Gangster Boy

Gangster Boy
Season 3 : Ambigu


__ADS_3

Jam dinding menunjukkan pukul enam pagi saat Aira keluar dari kamar utama dengan wajah sumringah. Ia memakai dress panjang berwarna hijau botol, warna kesukaannya. Jilbab senada melengkapi penampilan manisnya, membuat siapa saja ikut bahagia melihat wanita hamil yang kini melangkah menuju dapur.


"Selamat pagi, Nona." Minami menundukkan kepala, memberikan ucapan salam pada Aira di sela-sela kesibukannya memasak.


"Pagi. Apa kamu tidur nyenyak?" tanya Aira ramah.


"Saya istirahat dengan baik."


"Syukurlah." Aira mengambil kotak susu yang ada di dalam lemari pendingin, bersiap membuat segelas susu coklat hangat untuknya sendiri dan secangkir teh hijau untuk suaminya.


"Biarkan saya membuatkannya untuk Anda." Minami mendekat ke arah Aira, bersiap mengambil alih gelas di depannya.


"Tidak masalah. Aku bisa melakukannya sendiri. Kamu lanjutkan saja masaknya."


"Baik." Minami menuruti perintah Aira, kembali berkutat dengan pisau dan sayur mayur di hadapannya.


Tak butuh waktu lama, Aira membawa nampan dimana terdapat cangkir berisi teh hijau di atasnya. Ia sengaja membuatkannya untuk Ken agar suaminya bisa lebih rileks. Ia tahu, hari ini akan ada agenda besar yang harus di jalani oleh suaminya.


Klek


Ken menaikkan wajahnya, menatap wanita hamil yang kini berdiri di ambang pintu. Ia tersenyum hangat pada wanita kesayangannya ini.


"Ada apa?" tanya Aira sembari meletakkan nampan di atas meja, di depan Ken yang sedang duduk di atas kursi sofa berbulu yang ada di kamar pribadi mereka.


Puk puk


Bukannya menjawab pertanyaan istrinya, Ken justru menepuk pahanya, meminta Aira datang ke pangkuannya.


"Heih?" heran wanita 26 tahun itu, "Kamu ingin aku duduk di sana? Aku berat, Ken." Aira enggan menuruti kemauan suaminya.


Puk puk


Ken menggeleng, ia mengulangi lagi perbuatannya. Kali ini ditambah melirik ruang kosong di sebelahnya, mengarah pada sofa panjang di sebelahnya. Ambigu.


Aira diam di tempatnya berdiri. Dia tidak bisa menangkap dengan jelas apa yang sebenarnya diinginkan oleh suaminya ini.


Puk puk


Kali ini Ken menepuk kursi di sebelah pangkuannya. Detik berikutnya, Aira sudah duduk di sana, menatap Ken dengan alis bertaut. Ia menunggu isyarat yang suaminya tunjukkan setelahnya.


Tanpa bahasa isyarat lagi, Ken segera memegang kedua puncak lengan istrinya dan membaringkan kepala Aira di pangkuannya. Aira sedikit terkejut, tapi memilih diam dan menuruti keinginan suaminya.


"Ada apa denganmu?" tanya Aira sembari meraih wajah pria berkemeja putih yang kini ada di hadapannya.


Cup


Ken menangkap jemari Aira dan menciumnya beberap kali, masih dengan jurus andalannya, diam seribu bahasa.

__ADS_1


"Ken, kamu sakit?" tanya Aira menempelkan punggung tangannya di dahi Ken, mengecek suhu tubuhnya, memastikan jika suaminya itu demam atau tidak.


"Kamu tidak demam," tukas Aira heran.


Cup


Kali ini Ken mencium kening Aira cukup lama, seolah ini adalah waktu terakhir mereka bersama. Ken bahkan tidak langsung mengangkat kepalanya dari kening Aira, melainkan menempelkan keningnya di sana.


Deg


Sebuah belati tajam nan runcing seolah menusuk relung hati terdalam Aira. Ia menatap wajah Ken yang menyiratkan kesedihan yang begitu mendalam. Ia terdiam selama beberapa detik dengan wajah tanpa ekspresi.


"Ken?!" panggil Aira dengan mata berkaca-kaca. Ia tidak bisa menahan perasaannya yang begitu mengkhawatirkan keadaan suaminya ini. Ia takut Ken tidak akan kembali lagi.


Ken tersenyum sembari mengelus pipi Aira, tapi gurat kesedihan masih nampak di wajahnya. Beban berat ada dalam pikirannya, Aira tahu itu.



Aira beranjak duduk dan memunggungi Ken. Ia tidak ingin melihat wajah menyedihkan suaminya. Ah, lebih tepatnya, ia tidak ingin Ken melihat bulir air tanpa warna yang luruh dari ujung matanya.


"Ekhm, aku akan siapkan sarapan." Aira berdeham untuk mengondisikan perasaannya, mencegah agar kesedihannya tak sampai tertangkap di telinga Ken.


Wanita hamil itu beranjak bangun dari duduknya dengan sedikit susah payah. Kandungannya yang semakin besar membuatnya tak lagi leluasa bergerak.


Grep


Ken menahan tubuh wanita kesayangannya itu. Ia melingkarkan tangan kirinya di depan dada Aira, sedangkan tangan kanannya melingkupi perut buncit istrinya, mengusapnya perlahan. Pria itu menyalurkan rasa sayangnya pada ketiga buah hatinya yang masih bersembunyi di dalam perut.


Deg!


Jantung Aira seolah berhenti satu detakan saat pelukan Ken kian mengerat. Ia tidak tahu apa yang terjadi dengan suaminya yang masih bungkam sejak bangun tidur. Ya, Ken tidak mengucapkan sepatah kata pun sejak Aira membuka matanya. Ia mendapati Ken mengelus pipinya sambil tersenyum, namun tidak mengatakan apapun.


"Ken?" panggilan Aira menggema di ruangan ini, tidak ada suara lain selain deru mesin penghangat ruangan di pojokan.


Ken mencium pipi Aira yang menolehkan wajah ke samping. Kali ini hanya kecupan singkat tidak sampai satu detik. Ia melepaskan kunciannya dan berjalan menjauh dari istrinya.


"Ibu merindukanmu. Pulanglah ke sana. Aku akan meminta Mone mengantarmu."


"Mone?" tanya Aira heran. Ia tidak tahu alasan suaminya bersikap aneh ini.


Pertama, sekarang Ken memasang wajahnya yang ramah dan penuh senyum di depannya, menggantikan ekspresi menyedihkan yang ia tampilkan sebelumnya.


Kedua, Ken meminta Mone yang mengantarnya kembali ke kediaman keluarga besar Yamazaki. Bukankah ada Minami yang selalu menyertainya? Lalu, kenapa harus meminta adik sepupunya itu menemaninya?


"Minami akan ikut bersamaku dan Kosuke hari ini. Maaf karena tidak mengatakannnya lebih awal padamu." Ken berucap, seolah mendengar berbagai pertanyaan yang terbersit dalam benak istrinya.


Aira memilih diam. Ia tidak mengiyakan ataupun menyanggah pernyataan suaminya. Kakinya melangkah mendekat ke arah Ken dan membantu suaminya memakai jam tangan.

__ADS_1


"Apa kamu menyembunyikan sesuatu dariku?" tanya Aira sembari mengaitkan kancing di lengan suaminya.


Glek


Ken menelan salivanya dengan paksa, membasahi tenggorokannya yang terasa begitu kering setelah mendengar pertanyaan istrinya.


"Aku tidak memaksamu mengatakan semuanya padaku, aku percaya padamu." Aira menghembuskan napas berat dari mulutnya. "Hanya saja, terasa menyakitkan saat kamu hanya diam seperti sebelumnya. Kamu seperti bukan Yamazaki Kenzo yang aku kenal selama ini."


Penuturan Aira membuat hati Ken merasa sakit. Ia tidak sanggup menyembunyikan gemuruh di hatinya lagi. Ia memeluk kekasihnya ini dengan sangat erat, namun pelukan itu tak bersambut. Tangan Aira masih diam di sisi badannya, tak melingkar di pinggang suaminya seperti biasa saat Ken memeluknya.


"Ai-chan," Ken mengurai dekapannya dan menangkup pipi chubby istrinya, "Aku pasti akan kembali."


Ckitt


Sekarang Aira yang merasa sakit mendengar janji yang Ken ucapkan. Ia hanya bisa tersenyum dan mengangguk dua kali, menutupi lara yang menjalar di hatinya.


Ken mendekatkan diri, mencium bibir istrinya dengan lembut.


'Jika ini adalah ciuman perpisahan kita, aku tidak akan rela melepaskannya.' batin Ken.


Sebutir air mata luruh di pipi Aira sebelum memejamkan matanya.


'Aku tidak akan memaafkanmu jika ini adalah yang terakhir.' Aira membatin seraya melepaskan pagutan suaminya.


Ia menyingkir dari hadapan Ken, mengambil jas yang ada di ranjang dan membantu Ken memakainya. Keduanya saling diam, sibuk dengan perang batin masing-masing. Aira yang begitu ingin tahu tentang rencana Ken, namun memilih diam. Dan Ken yang tetap bungkam meski sebenarnya ia ingin mengungkapkan segala rasa gundah yang menyiksa hatinya.


"Ai-chan, aku ... "


"Mau pakai dasi yang mana?" tanya Aira sambil membuka laci yang berisi bulatan kain panjang berbagai warna yang tersimpan di sana.


"Ah, ini sepertinya cocok dengan kemejamu." Aira mengambil sebuah dasi berwarna merah marun dan memakaikannya di leher Ken. Tak lupa ia memasang sebuah pengait agar ekor dasi suaminya tak terlihat dari luar.


"Perfect." Aira mengerlingkan matanya setelah menilai penampilan suaminya dari ujung kaki hingga ujung kepala. Sebelumnya, ia sudah sempat merapikan surai hitam suaminya di depan cermin.


(Sempurna)


"Ai-chan, apa kamu mencintaiku?" tanya Ken seraya memeluk pinggang istrinya, membuat perut besar Aira terhimpit di antara keduanya.


"Pertanyaan macam apa itu. Aku tidak mau menjawabnya," tukas Aira sembari melepaskan tangan Ken dari pinggangnya. "Aku akan menjawabnya saat kamu pulang nanti. Ayo sarapan. Aku sudah lapar."


Aira memeluk lengan Ken dan membawanya keluar dari kamar dengan senyum terkembang di wajah. Ia sengaja mengalihkan perhatian suaminya, berharap perasaan suaminya lebih baik jika ia menunjukkan sikap cheerfull di hadapannya.


*cheerfull : ceria


...****************...


See you next day, baper author tuh bikin episode ini 😓😭😭😭

__ADS_1


Jangan lupa like n komen yaa 🙏


Hanazawa Easzy


__ADS_2