
Matahari tepat di atas ubun-ubun saat dokter Tsukushi masuk ke dalam ruang perawatan Aira. Ini adalah hari kedua bumil itu dirawat di tempat ini. Kondisinya sudah lebih baik dari kemarin.
"Anda sudah diizinkan pulang. Pastikan makan makanan bergizi dan cukup istirahat. Menjelang kelahiran seperti sekarang, Anda tidak boleh stress karena itu akan berakibat pada kondisi fisik Anda yang bisa melemah. Jika itu terjadi, ketiga bayi Anda juga akan mengalami perasaan yang tidak nyaman di dalam sana," terang dokter 52 tahun itu.
"Baik, Dok. Saya akan berusaha semaksimal mungkin."
"Tuan Yamazaki, tolong buat istri Anda bahagia." Dokter Tsukushi menyampaikan nasihatnya pada sepasang suami istri yang bersiap pulang ini.
"Tentu saja. Saya akan bertanggung jawab penuh untuk hal itu," jawab Ken tanpa ragu sedikit pun.
"Dok, apa saya bisa melahirkan dengan normal tanpa operasi caesar?" tanya Aira ingin tahu.
"Sebenanrnya bisa saja, Nyonya. Tetapi kebanyakan kehamilan bayi kembar akan dilahirkan secara prematur, dan kembar tiga atau lebih biasanya akan lahir lebih cepat lagi. Hal itu dipengaruhi karena rahim mendapat beban dan tekanan lebih besar dalam hal ini. Semakin tinggi kelipatan jumlah bayi kembar dalam kandungan, semakin tinggi pula risiko ibu untuk melahirkan prematur."
Aira tampak khawatir mendengar penjelasan dokter senior itu, Ken juga sama. Tapi pria itu berhasil menebalkan wajahnya agar rasa takut itu tidak nampak di wajah putihnya. Ia harus tenang dan bisa menguatkan istrinya. Ya, sudah menjadi kodratnya bahwa laki-laki memiliki mental baja, sedangkan wanita lebih mudah terbawa perasaan karena kelembutan hatinya. Bahkan seorang ibu akan lebih sering menangisi anak-anaknya dibandingkan ayah mereka.
"Menurut data yang ada, kelahiran bayi mati lebih tinggi untuk bayi kembar sebanyak 12 dari 1.000 kelahiran kembar. Risiko kematian bayi meningkat setelah usia 38 minggu di dalam kandungan. Untuk itu, saya menyarankan persalinan Anda sebelum mencapai usia ini. Yakni sebaiknya mereka dilahirkan sebelum akhir minggu ini." Dokter Kaori memberikan beberapa lembar kertas berisi catatan rekam medis pasien kelas super VVIP-nya ini.
Ken menerimanya dan melihat catatan itu sekilas. Ia tidak tahu apa yang tercantum di sana, begitu banyak istilah dengan angka desimal yang rumit. Ia segera. menutupnya dan meletakkan dokumen itu di atas nakas. Dokter pasti akan menyampaikan isinya, ia yakin itu.
"Kondisi Anda dan ketiga calon buah hati Anda sangat baik. Dari hasil laboratorium, tidak ditemukan adanya gangguan apapun. Mereka sangat sehat dan dalam kondisi yang sangat baik. Anda bisa melahirkan dalam beberapa hari lagi, tidak harus menunggu dua minggu lagi," jelas dokter Tsukushi yang membuat Ken dan Aira saling pandang dan melemparkan senyum, merasa lega dengan penjelasan itu. Mereka sudah tidak sabar untuk melihat para jagoan mereka lahir.
"Meski begitu, saya menganjurkan istri Anda untuk melahirkan di rumah sakit atau klinik bersalin dengan fasilitas yang memadai, bukan melahirkan di rumah. Ini karena melahirkan bayi kembar memiliki risiko komplikasi persalinan yang lebih tinggi daripada persalinan satu bayi."
"Pada kebanyakan kasus, dokter dan bidan akan merencanakan dan menentukan tanggal melahirkan bayi kembar Anda pada trimester ketiga seperti sekarang. Saat hari itu tiba, ibu hamil akan dirangsang menggunakan induksi persalinan oleh tim medis." Dokter Kaori membenahi letak kacamatanya yang sedikit melorot dengan ujung jari telunjuknya.
"Sekali pun saya memperbolehkan untuk merencanakan proses melahirkan anak kembar secara normal, namun Nyonya tetap harus bersiap untuk kemungkinan lain. Pasalnya, bukan tidak mungkin Anda harus menjalani operasi caesar saat melahirkan bayi normal karena satu dan lain hal."
"Terima kasih atas penjelasan yang Anda sampaikan. Kami akan memikirkannya lagi."
"Baiklah, saya mengerti. Semua wanita ingin menyempurnakan hidupnya dengan melahirkan putra putri mereka dengan normal. Hal ini akan menjadi kebanggan tersendiri bagi mereka. Saya juga bersikeras melahirkan anak saya dengan normal 27 tahun yang lalu. Namun kenyataannya, saya harus menjalani operasi juga. Kita bisa berencana, namun pada akhirnya, Tuhan juga yang bisa menentukan bagaimana sesuatu itu terjadi. Jadi, Nyonya, jangan pernah putus harapan. Tuhan tidak akan mengabaikan permohonan hamba-Nya."
"Terima kasih, Dok. Saya akan mengingatnya."
"Baiklah. Hati-hati di jalan, Tuan, Nyonya. Jika terjadi sesuatu, segera hubungi saya." Dokter Tsukushi bersiap undur diri.
"Tunggu sebentar, Dok," cegah Ken saat dokter Tsukushi berbalik.
"Ya?"
"Apa tanda-tanda jika istri saya akan segera melahirkan? Saya masih sangat awam untuk hal itu." Ken meminta penjelasan tentang hal itu, membuat dokter Tsukushi tertahan di sana.
"Ah, iya. Saya lupa tidak mengatakannya pada Anda. Sebenarnya ada banyak tanda menjelang persalinan normal, namun ada beberapa yang umumnya terjadi saat bayi sudah ingin melihat dunia luar."
Dokter Tsukushi mengambil pamflet dari sakunya, disana ada penjelasan tentang proses persalinan normal dan tanda-tandanya.
__ADS_1
"Tanda utama saat seorang wanita hendak melahirkan adalah terjadinya kontraksi. Kontraksi sungguhan biasanya terasa di bagian bawah punggung kemudian berpindah ke bagian depan perut."
"Selain itu, ibu hamil akan merasakan nyeri pada punggung, sakit perut atau kram layaknya sedang mengalami masa pramenstruasi. Terkadang, rasa nyeri ini juga bisa menyerupai rasa mulas yang hebat."
Aira dan Ken tampak memperhatikan penjelasan itu dengan seksama. Keduanya sama sekali tidak tahu tentang dunia medis selain cara pengobatan luka sebatas pertolongan pertama pada kecelakaan. Jadi, penjelasan dokter sangat mereka perlukan.
"Tanda melahirkan paling umum yang diketahui oleh kebanyakan orang adalah pecahnya air ketuban. Kebanyakan wanita lebih dulu merasakan kontraksi sebelum air ketuban pecah, tapi ada juga yang mengawalinya dengan pecahnya ketuban."
"Ketika hal ini terjadi, biasanya persalinan akan menyusul dengan segera. Jika Anda sudah mengalami pecah ketuban, bergegaslah ke rumah sakit. Biasanya persalinan akan terjadi sekitar 24 jam setelah ketuban pecah."
"Namun bahayanya, jika air ketuban sudah pecah, tapi Anda tidak juga mengalami kontraksi, maka bayi Anda akan lebih mudah terserang infeksi. Hal itu dikarenakan cairan yang selalu melindungi bayi dari kuman selama berada di kandungan ini telah habis. Jika hal ini terjadi, proses induksi mungkin akan dilakukan untuk menjaga keselamatan bayi Anda."
"Saya kesulitan tidur semalam, Dok. Terlebih lagi saya menjadi sering buang air kecil. Bahkan semalam frekuensinya menjadi semakin sering," ungkap Aira.
"Tidur malam yang terganggu dan perasaan gelisah bisa menjadi tanda-tanda melahirkan. Usahakan untuk tidur atau beristirahat di siang hari, karena Anda membutuhkan tenaga ketika persalinan berlangsung."
"Terkait dengan frekuensi buang air kecil yang lebih sering, itu biasa terjadi beberapa pekan atau bahkan beberapa jam sebelum persalinan karena bayi akan turun ke rongga panggul Anda. Kondisi ini membuat rahim menekan kandung kemih, sehingga frekuensi buang air kecil menjadi makin meningkat dibandingkan biasanya."
"Apa itu tandanya, ia akan melahirkan dalam beberapa hari ini, Dok?" tanya Ken antusias.
"Kita doakan saja semoga Nyonya Khumaira dan ketiga bayi Anda segera lahir dengan selamat."
"Aamiin. Terima kasih, Dok. Maaf telah menahan Anda sebelumnya." Aira merasa tak enak hati karena kepergian dokter ini jadi tertunda.
"Tidak masalah. Saya senang bisa ada di sini," jawabnya jujur dan ramah. Ada begitu banyak dokter yang memimpikan bisa melayani pasien dari keluarga nomor satu ini, karena kakek Yamazaki akan mengganjal mereka dengan bayaran yang sepadan. Yakni berkali-kali lipat dibandingkan dengan melayani pasien umum. "Saya permisi. Selamat siang," pamit dokter Tsukushi. Kali ini ia benar-benar pergi.
"Akan ku ambilkan kursi roda." Ken menahan istrinya yang bersiap jalan kaki.
"Tidak mau. Aku mau jalan kaki saja!" ketus Aira. Bibirnya bertaut, menandakan ia kesal karena Ken begitu suka memaksanya duduk di atas kursi hitam dengan roda di samping kanan kirinya itu.
"Tapi jalan menuju mobil cukup jauh. Ini di lantai dua, artinya kita harus berjalan ke arah lift terlebih dahulu." Ken mencoba membujuk istrinya.
"Dokter mengatakan bahwa harus banyak jalan kaki, kenapa kamu ingin menyulitkanku?" sewotnya kesal.
'Astaga, kenapa istriku jadi pemarah seperti ini,' batin Ken heran. Ia hanya bisa membiarkan istrinya berjalan menjauh dengan dibantu oleh Minami. Asisten pribadi istrinya itu selalu siap sedia di sisi puannya, mengabaikan kondisinya sendiri yang tengah hamil muda.
"Minami-chan, kenapa kamu datang kemari? Bukankah aku sudah menyuruhmu libur sampai keadaanmu membaik?" Aira menegur asistennya.
"Saya baik-baik saja, Nona." Minami tersenyum, namun kemudian, "Uekk."
Minami menutup mulutnya dengan tangan, menahan rasa muak dari dalam perutnya. Itu adalah morning sickness yang dialami oleh ibu hamil pada trimester pertama mereka.
"Lihatlah keadaanmu," ucap Aira menahan lengan Minami. "Kosuke, tolong antar istrimu istirahat," pintanya pada pria yang tertinggal beberapa langkah di belakang.
"Baik, Nona." Kosuke membawa Minami masuk ke dalam lift lebih dulu, meninggalkan tuan dan nonanya bersama dua pengawal lain di belakang sana.
__ADS_1
"Sampai kapan kamu akan berdiri di sana?" tanya Aira dengan nada tajam menukik pada suaminya.
"Sayang, ada apa denganmu? Kenapa marah-marah seperti ini?" heran Ken. Ia mengelus puncak kepala istrinya yang tertutup jilbab merah marun yang dipakainya.
"Siapa yang marah?" sangkal Aira sambil menepis lengan suaminya.
"Baiklah, lakukan apapun yang kamu mau. Aku akan selalu ada di sisimu." Ken mencium pelipis istrinya dengan sayang.
"Jangan sembarangan menciumku!" ketus Aira, lagi dan lagi, memuat Ken tersenyum.
Mereka berdua sampai di lobi rumah sakit dan berpapasan dengan nyonya Sumari bersama dua bodyguardnya.
"Okaasan," panggil Aira.
(Ibu)
"Ah, menantu kesayangan ibu." Nyonya Sumari memeluk Aira dengan hati-hati agar tidak mengganggu keberadaan ketiga cucunya. "Ibu pikir kamu akan melahirkan hari ini atau besok. Lihat apa yang ibu bawakan," ucap wanita itu antara kecewa dan antusias yang bersamaan. Dia menunjuk pada salah satu pengawalnya yang membawa tas hitam besar di tangannya.
"Apa itu?" tanya Aira heran.
" Itu ibu siapkan untukmu. Disana berisi pakaian dan peralatan mandi, erlengkapan bayi, makanan ringan, buku, majalah, dan beberapa benda yang bisa menemanimu menunggu persalinan. Ah, ibu juga siapkan bantal dan selimut yang nyaman. Ibu meninggalkannya di dalam mobil karena Ken mengatakan kamu akan pulang hari ini. Bahkan ibu sampai menyiapkan kamera video dengan baterai yang telah terisi penuh beserta charger untuk mengabadikan kelahiran cucuku. Ah, sayang sekali." Ibu kembali menunjukkan rasa kecewanya.
"Maaf, Bu," ungkap Aira.
"Tidak. Tidak. Ibu akan bersabar menunggu mereka keluar dengan sendirinya." Nyonya Sumari mengelus perut buncit Aira.
"UGH!" Aira memegangi bagian bawah perutnya yang tiba-tiba merasa nyeri. Sepertinya ini kontraksi yang dikatakan oleh dokter Tsukushi sebelumnya. Ia merasakan nyeri di pinggangnya yanh terus menjalar hingga ke perutnya.
"Ada apa? Apa kamu baik-baik saja?" Ken kembali panik saat melihat istrinya kesakitan dengan napas yang mulai tidak teratur. "Sayang, apa kamu mendengarku?"
Aira tak menjawab, ia tidak bisa menahan rasa sakitnya lagi dan hanya bisa mencengkeram lengan Ken dan ibunya dengan sangat erat.
"Ken, ada air di bawah kaki istrimu. Cepat bawa dia kembali!" perintah ibu saat melihat ada cairan yang membasahi lantai di bawah kaki Aira. Mungkin menantunya ini akan segera melahirkan.
Ken dengan sigap membopong Aira, membawanya ke ruang bersalin yang ada di ujung koridor. Ibu segera menghubungi dokter Tsukushi, sahabatnya saat di sekolah dulu.
"Sayang, bertahanlah!" Ken berseru tanpa memperlambat langkahnya. Ia khawatir karena kondisi Aira terlihat tidak baik-baik saja.
"Dokter! Dokter! Tolong periksa istriku!"
...****************...
Hwaaaaa author ikut tegang. Harap-harap cemas nih apa yang terjadi selanjutnya?
Jangan lupa tinggalkan jejak yaa, See you 😘
__ADS_1
Hanazawa Easzy