Gangster Boy

Gangster Boy
Season 3 : Perasaan Bersambut


__ADS_3

Jangan lupa like, vote n komentar yaa. Ini episode terakhir di tahun ini.


Hontou ni arigatou buat semua waktu yang sudah kalian luangkan setahun ke belakang. Jangan bosen mampir ke novelku yaa,


Selamat membaca,


...****************...


Yamaken keluar dari kamar mandi dan mendapati semua orang tengah mengelilingi ketiga bayi itu.


"Hai, pemalas! Kemari!" perintah kakek membuat Yamaken tertegun seketika.


"Aku disini," jawab Yamaken sembari duduk bersimpuh di lantai. Ia menghadap kakek dengan wajah tegang.


"Sampai kapan kamu akan menjadi pengecut, hah?" tanya kakek sarkas.


Yamaken semakin menundukkan pandangannya. Tidak berani memandang pria yang telah menghabisi ratusan nyawa di masa lalu.


"Kamishiraishi, kemarilah," pinta kakek, memanggil Mone dengan nada yang lebih lembut.


Aira sedikit tersentak. Ini pertama kalinya ia mendengar kakek berbicara seperti itu. Tidak ada tekanan dalam setiap kata seperti biasanya, seolah beliau sedang memperlakukan batu permata yang begitu langka. Ia menarik lengan suaminya agar mendekat.


"Ada apa ini?" bisiknya pada Ken yang kini berbagi ranjang dengannya.


"Aku tidak tahu." Ken menggelengkan kepalanya. Ia juga tidak tahu apa yang akan kakeknya lakukan pada kedua orang itu.


Mone mendekat dan duduk bersimpuh di sebelah Yamaken, berjarak beberapa langkah saja. Ia menegakkan kepalanya, menatap kakek dengan percaya diri. Sama seperti Aira kala itu.


"Angkat kepalamu!" Kakek menggunakan tongkat di tangannya untuk menegakkan dagu cucunya. "Laki-laki harus berani menatap ke depan. Bukan menunduk seperti itu!"


Jantung Yamaken berdetak begitu cepat, ia selalu takut saat kakeknya sudah menunjukkan sifat diktatornya seperti sekarang. Keringat dingin segera menetes di pelipisnya. Rasa-rasanya kakeknya ini begitu menyeramkan.


"Ayah," panggil nyonya Sumari sembari memegang lengan kakek Yamazaki. Ia tidak ingin terjadi sesuatu dengan putranya di hari yang bahagia ini.


"Haish, kamu terlalu memanjakan putramu!" ketusnya dalam dan tajam. "Lihat! Dia jadi seperti ini sekarang. Ditolak dua kali saja sudah mundur. Apa itu yang namanya laki-laki?"


Mata Mone membulat. Ia tidak tahu dari mana kakek tahu ia menolak Yamaken dua kali?


Ken dan Aira saling pandang. Tidak mengerti akan seperti apa kelanjutan kejadian di depan mereka ini. Kakek yang terkenal kejam itu, tidak akan segan-segan memaksakan kehendaknya.


"Kalian akan menikah dua bulan lagi!" tegas kakek.


DUARR


Seolah tersambar petir di siang bolong. Yamaken menatap kakek dengan pandangan tak percaya. Begitu juga dengan Mone. Jantungnya berdetak dua kali lebih cepat. Ia merasa dadanya sesak setelah mendengar keputusan sepihak itu.


"Maaf, saya menolaknya," ucap Mone dengan percaya diri. Ia bahkan berdiri dan menegakkan kepalanya dengan berani. Meski begitu, jauh di dalam lubuk hatinya, ia juga merasa gentar di hadapan penguasa tertinggi klan Yamazaki ini.


DUK!


"Aku tidak menerima penolakan!" jawab kakek sambil menghentak tongkatnya ke lantai.


Suasana berubah tegang seketika. Semua orang menahan napas. Kedua manusia berbeda generasi ini nampaknya tidak akan menyerah satu sama lain. Mone tetap dengan penolakannya dan kakek bersikeras dengan keinginannya.


"Ken," ucap Aira sambil mencengkeram lengan suaminya dengan erat, meminta bantuan agar sedikit meredam suasana tidak mengenakkan ini.


"Jangan ikut campur!" Ken menggeleng. Ia tidak punya hak sama sekali untuk membuat kakeknya mengurungkan niatnya menjodohkan Yamaken dengan Mone. Semua keputusan tergantung pada sikap Mone, sama seperti Aira dulu. Hanya Aira yang bisa melawan kakek. Pun sama dengan Mone sekarang. Hanya ia yang bisa mengendalikan situasi ini.


Srett


Kakek menarik katana dari dalam tongkat miliknya dan mengacungkannya di depan Mone. Ya, tongkat yang sedari tadi ada dalam genggaman pria lansia itu ternyata berfungsi sebagai sarung pedang.


"Masih keras kepala seperti sebelumnya?" tanya kakek sambil menatap tajam pada gadis dua puluh tahun itu.


"Bahkan jika Anda membunuhku, itu tidak akan mengubah keputusanku untuk menolaknya." Mone melirik Yamaken yang kini berdiri dua langkah di sampingnya.


"Ka... kakek, tolong turunkan senjatamu. Kita bisa bicarakan baik-baik," pinta Yamaken dengan suara bergetar.


"Bicarakan baik-baik? Kamu pasti akan menyerah padanya. Benar, 'kan?" tanya kakek sarkas. Ia tahu cucunya satu ini terlalu lembut hatinya. Dia pasti akan merelakan gadis pujaannya, rela hatinya terluka daripada memaksakan kehendaknya untuk memiliki gadis itu.


Yamaken terdiam. Tuduhan kakeknya itu memang benar adanya. Ia akan merelakan Mone.


Aira turun dari ranjangnya saat Ken tengah sibuk mengamankan ketiga buah hatinya, memasukkan mereka kembali ke dalam box yang ada di sebelah jendela.


Aira berjalan tertatih, berdiri di depan Mone, menjadi penghalang antara pedang tajam itu dengan adik sepupunya.

__ADS_1


Sontak hal itu membuat ibu dan Naru menahan napas. Mereka berdua tidak menyangka Aira akan melepas jarum infus di punggung tangannya dan melangkah mendekati daerah berbahaya itu.


"Seberapa jauh kakek akan bertindak? Berapa banyak luka yang harus mereka jalani untuk bisa bersama? Jika kakek memang akan mempekerjakan Mone, dia pasti bersedia. Tapi, jika memaksanya menikahi Yamaken, bahkan aku juga tidak akan menyetujuinya." Aira membela Mone. Bagaimanapun juga, hanya ia yang dimiliki oleh gadis itu saat ini. Ia akan ada di sisi Mone, meskipun itu artinya harus menentang penguasa tertinggi di keluarga ini.


"Kamu?!" geram kakek. Wajahnya merah padam. Ia tidak akan bisa memaksa menantunya ini. Dia memiliki tekad yang kuat.


"Pernikahan tidak bisa dilakukan atas dasar paksaan. Aku dan Ken sudah mengalaminya. Berkali-kali aku ingin berpisah dari Ken. Dengan sifatnya yang temperamental itu, aku yang akhirnya tersakiti. Bagaimana dengan Yamaken dan Mone? Kakek tahu siapa yang lebih mendominasi di sini. Siapa yang akan terluka lebih dalam?"


KLANG


Kakek menurunkan pedang di tangannya dan membuangnya sembarang.


"Terserah kalian saja." Kakek pergi dari ruangan itu, tak peduli lagi pada cucunya.


BAMM


Pintu berwarna kelabu itu tertutup dengan keras, menimbulkan bunyi debaman yang cukup kuat, membuat lutut Aira terasa lemas seketika.


"KAK?!" Mone segera menangkap tubuh kakak sepupunya itu sebelum luruh ke lantai.


Ken segera mendekat dan menggendong istrinya itu kembali ke atas ranjang.


"Dasar keras kepala! Bukankah sudah ku bilang jangan ikut campur. Bagaimana jika kakek tidak mau mengalah padamu?" Ken mengelap keringat yang membasahi pelipis Aira dengan tisu di tangannya. "Jangan membuatku khawatir seperti ini lagi," mohon Ken lirih.


"Maaf," ucap Mone sambil menundukkan kepalanya. Merasa bersalah karena sudah membuat Aira menjadi seperti ini.


Naru memilih pergi dari tempat ini. Setidaknya ia harus memastikan kakek Yamazaki pulang ke rumah dengan selamat. Ia adalah cucu kesayangannya saat ini, setelah Ken.


Aira mengambil napas dalam-dalam. Luka sayatan operasi kemarin di perutnya terasa sakit, membuatnya harus memejamkan mata. Ia tidak memikirkan hal ini sebelumnya. Yang ia tahu, ia harus menyelamatkan Mone dari kemarahan kakek. Itu saja.


Sebutir air tanpa warna mengalir dari sudut matanya. Ia tidak bisa menyembunyikan rasa sakit ini lagi.


"Lukanya berdarah!" teriak Mone saat melihat ada noda darah pada piyama rumah sakit yang kakaknya kenakan.


"Astaga. Cepat panggil dokter!" seru wanita 52 tahun itu dengan panik.


Ken sigap menekan tombol merah yang ada di dinding. Itu adalah tombol emergency yang terhubung dengan ruangan perawat di depan sana.


Aira mencengkeram seprai di sisi badannya dengan erat. Keringat dingin kini membasahi pelipisnya, membuat Ken menarik tisu dengan panik dan segera menyekanya. Sebelah tangannya menangkap jemari Aira, lagi-lagi membiarkan punggung tangannya menjadi lahan cabik kuku-kuku istrinya.


"Apa yang terjadi?" tanya salah satu dari mereka.


"Lukanya berdarah," jawab Mone cepat.


"Apa dia bangun dari ranjang?" tanya yang lain sambil memperhatikan keadaan ruangan ini. Ia bergidik ngeri saat melihat sebuah katana tergeletak begitu saja di lantai.


"Maaf, kami akan segera mengurusnya. Silakan tinggalkan ruangan ini. Hanya satu orang yang boleh tinggal."


Yamaken, Mone dan nyonya Sumari segera keluar dari ruangan ini. Mereka menunggu di koridor dengan khawatir.


"Ada apa? Apa yang terjadi dengan menantumu?" tanya dokter Tsukushi pada nyonya Sumari.


"Dia, luka operasinya mengeluarkan darah." Nyonya Sumari menggigit bibir bawahnya, takut terjadi sesuatu yang buruk pada Aira.


Dokter Tsukushi segera masuk ke dalam ruangan dan bergabung dengan dua petugas yang lain. Ia dengan sigap merawat luka Aira yang kembali terbuka.


Beberapa menit kemudian, Ken bisa bernapas lega saat melihat kondisi istrinya telah membaik. Ia terlihat tenang dengan napas yang teratur.


"Luka sehabis operasi caesar akan hilang perlahan-lahan hingga 6 minggu setelah operasi. Untuk mempercepat penyembuhan, beberapa hal yang dapat istri Anda lakukan adalah jangan terlalu banyak bergerak, perbanyak istirahat selama 1 sampai 2 minggu setelah melahirkan. Selain itu, jaga perut Anda. Bila batuk, bersin atau tertawa, pegang bagian bawah perut Anda."


"Maafkan saya. Terima kasih, Dok." Aira hanya bisa mengangguk pasrah. Ia tahu diri akan kesalahannya kali ini.


"Baiklah. Saya permisi. Selamat istirahat, Nyonya," pamit dokter senior itu sebelum pergi. Ia melirik pada katana yang tergeletak di lantai dan hanya bisa mengembuskan napas kasar. Ia beberapa kali berurusan dengan keluarga ini, dan ada-ada saja yang terjadi pada mereka.


'Bagaimana mungkin sebuah pedang yang memiliki panjang hampir satu meter itu sampai di tempat ini? Mengerikan.' gumamnya dalam hati.


Ken mengelus kepala istrinya dengan penuh cinta, "Aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri jika terjadi sesuatu yang buruk padamu."


"Maaf," lirih Aira. "Tanganmu," ucap wanita itu saat melihat luka di punggung tangan suaminya.


Ken tersenyum, "Tidak masalah. Ini tidak akan membunuhku," jawabnya bergurau. Ia justru mencium punggung tangan istrinya, menggoda.


Tok tok


Nyonya Sumari masuk ke dalam ruangan itu seorang diri. Ia melihat keadaan Aira yang terlihat lebih baik dengan pandangan lega.

__ADS_1


"Kamu membuat ibu khawatir, Nak." Nyonya Sumari mencium kening menantunya cukup lama.


"Maafkan aku, Bu," lirih Aira sambil menutup matanya, merasakan kasih sayang dari wanita yang telah melahirkan suaminya itu.


"Berjanjilah kamu tidak akan membahayakan dirimu lagi lain kali," pintanya dengan lembut.


"Hemm, aku janji."


Ken beranjak dari duduknya. "Dimana mereka?" tanya Ken, merujuk pada Mone dan adiknya, Yamaken.


"Mereka pergi ke atap." Nyonya Sumari beralih memandang putra sulungnya.


"Bu, tolong jaga istriku." Ken pergi dari ruangan itu dengan langkah cepat. Ia harus menyelesaikan masalah ini sebelum semuanya semakin berlarut-larut.


Seorang pengawal masuk dan mengambil katana milik kakek dan segera mengamankannya seperti instruksi Ken.


...*****...


"Maaf sudah membuat masalah untuk kalian," ucap Yamaken saat keduanya sampai di atap. Ia berdiri di belakang besi pembatas, menatap angkasa yang begitu luas tak terkira.


"Apa gunanya permintaan maaf seperti itu? Apa kamu bodoh?" jawab Mone kesal, tangannya bersedekap di depan badan dengan wajah muram.


"Sejak dulu kakek memang tidak menyukaiku. Apapun yang aku lakukan, dia menganggapnya hanya main-main," ungkap Yamaken lirih.


"Hah?" Mone mempertanyakan pernyataan Yamaken.


"Aku memiliki kelainan jantung. Itulah sebabnya aku tidak pernah bisa menjadi seperti Ken. Satu-satunya olahraga yang bisa ku lakukan adalah memanah."


Mone memilih diam. Ia bersiap mendengar cerita Yamaken.


"Lemah jantung (Kardiomiopati) tidak memiliki tanda dan gejala sehingga tidak membutuhkan pengobatan. Untuk sebagian orang, penyakit ini berkembang dengan cepat dan menimbulkan gejala yang parah serta komplikasi."


"Bagaimana denganmu?" tanya Mone mulai merasa iba pada pria di hadapannya.


"Aku? Aku baik-baik saja selama tidak melewati batas. Tidak ada keluhan serius selain sesak napas, terutama saat melakukan aktivitas yang melelahkan."


"Apa yang terjadi jika kamu melewati batas?"


"Pusing, nyeri dada dan akhirnya pingsan." Ken berbalik dan tersenyum menatap Mone yang membeku di tempatnya berdiri.


'Dia tersenyum? Apa dia menertawakan dirinya sendiri?' batin Mone tak percaya.


"Itulah sebabnya aku tidak bisa mempertahankanmu. Bahkan meskipun kamu bersedia menikah denganku, mungkin aku yang akan menolaknya." Yamaken menengadahkan kepalanya ke atas, mencegah bulir air yang mengumpul di matanya. Ia tidak ingin menangis, namun kenyataannya berlawanan.


"Ini memalukan." Yamaken menghapus air yang akhirnya luruh membasahi pipinya. "Jangan melihatku." Yamaken kembali berbalik. Ia malu jika Mone melihatnya menangis seperti ini.


"Apa kamu sungguh menyukaiku?" tanya Mone dengan suara bergetar. Ia mendekat perlahan ke arah Yamaken dan memeluknya dari belakang.


Yamaken terdiam, tubuhnya menegang. Hanya desau angin yang terdengar di atap rumah sakit ini. Juga detak jantungnya yang begitu cepat, seolah ingin keluar dari tempatnya saat ini juga.


Mone memeluknya? Apa itu artinya, perasaannya bersambut?


Ken menatap adiknya dari arah pintu dengan perasaan lega. Tadinya ia ingin menyarankan mereka untuk berdamai, mengulur waktu sampai kemarahan kakek reda. Namun, tampaknya itu tidak perlu. Sepertinya mereka sudah membuat keputusan sendiri.


Musim semi akan segera tiba....


...****************...


Happy new year 🎉🎉🎉


Happy juga karena Ken sama Aira udah jadi bapak-ibu.


Happy karena perasaan Yamaken bersambut,


Dan author juga happy karena.... Mmm, karena apa yaa? Ada deh 😄😆😆 Semoga kalian semua juga happy yaa 😉


Tapi ngga happy sama sikap si kakek. Dahlah, orangtua mah suka gitu. Ngga ngerti lagi dah maunya apa, *curcol.


Author deg-degan sama keadaan Aira. Nekat bener dah tuh ibuk, main jalan aja padahal baru juga operasi sesar kemarin. Beuuh, demi si Mone 😥


Dah ah, see you & bai bai tahun depan.


With love,


Hanazawa Easzy ❤

__ADS_1


__ADS_2