
Sebuah kendaraan roda empat terhenti di depan portal sebuah gedung baru di kawasan Shibuya. Kaca depan terbuka, pria di belakang kemudi tampak menunjukkan kartu identitas yang menggantung di lehernya. Hal yang sama juga di lakukan oleh seorang wanita yang duduk di sebelahnya.
Petugas yang berpakaian serba hitam segera undur diri, mempersilakan mobil mengilap warna hitam itu untuk masuk ke dalam tempat steril ini. Ya, beberapa jam sebelum peresmian gedung baru sebagai bentuk kerjasama antara Miracle dan Circle K, kawasan ini dibersihkan dari berbagai 'sampah' yang tidak penting. Imbasnya, beberapa wartawan yang tidak memiliki undangan harus pergi dengan sukarela dari sana. Beberapa oknum yang memaksa tinggal akhirnya diusir dengan paksa oleh orang-orang sejenis pria penjaga portal tadi.
"Bukankah itu berlebihan?" tanya Shun pada seorang pria yang berdiri beberapa langkah di sampingnya. Mereka ada di lantai tiga gedung baru ini, memperhatikan hilir mudik orang-orang di bawah sana yang tampak sedikit mengecil.
"Tidak juga. Tikus-tikus pengerat disini jadi lebih terkendali, bisa kita musnahkan kapan saja tanpa takut melukai orang-orang yang tidak bersalah." Yoshiro mengangkat sudut bibirnya, menatap mangsanya.
"Tikus pengerat? Maksudmu orang itu?" Shun menatap seorang pria yang sedari tadi berkeliling mengikuti nyonya Hanako.
"Ya, namanya Kubota Okura. Dia manager pemasaran yang baru menjabat dua tahun terkahir," jawab Yoshiro singkat.
"Apa Ken tahu salah satu stafnya adalah tikus ... ah, itu terlalu halus. Makhluk itu lebih pantas disebut anjing. Ken tahu anjing itu peliharaan nyonya Hanako?" Shun menatap nyonya Hanako dan tuan Kubota dengan tatapan yang sulit diartikan, antara jijik dan geram.
"Umm. Aku sudah memberitahunya seminggu yang lalu. Dia pengkhianat yang sudah membocorkan informasi rahasia kita pada Circle K. Termasuk Trojan yang berhasil merangsek masuk sistem keamanan Miracle, orang itulah dalangnya. Dia yang sudah 'membukakan pintu' agar Yu bisa masuk. Tapi sayang, Aira justru menyelesaikan permainan begitu cepat, membuat anjing itu kehilangan kepercayaan dari tuannya." Yoshiro tersenyum bangga, mengingat kekasihnya, Yuzuki.
"Yu? Aira?" Shun mengerutkan keningnya. Ia tidak tahu apa yang sedang Yoshiro bicarakan. Memang ia sekilas mendengar bahwa sistem jaringan Miracle sempat trouble kemarin lusa, tapi semua baik-baik saja hari berikutnya. Jadi Shun tidak tahu masalah itu ada hubungannya dengan Yu maupun Aira.
"Yu menanam malware itu melalui id yang diberikan oleh tuan Kubota, membuat staf IT Miracle kewalahan dan akhirnya Aira yang harus turun tangan," jelas Yoshiro. Tatap mata tajamnya masih tertuju pada salah satu manager Miracle yang telah berkhianat itu. Pria itu tidak tahu sedang diincar oleh dua serigala dari atas sana. Ia tampak tersenyum sambil terus berbincang dengan nyonya Hanako.
"Aku tidak pernah mendengar ada kekacauan seperti itu," sesal Shun yang tertinggal informasi menarik yang disampaikan oleh sahabatnya. Jika ia tahu lebih awal, ia mungkin bisa memanfaatkan kejadian itu untuk mengejek Ken. Bagaimana bisa Ken membiarkan istrinya yang tengah hamil besar untuk bekerja, menyelesaikan virus komputer atau semacamnya?
"Itu sudah berlalu. Orang itu sudah ditendang oleh G, dan sekarang menempel pada nyonya Hanako. Sungguh menjijikkan. Ku pikir Ken juga akan menendangnya begitu tahu apa yang sudah ia lakukan, tapi nampaknya tidak akan semudah itu. Sudah lama Ken tidak bermain-main dengan tikus-tikus kotor itu, sepertinya akan ada skenario khusus untuknya. Tapi, jika Aira tidak mengizinkan Ken menyiksanya, maka aku akan menggantikannya dengan senang hati. Sudah ku siapkan berbagai alat inovasi terbaru untuk menyiksa seseorang, dia akan menjadi kelinci percobaanku kali ini. Ken pasti tidak akan keberatan dengan permintaan kecilku ini." Yoshiro menyeringai membayangkan betapa bahagianya dia saat obsesinya untuk menyiksa orang terpenuhi.
"Psyco," ejek Shun sambil menggelengkan kepalanya beberapa kali, tidak menyangka sisi iblis Yoshiro kembali bangkit setelah sekian lama ia pendam rapat-rapat. "Aku akan mengizinkanmu memakai obat halusinogen hasil percobaanku beberapa hari yang lalu. Sepertinya, pertunjukannya akan semakin menarik. Aku menantikan saat dia memohon untuk kematiannya."
"Oey, siapa yang lebih pantas disebut psyco?" Yoshiro menatap Shun dengan pandangan tak percaya.
"Terima kasih atas pujiannya," jawab Shun bangga.
Yoshiro mengerutkan keningnya dalam-dalam. Keduanya saling adu pandang sekilas, sebelum mereka saling melempar senyum.
'Rasanya pekerjaan ini tidak terlalu buruk,' batin Shun. Padahal sejak awal ia menolak mentah-mentah penawaran yang Kosuke sampaikan padanya.
"Itu Ken," ucap Yoshiro saat melihat sebuah mobil milik Miracle melewati portal yang dijaga ketat oleh petugas.
Beberapa detik kemudian, tampak Minami keluar dari pintu depan, membukakan pintu untuk Ken dan membimbingnya masuk ke gedung ini melalui pintu utama. Tapi ada yang menarik perhatiannya, Ken tampak gugup dan gelisah. Terlihat dari tangannya yang beberapa kali membenarkan letak dasi hitam di lehernya yang masih rapi. Padahal Ken tidak biasanya seperti itu.
"Apa menurutmu itu Ken?" tanya Yoshiro pada Shun.
Shun memicingkan matanya, mengarahkan pandangannya pada satu titik yang sama dengan Yoshiro.
"Apa yang sedang kalian lihat?" tanya sebuah suara yang sangat familiar.
"Ken?!" Yoshiro menatap pria yang kini hanya berjarak beberapa langkah darinya. "Bukankah ... " ia hendak berucap bahwa seharusnya Ken baru saja masuk ke lobi utama gedung ini didampingi oleh Minami. Bagaimana mungkin detik berikutnya sudah ada di lantai tiga ini?
"Bodoh!" ucap Ken sembari mengangkat sebelah bibirnya. Ia berhasil menipu sahabatnya ini.
Yoshiro hanya bungkam saat menyadari fakta bahwa firasatnya benar. Pria yang datang bersama Kosuke dan Minami itu bukan Ken, melainkan adik kembarnya, Yamazaki Kento atau Yamaken. Pantas saja dia terlihat sedikit gugup.
Mungkinkah Ken akan tetap mengorbankan adik kembarnya itu?
__ADS_1
Tak tak tak
Terdengar bunyi langkah kaki mendekat, peraduan antara tapak sepatu yang keras dengan lantai yang dipijaknya. Hal itu membuat Shun menengok ke arah belakang Ken.
"Maaf, aku sedikit terlambat," ucap seseorang dari arah kedatangan Ken.
Kelopak mata Yoshiro membulat sempurna saat melihat pria bersurai putih yang tersenyum ke arahnya. Dia adalah musuh terbesarnya, sang pesaing untuk mendapatkan cinta Yuzuki.
"Lama tidak berjumpa, Yoshiro-san," G mengulurkan tangannya sambil tersenyum, mencoba bersikap ramah pada pria yang juga menyukai gadisnya. Ia pura-pura terlihat baik-baik saja, padahal dalam hatinya ingin memukul pria yang berhasil membuat hati Yu berpaling darinya.
Melihat Yoshiro yang seolah enggan menyambut uluran tangannya, G tak habis akal. Ia mengubah haluan badannya, sedikit serong kanan dari posisi sebelumnya. Ia menatap Shun yang menatapnya dengan pandangan dingin.
"Selamat pagi, Anda pasti Oguri Shun," celoteh G tanpa mempedulikan tatapan mematikan yang Yoshiro layangkan padanya. Tangannya kembali terulur, ingin menyalami Shun.
Sama seperti Yoshiro, Shun juga tidak berselera untuk menyambut itikad baik pria yang telah menjadi dalang rencana peledakan gedung baru ini.
"Kita sudah bertemu beberapa kali. Tidak perlu meminjam wajah malaikat di depanku," ketus Shun tajam.
G tersenyum mendengar respon kedua orang di depannya ini. Sejak awal ia sudah bisa menduganya, baik Yoshiro maupun Shun pasti akan membencinya.
"Mulai sekarang dia ada di pihak kita." Ken menatap Yoshiro dan Shun bergantian. Ucapannya itu menjadi penengah, menyiratkan bahwa Yoshiro tidak perlu sengaja membuat masalah dengan Ji Yong.
"Apa kamu gila?" tanya Yoshiro tak percaya. Jelas-jelas Ji Yong ini musuh mereka, bagaimana mungkin Ken mengakui pria itu ada di kubu yang sama dengannya?
"Aku tidak peduli apa yang dia lakukan di masa lalu, tapi saat ini, dialah pemegang kendali situasi di sini." Ken mantap dengan pendapatnya.
"Dan kamu mempercayainya?" tanya Yoshiro lagi. Ia menahan amarah yang mulai menyesakkan dadanya.
"Ya. Kenapa? Ada masalah?" tanya Ken.
"Tidak ada." Yoshiro menjawab sebelum pergi bersama Shun. Meninggalkan Ken hanya berdua dengan G di lantai tak berpenghuni ini.
"Sepertinya mereka tidak menyukai kehadiranku," tukas G sambil tersenyum.
"Tidak masalah. Itu akan membuat permainan lebih menarik," jawab Ken.
...****************...
Seorang wanita naik ke atas mimbar, bertugas sebagai MC dalam acara peresmian gedung baru sebagai bentuk kerjasama Miracle dan Circle K. Ia memandu acara ini dengan baik, dimulai oleh sambutan kedua belah pihak dan diakhiri dengan pemotongan pita. Acara puncak itu diabadikan oleh beberapa wartawan setempat.
*MC: master of ceremony (pembawa acara)
Acara peresmian gedung berjalan dengan lancar. Ken kembali ke tempat duduknya di sebelah Yoshiro, Shun, dan beberapa staf lain, termasuk manager Kubota yang terlihat sedikit gelisah. Beberapa kali ia menatap jam yang melingkar di tangannya. Hal itu tidak lepas dari pengamatan Yoshiro.
Acara berlanjut dengan jamuan makan siang yang ada di masing-masing meja. Denting sendok yang beradu dengan piring mulai terdengar bersahut-sahutan, serta suara perbincangan yang sesekali terdengar.
"Mari bersulang untuk kesuksesan Miracle dan Circle K," ajak MC dengan mengangkat gelas berisi anggur di tangannya.
"KANPAI!" seru orang-orang di ballroom ini.
__ADS_1
(Bersulang)
Yoshiro dan Shun saling pandang, melihat Ken meminum anggur di tangannya. Jelas-jelas kemarin dia mengatakan bahwa tidak akan minum setetes pun, sesuai janjinya pada Aira. Tapi kenapa ia minum seolah tidak mengingat kata-katanya sendiri? Mungkinkah pria di depan mereka ini adalah Yamaken?
BRUKK
Belum sempat Yoshiro memastikannya, Ken sudah ambruk di lantai dengan wajah pucat pasi bagai mayat.
DOR
Tuan Kubota melepaskan tembakan ke udara, membuat perhatian semua orang tertuju padanya. Ia menyeret tubuh lemah Ken ke depan, naik ke atas mimbar dan meraih mikrofon yang ada di sana. Pistol di tangannya mengarah tepat di pelipis Ken yang tak sadarkan diri.
"Sial!" Yoshiro mengeratkan giginya, merasa kecolongan. Tangannya merogoh saku jas, bersiap mengeluarkan senjata api yang ia simpan disana sejak awal. Ia tidak sempat menyelamatkan Ken karena semuanya terjadi begitu cepat. Jadi hanya ini yang bisa ia lakukan, bertarung head to head dengan siapa saja untuk mengamankan sahabatnya itu.
"Ada bom di gedung ini, siapa saja yang tidak ingin mati, cepat keluar dari sini!" teriak tuan Kubota dengan lantang.
Orang-orang mulai gaduh, berusaha menyelamatkan diri masing-masing, berusaha mencapai pintu keluar secepat mungkin agar bisa lari dari situasi ini.
Shun dan Yoshiro bangkit dari duduknya, saat sesuatu terasa menempel di belakang kepala mereka masing-masing. Beberapa pria berpakaian hitam mengepung Shun dan Yoshiro saat ini, mengacungkan pistol mereka pada dua pria yang begitu setia pada Miracle.
"Jatuhkan senjata kalian jika tidak ingin peluru itu menembus kepala kalian sekarang juga!" ucap nyonya Hanako sambil tersenyum.
KLAKK
Yoshiro dan Shun menuruti perintah nyonya Hanako, melempar pistol di tangan masing-masing ke lantai.
Rubah wanita itu melenggang semakin mendekati Yoshiro dan Shun dengan senyum lebar di wajahnya, merasa berada di atas awan. Dia tidak merasa terganggu sedikit pun dengan suara teriakan panik orang-orang yang berusaha menyelamatkan nyawa mereka masing-masing.
"Kalian pikir, menjinakkan black powder sudah menyelesaikan masalah?" pancing wanita itu, "Dia bahkan langsung pingsan begitu saja hanya dengan sedikit obat tidur. Ternyata dia selemah itu. Orang-orang terlalu mengagung-agungkannya," cibir nyonya Hanako sambil memandang remeh pada Ken yang kini tergeletak di lantai.
Yoshiro mengepalkan tangannya erat-erat. Sekali lagi, dia tidak bisa berbuat apa-apa. Bergerak sedikit saja, pistol di belakang kepalanya akan langsung mengikuti, bersiap memuntahkan peluru yang dikandungnya. Sial!
"Apa yang Anda katakan, Nyonya?" tanya Shun pura-pura tidak mengerti.
"Nyawa dibalas dengan nyawa. Aku akan mengambil nyawa pria lemah itu sebagai pembalasan atas kematian suamiku. Jika saja Yamazaki sialan itu tidak mengacaukan bisnis suamiku, dia pasti masih hidup sampai sekarang dan memberikan harta yang lebih banyak lagi padaku. Hahahaha ... " suara tawa nyonya Hanako terdengar menggelegar di ruangan yang mulai tenang ini.
Orang-orang berhamburan keluar, tak ada seorang pun yang ingin tinggal di sini. Tersisa hanya Yoshiro, Shun, dan Ken yang berbaring di lantai. Sisanya adalah orang-orang yang berada di kubu nyonya Hanako.
Yoshiro melirik sekeliling, posisi mereka tidak menguntungkan sama sekali. Mereka jelas kalah jumlah, jika memaksakan diri melawan pun pasti akan kalah. Jadi yang bisa ia lakukan adalah mengulur waktu sampai bala bantuan datang. Ia yakin Kosuke akan datang, karena dia tidak terlihat sejak acara dimulai dua jam yang lalu.
"Apa yang Anda inginkan?" tanya Yoshiro dengan tenang. Ia tidak ingin terprovokasi oleh cibiran wanita lima puluh tahun itu.
"Kamu bertanya, apa yang aku inginkan? Kamu akan segera mendapat jawabannya." Nyonya Hanako mendekati Ken yang terbaring lemah di lantai.
"Selamat tinggal, Yamazaki Kenzo. Sayang sekali, kamu tidak bisa melihat indahnya dunia ini lebih lama lagi. "
Nyonya Hanako berdiri, memandang Ken dengan tatapan iblis, "Bunuh dia!"
...****************...
Masih ada lanjutannya di episode berikutnya, see you 🤗
__ADS_1
Hanazawa Easzy