Gangster Boy

Gangster Boy
Season 2 : Bukan Wanita Suci


__ADS_3

Aira duduk di beranda sambil meniup tangannya yang terasa dingin. Matahari agaknya belum ingin menunjukkan tajinya siang ini. Berbanding terbalik dengan keadaan cuaca di negara tropis seperti Indonesia, mungkin sedang terik-teriknya. Bahkan suhu udara bisa mencapai 38° celcius di wilayah yang dilewati garis khatulistiwa itu.


"Dingin kak?" tanya Mone sambil meletakkan teh madu untuk Aira.


Aira mengangguk sekali, menatap wajah cantik di depannya yang sedang tersenyum. Gadis 20 tahun itu tampak bahagia, tidak seperti dugaan Aira sebelumnya. Ia pikir Mone akan menjerit histeris atau semacamnya saat mengetahui keadaan ayah dan ibu angkatnya yang sudah tiada.


"Apa keadaanmu sudah membaik?" tanya Mone canggung. Ia menggigit bibirnya setelah melontarkan kalimat pertanyaan itu. Ia ikut merasa bersalah karena Aira sakit demi membebaskannya dari Takeshi.


"Ya." jawab Aira singkat. Ia masih enggan untuk berbicara pada siapapun. Selepas makan pagi, Aira memilih mengurung diri di dalam kamar dan baru keluar beberapa menit yang lalu.


"Kak, waktunya makan siang. Mau ku ambilkan makanan ke sini? Kita makan bersama." ajak Mone berusaha mengakrabi kakak sepupunya itu. Ya, meskipun belum ada hasil dari laboratorium, tapi Mone sangat yakin jika Aira memiliki darah yang sama dengannya.


Aira menggeleng. Ia menyesap teh yang Mone siapkan sendiri. Tangannya sedikit bergetar membuat Mone bertanya-tanya apa yang terjadi pada Aira.


"Aku akan mengambil kue. Kaori-chan sedang membuat cookies di dapur." ucapnya sebelum pergi. Ia harus menanyakan pada Kaori tentang kondisi Aira, apa dia benar-benar sudah sembuh atau belum.


Aira menatap punggung Mone yang kini berjalan melewati pintu kaca transparan yang menghubungkan dengan ruang tengah. Sebuah tikaman terasa kembali menghujam ulu hatinya. Ia masih belum bisa melupakan Anna dan semua kehangatan yang ia berikan.


Sementara itu, Mone mendekati Kaori yang tengah melepas apron berwarna kuning dari tubuhnya. Shun tampak duduk sambil memainkan ponselnya, sepertinya ia tengah bermain game. Kebiasaannya sejak dulu.


"Kaori-chan, apa yang terjadi dengan kakakku?" tanya Mone khawatir. Ia ikut menata kue kering buatan Kaori ke dalam wadah.


"Aku baik-baik saja." jawab Shun menyambar pertanyaan adik angkatnya itu.


"Ish.. Aku tidak menanyakanmu." Mone melempar pot bunga plastik yang berdiri di atas meja dapur ke arah Shun.


Pria itu berhasil menangkapnya dan memberikan tatapan nakal pada Mone, "Kamu tidak mengakuiku lagi sebagai kakakmu?"


Kaori menatap dua orang di depannya bergantian. Meskipun terlihat bersitegang, tapi ia tahu mereka saling menyayangi satu sama lain.


"Ada apa dengan Aira?" tanya Kaori menengahi pertengkaran Mone dan Shun.


"Dia banyak diam. Baru saja aku melihat tangannya sedikit bergetar, apa dia baik-baik saja?" tanya Mone khawatir.


"Sepertinya dia masih shock dengan kejadian semalam." jawab Kaori sambil menatap lawan bicaranya.


"Dia merasa bersalah karena tidak bisa menyelamatkan ibumu." jawab Ken yang kini masuk ke dapur diikuti Kosuke di belakangnya.

__ADS_1


"Ibuku?" tanya Mone heran.


"Seseorang meledakkan tempat itu. Ibumu mungkin masih terjebak di sana saat itu." jawab Ken sambil melirik Shun yang kini menatapnya tajam. Seolah ada kilatan petir di antara dua pria berparas rupawan itu.


Ken yang tidak habis pikir dengan cara Shun mengakhiri pertarungan mereka, dan Shun yang jengah mendengar seolah-olah Ken begitu memusuhinya. Sejak awal keduanya memang tidak pernah cocok.


"Dimana dia sekarang?" tanya Ken pada Kaori.


Kaori menunjukkan beranda tempat Aira berdiam diri sejak beberapa menit yang lalu. Ia berniat akan menemaninya setelah cookies buatannya siap, tapi ternyata Ken sudah pulang lebih dulu.


"Dia sudah makan?" tanya Ken.


"Belum. Dia juga menolak salad buatanmu." jawab Kaori sambil menyerahkan sebuah kotak makan bening berisi berbagai potongan buah yang Ken siapkan sebelum ia pergi dua jam yang lalu.


Ken menerima benda persegi panjang itu dan datang menghampiri Aira.


"Apa kamu ingin membeku di sini?" tanya Ken bercanda. Ia mendekat ke arah Aira yang langsung memeluk perutnya. Ya, Aira masih duduk di kursi dan Ken kini berdiri di hadapannya.


"Ayo pulang." pinta Aira manja.


"Hey, ada apa dengan honey bunny sweetieku ini?" Ken mengurai pelukan Aira dan memegang kedua pipi chubby istrinya. Ken berjongkok, menjadikan lututnya sebagai tumpuan di lantai sehingga membuat wajahnya sejajar dengan Aira.


Cup


Ken mencium kedua tangan Aira yang kini ada dalam genggamannya. Ia ingin wanitanya itu kuat dan segera tersenyum seperti sebelumnya.


"Air matamu tidak pantas menangisi kepergian rubah licik sepertinya. Kamu tidak seharusnya bersedih atas keberhasilan kita." ucap Shun yang kini berdiri di ambang pintu. Ia menatap sebal pada Ken yang masih berlutut di depan Aira.


"Jangan dengarkan dia. Ayo kembali ke dalam." Ken mengajak Aira masuk. Mereka berdua melewati Shun yang mengukir smirk di wajahnya.


"Dia bukan wanita suci." ucap Mone saat Ken dan Aira melewati ruang tengah.


Langkah kaki pasangan suami istri itu terhenti. Mereka menatap Mone yang kini berjalan mendekat ke arah keduanya.


"Kakak, maukah kamu mendengarkanku sejenak?" tanya Mone penuh harap sambil meraih tangan Aira yang tergantung bebas di sisi badannya.


Ken melepaskan pelukannya di pinggang Aira, membiarkan calon ibu dari anak-anaknya mengikuti Mone yang mengajaknya duduk di kursi panjang dengan bulu-bulu lembut di sisi kanan kirinya. Ia memilih duduk di kursi single di sebelah kanan Aira.

__ADS_1


"Apa yang orang itu katakan benar. Air matamu terlalu berharga untuk menangisi Anna." ucap Mone sambil menatap intens ke dalam manik coklat Aira yang juga menatapnya.


"Anna?" tanya wanita hamil itu, heran dengan sebutan Mone pada ibu angkatnya. Ia tidak menyangka Mone akan menyebut wanita itu langsung memakai namanya, tanpa sebutan ibu, mommy, atau semacamnya.


"Dia bukan orang baik." ucap Mone menjawab keheranan Aira yang tersirat dari ekspresi wajahnya.


"Apa maksudmu?"


"Dia memonopoli semua aset milik ayah." Mone menerawang jauh ke angkasa yang terlihat dari jendela kaca di depannya. Tatapannya menunjukkan rasa kecewa yang mendalam.


"Anna, wanita itu memang begitu menyayangiku seperti putrinya sendiri. Tapi dia juga tidak sebaik yang ada dalam pikiranmu, kak." Mone kembali membawa atensinya menatap wajah bulat di depannya, "Dia punya affair dengan ayah saat ibuku masih ada."


*affair : hubungan gelap


Genggaman Aira pada jemari Mone mengerat, ia terkejut dengan pernyataan gadis itu. Kepalanya berdenyut pelan seolah sesuatu memaksa masuk ke dalam memorinya, menghantam persepsi baiknya pada Anna. Ia tidak menyangka wanita Rusia yang hangat dan penuh cinta itu memiliki sisi gelap dalam hidupnya, bahkan begitu gelap dan mungkin takkan termaafkan bagi sebagian orang.


"Apa kamu yakin?"


"Ya." jawab Mone setelah mengangguk dua kali.


Ken menatap benda bulat di pergelangan tangannya, waktu makan siang hampir habis dan istrinya belum makan apapun sejak sarapan yang ia muntahkan setelahnya. Setelah Mone selesai dengan penjelasannya, ia harus memaksa Aira untuk makan. Ia tidak ingin anak-anaknya di dalam sana kelaparan.


"Saat itu aku dan ayah sedang makan malam bersama. Anna datang dengan seorang anak seusiaku, kami hanya terpaut beberapa bulan. Anna memohon pada ayah untuk menikahinya. Dia ingin ayah mengakui darah dagingnya, tapi ayah menolaknya. Mereka bertengkar hebat, aku hanya bisa menutup telingaku sebelum bibi membawaku masuk. Dua hari setelahnya, anak itu ditemukan meninggal dan dokter memvonis Anna depresi berat. Paman Takeshi membawanya ke Rusia untuk menjalani pengobatan selama dua tahun. Mereka menikah di sana. Wanita itu melupakan anaknya yang sudah meninggal dan menganggap aku adalah putri yang dilahirkannya. Jadi, saat ayah tiada dia begitu bersikeras memaksaku kembali padanya. Paman Takeshi tidak bisa menolak keinginan Anna. Ia tidak ingin Anna kembali depresi. Jadi aku membantunya bersandiwara sebagai gadis manis yang menuruti semua kemauannya." Mone menundukkan kepalanya. Dadanya terasa berat mengingat semua masa lalunya yang penuh cinta dengan Anna 5 tahun terakhir.


"Kasih sayangnya tulus sebagai seorang ibu, tapi fakta dia menjalin hubungan gelap dengan ayah juga tidak bisa aku lupakan. Dan setelah aku mendengar bahwa paman yang bertanggungjawab atas kematian ayah, aku merasa tidak ada yang bisa aku pertahankan di sana. Anna ataupun Takeshi, mereka orang-orang yang sudah menyakiti ayah dan ibuku. Aku tidak bisa memaafkan mereka. Jadi, aku lega saat mereka tidak ada lagi di dunia ini." ucap Mone sambil tersenyum hambar.


"Mone-chan.." panggil Aira sambil menangkup pipi chubby di depannya, "Jangan bersedih. Masih ada aku disini." ucap Aira. Ia meraih Mone ke dalam pelukan, menyalurkan kasih sayangnya pada gadis malang ini. Aira paham seperti apa rasanya kehilangan orang-orang yang ia sayangi dan terpaksa menjalani kehidupan yang sulit seolah semesta tidak adil padanya.


Padahal tidak, bukan begitu. Bukan semesta yang tidak memihak padanya, tapi ia yang seringkali berburuk sangka pada skenario Tuhan yang Maha Esa.


...****************...


Hambar? Maaf yaa baru sempet update, author lagi kurang fokus beberapa hari ini. Semoga next episode bisa dapet feel nulis lagi. Jaga kesehatan kalian yaa,


Please komen di bawah biar author tahu kekurangan di tulisan kali ini. Karena author emang ngga puas sii buat part ini. Bisa dibilang memaksakan diri buat nulis.


Jaa,

__ADS_1


Hanazawa easzy 😔


__ADS_2