Gangster Boy

Gangster Boy
Gangster Boy : Khawatir


__ADS_3

Ken dan Aira menghabiskan waktu bersama di taman belakang. Keduanya menatap indahnya langit berbintang dengan bulan sabit di salah satu sisinya. Mereka menikmati waktu kebersamaan ini dengan sepenuh hati. Jarang sekali Aira bisa terbebas dari ketiga bayinya seperti sekarang ini.


"Apa kamu bahagia hidup bersamaku?" tanya Ken sambil mengelus helai rambut istrinya yang terurai di pangkuan.


"Umm. Sekarang ini bahagia. Entah esok atau lusa," jawab Aira jujur.


"Heih? Apa maksudmu? Apa kamu mengatakan bahwa aku tidak akan bisa membahagiakanmu lagi nantinya?"


"Siapa yang mengatakannya?" ketus wanita ini. "Kamu dengarkan dulu alasanku mengatakan hal itu."


Ken menatap manik mata istrinya lekat-lekat. Aira tengah meletakkan kepalanya di pangkuan Sang Suami sambil menatap langit yang menenangkan ini.


"Sejauh ini, aku tidak kekurangan materi sedikit pun. Bahkan tergolong mewah dan diimpikan oleh semua wanita." Aira menangkap jemari Ken yang tengah mengelus pipinya. "Tapi, siapa yang tahu apa yang akan terjadi detik berikutnya?"


Ken bungkam.


Pemikiran istrinya selalu saja terasa lebih menenangkan. Wanita ini mampu berpikir dewasa dalam segala hal dan tidak hanya mengandalkan perasaannya saja. Padahal, menurut penelitian, sebagian besar wanita menggunakan perasaannya dibandingkan logika saat membuat keputusan.


"Sebagai seorang yakuza sepertimu, tidak ada jaminan bahwa kehidupanmu akan berlanjut tanpa masalah, 'kan?"


Ken mengangguk. Apa yang istrinya ini katakan memang benar adanya. Musuhnya mengintai sepanjang waktu, menunggu ia lengah dan kemudian baru menyerangnya.


"Sejak petang tadi, saat kamu pulang, aku merasakan ada sesuatu yang tidak baik. Entah itu nyata atau hanya prasangka burukku saja. Aku merasa ada yang sedang berniat tidak baik padamu."


Ken mengelus pipi chubby di depannya dengan sayang. "Kamu seperti kakek, memiliki insting yang tajam."


Aira menggeleng, dia tidak ingin mendapat pujian itu. Faktanya, dia butuh ketenangan batin, bukan sekadar pujian semata.


"Semua asisten rumah tangga yang ada di rumah ini adalah orang-orang terbaik pilihan ibu dan kakek. Aku yakin mereka bisa melindungimu."


"Bagaimana denganmu? Kamu memiliki risiko yang lebih tinggi untuk terluka. Itu yang aku khawatirkan. Aku tidak bisa memaafkan orang yang--"


Cup


Ken mencium bibir wanitanya tanpa aba-aba, berhasil membungkamnya detik itu juga.


"Tidak akan terjadi apapun padaku. Jikapun itu terjadi, kamu adalah ibu yang kuat untuk anak-anak. Dengan atau tanpa kehadiranku, kamu akan bisa membimbing anak-anak dengan baik. Aku percaya itu."


Tik


Sebulir air tanpa warna luruh begitu saja di wajah yang mulai terasa dingin. Kata-kata yang Ken ucapkan seperti mengandung sebuah pesan perpisahan, membuat hati Aira sakit.


"Hey, kenapa menangis?" Ken segera menyapu air mata istrinya.


Cup


Ken kembali mendaratkan bibirnya, kali ini di ujung kelopak mata istrinya yang basah. Dia bahkan sengaja menyesap sisa air mata yang ada, membuat desiran halus di tubuh wanita 26 tahun ini.

__ADS_1


"Aku tidak akan mengizinkan orang lain melukaiku. Jika mereka berani melakukannya, sama saja mengantarkan nyawanya sendiri. Kamu, kakek, ayah, ibu, bahkan tuan Kobayashi maupun Kosuke akan dengan sukarela mengurus orang itu. Aku yakin kalian akan menggila jika aku sampai terluka."


Aira tersenyum simpul. Kalimat menggila yang sering dia sematkan pada Ken, kini justru berbalik padanya. Dia bisa menggila jika nyawa Ken terancam.


"Jadi ini yang membuatmu kesulitan tidur hari ini?" tanya Ken kemudian. Keduanya kini duduk menghadap kolam tempat beberapa ikan koi berda.


"Umm." Aira mengangguk. "Bagaimana kamu bisa tahu aku kesulitan tidur malam ini?"


Ken menyeringai, menatap balik mata sendu istrinya yang tampak sedikit meredup. Sepertinya dia mulai mengantuk.


"Aku mengetahui segala hal tentangmu. Jangankan kesulitan tidur, aku juga tahu bahwa kamu tengah mengagumiku sekarang." Ken berkelakar dengan penuh percaya diri.


Bugh!


Sebuah tinju segera mendarat di dada bidang pria ini. DIa selalu saja berhasil menggoda Sang Istri. Dengan begitu, suasana akan terasa hangat dan tak ada jarak di antara keduanya. Dan akhirnya mereka tertawa bersama.


"Sayang," panggil Ken saat keduanya kembali berjalan menuju rumah. Malam semakin larut, selaras dengan udara yang semakin dingin. Tidak baik terus ada di luar ruangan seperti sekarang.


"Umm?"


"Kita akan kembali ke Indonesia lusa."


"Eh?"


Aira menghentikan langkah, menatap pria yang telah membuahinya dan menghasilkan tiga orang anak super lucu, Akari, Ayame, dan Azami.


"Kenapa? Apa ada masalah?"


Ken mengangkat bahu sambil menggeleng, menandakan bahwa dia tidak tahu.


"Beliau tidak mengatakan alasannya, hanya mengatakan bahwa beliau sudah mengatur semua keperluan kita."


Aira bungkam, dia berusaha berpikir cepat, menggabungkan kemungkinan yang ada.


"Apa ini ada hubungannya dengan perusahaan?"


"Tidak. Miracle Indonesia baik-baik saja. Bahkan profit yang dihasilkan beberapa bulan ini tergolong tinggi, dua kali lipat dibandingkan sebelumnya."


Aira kembali berpikir. Sepertinya dia harus menanyakan hal itu pada kakek, takut akan terjadi sesuatu yang buruk seperti perasaannya.


"Kakek menolak berbicara denganku. Itu sudah keputusan final, kita tidak bisa melakukan apapun selain mengikutinya. Lagipula, ada baiknya anak-anak datang kesana, merasakan udara hangat tempat kelahiran ibunya."


Ken mengelus puncak kepala istrinya, meredam sikap waspada dan kecurigaan yang wanita ini tengah rasakan.


"Kita bisa mengunjungi ibu. Beliau pasti akan senang bisa melihat tumbuh kembang cucu-cucu kesayangannya."


Aira tersenyum hambar. Dia tahu Ken ingin menenangkannya, dan semua yang dia katakan memang benar adanya. Ibu akan sangat bahagia bertemu dengan baby triplet super menggemaskan itu. Tapi entah kenapa, dia tetap merasa belum tenang sama sekali.

__ADS_1


* * *


Matahari naik sepenggalah saat sebuah anak panah melesat tajam di udara.


Ctakk


10 poin. Sempurna.


"Kemampuanmu semakin baik sekarang." Pujian kakek membuat Yamaken tersenyum. Ah, bahkan tanpa dipuji sekalipun, pria ini memang selalu menunjukkan wajah bahagianya yang berhasil membuat siapa saja terpesona, termasuk seorang gadis yang berdiri beberapa langkah darinya. Ya, tak lain dan tak bukan, gadis itu adalah Mone Kamishiraishi, calon istri Yammaken.


"Giliranmu!" titah kakek pada gadisĀ  berponi ini.


Ctakk


Anak panah yang Mone lesatkan menancap di pusat papan target, 10 poin. Sempurna.


"Untuk apa kalian ingin menemuiku?" tanya kakek to the point. Beliau menutup sebelah matanya, sepersekian detik sebelum melesatkan anak panah yang sedari tadi tertahan di tangan kirinya.


Ctakk


8 poin. Keakuratan pria ini masih terjaga, terbukti dari kemampuan tangan kirinya. Meski bukan angka sempurna, namun itu tergolong pencapaian luar biasa karena kakek memanah menggunakan tangan kiri, sementara beliau bukanlah orang kidal.


"Kami ingin menikah," ucap gadis yang bersiap meniru cara kakek, memanah dengan tangan kiri.


"Menikah?"


Ctakk


Anak panah Mone menancap persis di sebelah anak panah kakek, membuat Yamaken terbelalak. Kemampuan gadis ini benar-benar mengerikan.


"Kalian boleh menikah. Tapi ada satu syarat yang harus kalian lakukan."


"Apa itu?" tanya Yamaken dan Mone bersamaan.


Kakek tersenyum penuh arti. Beliau siap mengejutkan dua sejoli yang tengah kasmaran ini. Ada rencana besar yang dia miliki pada pasangan muda mudi ini.


"Jika kalian gagal melakukan misi ini, maka jangan pernah memikirkan tentang pernikahan itu lagi."


Deg!


* * *


Apa ya rencana kakek? Bikin penasaran aja sih, Kek.


See you,


Hanazawa Easzy

__ADS_1


__ADS_2