
BAMM!!
Ken baru saja keluar dari rumah sakit dimana dokter Hugo bertugas. Dia membanting pintu mobilnya, menimbulkan bunyi debaman yang cukup keras. Ancaman pria beruban itu membuatnya tidak senang. Tapi, Ken tidak bisa melakukan apapun pada pria andalan kakeknya ini.
Drrtt drrtt
Tepat saat dia mendudukkan diri di belakang kemudi, ponsel di dalam sakunya bergetar, menampilkan nama Sakura Kobayashi disana. Hal itu membuat Ken mengerutkan keningnya. Ini pertama kalinya putri tuan Kobayashi menghubunginya. Berbagai pertanyaan muncul di benak Ken. Apa terjadi sesuatu dengan istri dan anak-anaknya? Apa mereka baik-baik saja? Atau ada urusan lain yang lebih penting dari itu?
Ken menggelengkan kepalanya detik itu juga. Tidak ada urusan yang lebih penting dibandingkan keberadaan wanita kesayangannya dan buah hati mereka.
Tanpa menunggu waktu lama, Ken menekan ikon berwarna hijau pada layar sentuh di hadapannya. Benda pipih itu kemudian ia dekatkan ke telinga. Suara Sakura segera terdengar menyapanya di ujung sana.
"Selamat siang, Tuan Muda."
"Ada apa?" tanya Ken ketus, to the point. Kondisi psikisnya tidak dalam keadaan baik saat ini. Jadi, jika bukan hal yang penting, maka akan langsung ia matikan sambungan telepon ini.
"Nyonya bertanya kapan Anda akan kembali. Dia meminta makanan yang cukup aneh. Tanpa makanan itu, Anda. tidak diizinkan untuk pulang."
"Huh? Makanan apa itu?" tanya Ken dengan kening berkerut dalam. Tidak biasanya Aira menginginkan satu makanan. Dia bukan termasuk penggila kuliner sama sekali. Bahkan tubuhnya semakin kecil setelah melahirkan, tidak seperti wanita kebanyakan yang justru semakin bertambah lingkar badan dan perutnya.
"Rujaku," jawab Sakura sedikit meragu. Lidahnya tidak bisa mengucapkan nama makanan Indonesia itu dengan benar, logat Jepangnya tak bisa ia hilangkan. Setiap hari, Sakura dan Aira sesekali menggunakan bahasa Indonesia saat berbincang. Itu adalah permintaan Aira sendiri, agar kelak anak-anaknya tidak melupakan bahasa asli ibunya.
"Rujaku?" Ken mengulangi jawaban Sakura. Dia baru pernah mendengar nama makanan ini.
Lengang. Tidak ada percakapan diantara dua orang itu selama beberapa menit. Ken mencengkeram kemudi di depannya, menatap portal pembatas tempat parkir yang menghalangi rumah sakit ini dengan bangunan di sebelahnya. Ya, Ken belum melajukan mobilnya sama sekali. Dia masih duduk diam di balik kemudi, bahkan kontak mobilnya saja belum dia masukkan ke tempatnya.
"Apa ada yang lain?" tanya Ken pada akhirnya. Dia akan mencari tahu nanti. Ada begitu banyak restoran yang menjual makanan Indonesia, pasti dia akan mendapatkan permintaan Aira dengan mudah dan bisa pulang secepatnya.
__ADS_1
"Tidak ada."
"Apa yang sedang dia lakukan?" tanya Ken kemudian. Dia mengambil kunci mobilnya dan mulai menghidupkan mesin kendaraan besi ini.
"Nyonya Aira sedang bermain bersama anak-anak. Dia sudah terlihat lebih baik dari sebelumnya. Penjelasan Sakura membuat hati Ken terasa tenang. Tidak ada yang perlu ia khawatirkan lagi.
"Kirimkan fotonya padaku. Aku merindukan mereka!" titah Ken detik berikutnya.
"Baik, Tuan. Akan saya laksanakan."
Krekk krekk
Sakura memotret interaksi yang menunjukkan kedekatan Aira dengan ketiga bayinya. Wanita 26 tahun itu tampak sangat bahagia, terlihat dari senyum yang menghiasi wajah bulat tembamnya.
...****************...
*Miracle Corporation
Wajah pria ini tampak begitu lelah dengan kantung mata yang menghitam. Semua tugas harus dia hadapi seorang diri sejak kondisi fisik Ken memburuk beberapa waktu belakangan. Mau tidak mau, Kosuke dan Minami-lah yang mengambil alih tugas atasan mereka itu. Tidak ada orang yang lebih Ken percaya selain kedua suami istri itu.
Terlebih lagi sikap protektif Aira pada Ken benar-benar total. Dia tidak mengizinkan Kenzo pergi ke perusahaan hingga dua hari ke depan, sampai kesehatannya benar-benar pulih. Sikap diktator dan pemaksanya sama persis seperti Ken. Dan Kosuke sama sekali tidak bisa membantahnya.
"Huh...." Kosuke duduk di depan Minami yang tengah sibuk dengan laptop di depannya. Jemari lentik itu tengah menari-nari di atas tuts keyboard, mengetik draf yang akan digunakan untuk rapat akhir bulan ini.
"Ada apa?" tanya wanita yang kini tengah berbadan dua ini. Atensinya tetap mengacu pada layar di depannya, hanya sesekali melirik pria yang sudah menjadi suaminya beberapa bulan ini.
Lagi-lagi Kosuke mengembuskan napas beratnya. Dia meletakkan wajahnya di atas meja kaca, mengamati wajah istrinya yang terlihat semakin berisi. Perutnya juga terlihat semakin buncit, kandungannya sudah memasuki bulan ke enam.
__ADS_1
Sruk srukk
Kosuke mengelus perut Minami dengan lembut, menyapa putranya di dalam sana. Dia tidak sabar ingin bertemu dengan malaikat tak bersayap kesayangannya ini.
"Apa yang kamu lakukan?" Minami berusaha menyingkirkan tangan Sang Suami yang membuatnya merasa geli. Dia sedang bekerja sekarang, bukan waktu yang tepat untuk bermanja-manja dengan suaminya.
"Dia laki-laki atau perempuan? Aku penasaran. Kita belum pernah melihatnya." Bukannya menjawab pertanyaan istrinya, Kosuke justru membahas hal lain.
"Laki-laki atau perempuan? Satu, dua, atau tiga? Mirip denganku atau mirip denganmu? Apa jari jemarinya sudah tumbuh? Apa dia bisa mendengarku? Apa ...." Berbagai pertanyaan terlontar dari mulut pria berkulit putih ini. Dia terlihat seperti anak kecil yang tengah menuntut jawab pada Sang Ibu. Namun, pertanyaan terakhirnya harus terpotong begitu saja melihat respon wanita hamil ini.
Greg greg
"Diamlah! Aku sedang bekerja sekarang. Jangan menggangguku!" Minami menjauhkan kursinya ke samping, membuat tangan Kosuke tak lagi bisa menjangkau perutnya yang semakin membesar.
Kosuke memanyunkan bibirnya, merasa putus asa. Pekerjaan di perusahaan terasa semakin menumpuk, membuatnya lelah secara fisik dan mental. Dan Minami yang selalu bersikap dingin dan ketus padanya, semakin membuat Kosuke merana. Terlebih lagi, wanita ini tidak pernah mau saat diajak USG, membuat Kosuke semakin penasaran dengan jenis kelamin calon buah hatinya nanti.
Kosuke ingat Ken pernah memberitahunya di trimester dua dan tiga, wanita hamil lebih agresif dari sebelumnya. Itu terjadi karena perubahan hormon yang ada di tubuhnya. Dan Kosuke melihat dengan mata kepalanya sendiri saat itu, ada beberapa tanda cinta di leher Ken. Tentu saja itu hasil perlakuan Aira, sekitar dua atau tiga bulan sebelum melahirkan.
Namun, agaknya teori itu tidak berlaku untuk Minami. Istrinya masih sama seperti sebelum-sebelumnya, tidak pernah berinisiatif lebih dulu, apalagi sampai meninggalkan tanda seperti yang Aira lakukan pada Ken. Itu mustahil. Mungkin anak mereka nanti akan gila kerja, sama seperti kedua orangtuanya ini.
Minami seorang wanita yang memiliki etos kerja tinggi. Katakanlah dia ini gila kerja, tak ingin berdiam diri seperti wanita lainnya. Bahkan di sela mual dan muntahnya saat hamil muda, dia masih bersikeras mengurus pekerjaannya sebagai seorang asisten pribadi. Untung saja Aira perhatian dan membebastugaskan asistennya ini. Minami diharuskan berdiam di rumah, mengistirahatkan badannya yang perlu penyesuaian diri. Nyatanya, sikap diktator Aira ada gunanya juga.
"Minami-chan," panggil Kosuke dengan suara memelas. Dia akan mencoba merajuk pada istrinya seperti yang Ken lakukan pada Aira.
Dulu, Kosuke hampir menertawakan Ken. Si Monster bisnis yang terkenal dingin dan kejam itu memelas perhatian dari istrinya, bahkan sampai merajuk seperti anak kecil. Ken juga selalu mencari kesempatan dalam kesempitan, mencoba mengambil keuntungan dari Aira sebanyak mungkin. Nyatanya, dia mengalaminya sendiri sekarang. Dia mengemis perhatian Minami.
"Umm," jawab wanita cantik ini. Netranya masih menatap ke depan, tak beralih dari rangkaian kata yang ada di monitor. "Ada apa?"
__ADS_1
"Apa pekerjaan itu lebih penting dari suamimu?"
...****************...