
Aira siuman dua jam setelah antivenom buatan Shun masuk ke tubuhnya. Kondisinya membaik dengan cepat membuat para perawat heran.
"Aku merindukanmu, Ai-chan.." lirih Ken saat ia membawa istrinya dalam pelukan. Dekapannya semakin erat seolah tak ingin melepaskannya.
"Please trust me..." bisik Ken kemudian.
(Percayalah padaku..)
Aira tersenyum menatap suaminya, menutupi kekhawatiran yang diam-diam tersimpan di hatinya. Ia ingat kata-kata Shun pada Ken sebelumnya. Ya, samar-samar ia bisa mendengar percakapan mereka meskipun kesadarannya belum pulih sepenuhnya saat itu.
'Obat penawar yang aku berikan tampaknya bisa diterima dengan baik oleh istrimu. Apa kita bisa membuat kesepakatan sekarang? Hari ini, anggap saja sebagai promosiku padamu. Antivenom yang masuk ke dalam tubuh istrimu hanya 2mL dan itu sudah membuat jantungnya kembali normal. Pikirkan baik-baik penawaranku. Bekerjalah denganku maka aku akan menyembuhkan istrimu dan menyelamatkan anakmu.'
"Sudah larut malam, ayo istirahat lagi." Ken merebahkan badannya dan membawa Aira agar tidur dalam dekapannya.
Hening
Keduanya berjibaku dengan pemikiran masing-masing. Ken memikirkan bagaimana caranya berpamitan pada Aira untuk menepati kesepakatan dengan Shun yang mengharuskannya pergi jauh. Sedangkan Aira mencoba menerka-nerka pekerjaan seperti apa yang akan suaminya lakukan. Apapun itu mungkin sesuatu yang membahayakan keselamatannya sendiri.
"Ken..." lirih Aira sambil memainkan kancing baju suaminya. Banyak hal yang ingin ia bicarakan dengannya.
"Hmm?" tanya Ken sembari mengelus kepala Aira yang tertutup jilbab pashmina berwarna biru muda, senada dengan baju khusus pasien yang ia kenakan.
"Kamu akan pergi?" tanya Aira to the point. Ia mencengkeram jemarinya, memberi kekuatan padanya agar tak menangis. Perasaannya menjadi lebih sensitif, mungkin efek perubahan hormon dalam tubuhnya.
Deg
Gerakan tangan Ken terhenti. Ia menatap langit-langit kamar yang berwarna putih bersih. Berbanding terbalik dengan masa depannya yang berwarna kelabu.
"Ya." jawabnya singkat. Hanya itu yang bisa ia katakan untuk saat ini. Otaknya seolah berhenti berpikir dan tak bisa memberikan jawaban lain.
__ADS_1
"Berapa lama?" tanya Aira dengan suara yang mulai bergetar. Matanya berkaca-kaca, tak rela harus berpisah dengan suaminya.
"Aku tidak tahu." jawab Ken datar. Ia belum bisa menerka-nerka siapa yang akan ia hadapi ke depannya. Jika Shun Oguri saja tidak sanggup menghadapinya, mungkinkah ia dan Yoshiro mampu?
Keduanya diam cukup lama. Ken kembali mengelus puncak kepala Aira dengan lembut, sementara Aira terdiam menikmati aroma parfum suaminya yang mungkin dalam beberapa hari kedepan tak bisa ia cium untuk sementara waktu.
"Gomen.." lirih Ken setelah mencium kening istrinya.
(Maaf..)
Aira menggeleng dengan bibir terkunci rapat. Ia berbalik badan, tak sanggup menatap dada bidang suaminya yang tertutup kemeja berwarna navy. Tidak ada yang perlu dimaafkan. Justru seharusnya ialah yang harus minta maaf karena membuat Ken masuk dalam perangkap seniornya di akademi. Jika saja malam itu ia menyadari kedatangan Kaori yang masuk melalui jendela, mungkin ia bisa melawannya dan mereka tidak akan berakhir di ruangan ini.
"Jaga dirimu baik-baik selama aku pergi. Minami dan Kosuke akan selalu ada untukmu." pesan Ken dengan suara parau. Ia menahan sakit di hatinya saat mengatakan hal itu. Sungguh ia tak tega mengucapkan kalimat yang terasa menyakitkan itu, tapi ia tak bisa menghindari kesepakatan dengan Shun.
Aira diam tak menjawab sepatah katapun. Sebulir air berwarna bening akhirnya luruh dari ujung matanya, membasahi lengan Ken yang menjadi bantal kepalanya sejak beberapa menit yang lalu.
Ken melingkarkan tangan kirinya di depan dada Aira, semakin mengikis jarak di antara mereka. Tidak ada yang bisa ia lakukan sekarang selain membiarkan istrinya menangis, menyalurkan emosinya agar ia merasa sedikit lega.
"Aku akan segera kembali. Percayalah..." bisik Ken dengan keraguan yang menyelimuti hatinya. Ia tidak tahu apakah ia bisa kembali dalam keadaan selamat atau hanya tinggal nama. Dunia yang akan ia hadapi bisa mengambil nyawanya kapan saja. Ia harus berani menghadapi kemungkinan terburuknya.
*******
Udara terasa dingin menusuk tulang membuat siapa saja tak ingin beranjak dari tempat tidurnya. Memilih bergelung di bawah selimut dan menyembunyikan dirinya dari hingar bingar kehidupan metropolitan yang bising dan menjengkelkan.
Lain halnya dengan Ken yang justru keluar dari kamar mandi dengan wajah basah. Kedua lengan kemejanya ia singsingkan sampai ke siku, menampakkan lengan putih bersihnya yang juga basah oleh air wudhu. Ia menggelar kain segi empat di pojok ruangan dan mulai menunaikan sholat shubuh dua roka'at untuk memenuhi kewajibannya sebagai seorang muslim. Ia berusaha menjadi imam yang baik untuk Aira dan tentu saja ayah untuk anak-anaknya kelak.
Sejak perbincangan dengan Aira semalam, ia tidak bisa memejamkan matanya sedetik pun. Berbagai hal buruk menghantui pikirannya dan membuatnya merasa tak tenang. Ia mendekap tubuh mungil istrinya hingga pagi menjelang.
Aira membuka matanya dan tak mendapati tangan Ken yang semalam melingkar di badannya. Jantungnya berdebar takut Ken sudah pergi meninggalkannya. Seketika ia bangun dan mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut ruangan ini. Netranya mendapati Ken tengah meletakkan kepalanya di atas alas sholat. Bersujud merendahkan diri, bertemu dengan Rabbnya dan menyampaikan segala keluh kesah di hatinya.
__ADS_1
Bagi seorang muslim, sholat bukan hanya untuk menggugurkan kewajiban peribadatan semata. Melainkan sebuah sarana agar mereka bisa bertemu dengan Penciptanya, membuat hati mereka menjadi tenang layaknya seorang anak yang menjumpai ibunya. Ah, bahkan lebih dari itu.
Perbaikilah sholatmu, maka Allah akan memperbaiki hidupmu...
Itu adalah pengingat untuk semua kaum muslim yang ada di dunia ini, termasuk Ken sendiri. Ia menyadari ada begitu banyak dosanya di masa lalu yang membuat hidupnya berantakan, bahkan sampai harus menyeret Aira untuk menerima berbagai luka dan air mata akibat perbuatannya.
"Ohayou.." sapa Ken setelah menyimpan alas sholatnya ke dalam laci dan mendekat ke arah istrinya.
(Selamat pagi..)
Aira menatap Ken dengan sedih. Ia akan segera berpisah dengan suaminya itu dan tidak tahu kapan Ken akan kembali. Matanya berkaca-kaca dan memilih memalingkan wajahnya, tak sanggup menatap suaminya lebih lama lagi.
"Hey.. Ada apa dengan wajahmu?" tanya Ken sembari mengangkat dagu istrinya agar kembali menatapnya.
Lagi-lagi Aira menangis tanpa suara membuat Ken tak kuasa untuk merengkuh istrinya dalam pelukan detik itu juga. Ia bisa memahami bagaimana kesedihan istrinya, terasa dari bahu mungilnya yang berguncang. Jemarinya mencengkeram kemeja Ken dengan erat, seolah tak ingin melepaskan suaminya.
Tanpa keduanya sadari, Shun berdiri di depan ruang perawatan Aira. Tangannya memegang handle pintu di depannya, namun tubuhnya terpaku di sana. Ia urung membukanya melihat Ken tengah menengadahkan wajahnya ke atas, mencegah agar air matanya tak ikut luruh membasahi pipi. Hatinya juga terluka, tak rela harus berpisah dengan wanita yang paling dicintainya itu. Perasaan takut kehilangan melingkupi keduanya.
"Tuan..." asistennya mencoba mengingatkan Shun karena sudah lebih dari lima menit mereka berdiri di sana. Pria itu layaknya manekin yang tak bergerak sedikit pun.
Shun mengangkat tangannya, meminta pria di sebelahnya untuk diam. Ia tidak ingin mendengar apapun dan memilih pergi dari sana membuat asistennya bertanya-tanya dalam hati. Ia melihat ke arah pandangan Shun sebelumnya melalui kaca transparan di tengah pintu. Tampak Ken yang tengah mencium puncak kepala istrinya, membuatnya semakin heran. Sejak kapan tuannya itu menjadi lemah dan berkompromi dengan orang lain? Mungkinkah hatinya tergerak?
*******
Thanks untuk semua readers Gangster Boy, jaga kesehatan kalian yaa...
See you next day ^^
Hanazawa easzy
__ADS_1