
Jarum pendek tepat menunjuk angka satu saat Yu sampai di apartemennya. Ia meletakkan kopernya dan segera membasuh tubuhnya dengan air hangat. Hasil penelitian mengungkapkan, selain melancarkan peredaran darah, air hangat juga bisa digunakan untuk merelaksasi tubuh. Hal ini dikarenakan air hangat dapat melemaskan otot-otot yang tegang. Otot yang rileks tidak hanya membuat fisik lebih nyaman, tapi juga berdampak baik untuk kesehatan mental yakni menenangkan pikiran.
Gadis itu merebahkan diri di atas sofa panjang, di sebelah vas bening berisi beberapa tangkai bunga krisan warna kuning pucat. Netranya menghadap ke luar, menatap barisan awan yang berarak di langit. Gumpalan putih itu seolah bergerak pergi secara perlahan, padahal bumilah yang bergerak. Awan-awan itu, mereka tetap diam di tempatnya.
Sama seperti Yu saat ini. Ia yang pergi lebih dulu tapi rasanya seolah Yoshiro yang meninggalkannya. Kosong. Hampa. Tidak ada lagi yang menarik untuknya. Yu merasa seolah ia sendirian di dunia ini. Tidak ada yang membuatnya ingin bertahan hidup.
Ia berdiam diri cukup lama di sana dan akhirnya memejamkan mata sambil memeluk topi milik Yoshiro. Ia tidak ingin kehilangan kekasihnya tapi juga tidak bisa membiarkan hubungan mereka melangkah ke jenjang yang lebih serius. Ia terpaku pada bayang-bayang mendiang kakaknya, Erina.
Ting tong
Terdengar suara bel menandakan ada tamu yang datang. Yu enggan beranjak dari posisinya. Ia memilih mengabaikan suara itu. Biarlah. Ia ingin istirahat sejenak.
Ting tong
Suara itu kembali terdengar membuat Yu kesal. Ia berjalan dengan cepat menuju ke arah pintu dan membukanya.
Deg
Kelopak mata Yu membola. Ia ceroboh karena tidak melihat layar di samping pintu lebih dulu. Disana ia bisa melihat siapa tamu yang ada di depan pintu. Tapi Yu pikir itu layanan pesan antar makanan, jadi ia langsung membukanya.
"Apa kabar, Yuzuki-chan?" tanya seorang wanita berbaju hitam. Di belakangnya ada dua orang pengawalnya yang tampak menyeramkan.
"Aku tidak ada urusan denganmu." Yu enggan meladeni tamunya.
"Tunggu. Aku punya penawaran untukmu." ucapnya menahan pintu yang berusaha Yu tutup dengan sebelah tangannya.
...****************...
" Ladies and gentleman, we are now at our cruising altitude of 36.000 feet." terdengar suara pramugari dari speaker yang ada.
(Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak, kini kita berada di ketinggian 36.000 kaki)
"Kak, 36.000 kaki itu berapa meter?" tanya Mone dengan wajah polosnya.
"Eh, itu..." Aira tampak kesulitan menjawab pertanyaan adik sepupunya.
"36.000 kaki sama dengan 10.973 kilometer." jawab Minami yang duduk di sebelah Aira.
"Whoaaa, Minami-san kamu menghitungnya diluar kepala?" tanya Mone keheranan.
Minami hanya tersenyum melihat respon gadis 20 tahun yang tengah memperhatikannya.
"Dia itu ensiklopedia berjalan. Tanyakan apa saja, dia pasti bisa menjawabnya." puji Aira sambil menepuk punggung tangan asisten pribadinya. Ia begitu bangga pada kemampuan Minami yang tidak dimiliki oleh orang lain.
*Ensiklopedia adalah karya referensi atau ringkasan yang menyediakan rangkuman informasi dari semua cabang pengetahuan atau dari bidang tertentu.
"Oh, benarkah?" Mone menatap Aira dan Minami bergantian.
"Nona terlalu memuji. Saya tidak seperti itu." elak wanita yang memakai pakaian hijau toska itu.
"Minami-san, kenapa pesawat ini ada di ketinggian 36.000 kaki? Apa bisa lebih tinggi atau lebih rendah dari itu?" tanya Mone antusias.
"Ketinggian rata-rata untuk pesawat komersial antara 33.000 sampai 42.000 kaki di atas permukaan laut. Kebanyakan pesawat udara terbang di zone tengahnya yaitu sekitar 35.000 atau 36.000 kaki di udara."
__ADS_1
"Kenapa?" Mone tidak sabar mendengar penjelasan wanita yang 10 tahun lebih tua darinya itu.
"Karena di udara pun ada lalu lintas, terbang lebih tinggi berarti pesawat dapat menghindari burung, drone, pesawat terbang kecil dan helikopter, yang terbang di ketinggian lebih rendah. Sementara itu, titik tertinggi puncak gunung Everest adalah 29.029 kaki. Jadi dengan ketinggian di atas 33.000 kaki, bisa dipastikan penerbangan ini tidak akan terhalang apapun. Itulah sebabnya sistem udara di pesawat didesain sedemikian rupa agar tekanan udara di dalam kabin ada pada tingkat yang nyaman bagi para penumpang, sehingga kita tidak merasa seperti sedang mencoba bernafas di atas puncak tertinggi gunung Everest."
"Alasan terbesar untuk terbang pada ketinggian ini adalah efisiensi bahan bakar. Udara tipis menciptakan berkurangnya hambatan pada pesawat, yang berarti pesawat dapat menghemat bahan bakar untuk mempertahankan kecepatan. Dengan kata lain sedikit resistensi angin, lebih banyak daya, lebih sedikit usaha. Lebih sedikit penggunaan bahan bakar jelas-jelas menguntungkan perusahaan maskapai." jelas Minami panjang lebar.
Mone menganggukkan kepalanya beberapa kali. Nampaknya ia memahami penjelasan Minami dengan baik.
"Kalau begitu, semakin tinggi kita terbang, itu semakin menguntungkan. Benar kan?" celoteh Mone yang membuat Minami tersenyum.
"Tidak juga, nona. Terbang terlalu tinggi pun bisa menimbulkan masalah. Ditambah lagi semakin tinggi terbangnya sebuah pesawat, akan semakin banyak bahan bakar yang harus digunakan untuk sampai ke sana. Tentunya ada beberapa kelemahan dengan ketinggian tertentu juga. Pesawat yang terbang ke arah timur (termasuk timur laut dan tenggara) akan terbang di ketinggian ganjil (misal 35.000 kaki) sedangkan semua pesawat yang terbang ke arah lainnya akan terbang di ketinggian genap.
Pesawat dengan rute menuju ke arah yang sama juga sering direncanakan dan diatur terlebih dahulu sehingga pesawat berada 1.000 kaki di atas atau di bawah satu sama lain untuk menghindari tabrakan."
"Tunggu, itu membuatku sedikit pusing." protes Mone mendengar penuturan Minami. Ia memegangi kepalanya yang berdenyut pelan karena tidak bisa menyerap semua penjelasan Minami.
"Tidak usah di pikirkan." Aira mengelus kepala adiknya dengan gemas. Jelas-jelas ia yang begitu antusias tadi, tapi sekarang justru sebaliknya.
Disaat Aira sedang asik bercengkerama dengan adiknya, seorang pramugari keluar dari galley lengkap dengan cart-nya membawa makanan menuju ke kursi Aira. Di belakangnya ada Ken dan Kosuke yang mengikutinya.
Wanita cantik itu berhenti tepat di samping Mone dan membuka tudung saji di atas cart yang ada di depannya sambil tersenyum.
"Ini pesananmu, sayang." ucap Ken sembari menyajikan salad buah permintaan istrinya bersama sepiring spaghetti saus kacang yang ia buat dengan penuh perjuangan.
"Terima kasih." ucap Aira sambil menyunggingkan senyum terbaiknya membuat Ken ikut tersenyum.
"Ini pesananmu." Aira menyerahkan piring berisi olahan tepung itu pada adiknya, membuat senyum di wajah Ken menghilang seketika.
"Eh? Kakak sudah memberikannya padaku, tentu saja ini milikku. Wleee," Mone menjulurkan lidahnya seperti anak kecil. Ia menikmati hidangannya dengan lahap, tanpa mempedulikan Ken yang begitu jengah padanya. Pria itu mengepalkan tangannya di sisi badan, berusaha meredam rasa kesalnya.
"Kembalilah ke kursimu atau aku..."
"Ken.." Aira memanggil suaminya yang bersiap memberikan ancaman pada Mone.
"Ai-chan?" Ken mempertanyakan keputusan Aira yang begitu mempedulikan Mone dan mengabaikan suaminya sendiri.
'Yang benar saja. Selama ini tidak ada yang berani bersaing denganku. Apalagi merebut perhatian istriku.' geram Ken dalam hatinya.
Ken terpaksa kembali ke kursinya di sebelah Shun dan Yoshiro. Ia benar-benar kesal, tapi tidak ada yang bisa ia lakukan pada istrinya.
"Menyenangkan yaa jadi seorang suami." cibiran tak mengenakkan kembali terdengar dari mulut pria yang tengah memainkan game di tangannya.
Ken menutup mulutnya rapat-rapat, enggan memberikan respon atas perkataan Shun barusan. Ia memejamkan matanya, berharap emosinya masih terkendali setelah berbagai kekecewaan yang ia terima selama perjalanan ini.
Sejak masih di lounge bandara, Mone sudah merebut perhatian Aira darinya. Ia baru saja merasa sedikit senang dan berharap bisa ada di sisi Aira saat wanitanya itu minta dibuatkan makanan. Ia bahkan harus berdebat dengan pramugari agar diizinkan masuk ke galley (dapur) untuk memasak sendiri. Mereka akhirnya mengizinkan itu saat mengetahui itu adalah permintaan wanita hamil.
Meskipun tidak rasional, tapi nyatanya mereka mengizinkan Ken memakai peralatan masak itu asalkan tidak lebih dari 30 menit dan tentu saja itu rahasia. Jika penumpang yang lain tahu, mereka bisa membuat alasan yang sama agar diizinkan masuk ke area khusus kru pesawat itu. Sebagai balasannya, Ken meminta Kosuke untuk memberikan kompensasi yang besar untuk maskapai penerbangan satu ini.
"Kamu terlalu memanjakannya." ucap Shun lebih lanjut, "Sebenarnya tidak ada alasan ilmiah yang jelas mengapa ibu hamil tiba-tiba menginginkan sesuatu. Hal itu terjadi akibat perubahan hormonal dalam tubuh ibu hamil yang membuat indera penciuman dan perasanya menjadi lebih sensitif. Sebenarnya, bukan makanan yang diinginkannya, melainkan nutrisi yang terdapat di dalamnya. Jadi jangan tertipu oleh permintaannya yang tidak masuk akal." Shun melirik Ken yang ada di sampingnya.
Ken emosi dan kembali mengepalkan tangannya. Ia merasa tertipu. Entah Aira benar-benar menginginkan makanan aneh itu, atau perkataan Shun yang harus ia percaya. Nyatanya Mone lah yang kini sedang menikmati makanan itu.
Ken memilih pergi ke lavatory untuk membasuh wajahnya. Ia mulai merasa tidak nyaman duduk di dekat Shun. Sepertinya pria ini sengaja memancing emosi Ken dan membuatnya ingin marah. Jika terus mendengarkan kata-katanya, Ken tidak yakin akan bisa mengendalikan emosinya lagi.
__ADS_1
*lavatory : kamar kecil/toilet.
Melihat hal itu, Aira memberikan Kode pada Kosuke untuk menjalankan tugasnya yang dijawab dengan anggukan. Pria itu segera menghampiri pramugari dan menjelaskan beberapa hal.
Sementara itu, Ken menatap pantulan wajahnya yang basah di depan kaca besar yang ada di hadapannya. Ia kembali membasuh wajahnya beberapa kali saat tiba-tiba lampunya padam.
Deg
Seketika Ken waspada dengan kejadian ini. Ia takut ada kerusakan pesawat atau semacamnya yang membuat aliran listriknya padam. Dia keluar dari ruangan sempit itu dan kembali ke kursi penumpang dengan tergesa. Ia harus memastikan keadaan Aira baik-baik saja.
Semua orang tampak panik membuat Ken sedikit kesulitan mencari dimana kursinya. Jantungnya berdegup kencang saat menemukan kursi Aira dan Mone dalam keadaan kosong. Bahkan Minami dan Kosuke juga tidak ada di posisinya.
Ken dengan cepat menghampiri Shun, namun nihil. Orang itu atau Yoshiro bahkan tidak ada di tempatnya. Ken benar-benar panik dan berusaha mencari istrinya ke segala arah dengan berbagai prasangka buruk yang menghantui pikirannya. Ia takut ada musuh yang sengaja menyabotase pesawat ini dan membahayakan keselamatan istrinya. Ini tidak boleh terjadi.
Tapi, dimana mereka semua? Apa yang sebenarnya terjadi selama ia pergi?
"Happy birthday to you.... Happy birthday to you.... Happy birthday, happy birthday... Happy birthday to you...." samar-samar terdengar suara nyanyian dan secercah cahaya datang dari crew bunk yang ada di sebelah lavatory.
*Crew Bunk : tempat awak kabin tidur dan beristirahat
Ken menajamkan indera penglihatannya dan mendapati istrinya yang kini tengah mendekatinya dengan kue di tangannya. Bibirnya terus menyanyikan lagu ulang tahun itu sambil tersenyum. Bias cahaya lilin yang ada di atas kue membuat wajah chubby istrinya terlihat begitu menggemaskan.
"Surprise.. Otanjoubi omodetou gozaimasu.." ucap Aira ketika ia sampai di depan Ken yang mematung di tempatnya berdiri.
(Kejutan. Selamat ulang tahun)
"Ayo tiup lilinnya." pinta Aira.
Bukannya meniup lilin seperti yang Aira katakan, Ken justru merebut kue itu dan memberikannya pada Minami yang ada di belakang istrinya. Ken memeluk Aira dengan sangat erat dan mengabaikan orang-orang yang kini tengah memandanginya.
"Jangan pernah menghilang dari pandanganku. Kamu tahu betapa takutnya aku saat tidak menemukanmu di manapun? Aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri jika sesuatu yang buruk terjadi padamu." ucapnya dengan penuh perasaan.
"Hmm.. Maaf." ucap Aira sambil menepuk punggung suaminya, "Aku siap menerima hukuman darimu." ucap Aira.
Cup
Ken mengurai pelukannya dan langsung mencium Aira di depan semua orang, "Itu hukumanmu." ucapnya sambil menempelkan kening pada wanita yang tengah mengandung buah hatinya.
Sorak sorai terdengar riuh dari orang-orang yang menyaksikan adegan manis itu langsung di depan mata. Mereka turut berbahagia untuk pasangan suami istri yang kini kembali berpelukan. Ken bahkan tak segan-segan mengangkat tubuh istrinya dan membawanya berputar di tempat. Ia benar-benar bahagia sekarang.
...****************...
Uwuuuuu.... Aagh author ikutan happy 🎉🎉🎉🎉
Berasa jadi Aira yang lagi dipeluk sambil diputer-puter sama abang Ken kaya film india 😂😂
Gimana gimana? Kalian ikutan happy ngga? Kesalnya Ken udah ilang yaa. Tapi salut sii, dia beneran sekarang bisa kontrol emosinya. Beda sama dulu yang langsung bak buk gebukin apa aja yang ada di depannya. Udah bapakable baget sii itu abang. Dah cocok jadi ayah 😆
Si Mone sama Shun emang sengaja bikin Ken marah sesuai permintaan Aira. Maaf kalo alurnya berasa lambat yaa 🙏😉😉
See you next day,
Jaa,
Hanazawa easzy 💜
__ADS_1