
"Enjoy your meal.." ucap Aira sembari membereskan peralatan dan obat-obatan yang sempat ia gunakan untuk menolong Shun.
(Nikmati makananmu..)
Ia pergi setelah membenarkan jaket yang menutupi tubuh Shun yang tak bergerak sedikitpun. Dia seperti mayat hidup, tak ada pergerakan sama sekali bahkan sampai Aira menghilang di balik pintu yang menelan tubuh mungilnya.
"My Savior Goddess.." lirih Shun sembari menatap Aira yang menatapnya dari jendela kamar.
(Dewi Penyelamatku)
***
Langit masih terlihat gelap saat Aira membuka jendela, membiarkan udara pagi masuk ke kamarnya yang ada di lantai 2. Netranya otomatis menoleh ke tempat Shun berada, tampak pria itu berbaring meringkuk menahan dingin. Jaket hitam yang ia berikan semalam hanya cukup menutupi sebagian badannya saja.
Cukup lama Aira menatap pemandangan di depannya. Ia merasa bersyukur atas hidupnya. Meskipun ia tidak diinginkan oleh keluarganya saat kecil dulu, setidaknya sekarang kehidupannya sudah lebih baik. Terlebih lagi ada seseorang yang selalu mendukung semua keputusannya. Aira tersenyum sambil menggenggam liontin saturnus di dadanya dengan erat. Hubungannya dengan Yudha semakin dekat, itu memberikan kebahagiaan tersendiri di hatinya.
Rintik gerimis mulai turun dari langit membuat Aira panik dan segera tersadar dari lamunannya. Ia mengambil payung dan berlari menemui Shun yang tampak mulai terusik dengan tetes air yang membasahi wajahnya.
Aira berhenti di depan Shun yang kini duduk bersandar sambil menatapnya. Nafasnya terengah-engah seolah baru saja lomba lari. Ya, gadis itu berlomba dengan hujan yang kini terasa semakin deras.
"I will be right back." ucap Aira sambil memaksakan tangan Shun memegang payung merah yang ia berikan.
(Aku akan segera kembali)
Gadis saturnus itu berlari kembali ke rumah yang ia tinggali, membiarkan tubuhnya sedikit basah karena tak ada penghalang antara ia dengan hujan. Payung merah yang biasa ia gunakan sekarang ada di tangan Shun.
Beberapa menit kemudian ia tampak keluar menggunakan payung lain dan pergi ke arah yang berlawanan dengan keberadaan Shun. Membuat pria lusuh ini menatapnya dengan penuh tanda tanya, apa yang gadis itu lakukan?
Langit mulai terlihat terang saat Aira kembali mendekat ke arah Shun. Sebuah senyum terukir di wajah chubbynya. Sebelah tangannya memegang payung dan satunya lagi tampak bersembunyi di balik baju hangat yang ia kenakan. Tubuh mungil itu berdiri tepat di hadapan Shun.
"Come with me." Aira meminta Shun bangun. Namun pria itu tak merespon, hanya menatap Aira dengan pandangan tanpa ekspresi.
(Ayo ikut denganku)
"Aishh... Aku lupa. Dia tidak tahu apa yang aku ucapkan." gumam Aira sambil menempelkan tangannya di wajah. Shun masih mematung di tempatnya duduk, padahal bajunya sudah sedikit basah karena percikan air hujan yang memantul ke arahnya.
"Come on.." Aira menarik tangan Shun dengan paksa agar mengikutinya. Hanya itu yang bisa ia lakukan agar pria di depannya ini menurut. Bahasa tidak akan menjadi kendala untuk mereka jika Aira bisa menyampaikan maksudnya dengan langsung action.
(action : bertindak)
Keduanya berjalan kaki menuju arah kedatangan Aira sebelumnya. Shun menatap genggaman Aira yang tanpa ragu memegang tangannya yang kotor. Noda darah di sekeliling lengan kemejanya tak menyurutkan niat gadis itu menggenggamnya. Padahal biasanya seorang gadis selalu memperhatikan penampilan orang di sekelilingnya. Dengan penampilan lusuhnya ini, Aira tak terganggu sama sekali. Hal itu membuat Shun sedikit mengangkat bibirnya.
Selama ini ia adalah berandalan jalanan dan tidak pernah berhubungan dengan gadis manapun. Ia selalu menganggap kaum feminin itu merepotkan, tapi kali ini penilaiannya berubah. Justru ia yang harus merepotkan gadis asing ini.
Langkah mereka terhenti di sebuah pintu kayu berwarna coklat gelap. Aira mengeluarkan kunci dari saku bajunya dan membuka kamar itu tanpa melepaskan genggaman tangannya pada pergelangan Shun.
Tampak sebuah ranjang single size dengan 2 buah bantal dan sebuah selimut dengan motif yang sama. Meja kayu mungil berdiri di tengah ruangan 2x3 meter itu. Tak lupa sebuah lemari mini ada di salah satu sisinya.
Aira tersenyum sambil menggeser badannya, mempersilahkan Shun untuk masuk. Masih tanpa kata, Shun menuruti perintah Aira dan berdiri dengan bodohnya menunggu arahan Aira selanjutnya.
'Masih ada waktu.' lirih Aira dalam hati. Gadis itu menatap jam di pergelangan tangannya dan mengangguk dua kali seolah mengonfirmasi sesuatu dengan dirinya sendiri.
Ia pergi tanpa mengatakan apapun pada Shun. Tepat saat itu ponsel di saku Shun bergetar, menandakan ada panggilan dari seseorang yang membuatnya menghela nafas panjang.
"Moshi-moshi..." sapa Shun dengan wajah gangsternya. Wajah yang sangat berbeda dari sebelumnya, menunjukkan ambisi dan kemarahan yang terlihat dari sorot matanya yang tajam.
Aira kembali sepuluh menit kemudian dengan membawa sebuah paper bag berwarna putih dan meletakkannya dengan tergesa. Nafasnya kembali memburu seperti sebelumnya saat berlomba dengan hujan. Tampaknya kali ini ia berlomba dengan waktu, terlihat dari sikapnya yang sempat melihat jam tangannya saat sampai di kamar yang ia sewakan untuk Shun.
"I have to go to school now. See you.." pamit Aira sambil membenahi anak rambutnya yang tampak sedikit berantakan.
__ADS_1
(Aku harus pergi ke sekolah sekarang. Sampai jumpa)
Wajah lelah gadis yang dipanggil Rara itu terlihat lucu di mata Shun, tapi ia tetap berusaha memasang wajah innocent miliknya.
(innocent : polos/tanpa dosa)
Tubuh Aira menghilang di balik pintu. Membuat Shun menunjukkan ekspresi sebenarnya, tersenyum hangat menatap paper bag yang tergeletak di meja. Ia membukanya dan hatinya menghangat seketika.
Sepotong roti dan sebotol susu coklat kini ada di hadapannya. Itu cukup untuk membuatnya kenyang pagi ini.
***
Tok tok
Matahari tepat berada di atas ubun-ubun saat terdengar suara pintu diketuk. Shun membuka matanya yang terlelap sejak pagi dan menghampiri pintu beberapa langkah dari ranjangnya. Ia menguap dan merenggangkan badannya sejenak sebelum membuka pintu di depannya.
Aira masuk dan meletakkan sebuah paper bag besar yang ia bawa. Shun kembali memasang wajah tanpa dosa seperti sebelumnya. Padahal hatinya merasa senang melihat gadis itu kembali datang menghampirinya.
"Aku harap kamu menyukainya." ucap Aira memakai bahasanya sendiri, bukan bahasa Inggris seperti sebelumnya. Hal itu membuat Shun mengernyitkan keningnya, tak tahu apa yang gadis ini bicarakan. Tapi ia terlalu gengsi untuk membuka mulut, sekedar bertanya apa maksudnya. Ia meniadakan ekspresi itu detik berikutnya.
Aira duduk di lantai dan mulai mengeluarkan barang-barang yang ia belikan khusus untuk Shun. Yang pertama kali Aira ambil adalah 2 buah nasi box. Ia sengaja membelinya untuk makan siang dan makan malam Shun sekaligus. Entah kenapa Aira peduli padanya. Ia merasa mereka memiliki kesamaan, sama-sama diabaikan oleh orang-orang di sekitarnya. Shun hanya diam melihat gadis dengan kalung saturnus di lehernya itu yang tampak asik dengan pemikirannya sendiri.
"Untukmu." ucap Aira sambil memberikan sebuah kotak persegi panjang pada Shun. Pria kelahiran Jepang itu menerimanya dan membukanya perlahan. Terlihat sepasang sepatu berwarna krem. Berbagai pertanyaan muncul di benaknya. Siapa gadis ini? Kenapa dia begitu baik padanya?
Saat Shun masih sibuk dengan berbagai prasangkanya, Aira membuka box di hadapannya dan menyerahkan itu pada Shun.
Detik berikutnya, Aira beranjak berdiri bersiap pergi. Terlihat dari gerakannya membenahi syal yang tersimpul di lehernya.
Bugh
"Who are you?" tanya Shun dengan melakukan Kabe-don pada Aira.
(Siapa kamu?)
*Kabe-don ialah pose memojokkan seseorang hingga ke tembok sambil bersandar dengan satu tangan. Biasanya kabe-don dilakukan oleh lelaki kepada wanita agar tidak pergi.
Shun mengunci pergerakan gadis itu di sisi kirinya. Tatapan tajam yang ia arahkan langsung ke matanya, berhasil membuat Aira menelan salivanya dengan paksa.
(saliva : ludah)
Aira pernah melihatnya di anime, tapi tidak menyangka Shun akan bertindak seperti dalam film dua dimensi itu. Lagipula ini bukan di Jepang, kan? Atau pria di hadapannya ini orang Jepang?
Bukannya lari atau menghindar, Aira justru balik menatap netra Shun dan mulai mengamati wajahnya. Mata bulat dengan ujung tajam, itu adalah indera penglihatan yang dimiliki oleh orang-orang dari negeri matahari terbit. Memang Shun sekilas terlihat seperti orang Thailand, tapi ia memiliki mata yang berbeda dengan Rin dan teman-temannya di sekolah.
Detik berikutnya Aira tersenyum dan menepuk lengan Shun yang terbebas di sisi badannya. Ia ingat pelajaran beladiri yang pernah ia dapatkan di sekolahnya dulu. Bukannya mempraktekkannya, Aira justru merasa hal itu lucu dan terlalu dramatis untuk dilakukan.
"Saat seseorang memojokkanmu, ada 4 cara yang bisa dilakukan untuk menyingkirkan mereka. Kalian bisa memukul bagian bawah ketiak mereka atau memukul bagian tengah tubuhnya. Jika cara itu tidak memungkinkan, cara ketiga lebih keras yaitu memukul bagian dagu. Terakhir, cara keempat adalah yang paling ekstrem. Hantamkan kepala kalian ke arah dagu atau kening mereka jika posisi kalian sejajar."
"Enjoy your meal." tutur Aira sembari menyingkirkan tangan Shun yang menghalangi jalannya menuju pintu. Dia pergi setelah melambaikan tangannya sambil tersenyum.
Shun berdiri mematung di tempatnya. Seketika ia menjadi bodoh melihat sikap gadis mungil yang baru saja pergi itu. Dia pikir gadis itu akan ketakutan dengan sikap kasarnya. Atau kemungkinan lainnya adalah mereka berakhir dengan romantis, saling menatap dan berakhir manis dengan ciuman di pipi atau bibir. Tapi, apa yang terjadi padanya? Gadis itu pergi begitu saja?
Shun seperti orang linglung, menyandarkan badannya di dinding dan menatap barang-barang pemberian Aira dengan pandangan kosong.
__ADS_1
"Baka!!" umpatnya.
(Bodoh)
Keesokan harinya, Aira tetap datang menemui Shun dan memberikan nasi box seperti sebelum-sebelumnya. Hanya saja, ia berdiri di pintu dan berlalu pergi setelah Shun menerimanya.
***
Seminggu berlalu dan luka memar di wajah Shun mulai membaik. Ia memakai pakaian yang diberikan oleh Aira dan menuliskan sebuah surat yang ia titipkan pada wanita tua pemilik kamar yang ia tinggali beberapa hari ini.
Benar saja, pagi ini Aira datang seperti biasanya membawa paper bag berisi sarapan untuk Shun. Dia mengetuk pintu beberapa kali tapi tak ada jawaban.
"Dia pergi semalam." wanita berumur itu mendekati Aira yang masih berdiri di depan kamar Shun.
"Pergi?"
"Ini untukmu." wanita itu menyerahkan sebuah amplop berwarna putih pada Aira. Ia duduk di kursi yang ada di sana dan membuka lipatan kertas itu dengan hati-hati. Ada 20 lembar uang pecahan 1000 baht di dalamnya yang kurang lebih bernilai 9,4 juta rupiah.
Thank you, my Savior Goddess...
(Terima kasih, Dewi Penyelamatku)
FLASHBACK END
Shun tersenyum di akhir narasi panjangnya, membuat Yoshiro mengangkat sebelah alisnya. Sahabatnya itu ternyata bertemu dengan Aira lebih dulu dibandingkan ia atau Ken. Pantas saja sikapnya berubah begitu mengetahui identitas Aira adalah Rara yang menolongnya di Thailand.
Sebelum bergabung di akademi, ia hanyalah anggota gangster yang tak diperhitungkan. Menjadi bulan-bulan kawanannya saat misinya gagal. Ia seorang pecundang. Preman yang hidup di jalanan tanpa masa depan yang jelas, hingga seorang donatur mengirimnya pergi ke akademi milik keluarga Yamazaki untuk mengasah kemampuannya. Kembali ke tanah kelahirannya sendiri dan menjadi seorang ahli obat kimia berbahaya yang disegani orang-orang di dunia mafia.
Banyak obat mematikan yang ia jual dengan harga tinggi, semua demi pundi-pundi yang yang akan ia berikan pada dewi penolongnya. Namun kenyataannya setelah Shun berhasil mengumpulkan banyak uang, jejak Rara tak lagi ditemukan. Keluarga Rin juga tak lagi tinggal di sana, membuat Shun berkeliling Thailand selama beberapa tahun terakhir. Ia tidak tahu Aira hanyalah pendatang yang tinggal selama pertukaran pelajar.
Ia melupakan tujuannya mencari Aira saat adiknya menghilang 5 tahun yang lalu. Sama seperti Aira, adiknya mengikuti program pertukaran pelajar dan tak pernah kembali setelahnya. Ia hilang tepat di hari ulang tahunnya yang ke 15.
"Dia mengingatmu?" pertanyaan Yoshiro membuat Shun kembali ke dunia nyata.
"Aku tidak yakin." jawab Shun ragu, "Lagipula Ken ada di sisinya sekarang.." Shun menatap butiran salju di luar dengan wajah sendu, sepertinya hatinya terluka menyadari status Aira yang tak lagi sendiri. Ia bahkan sedang mengandung buah hatinya dengan Ken.
*******
Hai minna-san... Author come back 🤗 Kangen kalian, uwuwuwuwuuu 😄😄
Akhirnya part ini bisa author selesaikan juga. Dari dulu pengen masukkin cinta pertama author ke cerita Ken-Aira ini, tapi bingung mau dikasih peran apa. Walhasil, jadilah gini.
Gimana-gimana, seru ngga peran bang Shun Oguri disini? Atau terlalu lambat alurnya? Atau kurang banyak update nya? Atau terlalu ngga jelas kehaluan author kali ini? 😂
Apapun itu, author berusaha memberikan yang terbaik untuk kalian semua. Gomen ne kalo masih ada typo atau pemilihan kata yang kurang enak di baca. Jangan lupa like, koment & share ke temen yang suka baca novel online juga boleh 🤗
Author baca & like komentar kalian semua kok, cuma belum sempet bales satu per satu. See you next day. Hontou ni arigatou 🙏*deep bow/nunduk hormat.
Oh iya, sebagai bonus author kasih pict Shun Oguri. Pemeran si Hanazawa Rui di dorama Hana Yori Dango (2005) yang menjadi inspirasi nama pena author *duuh, cinta pertama author itu sekarang udah om-om. Author juga udah dipanggil auntie sii di dunia nyata 😅 (ga ada yg nanya kali thor)
Kalo ini pict abang waktu main di Crows Zero. Cocok lah yaa jadi gangster 🤗
Dia udah bapakable banget yaa 😂😂
Udah udah, makin halu aja nih author. Jangan kapok yaa baca postingan author, meskipun kadang (sering sii) ada part ngga jelas kek gini. Sekedar menyalurkan kegabutan yang ada. Hehehe... Jaga kesehatan kalian yaa. Jaa mata ne (Sampai jumpa lagi)
__ADS_1
Made with love,😍
Hanazawa easzy ^^