
Langit terlihat begitu gelap, awan hitam bergulung di angkasa, siap menumpahkan air yang dibawanya setelah mendapat titah dari Tuannya. Satu dua burung nokturnal tampak hinggap di pohon, mencari-cari lubang tempat persembunyian serangga kecil yang bisa ia makan.
Pemandangan itu tak lepas dari pengamatan mata tajam milik seorang pria yang kini berdiri di balkon kamarnya. Sebatang rokok tersimpan di sela jemarinya, sesekali ia hisap untuk selanjutnya muncul asap putih yang ia embuskan ke udara. Dari raut wajahnya, terlihat bahwa ia tengah memikirkan banyak hal saat ini yang hampir membuatnya depresi.
Entah mitos atau fakta, banyak orang beranggapan bahwa merokok bisa meredam stres yang dialaminya. Itu sebabnya banyak orang memilih menyentuh gulungan tembakau ini saat merasakan tekanan hidupnya bertambah. Pada akhirnya, mereka lari memburu rokok untuk menghilangkan stres. Padahal, bukannya menghilangkan stres, dampak merokok justru akan memperparah kondisi tersebut. Merokok sendiri bisa menyebabkan stres jangka panjang.
Kandungan nikotin yang ada dalam rokok akan masuk ke pembuluh darah, menuju otak, dan melepaskan neurotransmiter yang disebut dopamin. Inilah yang menimbulkan perasaan nikmat sehingga dianggap dapat mengurangi stres. Faktanya, stres yang mereka alami tidak menghilang sama sekali melainkan perhatian mereka saja yang sedikit teralihkan. Ya, rokok bisa mengalihkan rasa stres, tetapi hanya dalam jangka waktu pendek. Oleh karena itu, cara menghilangkan stres dalam jangka panjang tidak bisa mengandalkan rokok.
Sayangnya, banyak orang memilih rokok untuk menghilangkan stres jangka panjang. Padahal, stres yang terjadi tidak akan hilang jika masalah penyebabnya tidak diatasi. Dan itulah yang harus Shun lakukan dalam waktu dekat, memburu tuan Harada dengan segala cara.
Shun kembali menikmati rokoknya, mengembuskan udara putih melalui mulutnya dengan kepala menengadah menatap langit. Sebenarnya dia tahu merokok tidak akan menyelesaikan masalahnya, tapi dia tidak peduli. Pria ini butuh pelampiasan atas rasa gamang di dalam hatinya. Katakanlah dia marah pada apa yang baru saja terjadi pada istrinya. Shun berpikir ingin segera menemukan buruannya dan bisa kembali melanjutkan liburannya bersama Kaori. Masih ada beberapa agenda yang mereka rencanakan setelahnya. Namun agaknya semesta tak mengaminkan hal tersebut. Justru membuatnya terjebak oleh perangkap para penculik itu dan membuat nyawa Kaori terancam.
Shun lagi-lagi menyesap rokok di tangannya. Ia memejamkan matanya, berharap gemuruh di dalam dadanya bisa teredam sementara waktu. Shun merasa ada yang salah, seolah-olah pergerakannya sudah diawasi sejak awal. Itu sebabnya para penculik bisa bergerak satu langkah di depannya.
Tok tok tok
Bunyi pintu diketuk berhasil membuat pria ini menolehkan kepalanya. Ia mematikan sisa rokoknya ke dalam asbak dan menghampiri pintu untuk melihat siapa yang datang. Tampak seorang petugas hotel membawa beberapa barang yang ia minta, salah satunya kantung kompres yang sudah diisi air hangat. Petugas wanita itu segera pergi setelah memastikan semua barang bawaannya diterima oleh tamunya.
Shun mendekat ke arah Kaori yang terlelap dan meletakkan kompres hangat itu di dalam selimut. Ia berharap istrinya tak lagi kedinginan.
Drrtt drrtt
Ponsel layar sentuh miliknya bergetar, menandakan ada panggilan masuk di sana. Shun segera mengambilnya dan melihat ada nama Yamazaki Kenzo.
"Cih. Untuk apa dia menghubungiku?" Shun berdecih kesal. Ia sebal hanya karena melihat nama pewaris keluarga Yamazaki ini. Bagaimana tidak? Pria itulah yang secara tidak langsung sudah membuat wanitanya berada dalam bahaya. Jika saja Ken tidak menyuruhnya mencari tuan Harada, maka peristiwa ini tidak akan terjadi. Kaori tidak perlu terbaring lemah di atas ranjang seperti sekarang.
"Ada apa?" tanya Shun begitu mengangkat panggilan dua arah itu. Ia menempelkan benda pipih itu di dekat telinga, satu tangannya membenahi helai rambut istrinya yang terbebas.
"Bagaimana keadaan Kaori? Aku dengar dia mengalami kecelakaan?" tanya Ken di ujung sana.
Shun diam. Dia begitu kesal hanya dengan mendengar suara Kenzo. Jika saja ayah tiga anak itu ada di hadapannya, pasti sudah ia pukul sampai babak belur. Anggaplah sebagai penebusan kesalahannya. Dia dan Kaori harus menderita, tapi Ken bisa bersantai di Jepang bersama istrinya. Dia justru harus mengganggu bulan madunya bersama Kaori demi penjahat itu. Sial!
"Oguri-san, kamu masih di sana? Kaori baik-baik saja?" Ken kembali membuka suara. Dia bertanya dengan hati-hati, tahu pasti pria barbar ini marah padanya.
"Tutup mulutmu dan datanglah kemari. Mari kita bertarung sampai mati!" Shun mengepalkan tangannya, sungguh ingin membantai orang.
Bukannya gentar mendapat tantangan pertarungan dari Shun, Ken justru terkekeh di tempatnya berada. Dia suka saat mendapati rekan kriminalnya ini marah. Artinya iblis di dalam dirinya akan bangkit dan siap mengalahkan siapa saja. Jangankan tuan Harada dan orang-orang yang berusaha melindunginya, bahkan Ken pasti akan kewalahan melawan pria ini.
"Aku benar-benar akan membunuhmu nanti. Tunggu saja!" ketus pria yang memakai pakaian serba hitam ini.
"Hahaha. Lakukan saja apapun yang kamu mau. Aku dengan senang hati akan melawanmu. Tapi sebelum itu, bukankah kamu harus membunuh pria tua itu lebih dulu? Dialah penyebab utama ketidakbahagiaan istrimu di masa lalu dan sekarang ini. Dia juga yang sudah membuatnya menangis dan trauma sepanjang waktu. Kamu tidak akan melupakan seberapa kejamnya tuan Harada saat memaksa Kaori kembali ke Jepang dan memblokir semua akses pendidikan luar negeri agar wanita itu tak bisa berkembang. Aku yakin kamu lebih tahu tentang hal ini dibandingkan orang luar sepertiku."
BUGH!
Shun memukul tembok di depannya dengan keras, menimbulkan bunyi yang membuat siapa saja terkejut dan merasa ngeri. Ken juga mendengarnya, membuat sebuah senyuman terukir di wajahnya. Dia berhasil memprovokasi iblis bertangan dingin ini. Entah apa yang akan dia. lakukan pada tuan Harada, pastilah pembalasan dendam atas nama istrinya.
"Yoshiro, Yu, dan Mone masih dalam perjalanan menuju tempat kalian berada. Mereka langsung terbang begitu mendengar apa yang terjadi pada Kaori."
"Dasar bedebah!" Shun mengumpat lawan bicaranya. "Meminjam tangan orang lain untuk menghabisi musuhmu? Apa kamu begitu senang bersembunyi di balik ketiak istrimu, huh?" sarkas Shun penuh emosi.
"Dia sakit. Aku yang tidak mengizinkannya pergi." Suara lembut Aira kini terdengar di telinga Shun, membuat emosinya sedikit mereda. Ada perasaan aneh yang menjalar di hatinya. Bagaimanapun juga, dia pernah terjebak delusi pada sosok wanita satu ini. Dan sampai kapan pun perasaan itu sulit ia hilangkan. Jelas-jelas Mone dan Aira adalah dua wanita yang berbeda, tapi Shun pernah menganggap mereka sama.
__ADS_1
"Bagaimana keadaan Kaori?" Aira kembali bersuara, membuat Shun mengembuskan napas beratnya. Entah kenapa dia tidak bisa marah pada Aira, bahkan hanya mendengar suaranya saja membuat perasaannya lebih baik.
'Apa-apaan ini?' Shun membatin.
"Maaf harus menganggu liburan kalian dan menyebabkan semua ini terjadi." Aira meminta maaf dengan tulus, membuat Shun tak bisa mengabaikannya lagi.
"Dia tidur." Dua kata itu terucap begitu saja dari mulutnya, dengan suka rela menjawab pertanyaan Aira sebelumnya. Tampaknya hatinya melunak mendengar suara ibu triplet ini.
"Apa dia baik-baik saja?"
"Umm. Petugas medis sudah memeriksanya. Dia akan membaik setelah istirahat beberapa waktu." Shun menatap istrinya yang masih terlelap. Dia berjalan menjauh, berdiri di ambang jendela, menghirup udara segar yang bisa memperbaiki moodnya.
"Aku sudah meminta bantuan seseorang untuk melacak ponsel milik tuan Harada. Dia masih ada di Bangkok, tak jauh dari tempat persembunyian sebelumnya."
"Tempat persembunyian sebelumnya?" Shun kembali mengigat tempatnya menemukan pakaian Kaori beberapa jam yang lalu. Jelas-jelas ada noda darah dan microchip di sana. Tanpa mengujinya sekalipun, Shun yakin pria itu pernah ada di sana.
"Zen Zen Massage and Spa. Tempat itu memang ada di bawah kendali Miracle, tapi siapa sangka ada orang-orang tidak bertanggung jawab yang berani menerima pria itu di sana."
Klik
"Aku akan mengurusnya." Shun membuka koper hitam yang ada di atas meja. Tampak beberapa senjata api yang siap ia gunakan untuk membantai musuhnya. Barang itu ia dapat dari pegawai hotel ini bersama kantung kompres hangat tadi.
"Oguri-san, maaf harus kembali merepotkanmu." Aira merasa tak enak hati dengan pasangan yang tengah bulan madu ini.
"Tidak masalah. Ini memang pekerjaanku." Shun bisa sedikit tersenyum. "Dimana bala bantuan yang kalian kirimkan? Kapan mereka akan datang?"
"Seharusnya mereka sudah sampai di hotel tempat kalian berada."
Tok tok
"Sepertinya itu mereka." Shun bergerak ke arah pintu dan membukanya satu detik kemudian. Tampak seorang pria rambut kuning dan dua wanita di belakangnya. Mereka terbang dengan pesawat pribadi milik keluarga Yamazaki demi segera menyelesaikan misi ini.
"Baiklah. Aku percayakan mereka padamu." Aira sedikit berkelakar. "Selamat bekerja. Aku akan menunggu kabar baik dari kalian. Sampai jumpa."
Panggilan dua arah itu terputus, membuat Shun memasukkan ponselnya ke dalam saku. Dia menatap sahabatnya yang kini beradu pandang dengannya.
"Bukankah kamu menghilang?" tanya Shun dengan senyum miring menghiasi wajahnya. Dia mencemooh rekan kriminalnya ini.
"Baka!" jawab Yoshiro tajam. Dia tidak suka mendengar cemoohan Shun padanya.
(Bodoh!)
"Kakak, bagaimana keadaan kakak ipar?" Mone menghambur ke dalam ruangan, menyingkirkan kakak angkatnya dari depan pintu. Dia masuk tanpa meminta izin lebih dulu.
Detik berikutnya, Yoshiro dan Yu masuk ke dalam ruangan. Mereka menatap Kaori yang terbaring di atas ranjang dengan wajah pucat.
"Kakak ipar, apa kamu baik-baik saja?" tanya Mone saat melihat Kaori membuka matanya. Istirahatnya terganggu setelah mendengar suara Yoshiro yang sedikit tinggi.
"Umm. Aku baik-baik saja." Kaori beranjak bangun, duduk bersandar pada kepala ranjang di belakang tubuhnya. "Jam berapa ini?" Wanita itu menatap jam digital di atas nakas yang menunjukkan angka 02.45 pagi.
__ADS_1
"Ini masih pagi. Istirahatlah lagi." Kali ini Shun yang duduk di hadapan Kaori setelah Mone beranjak bangun. Gadis itu cukup tahu diri, memberikan tempat untuk Shun dan istrinya.
"Aku sudah merasa lebih baik sekarang." Kaori menyingkirkan kompres hangat dari tubuhnya. Ia berusaha tersenyum, menyingkirkan kekhawatiran yang tampak jelas di wajah Sang Suami.
"Karena dia sudah membaik, jadi mari kita selesaikan misi ini secepatnya!" Suara Yoshiro menginisiasi. Dia tidak sabar untuk bertarung melawan para pengkhianat yang berani menampung tuan Harada dan membuatnya kerepotan seperti sekarang.
Yu segera membuka dokumen yang dibawanya. Dia menghamparkan peta yang memperlihatkan tampilan kota Bangkok dari atas. Ada beberapa titik yang sudah ditandai dengan lingkaran merah dan sebuah tanda silang.
"Ini adalah hasil penelusuran yang Aira dapatkan dari temannya. Dia seorang agen intelijen khusus di negeri ini yang bisa menemukan tikus-tikus yang tersembunyi dalam tanah sekalipun." Yu mulai menjelaskan, membuat atensi Shun dan Kaori mengarah padanya. Mone dan Yoshiro tampak santai, mereka sudah mendengar penjelasan langsung dari Aira sebelum mereka pergi kemari.
"Ini tempat kita berada saat ini," cetus Yu, menunjuk satu titik di pusat kota. "Dan ini tempat persembunyian orang itu sebelumnya."
Shun mengangguk. Dia paham titik itu, tempat ia meninggalkan Kaori di sana.
"Berdasarkan pantauan sinyal dari ponsel tuan Harada, seharusnya di ada di sini sekarang." Satu titik bertanda silang merah menjadi pusat perhatian mereka. Beberapa puluh kilometer dari Zen Zen Massage and Spa.
"Kita akan pergi ke sana satu jam lagi. Dan sebelum matahari terbit harusnya semua orang di sana sudah berhasil kita bantai." Shun mengepalkan tangannya. Dia tidak sabar membalaskan dendam Kaori.
"Tempat persembunyian mereka ada di atas bukit yang dikelilingi padang ilalang. Mobil hanya bisa sampai di kaki bukit. Tidak bisa menunggu satu jam lagi, kita harus berangkat secepatnya. Selanjutnya kita akan menunggang kuda untuk sampai ke sana." Yoshiro ikut menjelaskan. Ekspresi wajahnya tak berubah sejak dia datang kemari. Benar-benar mengerikan. Sisi iblisnya menguar, tak akan mudah dijinakkan sebelum berhasil menyelesaikan misi ini.
"Berapa banyak jumlah mereka?" tanya Shun ingin tahu. Dia tidak memiliki gambaran sama sekali saat ini.
"Tidak banyak. Mereka sekitar tujuh puluh orang. Kita bisa mengatasinya dalam sekejap. Lagi pula, pria itu tidak akan bisa melawan. Dengan satu tangannya, apa yang bisa ia lakukan?" Yu tersenyum meremehkan.
"Satu tangan? Apa yang terjadi?" Kali ini Kaori yang bersuara. Dia penasaran kenapa Yu terlihat begitu tenang membicarakan tuan Harada. Jelas-jelas mereka tahu seperti apa kemampuannya saat berkelahi dengan Ken, sampai membuat ayah tiga anak itu terdesak dan hampir saja kalah jika Aira tidak menyelamatkannya.
Mone menoleh menghadap Kaori, "Apa kakak ipar tidak tahu jika belati yang menancap di bahu tuan Harada itu beracun? Bahkan luka di tubuhnya mulai membusuk saat ini."
"Eh?" Kaori sedikit tertegun. Ia belum pernah mendengar ini sebelumnya. Ia menatap Shun, mengonfirmasi kebenaran fakta yang Mone ucapkan.
"Itu benar. Dia akan mati perlahan bahkan tanpa kita membunuhnya." Shun menjelaskan pada istrinya, membuat wanita itu menutup mulut karena saking terkejutnya. Dia tidak menyangka tentang satu hal ini. Meskipun pria itu pernah mengusirnya, tapi bukan berarti dia membencinya sampai ingin membunuhnya.
Sebelum rahim Kaori diangkat, tuan Harada begitu menyayanginya, memperlakukannya seperti putrinya sendiri. Bahkan saat mengetahui Kaori hamil saat itu, dia secara langsung membuat perayaan besar-besaran, mengajak rekan-rekannya mendoakan cucu pertamanya. Dia pria yang hangat saat itu, membuat Kaori tersentuh.
Namun, sikapnya berubah 180 derajat setelah Kaori kecelakaan. Pria itu menatapnya dengan pandangan jijik. Bahkan nyonya Suzuki saja dilarang untuk menemuinya. Rasa sakit itu kembali menderanya. Ia merasa dilema, tidak tega melenyapkan mantan ayah mertuanya. Tapi, di sisi lain, sakit hatinya tak bisa ia lupakan begitu saja.
"Apa kamu tidak tega melihat pria itu membusuk? Kamu ingin menyelamatkannya?" sarkas Shun saat melihat sebulir air mata luruh membasahi pipi istrinya. Emosinya kembali memuncak melihat respon yang Kaori tunjukkan.
Dokter cantik itu menggeleng. Dia tidak bisa mengungkapkan perasaannya kali ini, antara sedih, takut, bimbang, dan berbagai rasa lainnya. Dia berpikir jauh, jika tuan Harada tidak ada lagi di dunia ini, mungkinkan dia bisa kembali menjumpai nyonya Suzuki yang begitu menyayanginya? Atau justru dia akan disalahkan dalam hal ini dan membuat hubungan mereka benar-benar terputus? Bagaimana reaksi Yuki, mantan suaminya, jika tahu Shun yang membunuh ayahnya? Bisakah ia mengangkat kepalanya di depan pria yang sempat memenuhi hatinya beberapa tahun yang lalu itu?
"Aku lelah. Kalian lanjutkan saja." Kaori kembali menyembunyikan dirinya di dalam selimut. Ia berbalik badan, membuat Shun hanya bisa menatap punggungnya.
'Sial! Dia belum bisa melupakan orang itu!' Shun membatin. Cengkeraman di kedua tangannya semakin erat. Dia marah karena jelas-jelas Kaori memikirkan mantan suaminya. Meski tidak mendengar kata hati istrinya, tapi Shun bisa melihat gurat kekhawatiran yang tergambar di wajah cantik wanitanya. Menyebalkan!
...****************...
Hwaaaa... Siap-siap action lagi next episode. Nantikan yaa 🤗😉
Jangan lupa dukungannya. See you,
__ADS_1
Hanazawa Easzy