
Cup
Ckitt
Ken mencium lidah Aira dan menggigitnya menimbulkan sensasi luar biasa baginya. Ia merasakan geli dan ngilu di saat yang bersamaan.
DEG!!!
"Jadi benar ya, lidah itu tidak bertulang?" tanya Ken dengan senyum kemenangan di wajahnya. Ia menatap istrinya yang mematung di depannya.
Tik
Setetes bulir bening tak berwarna jatuh dari mata kiri Aira. Ia merasakan dadanya sesak, bukan sesak karena jatuh cinta atas perlakuan suaminya. Bukan sama sekali. Ia kesal dan marah sekarang. Rasa ngilu di dalam lidahnya masih terasa jelas, tak kunjung hilang.
Aira turun dari pangkuan Ken setelah menghapus air matanya, kemudian mengambil mangkuk berisi nasi yang ada di meja. Ia memang marah, tapi tak ada gunanya jika mereka bertengkar. Lebih baik ia diam daripada marah-marah yang justru akan membuat Ken semakin suka menggodanya. Bagaimanapun juga, ia harus tetap bersikap baik pada suaminya, sebagai bentuk baktinya sebagai seorang istri pada suami.
Wanita berwajah bulat itu mengambil satu sendok nasi dan menyuapkannya ke depan mulut Ken yang masih terdiam. Pria itu tahu ia sudah salah karena menggigit lidah istrinya.
"Ai-chan, aku... "
"Makanlah," ucap Aira lirih tanpa memandang manik hitam suaminya. Pandangannya justru tertuju pada makanan di depannya.
Glek
Alarm tanda bahaya segera menyala dalam kepala Ken, membuatnya speechless, tak bisa berkata-kata. Seketika lidahnya terasa kelu dan tenggorokannya terasa kering. Aira marah. Ah, mungkin bukan lagi marah tapi murka.
Jika sekedar marah, ribuan kata akan keluar dari mulutnya seperti muntahan peluru saat terjadi perang. Tapi, saat dia sangat sangat marah, dia justru akan mendiamkan Ken seperti saat awal kehamilannya beberapa bulan yang lalu.
Tangan Aira masih terulur di depan mukut Ken, membuat pria itu serba salah. Tidak memakannya akan membuat istrinya semakin marah. Tapi, selera makannya sudah hilang saat melihat Aira marah padanya. Ia merasa sudah gagal membahagiakan wanitanya satu ini. Karena cahaya rumah akan redup jika istrinya tidak bahagia.
"Sayang, maafkan aku," bujuk Ken sembari menatap istrinya. Dia menahan tangan Aira, menggenggamnya dengan erat, merasa bersalah karena sikapnya beberapa detik yang lalu.
Srett
Aira menarik tangannya dengan paksa. Ia beranjak pergi membawa nampan berisi makanan milik Ken yang tak tersentuh. Langkahnya terhenti di belakang pintu.
"Aku tunggu di mobil," ucapnya sebelum benar-benar pergi dari hadapan suaminya.
BUGH!
Ken meninju kursi sofa yang ia duduki. Aira benar-benar marah padanya. Apa yang harus ia lakukan sekarang?
...****************...
Mobil berwarna hitam itu melaju ke selatan, meninggalkan kediaman Ken di Tokyo. Setidaknya butuh waktu satu jam untuk sampai di kediaman keluarga besar Yamazaki. Namun entah kenapa perjalanan kali ini terasa sangat lama, bagi Ken maupun untuk Aira.
Sejak keluar dari gerbang rumah mereka, sampai separuh perjalanan ini, tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulut keduanya. Ken tidak tahu bagaimana memulai pembicaraan dengan Aira yang tengah mendiamkannya.
__ADS_1
"Ai-chan, apa kamu marah padaku?" tanya Ken saat mobil yang mereka tumpangi berhenti di jalan. Lampu lalu lintas menyala merah, mengizinkan kendaraan dari arah lain untuk melaju terlebih dahulu.
Aira bergeming di tempatnya, tak menjawab pertanyaan suaminya. Netranya menghadap ke luar, menatap pemandangan yang tak menarik sama sekali, bangunan-bangunan tinggi yang berjejer, membuat kota ini terasa padat dan sesak. Sama seperti hatinya saat ini, sesak.
Ken kembali canggung dibuatnya. Sebagai lelaki, para suami memang lebih suka to the point, tidak bertele-tele apalagi berkode-kode. Karena ia tidak akan bisa menebaknya sesuai pikiran sang Istri.
Sisa perjalanan kembali mereka habiskan dalam diam. Aira mengunci mulutnya, tak ingin berbicara pada suaminya. Ia tak membalas satu pun pertanyaan yang suaminya lontarkan. Ia tahu tidak seharusnya ia mendiamkan suaminya, tapi ia marah, kesal dan sebal saat ini.
"Hey lihat, Sayang. Mommy dan daddy akhirnya sampai juga," ucap nyonya Sumari saat melihat anak dan menantu kesayangannya keluar dari mobil. Wanita itu mendekat dengan membawa Akari dalam gendongannya. Sedari tadi ia berbicara sendiri, seolah tengah berbincang dengan cucunya.
"Apa kabar, Bu?" tanya Aira sembari mencium pipi kanan kiri ibu mertunya, wanita yang telah melahirkan suaminya 28 tahun yang lalu.
"Tentu saja kabar baik." Wanita itu mengyunggingkan senyum terbaiknya, menyambut kedatangan ibu dari ketiga cucunya. Ia merasa begitu bahagia mendengar Aira dan ketiga jagoannya akan menginap di rumah ini.
"Kami pulang, Bu," ucap Ken sembari mendekat ke sisi Aira dan merangkul pinggangnya.
Srett
Aira melepas tangan Ken detik berikutnya. Ia sengaja menjauh dari jangkauan Ken dengan berdiri di belakang nyonya Sumari. Hal itu tak lepas dari mata wanita 52 tahun ini. Ia tahu, pasti hubungan Ken dan Aira sedang sedikit renggang sekarang, terlihat dari penolakan yang Aira lakukan.
Jika Aira tidak marah, ia pasti akan membiarkan jemari Ken bersemayam di pinggangnya. Tidak menunjukkan penolakan yang begitu jelas seperti tadi.
"Dimana Aya dan Azami?" tanya Aira memecah sunyi.
"Ah, mereka ada di ruang pertemuan. Para tetua sengaja datang untuk melihat putra dan putrimu."
Aira sedikit tersentak saat mendengar ibunya menyebut ruang pertemuan. Itu adalah ruang sejenis aula tempatnya menghadap para tetua saat datang kemari hampir setahun yang lalu. Di tempat itulah, untuk pertama kalinya ia menatap wajah garang kakek Yamazaki, seorang ketua yakuza terbesar di Jepang.
Seketika rasa takut menjalar di tubuhnya. Ia kembali mengingat cerita yang ia dengar di awal-awal ia masuk ke keluarga ini. Para tetua ini, mereka tidak bisa dinilai hitam ataupun putih meski beberapa dari mereka memiliki wajah garang seperti kakek Yamazaki.
Bisa dikatakan wilayah mereka abu-abu. Mereka akan melakukan hal-hal baik, seperti setelah tsunami mereka adalah orang-orang pertama di lokasi kejadian yang turun tangan membantu. Mereka tidak akan segan mengeluarkan uang jutaan yen demi menolong sesama yang kesusahan.
Namun pada saat yang bersamaan, mereka akan terlibat hal-hal buruk seperti perdagangan senjata, pemerasan, bahkan membantai musuh menggunakan tangan mereka sendiri. Entah berapa nyawa yang telah melayang dari katana yang bertengger di pinggang mereka. Kimonk dan katana adalah dua hal wajib yang harus melekat di tubuhnya.
"Ayo kesana." Ken menggenggam jemari istrinya dan menariknya menuju ruangan yang disebutkan oleh ibunya.
Greg
Ken membuka pintu geser di depannya, membuat semua orang yang ada di dalam ruangan ini seketika menoleh.
"Ken, Aira, masuklah." Seorang wanita dengan yukata berwarna biru langit mempersilakan pasangan suami istri itu untuk bergabung bersama mereka.
Aira dan Ken menundukkan kepala sejenak sebelum melangkah melewati pintu. Mereka bergabung dengan para tetua disana yang duduk berkeliling. Kedua bayinya tergeletak di tengah, bergerak-gerak aktif menjangkau udara.
"Mereka sangat menggemaskan," ucap wanita yang tadi meminta mereka masuk.
Aira tersenyum kecut mendengarnya. Meski suasana di sini tak menyeramkan seperti saat itu, tapi tetap saja Aira merasa canggung berada di antara para tetua yakuza yang ditakuti di seantero Jepang ini. Mereka adalah para samurai. Pedang panjang yang disebut katana tergantung di pinggang para pria itu, membuat keringat dingin segera keluar membasahi telapak tangannya. Entah berapa nyawa yang sudah mereka hilangkan dengan senjata itu.
__ADS_1
Ken merasakan tangan Aira yang berubah dingin dan sedikit gemetar. Sepertinya ia takut berada di antara orang-orang ini. Ia sedikit heran. Padahal dulu Aira terlihat begitu tegar, menatap kakeknya dengan berani. Kenapa sekarang terlihat begitu rapuh?
"Paman, Bibi, ini waktunya anak-anakku tidur siang. Bisakah aku mengambil mereka?" tanya Ken menatap berkeliling, melihat semua orang yang ada di sana. Ia ingin mengamankan putra putrinya karena ia tahu Aira tidak nyaman anak-anaknya berada di sini.
"Mereka belum mengantuk. Lihat, mereka sedang bermain." Seorang nenek seusia kakek Yamazaki menyela. Ia justru menggendong Ayame ke dalam dekapannya, tak rela jika Ken mengambil bayi merah itu.
"Benar. Kami masih ingin melihatnya."
"Ini cucu-cucu kami. Apa kamu tidak mau kami melihat putramu?" tanya yang lainnya.
Beberapa orang mulai berkomentar sahut menyahut, membuat Ken tak enak hati.
Duk duk
"Semua diam!" Suara kakek berhasil membuat suasana di ruangan ini hening seketika. Orang-orang yang awalnya mengerumuni Ayame dan Azami perlahan mundur, kembali duduk berjejer dengan teratur.
"Kalian berdua, kemari!" tegas kakek Yamazaki, menatap Ken dan Aira. Ia ingin pasangan suami istri itu duduk di sampingnya.
Mau tak mau Aira dan Ken mendekat.
"Sakura, bawa Akari kesini!"
"Baik," jawab Sakura sebelum undur diri. Ia segera pergi dari ruangan ini, bersiap meminta si Sulung dari nyonya Sumari.
Ken mendekat ke arah kakek dan berbisik, "Aira takut karena mereka membawa katana."
Kakek Yamazaki mengangguk.
"Peraturan baru mulai hari ini, tidak ada seorang pun yang boleh membawa senjata dalam jarak sepuluh meter dari cucu-cucuku. Melanggar berarti siap menerima hukuman!"
Semua orang menundukkan kepala, siap mematuhi peraturan itu. Mereka dengan teratur melepaskan katana yang ada di pinggang dan meletakkannya di luar. Aira lega melihatnya. Bagaimana pun, ia khawatir ada orang yang ingin melukai putra putrinya.
Sakura masuk ke dalam ruangan ini dan meletakkan Akari di sebelah Ayame. Ia undur diri dan kembali duduk bersimpuh di sebelah pintu seperti sebelumnya, bergabung dengan dua rekan pengasuh yang lain.
"Yamazaki Kenzo, perkenalkan putra putrimu!"
Ken menghela napasnya, bersiap memperkenalkan ketiga anaknya pada para tetua yang kini duduk berkeliling di depannya.
...****************...
Ngeri eh si kakek. Begitu mulutnya kebuka, udah kaya auman harimau aja, semua orang takut 😫
Segini aja dulu ya, Author harus kerja di dunia nyata 😂😂
See you di ke-uwu-an berikutnya 😄😄
Bai bai,
__ADS_1
Hanazawa Easzy