Gangster Boy

Gangster Boy
Gangster Boy : Planning Membuat Anak Perempuan


__ADS_3

Ken masih berbincang dengan Yamaken di telepon. Mereka membicarakan banyak hal tentang Anna dan juga asisten ataupun pengawal yang selalu membantunya, yang belakangan diketahui bernama Maria.


"Masih bisa tersenyum, heh?"


Suara seorang wanita tertangkap indera pendengaran yakuza muda ini. Meski fokusnya tertuju pada telepon genggam yang ada di tangannya, nyatanya telinga kanan Ken masih bisa menangkap bunyi tapak sepatu yang mendekat ke arahnya dari belakang.


Ken tidak melihat ada sepasang mata yang tengah menatapnya dengan pandangan membunuh. Jelas terlihat dia menyimpan dendam kesumat yang amat sangat.


"Aku akan menghubungimu lagi nanti." Ken memutuskan panggilan itu sepihak, membuat percakapannya dengan Yamaken harus terhenti seketika.


Dua buah tangan terulur satu meter di belakang Yamazaki Kenzo. Buku-buku jarinya mengerat, menunjukkan betapa pemilik tubuh ini ingin membinasakan manusia di depannya dengan sekedip mata. Dia tidak ingan berlama-lama, langsung ingin mencekik pria yang kebetulan duduk di atas bangku kayu rendah.


Sreett


Brukk


"Mau membunuhku, Sayang?" Ken bergerak cepat, beranjak dari bangku tempat duduknya dan memutari orang yang berniat membunuhnya barusan. "Itu tidak akan mudah."


Cup


Ken mencium pipi wanita yang menyerangnya. Kedua tangan kekarnya mendarat di pinggang, memaksa tubuh mungil itu terpenjara.


"Dasar mesum!" ketus wanita yang kini memukul dada suaminya dengan sekuat tenaga. Dia kalah cepat dibandingkan ayah dari ketiga anaknya ini.


"Baru berpisah sebentar saja, kamu sudah merindukanku, hmm?" Lagi-lagi Ken menggoda Aira, membuat wanita berwajah bulat itu merona.


"Ish! Menyebalkan." Aira meloloskan diri dari penguasaan Ken dan segera pergi dari tempat ini. Tadinya dia terkejut saat melihat sosok suaminya begitu keluar dari pintu toilet. Niatannya untuk memberi pelajaran pada Ken tercerahkan saat pria itu duduk di atas kursi sambil sibuk bertelepon. Siapa sangka ternyata pria ini menyadari


kedatangannya. Sial!


"Sayang, tunggu." Ken segera menyusul istrinya, membuat langakah kaki mereka sejajar melewati koridor luas yang menghubungkan bagian belakang rumah makan yang berfungsi sebagai toilet ini dengan bangunan utama restoran di depan sana.


"Ah, aku mendengar pintu berdebam sebelumnya. Apa itu kamu?" tanya Ken to the point. Dia ingat mendengar debaman pintu, dan memperkirakan bahwa wanita inilah pelakunya.


Aira yang kesal padanya, bisa melakukan apa saja. Jangankan membanting pintu, menghancurkan satu koloni yakuza juga akan ia lakukan jika mereka membuat masalah lebih dulu.


"Mana aku tahu!" ketus Aira, memajukan kedua bibir tipisnya. Ia sebal karena misinya untuk melumpuhkan Sang Suami gagal, malah pria ini yang akhirnya  mengambil keuntungan dengan mencium pipi kanannya. Benar-benar tak terduga. Yamazaki Kenzo ini benar-benar seorang mafia muda yang berbahaya.


"Sayang," panggil Ken. "Aku lapar." Satu tangannya memegang perut, sementara tangan yang lain meraih pinggang Aira, membuat tubuh mereka saling berdekatan, hampir tak berjarak sama sekali.


"Bukan urusanku!" Aira menepis tangan suaminya, membuat pria itu tertawa tanpa suara.


"Sungguh?" Ken menoel pipi tembam wanita ini, membuatnya semakin kesal. "Aww, perutku sakit."


Bugh!


Bukannya membelai perut suaminya dengan sayang atau yang lainnya, wanita barbar ini justru meninjunya dari samping.


"Kenapa istriku kasar sekali. Aku akan mencari wanita lain saja yang lebih lembut."


"Silakan cari saja. Aku akan pastikan seluruh aset dan senjata dari kakek akan menjadi milikku dan anak-anak." Aira menatap suaminya dengan pandangan tajam.


"Kamu tega melakukannya?"


Aira berkacak pinggang. "Kenapa tidak? Sekali saja kamu bermain wanita, aku akan menendangmu ke luar angkasa. Meskipun kamu tidak pernah kembali, aku masih bisa bahagia."


"Aku yang tidak bahagia, Sayang."


"Salahmu sendiri!"


Anita yang melihat interaksi putri kesayangan dan suaminya di kejauhan, hanya bisa tersenyum bahagia.


"Aku ikut senang jika kalian terus berbaikan seperti itu."


"Romantis pisan eta teh," puji seorang wanita yang menyajikan makanan di atas meja. Ia mengikuti arah pandang salah satu pengunjungnya.


(Mereka sangat romantis)


"Itu anak ibu?" tanya wanita ini lagi, mengambil nampan yang tadi ia gunakan untuk membawa makanan.


"Iya."


"Kasep euy," ucapnya, lagi-lagi memuji. Kali ini terfokus pada wajah Yamazaki Kenzo yang tampan rupawan. Pelayan ini berpapasan dengan Ken dan Aira di depan pintu. Pasangan suami istri muda ini berhenti seketika, menundukkan kepala pada wanita yang lebih tua dari mereka.


Meski AIra bukan orang Jepang asli, tapi dia hidup di sana selama hampir satu tahun jadi sudah terbawa budaya setempat.


"Lihat, dia tersenyum padaku. Pasti dia memuji ketampananku."


Aira dan Ken kembali beradu mulut sampai mereka duduk di depan Anita. Tampak seluruh makanan yang tersaji di atas meja.

__ADS_1


"Khumaira," panggil Anita sambil menggelengkan kepala, tidak ingin putri kesayangannya berdebat lebih lanjut dengan suaminya. Meskipun itu bukan hal yang serius, tapi tidak baik jika tidak dihentikan sekarang juga. Saatnya mereka makan, tidak boleh lagi bertengkar.


Anita tersenyum hangat, meminta Aira mengalah saja.


"Maaf, Bu. Memang aku yang sengaja menggodanya." Ken mengakui kalau dialah yang sejak awal sengaja membuat masalah dengan Aira.


Anita kembali tersenyum. Dia tahu itu. Aira bukan tipe wanita yang suka membuat berisik, justru sebaliknya. Dia itu cenderung pendiam jika bertemu orang-orang baru yang belum dikenalnya.


"Sudah, sudah. Ayo kita makan." Anita mengambil piring yang terbuat dari rotan, memberikannya pada Aira.


Ken mengendus aroma masakan yang menyapa indera penciumannya. Satu yang pasti, dia benar-benar lapar sekarang.


"Apa ini?" Ken menunjuk satu menu di hadapannya. Semacam sup dengan kuah bening tapi berisi berbagai potongan sayur mayur yang terlihat asing di matanya. Dia baru pertama kali melihatnya. Tampilan makanan ini berbeda jauh dengan hidangan di rumah makan padang waktu itu.


Aira mengambil napas dalam-dalam, siap menjelaskan beberapa hidangan yang sengaja dipesan oleh ibunya. Khususnya satu makanan yang berhasil menyita perhatian pria kelahiran Tokyo ini.


"Ini namanya sayur asam. Isinya ada labu siam, jagung, kacang panjang, nangka muda, melinjo, dan kacang tanah." Kalimat Aira terjeda, dia tahu Ken tidak akan memahami penjelasannya.


"Apa rasanya asam?" Ken menaikkan sebelah alisnya. Dari semua penjelasan Aira tadi, ia justru fokus pada nama masakan yang disandang oleh makanan ini.


Aira mengangguk. "Iya, benar. Sayur asam menggunakan asam jawa sebagai campurannya untuk memperkuat kuahnya."


Ken mengangguk-anggukkan kepalanya beberapa kali. Dia pura-pura paham dengan penjelasan Aira, padahal tidak sama sekali. Dia bisa mengingat apa saja tentang jenis senjata atau kaliber berapa pelurunya, tapi soal masakan Indonesia, pria tampan ini angkat tangan.


"Selain makanan ini... " Ken menunjuk semua hidangan yang ada di meja. "Apa masih ada menu pilihan lainnya?"


Kini kening Aira yang berkerut. Dia tidak tahu kenapa Ken bertanya makanan yang lainnya.


"Kenapa? Kamu tidak suka?" tanya wanita berjilbab segi empat ini pada suaminya.


Ken buru-buru menggelengkan kepala. "Bukan begitu. Apa sama seperti rumah makan yang waktu itu kita kunjungi?"


Aira berpikir sejenak, mengingat puluhan piring yang tersaji di atas meja, membuat Kosuke, Minami, dan tentu saja Ken, heran saking banyaknya makanan.


"Mau tahu menu apa saja yang ada di rumah makan Sunda?"


Ken mengangguk seperti anak kecil.


"Dengar ini. Aku hanya mengatakannya satu kali ya. Ada begitu banyak menu makanan di tempat ini, antara lain... " Aira mengambil napas dalam-dalam sebelum melontarkan kata-kata lanjutan dari mulutnya.


"Nasi timbel, nasi liwet, nasi tutug oncom, karedok, lotek, sayur asem, tumis genjer oncom, pepes, bakakak hayam, empal gepuk daging sapi, soto Bandung, soto mie, mie kocok, sate Maranggi, empal gentong, laksa Bogor, doclang, kupat tahu, asinan Bogor, baso tahu, batagor, geco, surabi." Jeda sejenak.


Mulut Ken terbuka, namun tidak bersuara. Dia heran dari mana istrinya ini memiliki kekuatan menghafal berbagai menu yang ada di rumah makan ini? Apa semua yang Aira sebutkan tadi memang benar ada dan dijual di sini?


"Khumaira, kamu membuat suamimu terheran-heran." Anita tersenyum, menutup mulutnya dengan tangan.


"Biarkan saja." Aira menyajikan satu piring nasi liwet untuk Ken. "Coba ini. Kamu pasti suka."


"Pakai tangan?" Ken melihat tidak ada sendok atau sumpit seperti yang biasa ada di rumah makan Jepang. Dia menatap istri dan ibu mertuanya bergantian. Dua wanita itu mengangguk, menunjukkan bahwa dia memang harus segera mencobanya.


"Makanlah." Aira menyuapi Ken karena melihat pria ini ragu dengan apa yang harus ia lakukan dengan tangannya.


Di Jepang atau negara-negara lainnya, makan dengan tangan justru dianggap tidak sopan. Berbanding terbalik dengan budaya lokal Indonesia yang seringkali menunjukkan bahwa makan menggunakan jemari kita sendiri justru dianggap lebih 'membumi'.


Bahkan ada penelitian yang menunjukkan bahwa makan menggunakan tangan lebih sehat bagi tubuh. Hal itu dikarenakan makanan yang masuk ke dalam saluran pencernaan mudah hancur dan nantinya zat gizi yang ada semakin mudah untuk diurai.


Detik ketika makanan kaya rempah itu menyambangi lidahnya, Ken langsung suka. Tanpa ragu, seperti anak kecil, pria itu menghabiskan santap siang yang ada hanya dalam hitungan detik. Dia beralih pada sayur asam yang tadi ditanyakannya.


Aira dan Anita tak berkomentar sama sekali. Bukan hanya Ken yang akan menunjukkan sikap seperti itu, bahkan hampir semua orang asing yang mencicipi makanan khas Indonesia, pasti akan langsung menyukainya.


Ketiga orang beda usia itu menghabiskan semua makanan yang ada hanya dalam waktu 30 menit. Tepatnya, Ken yang menghabiskan separuh dari hidangan yang ada.


Puk puk


"Sudah kenyang, heih?" Aira menepuk-nepuk perut Ken saat pria itu merebahkan badan ke belakang.


"Aku kekenyangan," jawab pria itu sambil memejamkan matanya. Semilir angin membuat kantuk terasa di pelupuk matanya.


"Ibu akan membayar makanannya dulu. Kalian tunggu di sini sebentar."


Ken membuka matanya. "Sedikit lama juga tidak masalah, Bu."


Bugh bugh


Aira memukuli lengan suaminya. "Anak-anak sudah menunggu di rumah!"


Ken terkekeh, sementara Anita tersenyum simpul. Dia meninggalkan dua muda mudi ini untuk  membayar tagihan makanan di bagian kasir. Dimana-mana seorang ibu sama, memikirkan anak-anaknya saat berjauhan, berharap segera kembali dan menemui mereka.


"Aku bisa gemuk jika makan makanan enak seperti ini setiap hari," cetus Ken sambil menarik Aira, membuat wanita itu berbaring di sebelahnya. Lengan bagian atasnya ia gunakan sebagai bantal untuk kepala istrinya.

__ADS_1


Aira tersenyum mendengar pernyataan pria ini. "Baguslah."


"Eh? Apanya yang bagus?" Ken mengerutkan kening. Jika ia gemuk, tubuhnya tak lagi berbentuk, bagaimana bisa dikatakan bagus?


"Bagus kalau tubuhmu tidak lagi menarik, jadi tidak akan ada lagi wanita yang mau menikah denganmu. Jangankan menikahimu, melihatmu saja enggan. Aku akan memasak makanan seperti ini setiap hari untukmu."


"Sigh!" Ken menunjukkan senyum miringnya, tidak menyangka pemikiran Aira bisa se-abstrak itu.


"Mana ada istri yang senang jika suaminya berubah jadi gemuk? Bukankah itu akan memberatkanmu jika kita ada di posisi missionaris?" bisik Ken di telinga Aira, membuat wanita itu terpana.


"Dasar mesum. Kenapa otakmu tidak pernah jauh dari pikiran itu, huh?!" Aira segera menjauh dari suaminya. Dia kesal karena lagi-lagi Ken mengungkit masalah yang cukup sensitif itu. Tubuhnya terduduk kaku membelakangi Ken, enggan menatap wajah tampan prianya yang selalu saja ingin mereka bersama di atas ranjang.


"Hey, kenapa harus marah? Aku mengatakan yang sebenarnya." Ken meraih ujung jilbab Aira dan memainkannya seperti anak kecil. "Bukankah kamu sudah berjanji mengizinkanku membuat adik untuk Aya?"


"Buat adik apanya? Buat saja sendiri! Aku tidak jadi menginginkannya. Aku tarik lagi kata-kataku!" ketus wanita yang kini beranjak bangun dari duduknya, membuat Ken ikut duduk.


"Hey, Sweety..."


Aira tidak menggubris panggilan Ken. Dia meraih tasnya dan segera pergi dari ruangan ini, bersiap menyusul ibunya di depan sana.


"Sayang, tunggu aku..." Ken beranjak, mau tak mau membuat perutnya yang terasa penuh harus bergerak. "Ugh, perutku," keluh Ken karena merasa tidak leluasa bergerak.


Hanya dalam hitungan menit, Ken, Aira, dan Anita sudah ada di dalam mobil. Lagi-lagi Aira memilih duduk di belakang bersama Sang Ibu, membuat Ken hanya seorang diri di kursi depan.


"Rasanya seperti menjadi supir pribadi nona dan nyonya," celoteh Ken saat kakinya mulai menginjak pedal gas yang ada. Dia membawa laju kendaraan ini ke arah utara, menyusuri jalanan yang terlihat sedikit ramai oleh kendaraan pribadi.


"Memang aku ini seorang nona. Kosuke dan Minami selalu memanggilku seperti itu." Aira mengulurkan lidah saat melihat Ken menatapnya dari kaca spion. Hal itu membuat Anita tersenyum. Anak dan menantunya ini seperti anak kecil saja, bertengkar sepanjang waktu.


"Ah, bagaimana keadaan Minami? Dia sudah melahirkan?" tanya Anita penuh perhatian. Dia ingat asisten pribadi yang dulu menjemputnya itu tengah hamil saat terakhir kali ia datang ke Jepang.


"Belum, Bu. Baru 26 minggu. Masih lama."


Anita mengangguk dua kali, paham dengan jawaban dari putrinya yang kini tengah meneguk air mineral dari botol.


"Bagaimana denganmu? Berminat menambah momongan lagi?"


"Uhukk uhukk!" Aira terbatuk-batuk mendengar pertanyaan dari ibunya. Bayi mereka masih berusia tiga bulan. Itu terlalu merepotkan.


Ken terkekeh melihat keterkejutan Aira akan pertanyaan ibunya. Sebenarnya, dia yang mengatakan pada Anita bahwa mereka ingin Aira hamil lagi, membuat adik untuk Ayame agar tidak kesepian bermain nantinya.


"Apa yang ibu bicarakan?" tanya Aira kesal. "Apa dia mengatakan sesuatu pada ibu?"


Anita hanya mengangkat kedua bahunya, menandakan bahwa dia tidak tahu apa yang Aira bicarakan.


"Sayang, bukan hal yang tabu bagi pasangan muda seperti kalian untuk memiliki buah hati lagi. Justru itu lebih baik jika kalian memiliki anak sekarang."


"Maksud ibu?" Aira memperhatiakan wajah Anita, tidak peduli pada Ken yang terus mengamati mereka dari kaca spion di depannya.


"Begini," tukas wanita paruh baya ini, meraih punggung tangan anaknya. "Ada baiknya jika kamu mengandung lagi sekarang ini. Nantinya, anak-anak tidak akan kesepian. Terlebih lagi Akari dan Azami laki-laki, mereka akan asik bermain sendiri. Ayame tidak memiliki teman berbagi. Jika seperti itu, lebih baik kamu membuat planning untuk membuat anak perempuan."


"Eh?" Aira membulatkan matanya. "Mem-membuat planning untuk membuat anak perempuan? Maksud ibu..." Aira tidak bisa melanjutkan kata-katanya.


"Kalian perlu konsultasi ke dokter. Mereka mungkin tahu tips agar memiliki anak perempuan. Tentu saja itu kehendak Tuhan, tapi manusia juga bisa mengusahakannya."


Ken dan Aira bungkam. Mereka siap mendengar penuturan wanita ini.


"Jika dalam tiga atau empat tahun ini kalian sudah memiliki anak banyak, memang itu merepotkan. Tapi, ketika mereka tumbuh besar nanti, kedekatan diantara mereka semakin erat karena memiliki pemikiran yang sepadan. Akan beda jadinya jika anak pertama dan anak kedua berbeda usia lima tahun. Pola asuh dan cara berpikirnya pasti beda jauh."


"Tapi anak pertama kami sudah ada tiga, Bu." Aira mengucapkan keluh kesahnya dengan bibir mengerucut. Dia sebal karena ibunya mendukung pemikiran Ken agar Aira hamil lagi.


Anita tersenyum. "Tidak masalah. Ibu bisa membantumu mengurus mereka jika kamu benar-benar hamil nanti."


"Siapa yang mau hamil?! Aku tidak mau!!" ketus Aira, membelakangi ibunya. Netra bulatnya memandang sekeliling, tidak ingin menatap wanita yang telah melahirkannya.


Sementara itu, Anita dan Ken saling melempar senyum.


"Terima kasih nasihatnya, Bu."


"Nasihat apanya? Kamu pasti sengaja meminta ibu agar membujukku untuk mau hamil lagi. Dasar maniak!"


Lagi-lagi Anita hanya tersenyum, melihat dua orang yang bersamanya ini kembali berdebat. Memang masa muda itu selalu indah, terlebih lagi jika sudah menemukan cinta sejati seperti Ken dan Aira ini.


* * *


Uwuuuu ayang Ken sama mamak Aira ini loh selalu sweet sweet, jadi bikin Author iri tau, huuhuuhuuuuu.... Hiks hiks.


Dahlah halu uwu-uwunya. Ngebul nih otak kalo bikin adegan kek gini. Maklum kan masih single dari lahir *ehh, curhat. Hihihihiiii.


See you next episode. Jangan lupa berikan jempol kalian yaa biar Author makin semangat. See you.

__ADS_1


Hanazawa Easzy.


__ADS_2