tak jelas. Mulutnya penuh dengan coklat, membuatnya kesulitan melafalkan huruf dengan semestinya. Ia berdiri berkacak pinggang di depan Ken, kesal karena Ken mengganggu kesenangannya.


"Baik. Silahkan sebelah sini, Nona," ajak Minami sedikit memaksa. Ia memegang lengan Mone dan mengajaknya pergi sebelum Ken mengulangi perintahnya.


"Kak..." rengek Mone meminta pembelaan dari Aira.


"Pulanglah. Kita bisa berbincang lagi kain kali," usir Aira secara halus. Ia cukup puas membuat suaminya kesal. Sebelum adiknya itu menerima penindasan lebih kejam lagi dari suaminya, lebih baik Aira menyelamatkannya.


"Selamat jalan, Mone-chan. Hati-hati dengan langkahmu," pesan Ken sambil melambaikan tangannya dengan bahagia. Ia memenangkan pertarungan kali ini.


"Puas?" tanya Aira sembari menatap wajah suaminya yang sedang tersenyum dari samping. Lesung pipinya terlihat jelas di bawah tahi lalat yang hampir tak terlihat.


"Hm? Tentu. Aku sudah belajar dari pengalaman sebelumnya. Lain kali kamu harus mencari orang yang lebih berbakat untuk memancing emosiku," jawab Ken. Ia memakan coklat bulat di tangannya yang tersisa separuh. Aira enggan memakannya saat Ken menawarkannya tadi.


"Ini enak, dimana setan kecil itu membelinya?" tanya Ken memperhatikan kotak coklat di depannya, bertuliskan Lafafu Chocolate, "Lafafu? Aku belum pernah mendengarnya," ucap Ken heran. Nama itu terasa asing dan sedikit aneh.


"Setan kecil?"

__ADS_1


"Um. Dia itu menyebalkan dan selalu berusaha memancing kemarahanku."


Aira diam. Nampaknya tidak akan mudah mendamaikan Ken dengan Mone. Keduanya sama-sama keras kepala dengan pemikirannya sendiri. Aira hanya minta Mone datang untuk menemaninya yang bosan karena Ken asik sendiri dengan musik dari ponselnya tadi. Tapi pertemuan keduanya tak pernah luput dari perdebatan. Meskipun itu tampak menggemaskan, bukan berarti Aira merasa tenang. Jika hal itu terus dibiarkan, ia takut akan menimbulkan bibit-bibit permusuhan diantara keduanya.


"Kenapa kalian selalu bertengkar saat bertemu? Tidak bisakah kamu mengalah padanya?" tanya Aira, membuat Ken menghentikan aktivitasnya dan menutup kotak yang masih berisi empat bola-bola coklat.


"Karena dia menyebalkan," jawab Ken jujur, "Dia selalu mengatakan hal-hal buruk tentangku. Bahkan di depanku sekalipun, dia tetap mengatakannya. Lagipula kami tidak bertengkar, hanya menyampaikan pendapat masing-masing."


"Kalau begitu, bolehkah aku berpendapat?"


"Tentu," Ken kembali meraih tangan istrinya setelah ia lepas beberapa saat yang lalu, "Katakanlah."


"Aku tidak ingin mendengar pertengkaran kalian lagi mulai sekarang."


"Kami tidak bertengkar, hanya...," ucapan Ken terhenti kala melihat raut wajah istrinya yang berubah serius. Ia tahu tidak seharusnya menyela kalimat yang sedang istrinya ucapkan, "Maaf, aku akan mendengarkanmu."


Aira menghela nafasnya sejenak, "Ini terakhir kalinya kalian berdebat. Aku ingin kamu menjaga Mone seperti menjaga adikmu sendiri. Perlakukan ia dengan baik sebagaimana mestinya. Dia membutuhkan kasih sayang kita. Aku istrimu, yang artinya dia adik iparmu. Aku yakin kamu tahu ini dengan sangat jelas."


Ken mengangguk mengiyakan kata-kata istrinya.


"Jangan memperlakukannya terlalu keras, atau terlalu mengekangnya. Aku takut hal itu justru membuatnya lari. Mungkin dia manja padaku, itu karena mungkin akulah satu-satunya yang bisa ia harapkan. Dia baru saja kehilangan ayah dan ibu angkatnya sebulan yang lalu. Pasti ia merasa kesepian. Orang yang selalu memeluknya setiap malam kini tiada, kita merebutnya dengan paksa. Tidakkah itu menyakitkan untuknya?"


"Maaf," ucap Ken menyadari kata-kata Aira memang benar adanya.


"Sementara ini, biarkan dia melakukan apapun yang dia inginkan. Jangan memaksakan kehendakmu. Aku tahu maksudmu baik, tapi waktunya belum tepat. Dia akan semakin dewasa dan bisa menentukan apa yang terbaik untuknya."


"Baiklah," Ken menyetujui permintaan istrinya.


"Dan satu hal lagi," ucap Aira menggantung, "Jangan pernah minum alkohol lagi. Setetes pun tidak akan aku izinkan!" titah Aira dengan penuh penekanan di setiap kata yang ia ucapkan.


"Aku tahu. Maafkan aku," ungkap Ken. Ia mengangkat jemari istrinya dan mengecup punggung tangannya, "Aku siap menerima hukuman untuk kesalahanku kemarin."


"Baiklah. Jangan menyesal ya. Bersiaplah menerima hukumanmu," ucap Aira dengan smirk terukir di wajahnya.


...****************...


Ada saran hukuman apa yang bisa Aira kasih buat Ken? Yuk yuk yuk komen pendapat kalian 😉 Author tunggu yaa 🤗

__ADS_1


See you next day 😘


Hanazawa Easzy 💞


__ADS_2