
Ken sedang ada dalam perjalanan menuju Miracle untuk menemui G saat sebuah panggilan masuk ke ponsel pintarnya. Kali ini dari Aira, istrinya. Seketika Ken ragu, ia menepikan mobilnya dan menatap layar yang masih terus menampilkan nama wanita kesayangannya. Gambar ibu hamil yang tengah tersenyum itu membuat pertahanan Ken goyah. Ingin sekali ia menekan ikon telepon berwarna hijau, namun ia urungkan.
Urusan dengan G harus ia selesaikan lebih dulu, baru ia bisa bernapas lega dan pulang ke rumah untuk menemui istri dan anak-anaknya. Ken menghidupkan mesin kendaraan roda empat miliknya setelah panggilan Aira terhenti. Ia menyimpan benda pipih itu ke dalam saku jas dan kini fokus pada jalanan beraspal yang ada di depannya. Ia menginjak pedal gas cukup dalam, berusaha secepat mungkin bertemu dengan pria itu, Kwon Ji Yong atau yang kini lebih dikenal sebagai Mr. G.
Sementara itu, di salah satu apartemen mewah di pusat Kota, seorang wanita duduk bersandar di atas ranjang king size berwarna hitam. Matanya fokus menatap ponsel di hadapannya. Ia mengelus perutnya yang membuncit sambil mengembuskan napas panjang. Ken tidak menjawab teleponnya sama sekali.
"Aku hanya ingin mendengar suaramu sebentar saja," lirih Aira. Tangannya meremas selimut coklat susu dengan motif polkadot yang menutupi kakinya hingga ke perut. Kerinduannya pada Ken tak tertahankan lagi. Ia tidak bisa tidak menghubungi suaminya. Namun, Ken nyatanya Ken mengabaikan semua panggilannya.
Aira kembali mengelus perutnya. Gerakan-gerakan ketiga jagoannya di dalam sana membuat hati Aira berdesir. Ia menggigit bibir bawahnya, menahan luapan perasaan haru yang seketika menyelimuti perasaannya. Tidak ada suara yang terdengar selain deru mesin penghangat yang ada di salah satu sisi ruangan ini.
Klek
Pintu berwarna putih di sebelah kanan Aira terbuka, menampilkan seorang pria dengan piyama hitam menempel di tubuhnya. Ia masuk dan meletakkan segelas air putih di atas nakas, lima belas centimeter dari ponsel Aira.
Aira segera menghapus bulir air mata yang sempat mengaliri wajah chubbynya. Ia harus pergi ke kamar mandi guna membasuh muka, menyembunyikan wajah sembapnya dari 'suami palsu'nya ini.
"Mau kemana? Apa kamu butuh bantuan?" tanya Yamaken spontan saat melihat Aira beranjak dari ranjang dengan sedikit kesulitan. Ia masih berlagak menjadi Ken, tanpa tahu bahwa Aira sudah menyadari kebohongannya.
"Aku bisa sendiri," lirih Aira dengan suara serak, menahan gemuruh kerinduan pada suaminya. Ia hanya bisa menyimpannya rapat-rapat, tak ingin membuat Yamaken merasa bersalah. Ia yakin adik iparnya ini juga terpaksa melakukannya. Mungkin Ken masih bekerja di luar sana dan sengaja mengirim Yamaken agar Aira tak mengkhawatirkannya. Begitu lah yang terbersit dalam benak Aira saat ini. Ia mempercayai suaminya 100%, tanpa keraguan sama sekali.
Mendengar nada suara Aira yang sedikit serak seperti menahan tangis membuat rasa bersalah seketika menjalar di hati Yamaken. Ia menatap punggung wanita hamil yang kini menghilang di balik pintu kamar mandi dengan tidak enak hati. Ingin rasanya ia mengakui sandiwara ini, tapi kenyataannya dia juga tidak tahu dimana Ken berada. Ia bisa menduga bahwa kakak iparnya itu pasti akan menanyakan keberadaan suaminya.
Beberapa menit berlalu, Aira keluar dari kamar mandi dengan wajah yang lebih segar dari sebelumnya. Ia sekilas menatap Yamaken yang kini masih duduk di atas sofa dengan gelisah. Sepertinya ia bertekad ingin mengakui identitasnya yang sebenarnya. Aira berpura-pura tidak tahu perang batin yang kini sedang adik iparnya rasakan.
Wanita hamil itu kembali naik ke atas ranjang dan menarik selimutnya sebatas perut. Jilbab pashmina hitam masih melekat di kepalanya, ia tidak berniat melepasnya sama sekali karena ia tahu pria di dekatnya ini bukan suaminya, Yamazaki Kenzo.
"Umm, ano ... " Yamaken tampak kesulitan memulai bicaranya, tidak tahu darimana ia harus mengungkapkan kebenaran ini. Ia khawatir Aira akan marah padanya. Bagaimanapun juga, kakak iparnya ini juga seorang 'monster', sama seperti Ken.
"Oyasumi," ucap Aira dengan nada datar. Ia berbaring membelakangi Yamaken, enggan mendengar pengakuan atas kebohongan yang dilakukan adik iparnya ini.
(Selamat istirahat)
__ADS_1
"Ada sesuatu yang ingin aku katakan. Sebenarnya ... "
"Aku tahu," Aira memotong ucapan Yamaken, "Kosuke sudah menyiapkan kamar tamu untukmu. Kamu bisa istirahat di sana."
Bola mata Yamaken sontak membulat, ia tidak menyangka akan mendengar respon kakak iparnya ini.
'Apa aku sudah ketahuan sekarang? Atau mungkin kakak ipar sudah menyadari bahwa aku bukan suaminya?' Berbagai pertanyaan seketika memenuhi kepala pria berkulit putih ini. Ia tidak bisa bergerak, tubuhnya seolah terkunci dan tak bisa mengatakan apapun. Bahkan, rasa bersalah di hatinya membuat dadanya terasa semakin sesak.
"Kakak ipar, aku ... "
"Pergilah. Tolong matikan lampunya!" Aira mengatakan itu sambil menarik selimutnya hingga menutupi punggungnya, hanya tersisa puncak lengan dan kepala yang tertutup jilbab.
Yamaken cukup tahu diri ketika melihat gerakan Aira. Kakak iparnya ini tidak ingin membahas apapun lagi dengannya dan mengusirnya dengan bahasa yang cukup halus.
"Gomen," lirih Yamaken sembari beranjak dari duduknya. Ia berjalan ke arah pintu dan meraih sakelar lampu di dinding.
Klik
Lampu utama di ruangan ini padam seketika, menyisakan sebuah lampu tidur di atas nakas yang berpendar lembut, menyisakan siluet tubuh Aira yang tersembunyi di balik selimut.
Klik
Bukannya menjawab, Aira justru mengulurkan tangannya, memadamkan satu-satunya sumber cahaya yang ada di ruangan pribadinya dengan Ken ini. Hal itu membuat Yamaken segera pergi, tak ingin mengusik kakak iparnya lagi.
Kamar utama di rumah ini berada dalam kegelapan total, membuat langit malam berbintang di luar sana justru terlihat lebih bercahaya. Entah itu kenyataannya atau hanya ilusi yang muncul di pikiran Aira.
Yamaken berjalan menjauh dari kamar Aira dengan wajah sedihnya. Ia menghampiri Kosuke yang kini berdiri di ruang tengah. Pria itu sejak awal menolak ide gila kakak kembarnya, tapi Ken memaksanya.
"Kakak ipar marah padaku. Tolong katakan pada Ken bahwa misiku gagal. Segeralah kembali jika urusannya sudah selesai." Yamaken mengucapkan tiga kalimat itu sebelum masuk ke kamar tamu yang sudah dipersiapkan untuknya. Ia enggan memikirkannya lagi. Bagaimanapun ia sudah berusaha sebaik mungkin, meski kenyataannya, Aira tetap bisa mengenalinya. Sungguh tidak mudah membohongi seorang wanita, mereka seperti memiliki mata dewa.
...****************...
__ADS_1
Ken melajukan mobilnya dengan kencang namun apartemennya terasa begitu jauh. Ia memukul setir di depannya berkali-kali, berharap kendaraan roda empat ini bisa melaju lebih cepat lagi. Rasanya ia hampir putus asa malam ini setelah menyetujui penawaran yang G ajukan padanya. Ia ingin segera memeluk Aira untuk meredam ketakutan yang mulai menggerogoti keberanian yang selama ini ia pertahankan.
Ciitt
Mobil keluaran Honda itu terhenti di tempat parkir bawah tanah yang lengang. Ken segera berlari ke arah lift yang akan membawanya ke atas, tempat dimana istrinya berada, tempatnya menumpahkan segala keluh kesah yang seringkali membebani pundaknya.
Pria 28 tahun itu menatap angka yang terlihat di atas pintu lift. Rasa-rasanya angka itu juga bergerak lebih lambat dari biasanya, membuat Ken semakin gusar. Seperti efek bola salju yang semakin lama makin membesar, begitu juga ketakutan yang menjalar di benak Ken. Ia merasa semakin kalut, membuatnya hanya bisa menggigit bibir bawahnya sambil mengepalkan tangan. Semoga keputusan yang ia ambil terkait G dan Circle K ini tidak salah. Semoga saja.
Ting
Pintu lift terbuka, membuat Ken keluar dengan terburu-buru. Ia segera menyusuri koridor pendek di depannya dengan langkah cepat. Dua orang pengawal yang ia tugaskan khusus malam ini, membungkuk, memberi hormat padanya. Mereka berjaga di depan pintu, mencegah kemungkinan terburuk yang mungkin saja terjadi pada nyonya Yamazaki dan para calon penerus keluarga yakuza yang masih ada dalam perut ibunya.
"Selamat malam, Tuan."
Ken tidak mempedulikan sapaan dua bawahannya itu. Ia bergerak cepat menekan kombinasi password yang akan membawanya masuk ke dalam kediaman mewah ini. Ia ingin segera bertemu istrinya, wanita yang bisa menenangkan gemuruh di dalam dadanya yang kini semakin membuatnya merasa sesak. Ken segera menuju ke kamar utama, tampat dimana ia biasa menghabiskan malam bersama istrinya.
Gelap
Ken memicingkan matanya, menatap tajam sosok yang tengah berbaring di atas ranjang yang terlihat samar-samar. Ia menyalakan lampu tidur di atas nakas dan mendapati istrinya yang membelakanginya.
Tanpa mengulur waktu lebih lama lagi, Ken ikut masuk ke dalam selimut setelah meletakkan jasnya sembarang. Ia hanya ingin segera menemui istrinya. Hanya itulah satu-satunya jalan ia bisa kembali tenang seperti sebelum-sebelumnya.
"Ai-chan," bisik Ken lirih.
Deg!
Aira spontan membuka matanya. Jantungnya berpacu lebih cepat saat seseorang tiba-tiba memeluknya dari belakang. Ia berusaha melepas dekapan tangan kekar itu dari perutnya.
"Ai-chan, aku merindukanmu."
...****************...
__ADS_1
Jangan lupa like, vote n komen yaa 😉
Hanazawa Easzy