Gangster Boy

Gangster Boy
Gangster Boy : Ai-chan, Aishiteru


__ADS_3

Pergulatan Ken dan Aira telah berakhir sejak beberapa menit yang lalu, namun keduanya masih berbaring di atas ranjang, saling memeluk satu sama lain. Ketiga bayi mereka sudah berpindah ruangan, berada dalam pengawasan Sakura dan rekan-rekannya.


Cup


Lagi-lagi Ken menciumi bahu istrinya yang tak terhalang sehelai benang pun. Selimut warna coklat susu yang menutupi tubuh Aira hanya terhenti sebatas dadanya saja.


"Hentikan. Itu geli." Aira coba menjauhkan bibir Sang Suami yang seolah tak pernah lelah menjamah tubuhnya. "Aku lelah. Biarkan aku istirahat."


Ken tak peduli. Pria itu hanya berpindah tempat, mendusel ke arah tengkuk Aira dan kembali mengecup bagian sensitif istrinya itu.


"Yamazaki Kenzo?!" pekik Aira saat jemari tangan pria ini ikut bergerilya di dalam selimut. Tangannya tak tinggal diam, mengelus, menekan, juga memelintir area pribadi milik istrinya.


"You made me crazy."


(Kamu membuatku gila)


Aira menahan tangan Ken. "Jangan menyalahkanku! Sebelum aku mengenalmu, kamu memang sudah gila!" ketus Aira sebal. Bibirnya mencebik, tidak terima dikatakan sebagai penyebab Ken menggila seperti sekarang. Pria itu seolah tak pernah puas meski sudah merasakan pelepasan berkali-kali.


"I wanna eat you." Ken kembali membisikkan kata-kata vulgar di telinga Sang Istri, bahkan tak segan mengulum daun telinga yang mulai memerah itu.


(Aku ingin memakanmu)


"KENN?!!!" Kali ini Aira tak tinggal diam. Dia mencubit punggung tangan Ken yang bersemayam di depan perutnya. Hal itu berhasil membuat Ken melepaskan bibirnya dari tubuh Aira.


"Aku akan marah jika kamu tidak bisa mengendalikan diri lagi seperti sebelumnya!" Aira bangun dari tidurnya, membuat punggung mulusnya terekspose. Selimut di tangannya dia tahan sebagai penutup badan bagian depan, melindungi aset berharganya agar tetap tersembunyi dengan baik.


"Ai-chan," panggil Ken, meraih jemari Aira dan duduk di samping wanita kesayangannya itu.


"Bukankah aku sudah mengatakannya? Aku akan menutup mulutku selama kamu tidak bisa mengendalikan emosimu! Apa aku harus mendiamkanmu lagi agar kamu tahu apa kesalahanmu?!" Aira berbalik badan setelah mengatakan hal itu, membuat Ken dengan leluasa menatap punggung polosnya.


Ckiit!


Hati Ken mencelos, menatap kulit punggung istrinya yang masih memiliki baret bekas luka. Itu adalah akibat cambukan darinya hampir setahun yang lalu. Garis diagonal yang terlihat dari bahu hingga ke pinggang itu membuat Ken kembali mengingat kebrutalannya waktu itu.


Kejadian hari itu berawal dari Aira yang murka setelah tahu perjanjiannya dengan kakek. Disana tertulis bahwa keberadaan Aira hanya sebagai media untuk Ken mendapat keturunan. Jika anaknya laki-laki, maka Kakek Yamazaki akan mengakuinya sebagi pewaris keluarga. Namun, jika anak yang dilahirkan adalah perempuan, maka dia akan dimusnahkan dari dunia ini. Dan Aira akan direkrut menjadi agen khusus/mata-mata setelah meminumkan obat yang membuatnya lupa ingatan. Benar-benar kejam.


Tentu saja Aira menolak gagasan itu. Hanya wanita gila yang bersedia dijadikan media untuk mendapatkan keturunan dan dibuang setelahnya. Dia ini manusia, bukanΒ  mesin pencetak anak atau semacamnya.


Ken ingat semua kejadian hari ltu, sampai detail terkecilnya, termasuk perdebatan dengan Aira hari itu. Rentetan kejadian itu kembali berputar dalam kepala pria tampan ini.


FLASHBACK


"Berapa banyak wanita yang sudah melayanimu?" tanya Aira. Dia tidak tahan untuk mempertanyakan hal ini. Ada begitu banyak wanita di dunia ini. Dengan kekuasaan keluarga yakuza yang disegani ini, tak sulit bagi Ken untuk menaklukkan satu wanita atau lebih.


Ken masih bungkam, berdiri dengan tangan terkepal di sisi badan.


"Atau mungkin Erina meninggalkanmu karena hal ini?" pertanyaan yang tajam dan menukik itu terdengar begitu menyakitkan, membuat kemarahan Ken kembali datang.


"DIAM!!" bentaknya. "Tutup mulutmu atau kamu akan merasakan akibatnya?!"


Aira tidak terlihat takut sedikit pun. Ekspresi wajahnya tetap tenang seolah dia tidak terpancing dengan ancaman suaminya yang kini mulai murka.

__ADS_1


"Benarkah? Apa yang akan kamu lakukan? Membunuhku?" Aira mengangkat sudut bibirnya. "Sayangnya aku dengar kalau kamu tidak bisa membunuh seseorang setelah melihat cinta pertamamu meregangn nyawa?"


Dan kejadian berikutnya sungguh di luar dugaan. Ken melepas ikat pinggangnya dan mulai mencambuk punggung istrinya.


FLASHBACK END


Ken terpaku di tempat duduknya, menatap bekas luka di punggung Aira dengan rasa bersalah yang menyergap ke dalam hatinya. Belum lagi luka memar di pangkal lehernya, bekas pukulannya kemarin saat Aira bersikeras akan menemui kakek dan menolak rencana kepergian mereka ke Indonesia.


Grep!


Ken memeluk istrinya dari belakang. Dia tidak bisa melupakan kejadian itu begitu saja, pasti Aira juga merasakan hal yang sama. Tabiatnya sebagai seorang gangster yang seringkali menyelesaikan masalah dengan kekerasan, tak bisa dihilangkan begitu saja. Semacam refleks otomatis dari yang tidak bisa dia kendalikan.


"Maafkan aku." Ken menempelkan pipinya di punggung Aira. "Aku selalu lepas kendali dan membuatmu terluka. Aku sungguh menyesalinya," ungkap Ken penuh penyesalan.


Aira diam, namun dia tahu bahwa pria ini tengah merasa bersalah.


"Apa yang harus aku lakukan untuk membuatmu memaafkanku?"


Hati Aira menghangat. Dia tahu pria ini memiliki hati yang peka dan lembut, hanya saja seringkali tertutup oleh iblis yang menguasai ketika emosi.


"Aku akan melakukan apa saja yang kamu katakan. Tapi jangan marah dan mendiamkanku seperti sebelumnya."


Lagi-lagi Aira tersenyum. Gangster berdarah dingin ini memang seperti kucing angora, mendusel dan menjilat majikannya. Menggemaskan!


Srukk srrukk


Aira mengelus kepala suaminya dengan sayang, membuat netra pria itu membola. Sikap Aira menunjukkan bahwa dia tidak marah lagi.


"Kamu tidak marah padaku?"


Tukk


Aira mengetuk kepala Ken, seolah menghukum pria ini seperti anak nakal yang selalu bertingkah.


"Tentu saja aku marah!" ketus wanita dengan tanda cinta di lehernya ini. "Kamu selalu saja tidak bisa mengontrol diri jika berhubungan dengan hal itu." Aira mengerlingkan sebelah matanya saat mengatakan kata 'itu'.


"Hari sudah gelap, waktunya makan malam. Aku sudah kelaparan tapi kamu justru ingin melakukannya lagi dan lagi. Tidak bisakah kamu menahan diri? Kita bisa melakukannya lagi nanti malam, besok, ataupun lusa!"


"Sungguh?" tanya Ken memastikan.


"Sungguh apanya?" ketus wanita ini, menahan dongkol.


"Aku boleh melakukannya lagi nanti malam? Membuat adik untuk Aya?"


Blush!


Wajah Aira memerah, persis seperti kepiting rebus di dalam panci.


"Dasar mesum!" ucapnya, antara gemas, kesal, dan tidak habis pikir. "Saat berdua denganku, kenapa pikiranmu tidak bisa jauh dari urusan ************?!"


Aira mencubit perut kotak-kotak suaminya, membuat pria ini berjengit menahan sakit.

__ADS_1


"Bukankah kamu juga menyukainya?"


Cup


Ken mendekatkan wajahnya, mencium dada Aira dengan tiba-tiba.


"YAMAZAKI KENZO!!" Aira membelalakkan mata. Dia tidak menyangka bahwa pria ini begitu berani menggodanya. Jelas-jelas mereka tengah berdebat urusan ranjang yang sebelum-sebelumnya dimana Ken seolah tak pernah puas.


"Kamu istriku, tentu saja aku berhak atas seluruh tubuhmu!" Ken mendorong tubuh Aira, membuatnya kembali terbaring di atas ranjang.


"KAMU?!" Aira berusaha menahan dominasi Kenzo, namun tenaga mereka tak sebanding. Aira tidak bisa berkutik saat bibir Ken kembali mendarat di ceruk lehernya yang sensitif.


"Diam dan nikmati sentuhanku!" bisik Ken dengan nada menggoda. Dia kembali asik menikmati 'makanan pembuka' di hadapannya, membuat Aira merasa geli.


Dan Aira kembali merasakan suaminya yang dominan kembali mengambil alih keadaan. Pergulatan panas mereka di atas sofa tampaknya belum bisa memuaskan pria ini. Dia dengan brutal kembali menyerang Aira, membuat wanita ini tak bisa menahan desahannya lagi.


"Lihatlah. Kamu juga menginginkan ini, 'kan?" tanya Ken dengan smirk iblis di wajahnya. Dia sungguh merajai permainan ini, tak ingin kehilangan momen berharga yang semakin sulit dia dapatkan.


Sejak kehadiran tiga jagoan mereka, waktu kebersamaan Ken dan Aira menjadi semakin berkurang. Keduanya jarang memiliki waktu untuk melepas hasrat masing-masing hingga puas. Dan Ken memanfaatkan keadaan sekarang ini untuk mengobati kerinduannya. Dia ingin menguasai Aira semalam suntuk, takkan berhenti hingga mereka kehabisan tenaga.


"Dasar maniak!" cemooh Aira pada pria yang tengah mempermainkan area sensitifnya. Tubuhnya menggelinjang, merasakan kenikmatan pertama atas jamahan Sang Suami.


Ken tersenyum, mengecup mata wanita yang tengah menggigit bibirnya agar tak bersuara.


"Jangan menahannya. Panggil namaku dan aku akan memuaskanmu!"


"Ken?!" geram Aira, mencengkeram lengan pria yang mulai berkeringat ini. Pendingin udara di ruangan ini tak lagi berfungsi, atau lebih tepatnya tak berfungsi untuk dua insan yang tengah dimabuk cinta ini.


Pergumulan mereka terus berlanjut. Sayap-sayap cinta terbentang di angkasa, menari-nari bersama dua cinta yang semakin mesra.


"Mari kita buat adik untuk Aya. Dua, tiga, atau empat sekaligus. Aku akan membantumu menjaga mereka."


Aira menggeleng, dia tidak setuju dengan kalimat yang suaminya ucapkan itu. Logika wanita ini menolak dengan terang-terangan, tapi respon tubuhnya justru berkata sebaliknya. Pinggulnya ikut bergerak, seirama dengan permainan Ken yang semakin menggila.


"Ai-chan... " panggil Ken sebelum menyemburkan benihnya di rahim Sang Istri. Dia tumbang setelah merasakan kepuasan batin berkali-kali.


"Arigatou. Hontou ni arigatou."


(Terima kasih. Terima kasih banyak)


Ken mengecup kening Aira sebelum menarik selimut yang menutupi tubuh polos keduanya. Mereka memejamkan mata masing-masing, istirahat sejenak sambil menetralkan napas yang masih memburu.


"Ai-chan, aishiteru.... "


* * *


Hwaaaaaaaaa..... So sweet banget dah mereka. Bikin iri aja πŸ˜…πŸ˜…


Inget yaa, nggak boleh ditiru buat para single. Cuma mamak-mamak sama pasangannya yang boleh begini. Yang belum punya pasangan, kita duduk diem aja di pojokan πŸ˜‚πŸ˜‚


See you,

__ADS_1


Hanazawa Easzy


__ADS_2