
Mentari bersinar cerah di ufuk timur, menyuarakan hari yang indah akan segera datang. Seorang wanita tengah sibuk di dapur bersama suaminya. Mereka bahu membahu menyiapkan makan pagi untuk penghuni rumah ini
yang bertambah satu orang.
"Ohayou gozaimasu," sapa Mone sambil menguap. Dia baru keluar dari kamarnya dengan piyama merah muda yang melekat di tubuh. Rambutnya acak-acakan dengan wajah kusam berminyak.
(Selamat pagi)
"Ohayou," jawab Kaori, tersenyum sambil menatap adik iparnya yang terlihat begitu menggemaskan. Bukannya risih melihat penampilan gadis itu, justru Kaori merasa itu sangat lucu.
"Oey! Cuci mukamu atau aku akan menenggelamkanmu ke dasar laut!" ancam Shun, tidak suka Mone bersikap sesukanya padahal sebentar lagi dia akan menikah.
Mone tak menggubris ancaman Shun. Dia langsung duduk dan meminum coklat hangat yang tersaji di atas meja. Kaori selalu menyiapkan coklat hangat untuk Mone saat berkunjung.
"Minumannya beracun," canda Shun, sibuk menyiapkan mangkuk untuk mereka sarapan.
"Tidak mungkin. Jika kakak yang membuatnya, mungkin saja ada sianida di dalamnya. Tapi kalau itu kakak ipar, aku percaya dia wanita yang baik. Benar 'kan, Kaori-chan?"
Kaori tersenyum hambar. "Tidak juga. Kami sama. Aku bahkan hampir membunuh kakak sepupumu dengan menyuntikkan racun bisa ular saat dia hamil muda."
Senyum di wajah Mone memudar. Dia sudah pernah mendengar cerita itu, tapi saat Kaori mengakui kejahatannya, tetap saja ada perasaan tidak nyaman di hati gadis ini.
'Bagaimana bisa kak Aira dan iblis itu memaafkan Kaori? Bukankah seharusnya wanita ini hanya tinggal nama jika mengusik serigala liar itu?' batin Mone bertanya-tanya.
Gadis ini heran kenapa Kaori masih hidup dan Ken tidak memusnahkannya. Berdasarkan karakter dan sifatnya, bukan hal yang sulit bagi seorang Yamazaki Kenzo untuk melenyapkan Kaori. Tapi ternyata hal itu tidak terjadi. Kaori masih sehat sampai hari ini.
Bukk
Shun melempar seikat sawi hijau pada adiknya yang terlihat melamun.
"Pergilah mandi!" ketus Shun, tidak suka melihat penampilan Mone yang acak-acakan.
Pria 29 tahun ini kesal karena adik angkatnya selalu sembarangan, tidak menjaga penampilannya. Jelas-jelas seorang aktor papan atas Jepang menyukainya, bagaimana bisa dia seabai itu pada wajah dan tubuhnya yang begitu berharga?
"Tidak mandi pun aku tetap cantik. Wleee." Mone kembali mengulurkan lidahnya. Gadis itu mendekati Shun, sementara Kaori mulai memasukkan buah ke dalam juicer.
"Apa ada yang aneh, Kak?" tanya Mone, sengaja berbisik pada Shun. Kaori tengah sibuk menyiapkan jus, jadi tidak akan mendengar apa yang mereka bicarakan.
Shun menggeleng. "Tidak ada."
"Heih?" Mone memainkan jemarinya di bawah dagu. "Ini aneh. Apa mereka lupa? Atau berubah haluan?"
Shun tak menjawab, hanya mengangkat bahu tanda ia sendiri juga tidak tahu. Pria ini benar-benar irit kata, malas berceloteh hal-hal yang tidak penting seperti yang dilakukan oleh adiknya ini.
"Kamu yakin akan ada 'hadiah' pagi ini?"
Mone menganggukkan kepalanya dua kali. Dia menimang-nimang kenapa Anna belum juga bergerak. Padahal biasanya, dia selalu mengirimkan 'hadiah'nya sebelum matahari terbit. Itu akan membuat targetnya depresi dan hari-harinya kacau.
"Mungkinkah dia merubah triknya?" Mone bertanya-tanya.
Shun mengangkat bahunya lagi. Dia sendiri tidak tahu apa yang ada di dalam kepala adiknya. Bagaimana mungkin dia bisa tahu rencana Anna?
Drrtt drrtt
Ponsel Shun yang ada di atas buffet tv bergetar, membuat kedua orang beda usia itu saling pandang. Tanpa kata, Shun memberikan kode pada Mone untuk mengangkatnya.
Kening gadis 152 cm itu berkerut saat melihat nomor tak dikenal menghubungi ponsel milik Shun. Tanpa menunggu waktu lama, jari telunjuk Mone menggeser ikon berwarna hijau dan menempelkan benda pipih itu ke dekat telinga.
"Poproshchaysya so svoyey zhenoy!"
(Ucapakan selamat tinggal pada istrimu!)
Deg!
Kedua pasang bola mata Mone membola, mendengar kalimat ancaman yang diucapakan dengan bahasa Rusia itu. Dan dia tahu betul siapa yang berbicara di balik telepon, Anna.
__ADS_1
"Eto ya, Mama."
(Ini aku, Mama)
Kali ini Anna yang terkejut. Dia tidak menyangka akan mendengar suara Mone, tujuan utamanya datang ke tempat ini. Tadinya dia berniat mengancam Shun. Meski bukan orang Rusia, Anna tahu Shun mahir beberapa bahasa, termasuk Italia, Rusia, dan bahasa Belanda.
"Sayangku," panggil Anna detik berikutnya. Dia begitu terobsesi pada Mone, membuatnya lupa bahwa masih ada bibi Maria yang kini berdiri di sampingnya. Anna tidak peduli jika wanita paruh baya itu mengerutkan kening mendengar panggilannya barusan.
"Apa itu benar kamu, Mama?" Mone pura-pura tidak tahu bahwa Anna masih hidup. Setidaknya dia harus tahu dimana dan apa yang tengah wanita ini rencanakan. Jika dia bisa berdiri di dua sisi, tentu saja dia akan bisa mencegah agar tidak perlu terjadi pertumpahan darah lagi.
Bip
Bibi Maria yang melihat Anna kehilangan tujuan balas dendamnya, segera merebut benda pipih itu dari tangan nonanya dan langsung memutus sambungan telepon.
"Dengan siapa kamu bicara, Ann?!"
"Bibi, itu putriku. Mone mengenali suaraku." Anna terlihat sangat senang. Setelah sekian lama, akhirnya dia bisa mendengar suara gadis manis yang selalu ia rindukan itu.
"Apa yang kamu lakukan, Ann?!" gertak bibi Maria, tidak suka karena Anna terlihat begitu aneh setelah menghubungi nomor ponsel target mereka pagi ini. Sepertinya kepribadiannya sebagai seorang ibu angkat yang penuh kasih sayang baru saja kembali karena suara Mone.
"Itu-itu suara putriku. Black Diamond milikku." Anna menunjukkan sisi pribdi yang lainnya. Dia yang terbiasa tenang, sekarang terlihat panik seperti seorang ibu yang takut kehilangan putrinya. Rasa takut, cemas, dan gelisah tergambar jelas di wajahnya.
Maria menggeleng tegas. Dia melempar ponsel itu sembarang, tidak peduli jika benda itu pada akhirnya pecah karena mendarat di lantai marmer mengilat di bawah kakinya.
"Putriku!" Anna mengejar ponsel itu, menangisinya seolah benda itu begitu berharga. "Apa yang kamu lakukan pada putriku?"
Maria mulai berang. Dia tidak tahan melihat sisi lemah Anna ini. Wanita ini persis seperti seorang ibu yang gila setelah kehilangan anak dan suami tercintanya.
"Maaf, Ann. Tidak ada cara lain untuk menyadarkanmu!" ucap Maria sambil menatap Anna dengan pandangan sebal.
Plakk
Wanita separuh abad itu menampar nonanya dengan sangat keras, mengusir kepribadian lemah dan menjijikkan yang seketika menguasai Anna. Itu satu-satunya cara yang bisa Maria lakukan untuk menyadarkan wanita kepala empat ini.
Ya, Anna memiliki gangguan kepribadian tersendiri. Orang-orang seperti ini terkadang disebut mengalami gangguan mental. Mereka seringkali memiliki pola pikir dan perilaku yang tidak normal dan sulit untuk diubah. Anna sendiri tidak menyadari apa yang terjadi padanya, tapi Maria memahaminya dengan jelas. Ada dua kepribadian yang ada di dalam diri seorang Anna Vyatcheslavovna ini.
Sejak peristiwa ledakan yang menewaskan Takeshi saat itu, Anna bertindak seperti orang gila. Dia terus memanggil nama suaminya, berharap pria itu masih ada di dunia ini. Terkadang, dia mengigau dalam tidurnya, mengusir Takeshi agar pergi dari tempat itu agar menyelamatkan diri. Itu terjadi selama berbulan-bulan, membuat Maria begitu muak sekaligus tidak tega melihat nonanya seperti ini.
"Ann, apa kamu baik-baik saja?" Maria memperlakukan Anna seperti putrinya sendiri.
Anna terhenyak. Dia menatap Maria sebelum memungut ponselnya yang kini retak touchscreen-nya. Sesaat dia seperti linglung, tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya.
"Bibi, apa yang aku lakukan di sini?"
Maria mengembuskan napas lega. Cara itu berhasil, membuat Anna kembali menunjukkan kepribadiannya yang kejam dan penuh dendam. Wanita yang dengan senang hati memanipulasi keadaan dan memutarbalikkan fakta yang ada.
"Ponselmu terjatuh dan kamu tidak sengaja terpeleset. Ayo duduk."
Maria membantu Anna kembali duduk di atas kursi yang ia tinggalkan beberapa menit yang lalu. Wanita dengan bekas luka di wajah ini tampak sedikit bingung. Dia tidak ingat seperti apa kejadiannya. Bahkan rasa panas di pipinya begitu kentara. Apa bibi Maria menamparnya? Jelas-jelas tiidak ada orang lain lagi di sini.
"Maaf, Ann. Aku menampar wajahmu terlalu keras sebelumnya. Biarkan aku mengompresnya." Maria mendekat, membawa es batu yang sudah berbungkus handuk halus. Dia segera menempelkan itu di pipi Anna, meredam rasa terbakar akibat gampar tangannya dua menit yang lalu.
"Apa aku menggila lagi? Wanita gila itu muncul lagi?" Anna yang sudah berhasil mendapatkan kesadarannya dengan penuh, berhasil menangkap kemungkinan yang terjadi. Dia tahu ada dua kepribadian di dalam tubuhnya.
"Tidak apa-apa. Selama ada aku di sini, aku akan selalu melindungimu." Maria bersikap senatural mungkin meski dalam hatinya masih merasa gondok.
Anna bungkam. Seorang psikiater pernah mengatakan padanya bahwa dia memiliki dua kepribadian, tapi Anna tidak mempercayainya. Baginya, itu hanya kisah fiktif yang ada di layar kaca.
Bagaimana mungkin ada satu tubuh yang dihuni oleh dua kepribadian yang berbeda. Saat satu kepribadian mulai menampakkan diri, dimana kepribadian yang lainnya? Bukankah itu tidak masuk akal sama sekali?!
"Berikan ponselnya padaku. Aku akan segera memperbaikinya." Maria menengadahkan tangan di depan Anna, meminta wanita in menyerahkan smartphone miliknya.
Tanpa tapi, Anna menurut saja. Dia menyerahkan benda pipih itu pada wanita yang mengasuhnya beberapa bulan terkahir. Saat tak ada seorangpun yang bersedia menerimanya, bibi Maria justru mengorbankan hidupnya. Wanita yang tak lagi muda ini merawat Anna tanpa imbalan apapun.
"Ini, Ann. Jangan lupa minum obatmu." Bibi Maria menyerahkan segelas air putih dan dua kaplet obat berbeda warna untuk Anna konsumsi.
Itu adalah vitamin khusus otak untuk menenangkan seorang Anna setiap harinya. Tanpa obat itu, Anna akan menggila tanpa tahu tempat. Tak hanya itu, Anna akan membunuh dirinya sendiri karena berpikir kematian Takeshi sebagai kesalahannya.
__ADS_1
Anna dan Maria melanjutkan kegiatan pagi mereka tanpa tahu dua pasang mata tengah memperhatiakn apa yang terjadi pagi ini. Meski berjarak ribuan kilometer, bukan berarti Ken dan Aira tidak bisa mengawasi gerak-geriknya.
(Indonesia)
"Apa yang terjadi? Kenapa dia tiba-tiba menggila seperti itu?" tanya Ken, tetap memaku pandang pada tampilan monitor di depannya,
"Dia memiliki dua kepribadian sekaligus." Aira membuka tablet di tangannya dan mulai berselancar di dunia maya.
"Dua kepribadian?" tanya Ken hampir tak percaya.
"Aku mendapatkan data rekam medisnya, tertanggal beberapa hari setelah ledakan hebat itu terjadi. Tertulis di sana bahwa terdapat kelainan pada struktur otaknya. Selain itu, komposisi zat kimia di dalam tubuhnya juga bermasalah." Aira menerangkannya dengan singkat. Dia sendiri sempat terkejut saat membacanya pertama kali.
"Kapan kamu menyelidiki hal itu?" Ken mengerutkan kening. Dia tidak tahu kapan istrinya ini melakukan penyelidikan terhadap latar belakang Anna. Jelas-jelas mereka selalu bersama sejak datang ke Indonesia.
"Itu tidak penting." Aira berkilah. Dia tidak mungkin mengatakan bahwa dia begadang semalaman demi Anna. Ken akan murka. "Yang terpenting sekarang adalah tidak menyebabkan kecurigaan bagi mereka. Kita akan tetap mengawasi Anna dan Maria."
"Maria?" Ken pura-pura bertanya. Sebenarnya dia sudah mendengar nama itu semalam. Dan setelah penyelidikan kilat yang ia perintahkan pada Kosuke, semua data Maria telah ia baca.
Aira mengangguk. "Dia pelayan setia keluarga besar Anna. Satu-satunya orang yang tersisa setelah pembantaian besar-besaran yang terjadi bertahun-tahun yang lalu. Entah bagaimana cara wanita itu selamat. Dia yang menyelamatkan Anna setelah peristiwa ledakan besar itu terjadi.
Ken bungkam. Dia sudah tahu itu semua. Bahkan data yang Kosuke berikan lebih lengkap dari penjelasan Aira. Tapi, pria ini berpura-pura tidak tahu apa-apa.
"Apa kamu menemukan sesuatu?" Ken mendekat, duduk di dekat Aira dan mengamati penampilan kamera CCTV di depan layar monitor.
"Umm." Aira mengangguk mantap. "Bibi Maria ini sudah membuat hadiah khusus untuk Kaori."
"Kaori?" Kening Ken berkerut dalam.
* * *
Kaori, Shun, dan Mone baru saja selesai makan. Mereka duduk di balkon dan menikmati hangatnya cahaya matahari pagi yang terasa nyaman untuk bersantai.
"Aku lihat kamu menerima telepon Shun. Siapa?" tanya Kaori pada adik iparnya.
"Ah, bukan apa-apa. Sepertinya hanya orang yang salah nomor. Aku tidak tahu apa yang dia bicarakan." Mone berkilah, tidak ingin membuat Kaori khawatir. Tapi, justru Shun merasa pernyataan Mone ini tidak masuk akal.
Shun sengaja merahasiakan nomor ponselnya. Hanya beberapa orang yang tahu. Jadi, mana mungkin nomoor itu tiba-tiba menghubunginya.
"Oh, begitu ya? Syukurlah." Kaori beranjak dari duduknya. "Aku akan mengambil kue kering di dapur. Tunggu sebentar."
Kaori meninggalkan balkon, menyisakan Shun dan Mone berdua saja.
"Apa itu Anna?"
Mone mengangguk singkat. "Dan aku bersuara."
Seketika sepasang bola mata pria itu terbeliak. "Apa kamu gila?!"
Mone tersenyum miring. "Bukan aku gila. Wanita itu yang gila. Aku ingin melihat seperti apa dia menghancurkan dirinya sendiri."
Kali ini Shun tidak menjawab, hanya menunjukkan kerutan di kening yang cukup dalam.
"Anna memiliki gangguan mental. Akan lebih mudah membuatnya kebingungan dan menentang dirinya sendiri."
"Gangguan mental seperti apa?"
Mone mengangkat bahunya sekilas. "Aku tidak tahu detailnya. Kak Aira yang mengatakannya padaku pagi tadi."
Kali ini Shun benar-benar tidak mengerti. Aira memberitahu Mone sesuatu tentang Anna. Mungkinkah wanita itu juga mengawasi Anna dari kejauhan? Apa saja yang mereka ketahui dan belum ia ketahui?
"Katakan yang lainnya!" titah Shun, meminta Mone mengungkapkan apa saja informasi dari Aira.
"Ada seorang wanita yang membantu Anna. Namanya Maria. Kata kakak, sepertinya Maria inilah yang membuat Anna kembali dan balas dendam. Aku sendiri belum tahu apa maksudnya. Nanti siang dia berjanji akan menghubungiku lagi."
"Siapa yang akan menghubungimu?" tanya Kaori di ambang pintu membuat Shun dan Mone saling pandang.
* * *
__ADS_1
Mungkinkah wanita ini mendengar percakapan mereka sebelumnya? Apa yang akan terjadi kedepannya? Sampai jumpa di episode berikutnya. See you,
Hanazawa Easzy