
Ken tengah mencium Aira saat sebuah tepukan mendarat di kepalanya. Hal itu membuat kegiatan panas mereka terhenti.
"Dasar mesum!" seru sebuah suara yang tidak asing di telinga Aira. Ia segera menoleh ke samping kiri dan mendapati adik sepupunya berdiri tak jauh darinya.
Greg
Dukk
Aira segera turun dari pangkuan Ken dan duduk ke kursinya tanpa peduli pada lututnya yang terantuk meja sampai membuatnya sedikit bergeser.
"Untuk apa kemari?" tanya Ken sambil menekuk wajahnya. Ia benar-benar tidak suka pada calon adik iparnya ini yang sering mengganggu kegiatannya dengan Aira.
"Ibu yang mengundangnya. Masalah untukmu?" tanya nyonya Sumari, ibu Ken.
Mone menatap wanita yang tengah menuruni tangga dengan wajah tegang. Sepertinya ada sesuatu yang penting sampai membuat ibu memanggil calon menantunya ini. Ken segera melanjutkan makan malamnya, tanpa mempedulikan urusan dua wanita berbeda usia ini.
"Kemari!" perintah wanita 52 tahun itu, mengajak Mone melewati pintu yang menghubungkan rumah ini dengan taman belakang tempat Aira biasa menjemur bayi-bayinya.
"Ada masalah apa?" tanya Ken, menatap kepergian ibunya.
"Tidak tahu." Aira kembali melahap santap malamnya, tak ingin memikirkan hal lain. Ia masih sedikit kesal dengan dominasi Ken sebelumnya. Jika saja Mone tidak menyela kegiatan mereka berdua tadi, mungkin Ken sudah bertindak lebih jauh lagi. Aira bersyukur karena bisa melanjutkan makan malamnya dengan damai. Entah nanti atau besok, dia tidak tahu seberapa ganasnya pria yang sudah menahan diri selama dua bulan ini.
Ya, Ken tidak menyentuh Aira sekalipun. Meski masa nifas Aira sudah selesai sejak beberapa hari yang lalu, tapi Ken terlalu sibuk sampai harus menginap di kantor. Kalaupun tidak menginap, ia pulang hampir tengah malam saat Aira sudah terlelap. Ia tidak ingin mengganggu istrinya dan memilih tidur tanpa melakukan apapun.
Aira segera membereskan bekas makannya dengan Ken. Ia meletakkan alat makan itu di washtafel saat Sakura mendekat membawa Azami dalam gendongannya. Putra bungsunya itu sepertinya lapar, terlihat dari mulutnya yang terbuka, mencari sumber makanan dari ibunya.
"Apa kamu lapar, Sayang?" tanya Aira saat menerima uluran Sakura.
Ken menatap interaksi antara istrinya dengan pengasuh bayinya dari kejauhan. Usia mereka hampir sama, tapi memiliki wajah yang jelas-jelas berbeda. Sakura berwajah putih, khas gadis negeri empat musim. Ia cantik meski tanpa sapuan make up sama sekali.
Pikiran Ken kembali berkelana. Ia bisa mendapat wanita cantik seperti itu untuk menjadi pendamping hidupnya, tapi entah kenapa ia justru menikah dengan Aira. Si Gadis keras kepala dengan kulit kuning langsat khas negara tropis, Indonesia. Garis takdir menuntun mereka, mendekatkan yang jauh, menyatukan dua insan yang tidak saling mengenal sebelumnya dalam satu ikatan pernikahan. Ken tersenyum. menertawakan dirinya sendiri.
Entah seberapa keras usahanya menolak menikah, nyatanya Tuhan berkehendak lain. Ia justru mendapat seorang istri dengan kepribadian luar biasa, mandiri, multitalenta dan penyayang. Ken jadi mempertanyakan dirinya sendiri.
'Amal baik apa yang sudah aku lakukan sampai begitu beruntung mendapat istri sepertinya?' batin Ken sembari menatap punggung istrinya.
"Apa Akari dan Ayame masih tidur?" tanya Aira sembari mulai menapaki anak tangga di bawah kakinya. Ia meninggalkan Ken yang masih terdiam di meja makan, tanpa tahu apa yang ada dalam pikirannya.
Sementara itu, nyonya Sumari berhadapan dengan Mone, hanya terhalang meja kayu berbentuk bundar. Sebuah kanopi berbentuk bulat menaungi keduanya.
"Tahu kenapa aku memanggilmu kemari?" tanya wanita paruh baya itu dengan ekspresi yang sulit untuk diartikan. Nada bicaranya tak bersahabat sama sekali, justru lebih tsrdengar seperti tengah menginterogasi seorang tersangka kriminal.
__ADS_1
Glek
Mone menelan salivanya dengan kasar. Dari nada bicaranya, gadis ini tahu bahwa calon ibu mertuanya tengah menunjukkan emosi negatifnya. Sepertinya dia sedang marah.
"Maaf, Bu. Aku tidak tahu," jawab Mone takut-takut sambil menundukkan kepalanya. Ya, jujur saja ia tidak berani menatap wajah nyonya Sumari. Menyeramkan.
"Angkat wajahmu!" titah wanita itu tak terbantahkan.
Mone terpaksa mengangkat wajahnya, menatap tepat pada manik hitam wanita yang lebih tua dari ibu kandungnya ini.
"Apa kamu benar-benar menyukai putraku?"
"Eh, itu... " Mone kehilangan kata-kata. Ia tidak bisa menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh ibu mertua kakak sepupunya.
Brakk
"Apa ini?" Nyonya Sumari melemparkan sebuah amplop coklat ke atas meja, membuat kening Mone berkerut. Alisnya bertaut, tidak tahu apa yang tersembunyi di dalam sana.
Dengan takut-takut, ia membuka amplop tanpa perekat itu. Matanya membulat saat melihat potret yang kini ada di tangan kanannya.
"Siapa dia?" tanya nyonya Sumari, tajam dan dalam. Ia merebut potret di tangan Mone dan menghamparkannya di meja.
Potret kedua menunjukkan hal yang lebih mesra. Dokter pria itu menyuapi Mone dengan tangan kirinya. Mereka terlihat begitu akrab. Bahkan Sang Dokter menunjukkan sedikit senyumnya.
"Kalian berkencan?" tanya nyonya Sumari.
"Ini salah paham. Kami tidak memiliki hubungan apapun, Bu." Mone berusaha menyangkal tuduhan itu. "Dia dokter baru di tempat kerjaku. Kami hanya kebetulan pernah bertemu sebelumnya saat di Rusia."
"Kebetulan? Kamu yakin hanya kebetulan?" Nyonya Sumari mengambil selembar foto yang membuatnya naik pitam beberapa jam yang lalu. Ya, wanita ini sengaja mengirim seseorang untuk mengamati gerak-gerik calon menantunya.
Mone terhenyak menatap potret di depannya. Ia tidak bisa menyangkal lagi. Dokter yang sebelumnya menguapinya, kini tertangkap kamera tengah menyentuh kepalanya.
'Pantas saja ibu terlihat begitu marah. Bagaimana aku harus menjelaskannya?'
"Kamu punya satu menit untuk menjelaskan." Nyonya Sumari menatap Mone dengan pandangan tajam. Image negatif sudah terpatri di kepalanya.
Mone segera mengeluarkan ponselnya. Ia mencari file foto dari beberapa tahun yang lalu, saat pertama kali menginjakkan kaki di Rusia.
__ADS_1
"Dia hanya penolongku, Bu. Kami bertemu lima tahun yang lalu." Mone menunjukkan sebuah potret saat dirinya masih berusia 15 atau 16 tahun. "Saat itu aku tersesat dan dia menolongku menunjukkan jalan. Dia peduli karena melihatku kebingungan. Itu saja. Kami tidak pernah bertemu lagi. Bahkan aku tahu namanya setelah kami bertemu di panti asuhan. Dia baru datang seminggu yang lalu. Kebetulan panti asuhan dan panti jompo tempatku bekerja ada di bawah naungan yayasan yang sama. Kami benar-benar tidak sengaja bertemu." Mone berusaha mendapatkan kepercayaan wanita paruh baya ini lagi, meski ia tahu hal itu tidak akan mudah.
Nyonya Sumari mengangkat sebelah bibirnya, menunjuk foto lain yang ada di meja. "Bagaimana kamu menjelaskan tentang ini? Kamu terlihat begitu bahagia berada di punggungnya. Apa kamu tidak memiliki kaki untuk berjalan sendiri?"
Glek
Lagi-lagi Mone meneguk ludahnya. Pertanyaan itu sungguh membuatnya terpojok. Itu terjadi semalam. Mereka bermain suit dan Mone berhasil memenangkannya. Sebagai hadiahnya, dokter tampan itu menggendong sampai ke stasiun. Mereka berpisah setelahnya.
"Apa kamu ingin mempermainkan perasaan putraku? Kalau memang tidak menyukainya, kenapa terus memberikan harapan padanya? Kamu pikir apa yang akan ayahku lakukan saat melihat foto-foto ini? Atau kamu ingin membuat putraku sakit jantung?"
Deg
Mone mengangkat wajahnya, menggeleng detik itu juga. Ia sama sekali tidak ingin menyakiti Yamaken apalagi sampai membuatnya jatuh sakit. Mone tahu kondisi fisik kekasihnya, tidak boleh melihat atau mendengar sesuatu yang mengejutkan, atau kondisi jantungnya akan melemah. Itu berbahaya. Mone tidak ingin itu terjadi.
"Tinggalkan Yamaken baik-baik jika kamu memang menyukai orang lain. Aku tidak ingin memaksa wanita yang tidak menyukai putraku setulus hati. Urusan dengan orang tua itu, aku yang akan menghadapinya. Segera tinggalkan putraku dan jangan pernah muncul di hadapannya lagi!" Nyonya Sumari berdiri, menahan suaranya yang mulai bergetar menahan tangis. "Putraku memang tidak sempurna. Dia memiliki kelainan bawaan dan akan tetap seperti itu selamanya. Kamu bisa mendapatkan orang lain yang lebih baik."
Sebulir air mata jatuh tepat saat nyonya Sumari berbalik badan. Dia tidak ingin Mone melihat tangis pilunya ini. Sebagai seorang ibu, ia sudah mengusahakan pengobatan terbaik untuk putranya, namun itu hanya meringankan gejalanya saja, tak menyembuhkan lemah jantung yang Yamaken derita sejak kecil.
"Bu," Mone menahan lengan calon ibu mertuanya. "Ini salahku. Aku tidak berhati-hati. Aku tidak akan melakukannya lagi. Aku tidak akan meninggalkan Yamaken sampai kapanpun. Maafkan aku, Bu. Tolong maafkan aku." Mone memohon dengan setulus hatinya. Air mata berderai membasahi wajahnya. Ia merasa bersalah karena melupakan Yamaken.
Nyonya Sumari bergeming di tempatnya berdiri. Air tanpa warna kembali keluar dari ujung matanya. Ia meratapi kemalangan yang menimpa putranya tanpa bisa ia cegah.
"Ada apa, Bu? Apa yang terjadi?" tanya Ken saat melihat dua wanita berbeda usia di depannya sedang menangis dalam diam. Pasti telah terjadi sesuatu. Atau setidaknya mereka membicarakan sesuatu yang penting.
"Bukan apa-apa." Nyonya Sumari segera membereskan foto-foto yang berserakan di meja dan memasukkannya lagi ke dalam amplop. Ia tidak ingin Ken tahu masalah ini atau Mone akan berada dalam masalah. Wanita ini paham benar seperti apa tabiat putra sulungnya. Ia bisa memusnahkan siapa saja yang menjadi saingan cinta adik kembarnya.
Srett
Ken menarik paksa amplop yang coba ibunya sembunyikan. Detik berikutnya, ia mengamati gambar-gambar itu dengan kening berkerut.
"Siapa dia? Wajahnya tidak asing." Komentar Ken membuat nyonya Sumari dan Mone saling pandang. Mereka takut Ken akan melakukan sesuatu yang membahayakan dokter pria itu.
...****************...
Haduuh deg-degan Author tuh. Bakal gimana nih kelanjutan kisah Mone, Yamaken sama pak dokternya? Ada yang penasaran sama cogan yang baru muncul ini? Dia kawan atau lawan buat abang Ken?
Btw, bening bener tuh muka Si Om Takeru Sato 😂😂
Jangan lupa like, komen, vote, share, dll. See you,
__ADS_1
Hanazawa Easzy