
Ken memanggil Yu ke ruangannya dan memberikan tugas yang begitu penting. Ia meminta tim IT Miracle membuat sebuah aplikasi belanja online yang akan mendukung rencana pemasaran mereka yang ingin menguasai pasar kosmetik di negara-negara ASEAN seperti Indonesia, Malaysia, Singapura, hingga Thailand dan Vietnam.
Meski tidak suka dengan cara Ken memerintahnya, Yu dan rekan-rekannya di departemen IT hanya bisa menuruti keinginan atasan mereka. Semua ini pastilah demi kebaikan bersama. Saat Miracle bangkit dan mendapat keuntungan yang diharapkan, bahkan sampai bisa merajai pasar, maka itu berarti keberlangsungan hidup mereka akan terjamin beberapa waktu ke depan. Dan pastinya akan ada bonus besar untuk orang-orang ini.
Di antara semua divisi yang ada, bagian IT yang paling banyak mendapatkan bonus. Bahkan beberapa karyawan dari divisi lain secara terang-terangan membandingkan bonus yang mereka terima dengan departemen satu ini. Mereka merasa bahwa orang-orang yang selalu duduk di depan komputer itu adalah yang paling beruntung. Mereka dengan leluasa 'bermain-main' saja menggunakan PC, tablet, bahkan ponsel saat bekerja. Tentu saja berbanding terbalik dengan karyawan lain yang diperbolehkan menggunakan PC sekadarnya saja.
Padahal jika ditilik lebih dalam, orang-orang di divisi inilah yang paling rentan stress. Setiap harinya, mereka berkutat dengan berbagai kode pemrograman yang membuat kepala berputar-putar. Belum lagi saat sistem error, maka semua orang menyalahkan bagian IT yang dianggap tidak becus bekerja. Namun, saat sistem jaringan berjalan lancar tanpa masalah, tak satupun dari mereka yang mengapresiasi kinerja departemen IT ini.
Orang-orang awam tidak pernah tahu betapa sulitnya menjadi seorang programer dimana mereka harus mempelajari ilmu yang bersifat teknik seperti troubleshooting, aplikasi komputer, database, desain grafis, bahkan sampai harus menghafal bahasa pemrograman yang terdiri atas kombinasi simbol dan huruf yang tidak biasa.
Selain itu, demi menempuh pendidikan IT mengharuskan mereka mengeluarkan biaya yang tidak sedikit. Berbeda dengan kursus atau pelatihan di bidang lain yang mungkin harganya lebih terjangkau. Namun seringkali orang-orang memandang sebelah mata skill yang tak berwujud ini. Mereka menganggap para ahli IT selalu santai dan tak pernah mendapat tekanan.
Padahal yang terjadi justru sebaliknya. Orang-orang ini seringkali mendapat musuh yang tak bisa dilihat, tak berwarna, tak berbentuk, dan tentu saja tak ada yang tahu bagaimana cara mereka masuk ke dalam jaringan dan memporakporandakan sistem yang ada seperti yang terjadi beberapa bulan yang lalu.
Saat itu, Yu berkerja untuk Circle K yang dipimpin tuan G. Gadis itu menanamkan virus trojan ke dalam sistem jaringan Miracle dan membuat staf khusus yang Ken percayai ini harus bekerja 24 jam non stop. Mereka berusaha menghentikan penyebaran malware yang seringkali dianggap sebagai virus ini. Dan akhirnya Aira sampai turun tangan demi membersihkan perusahaan suaminya dari kekacauan. Yu diam saja saat Aira bergerak. Ia justru merasa bangga pada sahabatnya satu ini.
Kini Yu menjadi bagian dari Miracle atas permintaan Aira. Dia bekerja sama dengan kelima rekannya di divisi IT untuk membuat aplikasi yang diinginkan oleh Ken. Mereka berusaha sekuat tenaga untuk memenuhi harapan atasan mereka yang memiliki sisi perfeksionis saat berurusan dengan pekerjaan. Pria itu tidak akan menolerir kesalahan yang sengaja dilakukan oleh para stafnya. Akan ada reward khusus saat mereka berhasil memenuhi ambisi Ken. Namun tentunya akan ada konsekuensi yang besar di saat yang bersamaan dimana mereka bisa saja kehilangan pekerjaan saat dirasa tidak lagi kompeten di bidangnya. Sungguh mengerikan bekerja di bawah penguasaan Yamazaki Kenzo ini.
"Nagahara-san, apa semua datanya sudah siap?" tanya Yu yang kini menghampiri seniornya ini. Dia adalah seorang pria dengan kacamata segi empat yang bertengger di atas hidungnya. Dia tampak sibuk berselancar di dunia maya. Selain sebagai database administrator, pria ini juga memegang peranan lain yakni sebagai programmer utama di Miracle. Setelah Yu bergabung, mereka bekerjasama untuk saling membantu satu sama lain.
"Ya. Aku sudah menggandakannya. Ini," ucapnya sambil memberikan satu flashdisk berisi data penting yang ia dapatkan dari staf divisi perencanaan.
"Megumi, bagaimana tugas yang aku berikan padamu?" tanya Yu pada seorang gadis yang seusia dengannya. Ia memegang peranan yang cukup penting yakni sebagai staf IT support. Ia bertanggung jawab dengan masalah software, networking, dan PC troubleshooting. Ia diharuskan untuk mengetahui dasar semua bidang serta divisi IT yang berkaitan dengan teknis perbaikan dan penanganan aplikasi yang sedang mereka ciptakan. Salah sedikit saja, maka aplikasi mereka ini tak akan bisa dipakai. Jika itu terjadi, entah bagaimana nasib mereka nanti.
__ADS_1
"Proses scanning sudah berjalan 97%. Aku akan memberikan datanya padamu begitu prosesnya selesai." Gadis itu sibuk memeriksa sesuatu dari tablet miliknya. Dia mengawasi agar tidak ada virus ataupun malware yang akan mengganggu proyek dadakan mereka ini.
"Yuriko-san, tolong berikan ini pada tuan Watanabe. Minta dia mengecek sitem kerjanya secara keseluruhannya sebelum melaporkannya pada tuan Yamazaki!" Yu bergerak cepat memberikan dokumen di tangannya pada Yuriko. Gadis itu segera menyambangi ayahnya dan mengatakan beberapa hal seperti perintah Yu.
"Makoto, ada yang terlewat di bagian ini." Seorang pria bermarga Watanabe itu mendekat ke arah juniornya dan menunjukkan satu data yang berlum tercantum dalam laporan yang akan diperlihatkan pada Sang Wakil Direktur, Yamazaki Kenzo.
"Baik. Akan saya perbaiki." Pria bernama lengkap Makoto Nagahara itu segera mengedit beberapa baris awal dari bahasa pemrograman yang tertera di layar monitor miliknya.
"Janyan lupa untuk membuat back-up dari semua data base yang ada." Yu ikut bergabung dan kembali menyerahkan flashdisk yang ia terima beberapa menit yang lalu.
Keenam orang itu tampak begitu sibuk, membuat karyawan dari divisi lain menggelengkan kepala. Dilihat sekilas, mereka seperti sekumpulan bocah di taman kanak-kanak yang tengah berlarian kesana kemari. Padahal yang terjadi adalah mereka tengah berkejaran dengan waktu yang Ken targetkan. Hanya tersisa sepuluh menit saja dan masih banyak hal yang harus mereka pastikan.
"Apa mereka semua menggila lagi?" tanya seorang pria yang berasal dari divisi keamanan. Kebetulan dia baru saja kembali setelah menyampaikan laporan pada manager umum.
"Ada apa dengannya? Aku bahkan belum pernah melihat wajahnya." Pria berpakaian serba hitam itu tersenyum sarkas, merendahkan topik pembicaraan mereka ini.
"Wakil Direktur meminta staff IT menyiapkan aplikasi penjualan yang menyasar negara-negara berkembang di Asia Tenggara. Sungguh gila!" komentar seorang wanita dari divisi perencanaan yang juga berjalan bersama Si Pria dan Wanita yang tengah berbincang sebelumnya.
"Suge!" cetus pria yang mengawali pembicaraan tadi. "Mereka akan mendapat bonus yang besar nantinya!"
(Hebat!)
Dan perbincangan mereka harus terhenti saat berpisah di ujung koridor. Mereka menuju ruangan mereka masing-masing, meninggalkan kesibukan divisi IT di belakang sana.
__ADS_1
Mungkin masih banyak orang yang beranggapan bahwa mahasiswa lulusan teknik informatika akan sulit dalam hal karir. Padahal justru semakin hari semakin banyak perusahaan, lembaga atau badan lainnya yang sangat membutuhkan tenaga ahli di bidang IT. Jika saja mau berusaha sedikit lebih keras maka sebenarnya banyak sekali peluang yang dapat diperoleh. Seperti upah besar beserta bonus yang selalu Ken berikan pada staf khususnya ini.
Tepat pukul sembilan pagi, Ken bersama beberapa orang memasuki ruangan rapat. Mereka segera memulai pertemuan terbatas ini untuk membahas strategi penjualan terbaru seperti yang Aira sarankan semalam. Setiap divisi mengirimkan dua orang sebagai perwakilan. Dan dari divisi IT ada Yu dan Makoto Nagahara, mereka adalah otak utama diantara keenam staf khusus yang Ken percayai.
Kosuke membuka pertemuan dan menyampaikan gagasan yang ia baca dari dokumen di depannya. Setelahnya, ia mempersilakan Yu untuk menyampaikan laporannya.
Ken berusaha menyimak penjelasan karyawannya ini saat tiba-tiba pandangannya terasa buram. Ia merasakan keringat dingin mulai membasahi pelipisnya, padahal jelas-jelas air conditioner di ruangan ini berfungsi dengan baik.
"Tuan, Anda baik-baik saja?" bisik Kosuke yang merasa khawatir saat melihat wajah Ken memucat.
Ken tak menjawab. Ia hanya mengangguk sekali dan mengelap pelipisnya dengan tisu yang ada di depannya.
Ngiiing
Belum hilang keterkejutan Ken atas apa yang ia rasakan, tiba-tiba telinganya berdenging, membuat laporan yang Yu sampaikan tidak bisa ia tangkap seluruhnya. Saat itu juga ia merasakan jantungnya berdebar kencang dan napasnya mulai terasa berat.
'Ada apa ini?' gumam Ken dalam hati. Ia menatap telapak tangannya yang berkeringat.
...****************...
Hwaaa... Abangku sayang kenapa? 😢ðŸ˜ðŸ˜
Jangan lupa like, vote, comment n share yaa. See you next day,
__ADS_1
Hanazawa Easzy