Gangster Boy

Gangster Boy
Season 2 : Hukuman Aira


__ADS_3

"Apa kamu begitu mencintaiku sampai tidak ingin berpisah denganku sedetik pun?" jiwa narsis Ken kembali menguasai, "Aku tahu aku terlalu tampan sampai kamu tidak bisa mengalihkan pandanganmu, benar kan?" Ken menggelitik telapak kaki Aira di sela-sela aktivitasnya memijit betis istrinya.


' Apa yang dia katakan? Terlalu tampan?' lirih Aira dalam hatinya. Ia memutar bola matanya karena jengah mendengar penuturan suaminya yang semakin menyebalkan jika sedang bersikap seperti sekarang ini.


"Hey sayang, kenapa diam saja? Apa kamu malu karena tebakanku benar? Ayolah... Apa yang tidak aku ketahui darimu?" tangan Ken berpindah menggelitik pinggang Aira, membuat wanita di depannya terlonjak.


"KENN?!!" Pekik Aira sambil berbalik, berusaha menahan tangan Ken agar berhenti membuatnya merasa geli, "Hentikan!"


"Apa?" Ken semakin melancarkan aksinya kala mendapati respon Aira. Ia tidak ingin istrinya itu terus murung, maka ini yang bisa ia lakukan agar wanita kesayangannya tidak lagi bersedih meratapi kepergiannya.


"Ahahaha... Ken, berhenti. Jangan melakukannya lagi." Aira mulai kewalahan menahan tangan Ken. Kedua tangannya tak bisa membendung serangan yang suaminya lakukan. Perutnya mulai terasa kebas dengan nafas tak beraturan, namun belum ada tanda-tanda Ken berhenti menggodanya. Sebuah ide cemerlang muncul dalam pikirannya.


"Ughh, perutku." ucap Aira sambil meletakkan kedua tangannya di perut, berpura-pura kesakitan dengan sedikit membungkukkan badannya. Hal itu berhasil membuat Ken menghentikan aksinya dan menatap Aira dengan pandangan khawatir.


"Ai-chan.. Daijoubu?" Ken semakin mendekat ke arah istrinya, menggenggam tangan Aira.


(Apa kamu baik-baik saja?)


Melihat Ken mulai masuk perangkapnya, membuat Aira semakin semangat berakting. Ia meremas tangan suaminya itu dengan erat, seolah menyalurkan rasa sakit yang tak tertahankan lagi.


"Aku akan menghubungi dokter sekarang." Ken beranjak hendak mengambil ponselnya di atas nakas tapi Aira segera menarik tangan Ken, mencegahnya agar tidak pergi atau aktingnya akan terungkap. Lagi pula hampir tengah malam begini, ia tidak ingin merepotkan orang lain.


"Tidak. Jangan memanggil dokter, aku tidak ingin siapapun kemari." pinta Aira dengan wajah memelas. Ia bersusah payah membuat ekspresi kesakitan. Dalam hati ia menyesal pernah menganggap para aktor seperti Yamaken memiliki pekerjaan yang mudah, nyatanya berakting tidak sesederhana itu.


"Tapi bagaimana dengan perutmu?" tanya Ken sembari mengelus perut Aira, mencoba meredakan sakit yang istrinya rasakan itu.


"Ah, kompres hangat." Ken segera berlari menuju lemari kecil yang tertanam di dinding.


Dukk


Ia tidak memperhatikan langkahnya sampai menabrak meja kayu yang ada di depannya. Ken melanjutkan langkahnya sambil sesekali mengelus kakinya yang terasa sedikit nyeri, membuat sebuah senyum terukir di wajah Aira.


Suaminya terlihat menggemaskan saat panik dan tidak bisa berpikir jernih seperti sekarang. Sifat kekanakkannya yang ceroboh muncul dengan sendirinya. Kemana perginya sosok Ken si Gangster Boy yang rasional dan cerdas itu? Apa dia menjadi bodoh sejak jatuh cinta seperti yang Yoshiro katakan beberapa bulan yang lalu? Atau Ken memang benar-benar bodoh?


Aira menggeleng-gelengkan kepalanya menampik prasangka terakhirnya. Bagaimana mungkin dia berpikiran buruk pada suaminya sendiri?


Bughh


Ken terjatuh di kamar mandi karena terpeleset kakinya yang licin, menimbulkan bunyi benturan antara tulang lututnya dengan lantai kayu di bawahnya. Aira hanya bisa menutupkan tangannya di wajah, menyembunyikan matanya yang terpejam. Ia tak habis pikir kenapa Ken jadi sepanik itu hanya karena ia sakit perut. Apa ia keterlaluan mengerjai suaminya?


"Aah, panas.." teriak Ken saat tangannya terkena air yang keluar dari kran di hadapannya. Karena panik ia jadi terburu-buru dan tidak memperhatikan keselamatannya sendiri. Ia sedang mengisi kantong kompres berwarna merah di tangannya yang akan ia tempelkan di perut Aira. Yang ia tahu, kompres hangat bisa meredakan nyeri pada perut kram.

__ADS_1


Grep


Sebuah tangan melingkar di perutnya membuat Ken terhenyak. Ia menatap ke arah samping dan mendapati Aira ada di belakangnya. Wanitanya itu menempel di punggungnya, tak ada jarak lagi.


"Gomen ne.." ucap Aira menyesal. Ia memejamkan matanya, menikmati aroma parfum suaminya yang kini menjadi candu untuknya.


"Eehh?" Ken melepaskan kantung kompres di tangannya tanpa ia sadari. Ia berbalik menyambut pelukan istrinya, terkejut dengan kedatangannya.


"Aku tidak tahu selain ceroboh, kamu juga bodoh." ucap Aira menyindir Ken yang masih memeluknya tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi.


"Apa maksudmu? Siapa yang bodoh dan ceroboh?" Ken mengurai pelukannya dan menatap Aira meminta penjelasan. Egonya bergejolak mendengar sindiran istrinya itu.


Aira tersenyum melihat wajah suaminya yang memerah karena marah. Rasa bersalahnya menguap seketika dan membuatnya menjauh dari pria itu. Ia memilih kembali ke ranjangnya dan menyembunyikan tubuh mungilnya di bawah selimut. Ia takut Ken akan marah padanya.


"Ai-chan... Apa kamu ingin bermain-main denganku?" geram Ken dengan menggertakkan giginya. Ia melangkah ke arah istrinya dengan seringai khas di bibirnya. Ia akan membuat perhitungan dengan istrinya itu.


Hening


Lima menit berlalu tapi tak ada tanda-tanda Ken mendekat ke arahnya. Tak ada suara apapun selain deru halus mesin penghangat ruangan yang ada di samping kamar mandi. Kemana Ken pergi? Apa sesuatu yang buruk terjadi padanya?


Aira membuka selimut yang sedari tadi menyembunyikan tubuhnya dari kepala sampai kaki dan mendapati ruangan itu gelap gulita. Ia menyapu pandangannya ke seluruh sisi ruangan ini namun Ken tak terlihat dimanapun. Hal itu membuat perasaan Aira cemas, takut hal buruk terjadi pada suaminya.


"Ken, kamu dimana?" tanya Aira, kembali menatap sekitarnya. Nihil. Suaminya tak terlihat.


Brukk


Seseorang menarik tubuhnya, membuatnya kehilangan keseimbangan. Ia menutup mata, mengira tubuhnya akan mendarat di lantai kayu yang terasa dingin. Namun hal itu tak pernah terjadi. Tubuhnya justru terasa hangat, seolah seseorang tengah mendekapnya.


'Apa yang terjadi?' batin Aira berucap. Ia seperti linglung, tidak menyadari apa yang terjadi padanya barusan.


Aira membuka matanya perlahan dan mendapati Ken duduk di sofa, sementara ia duduk di pangkuan Ken. Tangannya bersandar pada dada bidang suaminya yang tertutup jaket hitam, warna kesukaannya.


Deg deg


Jantung Aira berdetak lebih kencang dari sebelumnya. Selain karena sisa kekhawatirannya tadi, tatapan Ken yang menguncinya menyiratkan ia dalam bahaya sekarang. Entah apa yang akan Ken lakukan padanya. Aura devil menyeruak dari tubuhnya, membuat Aira gentar. Ya, candaannya memang sudah keterlaluan tadi.


Glek


Aira menelan ludahnya dengan paksa, berusaha membasahi kerongkongannya yang terasa kering hanya dengan bersitatap dengan suaminya.


"Aku akan menghukummu." bisik Ken di telinga Aira, menimbulkan geleyar aneh di hati wanita hamil itu. Bulu kuduknya meremang saat Ken menyingkirkan helaian rambut panjangnya ke belakang. Tangan Ken yang dingin tidak sengaja menyentuh leher Aira. Itu salah satu bagian tubuhnya yang sensitif, membuat seolah ada aliran listrik yang menyengat ke sekujur tubuhnya.

__ADS_1


"Ken..." panggil Aira saat ia merasa dominasi suaminya semakin menguasai keduanya. Ia tak bisa bergerak dalam dekapan pria dengan tahi lalat di pipi kanannya itu.


"Terimalah hukumanmu. Aku akan membuatmu tidak bisa tidur sampai pagi." ucap Ken seraya mengangkat tubuh mungil Aira dan membawanya menuju ranjang.


Aira hanya bisa menutup matanya, bersiap menerima konsekuensi yang harus ia tanggung karena membuat suaminya marah. Jika sebelumnya Aira memberikan hukuman untuk Ken, kali ini sebaliknya. Ken yang akan memberikan Hukuman untuk Aira. Entah hukuman seperti apa itu, hanya mereka berdua yang tahu.


*******


Langit masih gelap seluruhnya saat Ken meraba tempat tidur di sebelahnya. Ia menggerakkan tangannya ke atas dan ke bawah namun tak mendapati istrinya di sana, membuat matanya terbuka dan melihat sekeliling.


'Dimana Aira? Apa dia marah?' batin Ken sambil mengambil sweater miliknya yang tergeletak di lantai dan langsung memakainya.


Beberapa jam yang lalu, Ken mengambil haknya sebagai suami tanpa meminta persetujuan istrinya itu. Padahal dokter jelas-jelas mengatakan agar untuk sementara waktu mereka tidak berhubungan, sampai kondisi kesehatan Aira stabil. Ken menyesal sudah melanggar nasehat dokter itu. Ya, pasti Aira marah padanya sekarang.


Ken melihat ke kamar mandi, namun tak ada siapapun disana. Ia kembali dan melihat pintu kamar mereka sedikit terbuka, membuat udara beraroma salju khas musim dingin tercium di hidung Ken dengan jelas. Mungkinkah Aira pergi?


Tanpa menunggu waktu lama, Ken meraih jaketnya dan terburu-buru membuka pintu di hadapannya, bersiap mencari Aira di luar. Langkahnya terhenti saat mendapati istrinya sedang duduk sendiri di sebuah kursi bulat berwarna hitam sambil berbicara dengan seseorang di ponselnya.


"Segera dapatkan sidik jarinya. Hanya itu yang bisa aku andalkan untuk membuat kesepakatan dengan orang itu." ucap Aira tanpa mengetahui Ken berdiri di belakangnya.


'Sidik jari? Kesepakatan apa yang akan Aira buat? Lalu siapa orang yang ia maksud 'orang itu'? ' berbagai pertanyaan menghantui Ken.


"Baiklah. Aku mengandalkanmu." ucap Aira sambil beranjak berdiri membuat Ken mundur dan melepas jaketnya. Ia kembali naik ke ranjangnya dan berpura-pura tidur.


Tak lama kemudian Aira masuk dan mendekat ke arah Ken, mencium keningnya dan meletakkan ponselnya di atas nakas sebelum masuk ke kamar mandi. Ia membersihkan diri setelah pergulatannya dengan Ken beberapa saat sebelumnya.


Ken membuka matanya saat mendengar pintu kamar mandi tertutup dengan sempurna. Hatinya tak tenang memikirkan apa yang istrinya lakukan di belakangnya. Dari panggilan terakhir di ponselnya, tampak orang yang Aira hubungi adalah Yu.


' Apa yang mereka rencanakan?'


*******


Hai hai hello... Jumpa lagi dengan author-chan yang kawaii ini 😄


Gimana nih, sweet ngga? Btw, maaf yaa kalo ada penggambaran yang kurang spesifik atau ada adegan yang di skip. Itu memang sengaja author lakukan. Selain untuk menghindari readers yang masih dibawah umur, alasan sebenarnya adalah karena author ngga berpengalaman sama sekali dalam hal itu 😂😂


Jadi, nikmati saja yang ada yaa. Author nyerah buat hal-hal yang diluar jangkauan. See you next day, Hope you enjoy it 🤗


Ah, hampir lupa. Happy 75th Independence day of Indonesia 🇮🇩🇮🇩 *bener engga yaa bahasanya? Harap maklum kalo salah, udah lama ngga belajar english gara-gara fokus sama jejepangan akhir-akhir ini. Gomen ne.. Hehe


Jaa ne,

__ADS_1


With love ♡


Hanazawa easzy ^^


__ADS_2