
Ken keluar dari kamar mandi hanya mengenakan bathrobe, membuat dadanya sedikit terlihat. Ia menghampiri istrinya yang sedang mematut diri di depan cermin.
"Wangi sekali," puji Ken sambil mencium rambut istrinya yang beraroma citrus. Ia bahkan menyempatkan diri mengecup sekilas pipi chubby di depannya.
"Diam! Aku marah padamu!" ketus Aira sambil memalingkan wajah. Tangannya sibuk menggerak-gerakkan pengering rambut ke kanan dan kiri bergantian. Ia mempoutkan bibir, merasa kesal pada suaminya.
"Marah? Kamu bisa marah sepuasmu! Aku tidak akan melarangnya," jawab Ken yang kini berdiri menjulang di belakang istrinya. Ia justru tersenyum lebar menatap pantulan tubuhnya sendiri di depan cermin. Ia merasa menjadi manusia paling bahagia di dunia ini. Hatinya senang karena keinginannya terpenuhi.
"Kamu sengaja melakukannya 'kan agar aku kelelahan dan tidak ikut ke kantor?" tanya Aira dengan nada sengit.
Lagi-lagi Ken hanya tersenyum menanggapi omelan istrinya. Bahkan wanita ini lebih berisik sebelumnya. Ia mengucapkan ribuan kata hanya dalam waktu beberapa menit. Ken hanya mendengarkannya, tanpa berniat menjawabnya. Jika ia menjawab satu kata saja, maka bisa terjadi perang dunia ke tiga.
Brukk
"Kamu pikir kontraksi palsu itu enak? Coba kamu yang merasakan seluruh otot rahim mengencang dan perut terasa keras seperti batu saat disentuh. Sanggup?" tanya Aira dengan mata berkaca-kaca, membuat senyum Ken menghilang seketika. Wanita itu bahkan meletakkan hairdryer di atas meja dengan cukup keras.
*Kontraksi palsu atau Braxton Hicks adalah kontraksi rahim sporadis yang umumnya terjadi pada trimester kedua atau ketiga. Hal itu disebabkan karena pergerakan bayi yang terlalu aktif, melakukan olahraga berlebihan, mengangkat beban berat, dehidrasi, dan ada yang disebabkan karena hubungan biologis. Memang kontraksi palsu tidak sakit dan juga tidak berbahaya, tapi sebagian ibu hamil cukup khawatir dengan kondisi ini, sehingga merasa tidak nyaman.
"Gomenasai, Ai-chan," ucap Ken seraya memeluk istrinya dari belakang, membuat handuk di kepalanya jatuh ke pangkuan Aira.
(Maafkan aku, Ai-chan)
"Maaf maaf maaf!! Hanya itu yang bisa kamu ucapkan? Nanti malam kamu tidur di luar!" titah Aira yang langsung membuat wajah Ken pucat pasi.
"Ayolah, Sayang. Aku tidak akan melakukannya lagi, tapi tolong jangan memisahkan aku dari anak-anak." Ken membujuk Aira dengan menggunakan anak-anak sebagai alasan.
"Bukankah dokter Maeda mengatakan saat ini adalah puncak kamu ingin dimanja oleh suamimu? Aku hanya memenuhi keinginanmu itu," Ken berdalih untuk membenarkan perbuatannya yang sudah mengambil haknya sebagai seorang suami pagi ini, "Lagi pula, kamu juga tidak menolaknya. Jadi, ku pikir kamu tidak keberatan."
Tangan kanan Ken mengelus perut istrinya perlahan, masih dengan posisi badan membungkuk di belakang Aira. Satu tangannya memeluk bahu istrinya dengan erat, dan sesekali menepuknya pelan.
"Aku akan pulang ke rumah kakek jika kamu melewati batasanmu lagi! Tahu tidak, perbuatanmu itu yang memicu kontraksi palsu?" ketus wanita hamil itu lagi.
Aira menatap suaminya dengan pandangan sebal. Ia belum sepenuhnya memaafkan pria yang membuatnya harus mandi dua kali pagi ini. Sebagai seorang muslimah, tentu ia harus mandi wajib setelah menunaikan tugasnya sebagai seorang istri.
Belum lagi kontraksi palsu yang terjadi, ia harus mengatasinya dengan berendam air hangat selama 30 menit. Itu sungguh menyita waktunya di dapur. Biasanya sekarang Aira dan Ken sudah bisa duduk manis di meja makan dan menikmati sarapannya. Tapi hari ini, ia bahkan masih harus mengeringkan rambutnya yang basah.
"Iya. Aku tahu. Maafkan aku," ucap Ken sungguh-sungguh. Ia meraih benda bulat yang terhubung dengan saluran listrik dan membantu istrinya mengeringkan rambut.
"Hari ini tidak perlu ke kantor. Pergilah ke tempat spa, lakukan pijat di sana untuk membuat tubuhmu relaks. Aku sudah minta Minami untuk mengurusnya."
"Aku akan tetap pergi!" ketus Aira membuat Ken tersenyum.
"Pergilah, tapi jangan mencariku di sana. Hari ini aku tidak akan pergi ke kantor, banyak pertemuan di luar, termasuk mengurus bangunan baru itu lagi. Besok adalah peresmiannya dan kamu tidak diizinkan pergi ke sana. Sama sekali tidak boleh! Jangan membantah!" tegas Ken.
Aira terdiam. Ia menatap wajah suaminya yang seolah menyembunyikan sesuatu darinya. Ada gurat kekhawatiran yang tergambar di sana. Mungkinkah ada bahaya yang mengancam di tempat itu?
Aira menangkap tangan suaminya yang tengah menyiangi rambut panjangnya, "Apapun yang terjadi, kamu harus jaga dirimu baik-baik! Aku tidak akan memaafkanmu jika kamu sampai terluka!" ucap Aira, meremas tangan suaminya erat-erat.
"Umm. Aku pasti akan pulang. Tenang saja. G tidak akan bisa menjatuhkanku dengan mudah." Ken mencium kening Aira yang kini menengadahkan kepalanya demi menatap wajah suaminya.
"Ah omong-omong, bukankah kamu membawanya pulang semalam? Apa dia masih di luar?" tanya Aira saat tiba-tiba mengingat tamu tak diundang yang semalam mereka tinggalkan tertidur di kursi sofa.
__ADS_1
"Aku melupakannya." Ken segera melangkah menuju lemari, guna memilih pakaian yang akan ia kenakan. Ia harus mengurus pria mabuk itu sebelum Aira memarahinya.
"Aku akan memeriksanya," ucap Aira sembari menyematkan sebuah jarum di bawah dagunya, membuat jilbab pashmina hitam itu menutupi kepalanya dengan sempurna.
"Hati-hati. Sembunyikan dirimu dengan baik!" Ken kembali menekankan peringatan itu. Aira tersenyum dan menganggukkan kepalanya dua kali.
Sementara itu, di luar kamar Ken-Aira
Sinar mentari menembus jendela kaca, membuat ruangan ini semakin terasa hangat. Seorang pria tampak mengerjapkan matanya beberapa kali. Ia menatap langit-langit yang berwarna hitam dengan ornamen bintang-bintang.
Aneh. Itu satu kata yang terbersit di dalam hatinya. Ini sama sekali bukan di rumahnya. Jelas-jelas dekorasinya berbeda, juga aroma pengharum ruangannya, bukan seleranya sama sekali.
'Dimana ini?' batin G bertanya-tanya. Ia tidak ingat pernah merubah dekorasi rumahnya. Aroma lavender turut menyapa indera penciumannya, membuat Ji Yong terpaksa menatap sekeliling. Matanya menelisik dengan jeli segala yang ada di sekelilingnya. Tempat ini begitu asing untuknya.
Krekk
Pintu putih terbuka, membawa Aira keluar menuju ruang tengah yang cukup luas ini. Tatap matanya tertuju pada pria berpakaian hijau toska yang tampak kebingungan.
"Sudah bangun, tuan G?" tanya Aira sembari berjalan menuju ke dapur. Ia melihat tamunya memulai bergerak perlahan. Duduk dan menatap sekeliling seperti orang linglung.
'Suara ini ... ' batin G menerka-nerka. Ia menoleh ke arah kanan dari tepatnya berada. Seorang wanita yang memakai tutup kepala hitam terlihat sibuk membasuh tangannya di wastafel. Jangan lupakan perut buncitnya yang menonjol, menandakan bahwa ia sedang hamil. G merasa seperti pernah melihat wanita ini sebelumnya.
"Kamu?" G ragu, sepertinya wanita ini istri Yamazaki Kenzo yang pernah ia lihat tempo hari. Meski tidak tahu namanya dan tidak lagi mengingat wajahnya, tapi ia ingat nyonya Yamazaki juga memakai penutup kepala yang sama seperti wanita ini.
G mencoba membuka memorinya semalam. Bagaimana caranya ia bisa sampai ke tempat ini? Jika benar wanita yang tengah tersenyum padanya adalah istri Yamazaki Kenzo, artinya dia sekarang berada di kediaman pria itu? Musuh bebuyutannya? Pria yang sangat ingin ia hancurkan.
"Kamu mabuk semalam. Ken membawamu pulang karena angin di atap cukup kencang."
Aira berjalan mendekat dan menyajikan secangkir teh hijau yang baru saja dibuatnya. Ia bahkan mengulurkan sebotol kecil minyak aromaterapi yang bisa membuat tamunya menjadi lebih segar.
*umeboshi : semacam manisan dari buah kesemek atau plum sebagai penghilang pengar/mabuk.
G menerimanya dan segera mengoleskan minyak itu ke leher dan pelipisnya. Ia masih tidak yakin jika wanita yang duduk di dekatnya ini berstatus sebagai nyonya Yamazaki. Meskipun tidak mengenal Ken dengan baik, tapi ia sekilas mendengar tentang sepak terjang pria itu yang begitu buas menghadapi lawan bisnisnya.
Aira bangun dari duduknya dengan sedikit kesulitan. Ia bahkan harus membungkukkan badannya dan menggunakan tangannya sebagai tumpuan di meja sebelum benar-benar berdiri tegap. Hal itu tak lepas dari pandangan G yang tiba-tiba mengingat ibunya. Ia merindukan sosok wanita yang menjadi cinta pertamanya.
Melihat Aira yang tengah hamil, ia semakin terbawa perasaan karena membayangkan ibunya dulu mungkin juga mengalami kesulitan yang sama. Pria itu menundukkan kepalanya, mengingat masa kecilnya yang bahagia sebelum kedatangan nyonya Hanako yang mengusik keluarga bahagia mereka. Ia menangkup wajahnya dengan kedua tangan, menahan luapan perasaan sedih yang tiba-tiba menyerangnya.
"Anda bisa memakai ini, kamar mandi ada di sebelah dapur." Aira menyerahkan setelan jas milik suaminya yang masih baru. Ia baru saja mengambilnya dari ruang penyimpanan.
G terdiam menatap wanita hamil yang berdiri di depannya. Wajahnya yang biasanya datar dan dingin, sekarang terlihat seolah sedang mengiba. Wajah Aira perlahan berubah menjadi ibunya, efek halusinasi yang ditimbulkan karena konsumsi alkohol semalam yang belum sepenuhnya menghilang.
"Tuan G, apa Anda mendengarku?" tanya Aira setelah beberapa detik berlalu tapi pria di depannya tampak aneh. Ia berdiri dan berusaha meraih wajah Aira.
"Ibu," lirih G.
Ken berdiri di depan Aira, menyembunyikan istrinya dari pandangan rekan bisnisnya ini. Hal itu otomatis membuat G tersadar dengan situasi yang sebenarnya. Ia kembali duduk dan meraup wajahnya dengan kasar.
"Sumimasen," ucapnya frustasi.
*sumimasen adalah padanan kata gomen yang artinya maaf. Hanya saja, sumimasen sering digunakan sebagai permintaan maaf dalam bentuk formal atau diucapkan pada orang yang lebih tua sebagai bentuk penghormatan.
__ADS_1
"Tidak ada waktu lagi. Istriku berbaik hati dengan memberikan satu set pakaian milikku untukmu. Jangan mengecewakannya!" cetus Ken
BRUKK
Ken melempar pakaian yang sedari tadi ada di tangan istrinya ke samping badan G.
"Tuan G, Anda bisa bersiap dengan membersihkan badan sekarang. Setelahnya kita bisa makan bersama."
"Ai-chan!!" protes Ken pada istrinya. Sejujurnya ia ingin mengusir G dari rumah mereka sekarang juga, tapi nampaknya Aira peduli padanya. Wanitanya ini sungguh terlalu baik pada semua orang, tidak peduli bahwa pria itu mungkin akan membahayakan nyawanya.
"Sstt!" Aira menarik lengan Ken, meminta suaminya itu untuk diam.
"Silakan, Tuan G." Ucap Aira sembari mengisyaratkan dengan tangan, dimana letak kamar mandi luar di rumah ini.
G berjalan tanpa ekspresi, melewati sepasang sejoli yang kini berada di balik meja dapur. Ken tampak sibuk dengan peralatan masak di depannya, sedangkan Aira menyiapkan piring di meja makan.
"Kenapa kamu begitu baik padanya?" tanya Ken setelah G masuk ke kamar mandi belakang.
"Karena aku seorang ibu," jawab Aira sembari berjalan mendekati suaminya, "Kamu dengar sendiri dia memanggil ibunya semalam 'kan? Bahkan, ia seperti kehilangan semangat hidupnya saat memanggilku dengan panggilan ibu barusan. Sepertinya dia merindukan ibunya. Jangan katakan bahwa kamu cemburu lagi," goda wanita hamil itu pada suaminya.
"Mana mungkin!" jawab Ken dengan nada ketus.
"Baiklah. Kalau begitu selesaikan tugas masakmu sebelum tamu kita selesai membersihkan diri." Tantang Aira pada Ken.
"Jika aku bisa menyelesaikannya sebelum dia keluar, apa imbalannya?"
Cup
Aira berinisiatif mencium pipi suaminya. Ia bahkan sampai sedikit berjinjit agar bisa mendaratkan bibirnya di wajah putih Ken, "Itu bayaranmu,"
Tak lama kemudian, G keluar dengan setelan hitam yang tampak pas di badannya. Ya, secara umum, ukuran pakaian Ken dan G hampir sama. Yang berbeda hanya tinggi badan keduanya.
Ken, Aira, dan G sarapan bersama. Meskipun sempat menolak, nyatanya G makan dengan lahap spaghetti yang Ken siapkan. Hanya menu itu yang bisa tersaji mengingat singkatnya waktu yang mereka miliki sebelum berangkat bekerja.
G bahkan sampai menurunkan sedikit egonya demi berterima kasih dan meminta maaf pada Aira karena sudah merepotkan. Ia berjanji suatu saat nanti akan membalas kebaikan calon ibu ini. Aira tersenyum menatap pria yang kini menundukkan badan di depannya sebelum pergi.
"Aku pergi. Jaga mereka baik-baik," pesan Ken pada Aira. Ia mencium kening istrinya dan mengelus ketiga jagoan yang sekarang masih terlelap di dalam sana
"Umm," jawab Aira patuh.
"Ayah pergi. Jangan nakal di dalam sana, apalagi sampai membuat ibu kalian marah. Dia akan berubah menjadi monster menyeramkan saat sedang marah," bisik Ken di depan perut istrinya.
"Aku mendengarnya." Aira menyela pembicaraan ayah dan anak itu.
Lagi-lagi Ken mencium kening istrinya sebelum benar-benar pergi dari kediamannya ini.
"Minami, jangan lepaskan pandanganmu sedetik pun dari istriku!" titah Ken tanpa tapi saat keduanya berpapasan di depan pintu.
"Baik. Saya mengerti, Tuan." Minami menjawab sambil menundukkan badannya sembilan puluh derajat. Siap mematuhi perintah tuannya.
...****************...
__ADS_1
Selamat membaca. Maaf jika masih ada kesalahan. See you later,
Hanazawa Easzy 🤗