
"TOLOONG KEN!!!" Teriak Aira saat Shun melepaskan tautan bibirnya. Sebulir air mata mengalir dari ujung mata bulatnya. Ia sangat ketakutan dengan perlakuan Shun padanya.
BRAKK
Ken menendang pintu di hadapannya dan segera menyingkirkan Shun dari atas istrinya. Ia menarik krah baju seniornya itu dengan penuh emosi.
Bugh
Sebuah tinju mendarat di wajah Shun, membuatnya terkapar di lantai kayu yang terasa hangat. Yu dan Kaori yang menyusul di belakang Ken segera membantu Aira berdiri dan menjauhkan wanita hamil itu dari dua orang yang tengah berkelahi. Atau lebih tepatnya Ken yang sedang menghajar Shun.
Yu memeluk Aira, menyembunyikan wajahnya agar tak melihat Shun lagi. Kaori dengan sigap melepaskan baju hangatnya untuk menutupi punggung Aira. Tubuhnya bergetar hebat dengan keringat dingin yang membasahi wajah menandakan ia sangat ketakutan.
"Cari mati denganku, senior?" tanya Ken dengan aura pembunuh yang melingkupinya. Ia bisa membunuhnya saat ini juga.
"Bunuh aku dan istrimu juga akan kehilangan nyawanya!!" jawab Shun tanpa ragu.
Mata Ken membulat sempurna, emosinya tersulut oleh kalimat provokasi dari Shun. Ia mengepalkan tangan di sisi badannya dan bersiap menyerang pria itu, atau mungkin mengambil nyawanya sekarang juga.
"Ken?!" Yoshiro menghadang pria dengan emosi memuncak itu. Ia menggunakan tubuhnya sebagai pagar yang menghalangi Ken dengan Shun. Terlepas dari perilaku tak mengenakkan yang terjadi, ada hal lebih penting yang harus Ken lakukan sekarang.
"Bawa Aira pulang sebelum kondisinya semakin memburuk." lirih Yoshiro sambil meletakkan tangannya di kedua bahu Ken. Mengingatkan sahabatnya itu agar emosinya mereda. Ya, hanya Aira yang bisa mengendalikan Ken. Seburuk apapun situasinya, Ken akan tetap mendahulukan istrinya. Aira bagaikan kunci hidup yang Ken miliki sekarang, tidak ada yang penting selain wanita kelahiran 25 tahun yang lalu itu.
Dukk
Ken menendang kursi di sebelah Shun yang masih terkapar di lantai. Jika Yoshiro tidak mencegahnya, mungkin Shun tengah meregang nyawa sekarang.
Pria lesung pipi itu berbalik menuju Aira dan segera menggendong istrinya keluar dari ruangan. Ia tidak ingin Aira berbagi udara lebih lama lagi dengan orang yang telah mencelakainya.
"Kita pulang sekarang, hmm?" Ken menatap wajah pucat istrinya yang kini ada dalam gendongannya. Hatinya bagai ditusuk sembilu melihat kondisi Aira yang berantakan sekarang. Bekas air mata tampak mengering di pipinya.
Aira tak menjawab, ia semakin mempererat tautan tangannya di leher Ken agar tidak terjatuh. Wajahnya bersembunyi di balik dada bidang suaminya. Ia ingin segera melupakan kejadian buruk yang baru saja terjadi padanya.
Minami dengan sigap membuka pintu mobil saat Ken mendekat. Ia tidak tahu apa yang terjadi pada Aira. Satu jam yang lalu nonanya itu tampak baik-baik saja. Apa dia sakit?
"Kembali ke apartemen." perintah Ken lirih.
__ADS_1
"Baik." jawab Minami singkat. Ia cukup tahu bahwa emosi tuan muda Yamazaki dalam keadaan buruk, terlihat dari wajahnya yang tegang tanpa ekspresi. Entah apa yang terjadi di dalam kediaman Shun, pastilah itu bukan hal yang baik.
Mobil hitam yang mereka naiki membelah jalanan Tokyo yang berselimut salju di kanan kirinya. Lalu lintas tampak lengang kali ini, hanya satu dua kendaraan yang mereka lihat di jalan.
Puk puk
"Berbaringlah." ucap Ken sembari menepuk pahanya, meminta Aira merebahkan kepalanya di atas pangkuan Ken. Aira menurutinya dan mulai memejamkan mata, berharap memori buruk yang baru saja terekam oleh otaknya bisa menghilang begitu saja. Tapi kenyataannya bayangan itu semakin kuat dan membuat dadanya sesak. Ucapan Shun terngiang-ngiang di telinganya.
Aku tidak akan mengizinkanmu pergi. Aku menginginkanmu.
Aku menginginkanmu...
Aku menginginkanmu...
Keringat dingin semakin banyak membanjiri wajah Aira. Tubuh mungilnya kembali bergetar hebat membuat Ken menangkap jemari istrinya yang berusaha menutup telinganya.
"Ai-chan... Tenanglah." ucap Ken sembari membawa istrinya dalam pelukan. Minami melihat tuan dan nona-nya melalui kaca spion di depannya dan semakin bertanya-tanya apa gerangan yang terjadi pada Aira?
Sementara itu Yu dan Yoshiro juga keluar dari kediaman Shun, meninggalkan pria itu bersama Kaori. Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, keputusan ada di tangan Ken dan Aira sekarang.
"Apa kau bodoh?" tanya Kaori sambil membuka first aid box yang sebelumnya tertempel di dinding. Ia mengambil kapas dan alkohol untuk membersihkan darah yang mengering di sudut bibir sahabatnya.
"Huh?" Shun menyunggingkan senyum miringnya, menandakan ia tidak seperti yang Kaori pikirkan.
"Kalau bukan bodoh, lalu apa? Gila?" tanya Kaori seolah bisa membaca bahasa tubuh pria di depannya. Dengan tangkas ia membuka botol alkohol dan meneteskan cairan bening itu di atas kapas. Ia menyeka bibir kiri Shun dengan hati-hati.
"Lain kali aku tidak akan menolongmu jika membuat masalah dengan mereka." cetus Kaori dengan sebal.
"Kenapa?" tanya Shun penasaran.
"Dia baik dan aku harap kehidupannya di masa yang akan datang akan lebih baik dari hari ini."
"Siapa?" Shun belum menangkap arah pembicaraan Kaori.
Plakk
__ADS_1
Kaori memukul kepala Shun dengan kesal, "Bodoh! Tentu saja kita sedang membicarakan Aira."
"Aishh.." Shun menahan tangan Kaori yang berniat memukul tempurung kepalanya lagi. Wanita bar-bar ini hampir memukulnya dua kali padahal mereka baru bersama sejak lima menit yang lalu, "Katakan dengan jelas!"
"Dia mengkhawatirkan kesehatan semua orang, jadi dia memintaku ikut dalam misi menemukan adikmu." Kaori menutup kotak putih di depannya, "Dia bukan manusia, melainkan malaikat yang Tuhan kirimkan pada kita." terang Kaori.
"Jika dia malaikat, Tuhan sudah menghukumku karena menciumnya dengan paksa." jawab Shun yakin. Entah itu pembelaan atau apa, karena pria itu memang tak percaya pada Tuhan.
Plakk
"Itai!!" teriak Shun pura-pura kesakitan karena pukulan Kaori. Hanya Kaori yang berani melakukan itu padanya. Mereka sangat dekat, itulah sebabnya ia tidak marah meski wanita itu memukul kepalanya berkali-kali sekalipun.
(Sakit)
"Sekali lagi kamu mengganggu Aira, tamat riwayatmu! Hkkk.." ucapnya dengan suara di tenggorokan. Kaori menarik jari telunjuknya di depan leher, menyiratkan bahwa Shun akan mati.
"Haahh..." Shun merebahkan badannya di kursi yang sempat menjadi latar penyerangannya pada Aira dengan menghembuskan nafas kasar dari mulutnya, "Kenapa kalian semua memihak padanya?"
Mata sipitnya tertutup, menikmati aroma mint yang menguar dari pengharum ruangan yang ada di dinding. Dalam hati ia menyesal sudah berbuat hal bodoh itu pada Rara. Wanita itu pasti tidak akan memaafkannya. Lalu bagaimana dengan misi mereka menemukan Mone-chan?
Shun mengusap wajahnya dengan kasar. Alih-alih menyelesaikan masalah, justru ia membuat masalah baru yang lebih runyam.
"Dia hanya wanita biasa yang tidak pendendam. Itu sebabnya aku juga ingin melindunginya." ujar Kaori lembut.
"Aku tidak yakin bisa memaafkan orang yang meracuniku dua kali, bahkan mengancam keselamatan nyawaku. Tapi dia bisa melakukannya. Bersikap seolah tidak ada kesalahan apapun yang ku lakukan sebelumnya, dia bahkan meminta tolong padaku untuk ikut bergabung bersamanya. Ingat, minta tolong bukan memerintah. Hatinya lembut." terang Kaori panjang lebar.
"Itu kelemahan, buka sesuatu yang patut dibanggakan." jawab Shun sarkas. Ia berpikir tidak ada orang yang senaif itu di dunia ini. Mereka pasti memiliki niat tersembunyi di balik segala perilakunya.
"Terserah bagaimana kamu menilai wanita hamil itu, tapi satu yang pasti. Ketulusan hatinya menyentuhku..." Kaori menatap Shun dengan penuh arti, "Ken sangat beruntung bisa memilikinya. Dia akan jadi ibu yang baik untuk anak-anaknya kelak."
*******
Arigatou untuk semua waktu yang kalian sempatkan disini. Please like untuk membuat author semakin semangat up.
Komentar kalian author baca satu-satu kok, tapi ngga bisa author balas semua. Gomen ne 🙏
__ADS_1
Jaa mata ne,
Hanazawa easzy ^^