
"Terkontaminasi?" Mone menendang angin di depannya untuk melampiaskan kekesalan.
"Heh, bagaimana mungkin sifat seseorang berubah karena terkontaminasi oleh orang di dekatnya?" Mone kesal dengan penjelasan Kaori.
Langkah kaki Mone terhenti saat melihat seseorang yang ia kenal kini berdiri di depannya, menatapnya dengan ekspresi yang sulit untuk diartikan.
"Kenapa kamu meninggalkanku?" tanya Yoshiro dengan wajah sedihnya.
"Hah? Apa kamu gila? Siapa yang meninggalkanmu?" tanya Mone sebal. Kekesalannya belum hilang dan kini tiba-tiba ada yang menuduhnya meninggalkannya.
"Kenapa kamu terus menghindariku?" Yoshiro semakin mendekati Mone. Tangannya terulur berusaha meraih wajah gadis di depannya.
Aroma alkohol yang kuat menyapa indera penciuman Mone membuatnya sadar bahwa pria di depannya ini sedang mabuk.
"Baiklah. Mari berakting sebentar. Lagi pula orang ini tampak begitu menyedihkan," gumam Mone lirih.
Mone meraih uluran tangan Yoshiro dan membawanya duduk di salah satu bangku panjang yang ada di sana.
"Ada apa? Kenapa kamu mencariku?" tanya Mone mulai berakting. Ia akan berpura-pura menjadi gadis yang kemungkinan adalah Yu. Ia tahu ada yang aneh dengan hubungan Yoshiro dan Yu. Jelas-jelas ia melihat seorang pria memeluk pinggang Yu, dan Yu tidak menyingkirkannya. Mungkin mereka putus, pikir Mone.
"Yu, apa kamu membenciku?" tanya Yoshiro lirih. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Mone yang ia anggap sebagai Yu.
Mone memilih diam, membiarkan pria ini mengungkapkan keluh kesahnya.
"Mari kita menikah. Bukankah kamu mengajakku untuk menikah saat di Rusia? Kenapa kamu justru meninggalkanku? Kenapa kamu tidak menjawab teleponku?" Yoshiro melontarkan pertanyaan bertubi-tubi sembari menggenggam jemari Mone dengan erat.
"Dia tidak akan marah meskipun kita bersama. Kakakmu sudah bahagia di sana, jadi kenapa kamu masih berpikir dia tidak akan rela jika kita menikah? Dia pasti akan bahagia jika kamu bahagia. Dia..." suara Yoshiro semakin lemah. Ia mulai memejamkan matanya dan masuk ke alam bawah sadarnya.
"Jadi begitu? Dia mengajakmu menikah tapi kemudian meninggalkanmu?" Mone tersenyum setelah mendengar curahan hati pria 28 tahun ini. Ia membiarkan bahunya sebagai sandaran dan mulai memainkan ponselnya.
"Merepotkan saja." Mone melihat jam di pergelangan tangannya. Sudah lewat tengah malam dan dia tidak tahu dimana rumah pria mengenaskan ini.
Puk puk puk
Mone menepuk pipi Yoshiro, "Ayo bangun. Aku antar pulang. Dimana rumahmu?"
Hening
Yoshiro tidak merespon sama sekali. Ia benar-benar tertidur lelap sekarang.
"Tidak ada jalan lain. Aku hanya bisa membawamu kesana. Ayo!!" Mone memaksakan diri membawa orang tak sadarkan diri ini untuk bangun. Dia mencubit hidungnya, berusaha membuat pria ini sadar.
"Hmm ...." respon Yoshiro.
"Ayo pulang."
"Hmm ...." lagi-lagi hanya gumaman tak jelas yang terdengar dari mulutnya.
"Baiklah. Aku harus menunjukkan kemampuanku sekarang."
Mone menggendong Yoshiro menuju taksi yang ia pesan melalui aplikasi di ponselnya. Meski tubuhnya mungil, tapi jangan lupa jika ia pernah mengenyam pendidikan mafia di Italia. Menggendong beban berat ia lakukan sebagai tes fisik setiap akhir bulan.
"Aku merindukanmu," ucap Yoshiro sebelum Mone melemparnya ke kursi belakang mobil. Ia duduk di bangku depan sebagai penunjuk jalan.
"Benar-benar merepotkan," Mone hanya bisa menggelengkan kepalanya karena tidak habis pikir dengan pria patah hati ini. Dia yang biasanya bersikap dingin dan acuh tak acuh, sekarang terlihat seperti anak ayam yang kehilangan induknya.
Mone membawa Yoshiro pergi ke kediaman Ken. Tidak ada tempat yang lebih tepat dibandingkan rumah kakak iparnya ini.
__ADS_1
"Uekk," Yoshiro muntah tepat ketika keduanya memasuki apartemen milik Ken.
"Apa-apaan ini?! Menjijikkan!!" teriaknya saat menyadari jaket dan rambutnya terkena muntahan Yoshiro dengan aroma yang tidak perlu diragukan lagi.
Dukk
PRANGG
Mone tidak sengaja menyenggol guci besar yang ada di sampingnya setelah melempar Yoshiro ke kursi panjang yang ada di ruang tamu. Ia kesal dan marah pada orang tak tahu diri yang telah ia selamatkan ini.
Ia hampir saja jatuh terjerembap setelah membuka pintu dengan sebelah kakinya. Kedua tangannya sibuk memegangi orang yang ia papah, dan kemudian Yoshiro menghadiahinya dengan muntahan. Bagaimana mungkin Mone tidak marah?
"Apa yang terjadi?" tanya Ken pada dua orang yang tampak kacau di depannya. Satu tertelungkup di atas kursi dengan wajah tersungkur. Satunya lagi sibuk melepas baju hangat yang menempel di badannya.
"Tanyakan saja padanya. Menjijikkan!" Mone melangkah semakin dalam, menuju kamar tamu yang sempat ia tempati sebelumnya.
Ken hanya bisa menepuk dahinya, mendapati sahabatnya yang sudah membuat keributan lewat tengah malam begini. Kebiasaannya yang muntah setelah minum sungguh merepotkan. Dan kali ini Mone yang harus merasakan imbasnya.
"Senior, bawa sekutumu pulang. Istriku akan marah jika aku membiarkan orang mabuk bermalam di rumahku." Ken berucap setelah panggilan teleponnya tersambung.
...****************...
Sinar matahari mulai menerpa wajah putih pucat yang terbaring dia atas kursi. Tubuhnya menggeliat merasa tidak nyaman karena tertidur dengan posisi tertelungkup di atas kursi. Ia membuka matanya dan membalikkan tubuhnya menghadap ke langit-langit. Dekorasi yang tidak asing, ini kediamannya sendiri.
Yoshiro mengurut pelipisnya, mencoba mengingat apa yang terjadi semalam. Kemarin sore ia menemui Yu dan berakhir dengan pertengkaran hebat. Bukannya berbaikan, Yu justru semakin berkeras hati ingin berpisah. Hal itu membuatnya frustasi dan memilih menghabiskan waktu dengan menenggak bergelas-gelas minuman keras. Ia berpikir cara itu bisa meringankan beban di hatinya.
"Oey..." sapa sebuah suara dari arah belakang.
Yoshiro melirik ke sumber suara dan mendapati Shun yang tengah menatapnya dengan tajam.
Plukk
Shun melempar soft drink di tangannya dan berhasil mendarat di perut Yoshiro yang masih tampak linglung. Ia tampak seperti anak kecil yang kebingungan, hilang arah.
*soft drink : minuman ringan
Perlahan Yoshiro duduk dan menenggak minuman berkarbonasi yang membuatnya sedikit lebih segar setelah mabuk semalam. Kepalanya masih terasa pening, hang over.
*hang over : perasaan sakit pada waktu bangun pagi setelah minum minuman keras terlalu banyak.
"Payah!!" cibir Shun pada sahabatnya, "Lain kali jangan minum jika tidak bisa mengendalikan dirimu."
Yoshiro tidak mempedulikan cibiran Shun, ia menundukkan kepalanya dan memejamkan mata. Permasalahan cintamu cukup pelik, membuatnya nekat menenggak minuman dengan kadar alkohol tinggi dan berharap melupakan masalahnya. Padahal yang ia lakukan justru memperkeruh suasana dan menimbulkan masalah baru untuk orang lain.
"Apa kamu bodoh?"
Deg!!
Suara yang sangat familiar ini membuat Yoshiro seketika membuka matanya. Ia menengok ke belakang dan melihat Yu yang kini menatapnya tanpa ekspresi.
Shun memilih pergi, meninggalkan dua sejoli yang nampaknya sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja. Keduanya tidak pernah berkomunikasi sejak pulang dari Rusia. Tepatnya, Yu selalu mengabaikan panggilan dan pesan dari Yoshiro.
Yu mendekat dan meletakkan hidangan yang ia bawa di tangannya. Ia menyajikan segelas teh hijau dan umeboshi untuk membantu Yoshiro meredakan efek mabuknya semalam.
__ADS_1
Jepang terkenal dengan kesemek dan plum yang disebut βUmeboshiβ sebagai penghilang pengar. Umeboshi yang terbuat dari plum yang direndam dengan garam dan daun ceri merah memiliki kadar air yang tinggi, kaya akan vitamin dan mineral serta membantu menghilangkan rasa penat dan pengar. Sedangkan umeboshi yang terbuat dari kesemek mengandung komponen yang membantu detoksifikasi hati, menurunkan tingkat alkohol dalam darah dan mengeluarkan alkohol dari dalam tubuh. Umeboshi dapat dimakan langsung atau dicelupkan dalam teh hijau. Kandungan polifenol yang terdapat pada teh hijau efektif mendegradasi asetaldehida penyebab pengar.
"Lain kali jangan mabuk dan muntah di depan gadis lain." Yu berucap sambil memberikan cangkir yang berisi air berwarna kehijauan pada kakak angkatnya itu.
"Gadis lain?" Yoshiro mengerutkan keningnya. Ia tidak tahu apa yang dibicarakan oleh Yu. Ia menerima pemberian Yu dan langsung menghabiskannya dalam sekali teguk.
Entah kenapa setelah melihat gadis ini, bukannya membaik, justru hatinya terasa lebih sakit. Sikap Yu yang acuh tak acuh, sama seperti saat dia masih mengenyam pendidikan di akademi. Tak ada ekspresi sama sekali di wajahnya, hambar dan datar. Dia mengubur hatinya dalam-dalam seperti dulu lagi. Sepertinya Yoshiro harus berjuang lebih keras dari sebelumnya, atau mungkin ini saatnya untuk melepaskan?
"Hubungan kita tidak bisa dilanjutkan lagi. Aku sudah mengatakannya pada ayah. Beliau tidak mempermasalahkannya," Yu memberikan sebutir buah kesemek berwarna oren itu pada Yoshiro.
Yoshiro kembali menerima pemberian Yu dan memakannya dengan lahap, membuat Shun mengangkat sebelah alisnya.
'Kedua orang itu benar-benar aneh, mereka sedang berselisih paham tapi tidak bertengkar. Terlihat akrab tapi sebenarnya bertentangan.' gumam Shun dalam hati.
"Jangan minum terlalu banyak. Tidak akan ada yang menolongmu lain kali."
"Kamu mengkhawatirkanku?" tanya Yoshiro ragu. Ia ingin hubungannya dan Yu memabaik seperti sebelumnya, tapi sepertinya itu tidak mungkin.
"Aku berkencan dengan Ji Yong sekarang." ungkap Yu lirih. Ia melepas cincin yang Yoshiro berikan sebelum pergi ke Rusia dan meletakkannya di atas meja.
Krakk
Ada yang patah tapi bukan ranting. Ada yang terluka tapi tak terlihat. Seketika ada yang terasa kosong di dalam sana. Gadis yang ia puja kini meninggalkannya. Seribu sembilu terasa menusuknya dalam waktu yang bersamaan. Ia benar-benar berpisah dengan Yu sekarang.
"Terima kasih untuk semua waktu yang kakak luangkan untukku selama ini. Maaf jika aku mengecewakanmu." Yu menatap kakak angkatnya dengan ekspresi yang sulit untuk diartikan. Antara rela dan tidak rela. Sejujurnya ia juga masih menyayangi Yoshiro, tapi entah kenapa ia juga tidak bisa menyangkal rasa bersalahnya pada Erina.
"Kenapa?" tanya Yoshiro dengan suara serak. Emosinya memuncak membuat dadanya bergemuruh. Ingin rasanya menghancurkan apa saja yang ada di depannya. Bahkan membunuh seseorang bernama Ji Yong juga akan ia lakukan jika bisa membuat Yu kembali dalam pelukannya.
"Tidak ada alasan. Aku hanya merasa kita tidak bisa melanjutkan hubungan ini. Sejak awal semuanya sudah salah. Hubungan kita sebagai kakak beradik adalah yang terbaik. Aku salah mengartikan perhatianmu dan terjebak dengan obsesiku sendiri. Dan kakak juga tersesat dengan bayang-bayang kak Erina karena aku mirip dengannya. Jadi, ayo kembalikan semuanya seperti awal. Aku ingin memulai hari yang baru bersama orang lain dan kakak juga berhak bahagia dengan pilihan kakak sendiri. Aku yakin akan ada seseorang yang menyayangimu dengan tulus. Mari akhiri semuanya sampai di sini."
Yu meraih jaket hitam bergambar berlian miliknya yang sedari tadi ia letakkan di sisi badan. Ia memakainya dan berhasil menyita perhatian Shun yang berdiri beberapa meter darinya.
"Circle K?" lirih Shun sambil mengetukkan jarinya di atas meja kaca di depannya, "Aku seperti pernah mendengar namanya. Simbol itu ... " Shun mencoba mengingat dimana ia pernah melihat gambar itu.
Yoshiro meraup wajahnya dengan kasar. Ia tidak bisa menahan Yu lebih lama lagi. Semua yang gadis itu katakan benar adanya. Sejak awal hubungan mereka memang tidak seharusnya terjadi. Bahkan keluarga mereka jelas-jelas menentang saat mengetahui hubungan keduanya beranjak ke jenjang yang lebih serius.
"Ayah mengkhawatirkanmu. Sesekali pulanglah ke rumah dan berbincang dengannya. Aku pergi," pamit Yu sebelum kakinya melangkah keluar dari apartemen milik Yoshiro ini. Ia tidak menengok ke belakang lagi, takut jika pertahanannya akan goyah jika melihat kesedihan yang terpancar dari wajah pria yang berhasil mencuri hatinya.
Gadis itu masuk ke lift yang membawanya turun menuju lantai dasar. Ia mengambil ponselnya dan segera menghubungi seseorang.
"Aku sudah putus hubungan dengannya. Apa lagi selanjutnya?" tanya Yu ketika melangkah melewati pintu berputar yang menghubungkannya dengan dunia luar. Ia tidak menyadari Kosuke yang berpapasan dengannya dan mendengar pertanyaan yang ia ajukan.
"Putus hubungan? Bukankah itu nona Ebisawa?" Kosuke bertanya-tanya siapa yang sedang berbincang dengan Yu. Ia hanya bisa melihat gadis semampai itu masuk ke mobil dan pergi menjauh detik berikutnya.
Kosuke coba membuka memorinya tentang Yu. Ada satu fakta mengejutkan yang baru saja ia dapatkan tentang kehidupan pribadi gadis itu. Dia pernah menjalin hubungan dengan Tuan G atau Kwon Ji Yong, penanggung jawab proyek yang kini dikerjakan bersama Miracle.
Berbagai potongan puzzle mulai terlihat terkait tugas yang Ken berikan padanya untuk menyelidiki profil pribadi Kwon Ji Yong. Ia merasa ada sesuatu yang belum ia ketahui dengan jelas. Namun instingnya mengatakan keberadaan G di Jepang bukan semata-mata karena bisnis, ada tujuan lain yang lebih besar. Dan itu mungkin berkaitan dengan tuan mudanya, Yamazaki Kenzo.
...****************...
Siapa ya yang Yu hubungi? Kok kesannya dia putusin Yoshiro karena ada seseorang yang merencanakan sesuatu yaa....
Duh, mbak Yu, jangan sampai salah langkah yaa π’ππ
Padahal author berharapnya Yoshiro-Yu bahagia, lah lok malah putus siii ππππ
See you next day/mata ashita ne,
__ADS_1
Hanazawa easzy π