Gangster Boy

Gangster Boy
Gangster Boy : Tawaran Kembali Menjadi Agen Rahasia


__ADS_3

Aira masuk ke dalam kamar dan mendapati suaminya tertelungkup di atas meja. Obat tidur yang ia campurkan ke dalam minuman pria itu, efektif bekerja melumpuhkan sistem safarnya sementara. Dia tidak akan tersadar setidaknya hingga empat atau enam jam kedepan. Itu artinya, tubuhnya bisa mendapatkan kembali tenaga yang telah terkuras setelah mencari kerang awal malam tadi.


"Syukurlah, Sayang, obat itu masih bisa menumbangkanmu." Aira duduk di sebelah Ken dan mengelus puncak kepala suaminya dengan sayang. Dia juga menyingkirkan helai rambut yang berwarna hitam legam yang menutupi sebagian wajah tampannya.


Perlahan Aira membaringkan Ken ke belakang, menempati ranjang besar yang menjadi tempat istirahat keduanya beberapa malam terakhir. Dan wanita multitalenta itu ikut berbaring setelah membereskan laptop yang masih  menampilkan rekaman CCTV di kediaman Anna.


Cup


Aira mengecup kening Ken, mengamati wajah tidurnya yang terlihat begitu damai. Semua yang ia lakukan adalah demi kebaikan Ken. Entah kejutan seperti apa yang Anna dan wanita Rusia itu lakukan esok hari. Setidaknya malam ini Aira ingin suaminya istirahat total.


"Sayang, maafkan aku." Aira kembali dengan kebiasaan lamanya, memainkan jari telunjuknya untuk bermain-main di wajah Sang Suami. Berawal dari hidung, menyusur ke atas menuju sepasang alis mata Yamazaki Kenzo yang tegas dan berwibawa. Bahkan saat tidur seperti ini pun, dia masih terlihat tegas. Mengagumkan!


Aira mengikis jarak di antara mereka, mendekatkan badannya yang tertutup selimut bersama tubuh bagian bawah suaminya.


"Aku tidak tahu kenapa hidupku jadi seperti ini. Semuanya gara-gara bertemu denganmu." Aira mengamati wajah tampan suaminya sambil tersenyum. Jemarinya menekan pipi kenyal Ken dan kemudian mencubitnya.


"Jika saja kamu tidak muncul di hadapanku, mungkin aku akan selamanya menyembunyikan identitas rahasiaku. Dan aku akan terus seperti itu, menjadi orang yang asing di lingkunganku sendiri." Aira bermonolog, mengungkapkan perasaan di dalam hatinya.


"Kamulah yang membuatku seperti ini. Mengeluarkan sisi lain yang kumiliki. Entah ini lebih pantas disebut sebagai iblis atau malaikat, aku sendiri tidak tahu."


Ken yang sama sekali tidak mendengar ocehan istrinya, tentu saja bungkam. Nyawanya tak ada di sana lagi, menyisakan tubuhnya yang bernapas atas izin Tuhan, tanpa kesadaran sedikit pun.


"Susah payah aku meninggalkan agen rahasia itu dan kamu terpaksa membuatku kembali. Apa ini salahku? Atau memang sudah menjadi takdir bahwa kita harus bertemu?" gumaman Aira mulai terdengar lirih, tidak seperti sesaat yang lalu.


"Mungkin ini memang harus terjadi. Seperti yang banyak orang percayai, seseorang akan datang di waktu dan keadaan yang tepat. Entah bagaimana caranya, semesta bekerja menyatukan kita dengan tidak terduga. Jadi ini semua memang dipersiapkan untuk kita. Nikmati sajalah."


Aira mendekatkan diri ke wajah Ken dan mencium bibirnya sekilas.


"Aku begitu mencintaimu sekarang. Padahal di awal, kamu adalah orang yang paling aku benci." Jemari Aira mengelus pipi suaminya, menyalurkan seluruh perasaan yang tersimpan di hatinya. Dia tidak ingin kehilangan pria ini apapun yang terjadi. Dan sudah menjadi tugasnya untuk membersamai pria yang telah mengambil tanggung jawab menjadi ayah dari ketiga anaknya.


"Hanya saja, kamu seringkali masih menggunakan kemauanmu sendiri seperti sekarang ini." Aira menghela napas kasar. "Apa yang kita lakukan jadi satu langkah lebih lambat karena terkendala jarak yang jauh seperti ini."


Aira meletakkan kepalanya di atas dada bidang Ken, membiarkan telinga kanannya mendengar detak jantung suami yang kini terpejam menghadap ke atas.


"Jika saja kamu tidak memaksakan diri pergi seperti ini, kita bisa langsung menyergap Anna. Kalupun tidak, kita bisa mencegah setiap perbuatan yang mungkin akan dia lakukan. Tidak seperti sekarang, hanya bisa mengamatinya dari kejauhan. Bahkan, sangat-sangat jauh."


Aira terus saja menggerutu, tidak menyadari senyum simpul yang tercetak di wajah tampan suaminya. Ken tidak sepenuhnya tidur, dia masih bisa mendengar semua celotehan istrinya itu. Saat Aira pergi, Ken mengambil obat pemberian Shun yang selalu ia bawa kemanapun.


Itu adalah hasil rekayasa berbagai macam zat kimia, hasil eksperimen Shun dan Yoshiro selama bertahun-tahun. Obat itu sama seperti anti venom yang diberikan pada Aira saat itu, berfungsi menetralisir kelebihan zat maupun hormon yang mengganggu tubuh seseorang.


Dan kali ini, produk ciptaan dua serigala liar itu efektif meredam kantuk dari obat tidur yang Aira berikan. Ken sengaja pura-pura tidur, ingin mendengar penyataan istrinya. Dia yakin Aira akan mengatakan semuanya tanpa terkecuali, menganggapnya tertidur.


"Ken," panggil Aira lirih.


Ingin sekali rasanya Ken menjawab panggilan itu, tapi dia tidak bisa membiarkan aktingnya terbongkar begitu saja. Dia masih ingin mendengar narasi dari mulut istrinya.

__ADS_1


"Aku bodoh, ya?"


Deg!


Pertanyaan Aira membuat Ken terhenyak. Apa maksud pertanyaan istrinya ini. Aira adalah wanita paling cerdas yang pernah Ken temui. Kenapa sekarang dia menganggap dirinya sendiri bodoh? Apa ada sesuatu yang salah?


"Aku terus bertahan di sisimu, berpura-pura lemah dan menerima semua perlakuan buruk darimu begitu saja." Seolah mendengar pertanyaan Ken, Aira menjawabnya. "Mungkin aku bisa menipumu, tapi tidak bisa menipu kakek. Dia tahu aku bukan wanita biasa, menyelidiki latar belakangku dan menghubungi atasanku di agen rahasia."


Ken kembali dibuat terkejut. Dia tidak pernah mendengar hal ini sebelumnya. Jadi, kakek menyadari siapa Aira sejak perjumpaan pertama mereka? Itu sebabnya orang tua itu melemparkan katana dan senjata di depan semua orang?


Kakek berharap Aira menunjukkan tajinya agar dinilai pantas menjadi menantu keluarga Yamazaki. Tapi nyatanya, wanita itu bertindak sebaliknya. Dia mengatakan tidak bisa menggunakannya, menampilkan image wanita lemah yang tidak bisa diandalkan. Pantas saja kakek memberikan belati itu padanya.


Berbagai pemikiran muncul di kepala Ken. Otaknya dipenuhi berbagai kejadian yang pernah menimpa Aira. Dan nyatanya wanita itu tetap tenang di posisinya, tak tergoyahkan sema sekali.


"Aku seorang agen rahasia negara, aku tidak bisa menunjukkan identitasku di depan para orang tua itu. Bagaimana kalau ternyata kalian memusuhi negaraku? Habislah riwayatku, masuk ke kandang macan dan serigala tanpa persiapan sama sekali."


Ken benar-benar tidak habis pikir kenapa Aira tiba-tiba membicarakan latar belakang identitasnya. Mungkinkah dia sudah merencanakan sesuatu? Batin Ken kembali penuh pertanyaan. Entah seberapa hebatnya seorang Khumaira Latif, dia tetaplah wanita biasa, memiliki kecemasan tersendiri saat memiliki rencana besar di kepalanya.


"Kakek mengawasi kita dengan ketat. Dan dia menyuruh atasanku untuk kembali merekrutku ke dalam agen rahasia agar kita tidak bisa kembali ke Jepang dan mengacaukan rencananya."


Ken kesulitan menelan salivanya sendiri. Pantas saja wanita ini merasa gusar. Dia dihadapkan pada dua pilihan sulit yang membuatnya bimbang.


"Itu sebabnya aku memberikanmu obat tidur. Aku ingin berbagi cerita denganmu." Aira semakin mengeratkan pelukannya di tubuh Ken.


"Aku paham betul tabiatmu, tuan Yamazaki Kenzo." Suara Aira melemah di akhir kalimat, meremas dada sebelah kanan Ken yang tertutup handuk mandi warna hitam. Sebagian dadanya terlihat, merasakan embusan napas yang Aira keluarkan melalui mulutnya.


Ken semakin rapat menutup mulutnya. Dia tidak ingin membuat Aira terkejut dan menghentikan narasi yang tengah ia ucapkan seorang diri. Hanya bisa mengepalkan tangan di bawah selimut, pria ini tak bisa melakukan apapun.


"Jika saja aku masih sendiri, mungkin aku akan langsung menerima tawaran itu. Aku senang saat melakukan misi tersembunyi, menyadap telepon seseorang, mengawasi gerak-gerik mereka, bahkan meretas kode keamanan di rekening bank mereka untuk mengetahui aliran dana ilegal yang pejabat korup itu lakukan." Aira membenahi posisinya, membuat tubuh rampingnya menempel di tubuh Ken. Tak lagi berjarak sama sekali.


"Tapi sekarang semuanya berbeda. Ada kamu dan anak-anak." Terdengar suara Aira bernada kecewa. Dia seperti sayang melepas tawaran itu. "Bagiku, apa yang aku sukai tidak lagi penting. Selama melihat kalian tersenyum dan tertawa, aku ikut bahagia."


Hati Ken mencelos. Dia merasa bersalah karena sudah membunuh kesempatan yang Aira inginkan. Setiap wanita selalu sama, mementingkan orang-orang di sekitarnya dan mengabaikan kebahagiaannya sendiri.


Ken sangat jelas melihat potensi Aira. Wanitanya ini talenta yang sangat berbakat. Instingnya kuat, tidak mudah menyerah jika belum menemukan titik terang dari permasalahan yang mereka hadapi. Tapi, dia juga tidak ingin Aira berada dalam bahaya. Pekerjaan sebagai agen rahasia sebuah negara bukanlah hal yang mudah. Selain itu, akan ada banyak pihak yang berusaha menyingkirkannya.


"Dan aku sudah memikirkannya matang-matang. Aku tidak akan mengambil tawaran itu. Aku memilih kalian."


Hening. Tak ada suara apapun. Aira berkutat dengan pemikirannya sendiri. Sama dengan Ken yang berusaha mencari solusi untuk permasalahan istrinya ini.


"Setidaknya jika aku tetap bersamamu, aku masih bisa bermain-main seperti meretas kamera pengawas atau semacamnya. itu terasa menyenangkan." Aira tersenyum seorang diri. "Jadi aku benar-benar bodoh, ya? Hanya seperti itu saja membuatku bahagia."


Aira terkekeh lirih, menertawakan keputusannya sendiri.


"Ah, apa itu." Aira terkejut saat ujung matanya menangkap adanya pergerakan bibi Maria di monitor. Ini hampir jam satu dini hari di Indonesia, itu artinya pukul tiga pagi waktu Jepang. Dan wanita itu sibuk membawa beberapa kotak ke atas meja.

__ADS_1


Aira segera bangun dari atas dada bidang suaminya, mendekat ke arah meja yang menempel dengan ujung ranjang tempatnya berbaring ini. Dia segera mendekati komputer jinjing itu dan mengamati pergerakan Maria.


"Siapa dia? Aku belum pernah melihat wajahnya," gumam Aira sembari memenahi piyamanya yang sedikit kusut.


"Bibi, aku akan mencari identitasmu." Jemari Aira mulai menari di atas papan huruf setelah mengambil potret wanita Rusia berusia lima puluhan itu. "Siapa kamu? Kenapa bibi membantu Anna?"


Atensi Aira terpaku pada layar monitor di hadapannya. Dia tidak menyadari ada sepasang mata yang menatap punggungnya dari belakang. Pria itu masih memikirkan tentang apa yang terjadi pada istrinya.


'Sayang, aku tidak tahu kakek masih membidikmu. Dia melupakanku dan menjadikanmu target utamanya sekarang. Apa jadinya jika kamu membuatnya murka?' batin Ken bertanya tapi tak mendapat jawaban sama sekali. Ken terbawa perasaan, mengkhawatirkan Aira dengan segala keputusannya.


Ken mengangkat kepalanya, bersiap bangun tapi kemudian urung dilakukan.


'Jika aku bangun sekarang, bukankah aku hanya akan mengganggu kesenangannya saja? Dia begitu menikmati sisi lainnya sebagai seorang hacker profesional. Bagaiamana aku bisa mengambil kebahagiaan istriku?'


Ken berbalik, memiringkan badan, tidak ingin melihat ke arah istrinya lagi. Semakin ia mengamatinya, semakin ingin memeluk rasanya. Rasa cinta, bangga, dan perasaan bersalah itu datang di saat yang bersamaan. Diam-diam Aira memiliki beban di dalam hatinya, tapi dia tidak ingin mengungkapkannya.


"Maria?" Suara Aira berhasil menyita perhatian Ken, membuat semua pemikirannya buyar seketika. "Wanita ini membuatku curiga. Siapa dia sebenarnya?"


Detik berikutnya, Aira kembali mengetikkan berbagai bahasa pemrograman demi menelusuri setiap jejak wanita Rusia yang membantu Anna melakukan pergerakan. Sesekali dia kembali ke halaman lain, mengawasi wanita yang kini mulai membuka kardus-kardus di hadapannya.


"Apa yang akan dia lakukan?" gumam Aira seorang diri.


Ken menahan dirinya sekuat mungkin agar tidak beranjak bangun dan membuat istrinya kecewa. Jika wanita itu tahu dia meminum obat penetralisir dari Shun, Ken akan kehilangan kepercayaan dari Aira. Itu pasti.


"Oh, jadi dia salah satu asisten pribadi di kediaman rumah orangtua Anna?" Suara Aira kembali terdengar, membuat Ken membulatkan matanya.


Tanpa Aira sadari, Ken mengambil ponsel miliknya sendiri di atas nakas. Dia mengirimkan pesan pada seseorang untuk mencari data keluarga Anna Vyatcheslavovna dan seluruh rekam jejak mereka lima puluh tahun terakhir, beberapa waktu sebelum Anna terlahir.


Ken yakin ada rahasia besar dibalik Keluarga besar Anna. Juga seluruh data pengawal dan pengurus rumah tangga yang pernah mengucapkan sumpah setia di sana. Kenapa mereka semua seolah lenyap dari peradaban tapi kemudian muncul satu orang bernama Maria ini. Mungkinkah masih ada Maria-Maria yang lainnya?


Sementara itu, Maria tidak tahu ada dua kepala yang tengah menyelidiki dirinya. Dia dengan percaya diri mengeluarkan beberapa boneka dari dalam box. Rencannya untuk memberikan kejutan bagi Kaori sudah terbayangkan di dalam kepala.


"Mungkin aku dan Nona tidak bisa menyentuhmu, tapi kami bisa mempermainkan perasaanmu, Yamada Kaori-san!" lirih Maria, mengambil pisau cutter dari dalam wadah dan mulai menyayat leher salah satu boneka yang ada. Dia benar-benar menganggap ini lelucon.


"Karena kalian membuat nona kesayanganku tidak senang, maka kalian juga harus merasakannya."


Maria membuka kotak yang lain, mengambil kantung darah yang sengaja dibelinya untuk semakin mendramatisir skenario yang ia siapkan. Bukan hanya satu atau dua kantung, tapi ada lima atau lebih.


Tanpa merasa jijik, Maria menyiramkan darah segar itu ke atas boneka, tepat di bagian sayatan leher tadi. Dia benar-benar menikmati kegiatannya ini, seperti seorang psyco yang sedang menyiksa mangsanya.


"Shun, istrimu menggila. Bisakah kamu tetap menerimanya?"


Wanita berambut ikal itu mengangkat satu sudut bibirnya. "Ah, tidak akan seru bermain dengan seorang saja. Bagaimana jika Yuki ikut meramaikan keadaan? Sepertinya itu akan semakin seru!"


Maria tertawa dengan mulut terbuka, membuat suara tawanya menggema. Aira mendengar dengan jelas semua rencana wanita licik ini melalui penyadap suara yang ada di bawah Meja. Kosuke melakukan semuanya dengan baik.

__ADS_1


"Maria, kita lihat rencana seperti apa yang akan kamu mainkah kedepannya?!"


__ADS_2