Gangster Boy

Gangster Boy
Gangster Boy : Kencan Pertama


__ADS_3

Ken mengacak rambut Mone, membuat gadis itu tidak senang.


"Jangan menyentuhku!" geramnya tajam.


"Ugh, lucu sekali." Ken kembali mengacak rambut Mone.


"Singkirkan tanganmu! Kakak ipar menyebalkan!!"


BAMM


Mone membanting pintu di belakangnya, meninggalkan Ken dan Aira bersama ketiga anak-anaknya.


"Ada apa?" tanya Yamaken saat mendapati Mone tengah menuruni anak tangga yang menghubungkan rumah ini dengan halaman luas di depannya. Ia terhenti di anak tangga ke tiga dari atas, menyisakan dua anak tangga lagi sebelum sampai di lantai bawah. Ya, ada lima undakan kecil di sana.


*undakan: tingkatan


Langkah kaki Mone terhenti begitu saja. Ia menatap pria yang telah berhasil merebut perhatiannya sejak bertahun-tahun yang lalu. Seketika, kemarahannya pada Ken sirna, berganti dengan degup jantung yang tak teratur saat melihat Yamaken. Wajah nan tampan ini, pernah terlihat begitu menyedihkan seperti yang tampak pada foto yang kakak sepupunya tunjukkan sebelumnya.


"Mau kemana? Sebentar lagi gelap," ucap Yamaken sembari mendekat ke arah Mone. Ia menatap gadis yang masih membatu di tempatnya berdiri. "Hmm?"


Glek


Gadis 20 tahun itu terpaksa menelan salivanya dengan paksa. Ia tidak tahu apa yang harus ia katakan. Ia tidak punya tempat tujuan saat ini.


"Ayo." Yamaken menarik tangan Mone dengan paksa, membawanya masuk ke dalam mobil dan segera meninggalkan kediaman mewah ini.


Kendaraan warna hitam itu masuk ke tempat parkir sebuah pusat perbelanjaan. Yamaken mengajak Mone masuk ke dalam mall yang hanya berjarak beberapa kilometer dari kediaman Ken. Jadi tidak perlu waktu lama untuk kembali jika sewaktu-waktu kakak iparnya menyuruh mereka pulang.



Mone menurut saja saat Yamaken mengajaknya masuk ke sebuah toko dessert mewah. Mereka berdua langsung menuju bagian kiri tempat ini dimana terdapat berbagai varian rasa ice cream di sebuah tempat kaca yang berbentuk seperempat lingkaran.


"Kamu mau yang mana?" tanya Yamaken sembari menatap Mone yang masih saja terdiam, menatap es krim berbagai rasa di hadapannya. Setidaknya ada dua puluh wadah dengan warna berbeda, itu artinya sebanyak itu pula varian rasanya.


"Ada rasa coklat, greentea, melon, sorbet, karamel, vanila, anggur, redberry, blueberry, tiramisu, bubblegum, kopi, banana. Ah apalagi yaa, aku tidak hapal semuanya," ucap Yamaken sembari memegang tengkuknya sendiri, malu karena tidak bisa menjelaskan semua rasa es krim yang ada di sana.


Mone tampak berpikir sejenak. "Aku mau coklat dan vanilla."


Seorang pelayan menganggukkan kepala, mengiyakan makanan manis yang dipesan oleh pelanggan cantiknya kali ini. "Ada lagi?" tanyanya kemudian.


Mone menatap Yamaken, menunggu pesanan pria 28 tahun ini. Tidak mungkin hanya dia yang pesan 'kan?


"Aku pesan dua banana ice cream waffle. Tolong antarkan ke meja. Ini kartu milikku." Yamaken menyerahkan sebuah kartu berwarna hitam, sepertinya itu kartu member tempat ini karena tulisannya sama seperti yang ada di atas pintu tadi. Mone melihatnya sekilas saat mereka masuk.


"Baik. Silakan menunggu pesanan Anda." Pelayan berpakaian serba putih itu meminta dua pelanggannya untuk duduk.


"Ayo kesana." Yamaken kembali menggenggam tangan Mone, membawanya menuju sudut ruangan. Keduanya duduk di kursi yang ada si sana, menunggu pelayan mengantarkan pesanan mereka.


"Kamu suka ice cream?" tanya Yamaken pada gadis yang kini terhalang meja hitam di depannya.


"Hmm," gumam Mone sambil menganggukkan kepalanya. Ia masih irit bicara, membuat Yamaken semakin gemas padanya.


"Apa kamu sedang sakit tenggorokan?" tanya Yamaken lagi saat beberapa menit berlalu tapi Mone masih diam tak mengucapkan sepatah kata pun.


"Apa? Tidak," jawabnya singkat.


"Kenapa diam saja?"


Mone hanya menggeleng, menarik sudut bibirnya ke atas dengan paksa.

__ADS_1



Seorang pelayan mendekat, membawa pesanan Mone. Semangkuk es krim coklat dan vanila dengan hiasan buah ceri di atasnya. Sebatang coklat tipis berdiri di antara makanan manis itu, bersanding dengan waffle yang terasa chrunchy saat di gigit.


"Makanlah," pinta Yamaken sembari mengulurkan sendok yang diletakkan oleh pelayan itu sebelum pergi.


"Itadakimasu." Mone menangkupkan tangannya di depan dada sebelum memasukkan suapan pertamanya ke mulut.


(Selamat makan)


Yamaken tersenyum menatap gadis yang lebih muda delapan tahun darinya ini. Ia terlihat begitu menggemaskan, seperti anak kecil yang kesenangan saat memakan jajanan favoritnya.


"Kamu suka?" tanya Yamaken pada gadis pemilik hatinya ini.


"Umm. Ini makanan favoritku sejak kecil," jawab Mone cepat. Ia sangat menikmati makanan ini.


"Aku tahu. Makanya aku mengajakmu ke tempat ini. Es krim disini dibuat dari susu murni, jadi terjamin kualitas dan rasanya."


Mone mengangguk, meng-iya-kan perkataan putra kedua nyonya Sumari ini. Hanya dalam waktu beberapa menit, semangkuk es krim itu telah tandas, berpindah ke perut Mone. Tepat saat itu hidangan kedua datang.



Dua piring waffle mendarat di meja dengan selamat. Potongan pisang dan stroberi terlihat di salah satu piring, lengkap dengan saus coklat karamel yang menghiasinya. Sementara piring lain hanya nampak waffle, potongan stroberi dan krim putih di atasnya, tanpa karamel, tanpa pisang.


Mone mengerutkan keningnya. Ia heran dan bertanya-tanya dalam hati. Bagaimana mungkin ada dua hidangan yang berbeda? Jelas-jelas Yamaken tadi hanya memesan satu menu yakni banana ice cream waffle. Setahu Mone, itu adalah waffle dengan es krim rasa pisang.


"Kamu tidak suka rasa karamel 'kan? Kamu juga tidak suka pisang, jadi aku meminta mereka menyingkirkannya. Di dalam wafel milikmu, berisi es krim vanila, bukan banana," jelas Yamaken panjang lebar.


"Bagaimana kamu bisa tahu kesukaan dan ketidaksukaanku?" tanya Mone pada akhirnya.


"Rahasia!" Yamaken mengerlingkan sebelah matanya, membuat Mone cemberut detik itu juga. Mone menikmati wafel miliknya tanpa banyak bicara.


"Hmm. Kenapa?" tanya Mone ingin tahu.


"Ayo berkencan!" ajak Yamaken dengan raut mata berbinar, membuat wajah Mone memerah seketika.


"Boleh. Asalkan traktir aku es krim lagi lain kali," pinta gadis itu, menunjukkan gigi kelincinya pada Yamaken.


"Tidak masalah. Aku bahkan bisa membelikanmu es krim setiap hari. Tapi, kenapa kamu begitu menyukainya?"


Ting


Yamaken dan Mone sampai di lantai paling atas pusat perbelanjaan ini, bersiap keluar dari ruangan kotak yang membawa mereka dari lantai tiga. Keduanya berjalan menuju pintu yang menghubungkan ruangan ini dengan atap. Mereka akan menghabiskan waktu di tempat ini sampai beberapa jam ke depan, berbincang membahas entah hal apa saja nanti.


"Kamu belum menjawab pertanyaanku, kenapa kamu suka makanan manis itu?" tuntut Yamaken.


"Kenapa ya? Rasanya yang manis dan dingin, dengan tekstur yang lembut pastinya akan membuat setiap orang yang mencobanya ketagihan, 'kan? Selain itu, ada begitu banyak manfaatnya. Dan ternyata di balik kelezatannya tersebut, es krim juga menyimpan manfaat yang beragam salah satunya adalah melindungi gigi dan gusi," terang Mone.


"Benarkah? Aku baru mendengarnya." Yamaken tampak tidak begitu percaya dengan penjelasan singkat kekasihnya. Ia membantu wanitanya duduk di portal besi setinggi pinggang orang dewasa.


"Benar. Es krim yang terbuat dari susu tentunya mengandung banyak kalsium yang dapat membantu melindungi gigi dan gusi agar tetap kuat. Jadi, makan es krim akan membantu mencegah terjadinya pengeroposan pada gigi sekaligus menghindari dari ancaman munculnya gigi berlubang. Dengan catatan, es krim itu terbuat dari susu murni."


"Selain dapat melindungi gigi, es krim yang terbuat dari susu ternyata juga dapat memberikan asupan kalsium yang cukup besar bagi tubuh. Sehingga kebutuhan kalsium pada tulang dapat terpenuhi dan tulang tidak akan mudah rapuh dan keropos. Untuk itu, bagi orang-orang yang tidak menyukai susu, mengonsumsi es krim bisa menjadi salah satu solusi alternatif untuk memperkuat tulang."


"Kamu seperti praktisi kesehatan saja." Yamaken mencubit hidung Mone dengan gemas, mencibir kemampuan berbicara gadisnya ini.


"Aku 'kan memang perawat. Merawat orang-orang lanjut usia sepertimu!" Mone membalas perlakuan Yamaken dengan mencubit perut rata yang tertutup sweater hitam di depannya.


"Yamete!" Yamaken menangkap jemari Mone sambil meringis menahan cubitan yang mulai terasa nyeri.

__ADS_1


(Berhenti!)


"Kamu yang harus berhenti menggodaku!" ketus nona Kamishiraishi itu.


"Baiklah. Baiklah. Maafkan aku." Yamaken meminta ampun pada gadis di hadapannya.


Dua sejoli itu tertawa bersama, menikmati pemandangan langit berbintang di musim semi yang terasa hangat ini. Benih-benih cinta di hati keduanya juga tengah bersemi, bersiap mekar menjadi kebahagiaan mereka nantinya.


"Mone-chan," panggil Yamaken lirih, menatap mata gadisnya dalam-dalam.


"Hmm," jawabnya bergumam.


"Bolehkah aku menciummu?" tanya Yamaken to the point.


Blush


Pertanyaan frontal itu otomatis membuat tubuh Mone menegang, wajahnya merah padam karena malu. Belum lagi detak jantungnya yang kini berdegup kencang seperti genderang mau perang. Mulutnya terkunci rapat, tak bisa berucap sepatah kata pun. Lidahnya terlalu kelu untuk sedakar berucap iya atau tidak.


"Mone-chan," panggil Yamaken lagi, masih menunggu jawaban kekasihnya.


Mone mengangguk, mengiyakan permintaan calon suaminya ini. Sebenarnya ia juga belum siap melangkah ke jenjang yang lebih serius, tapi ia juga tidak bisa mengabaikan dorongan hatinya yang ingin lebih dekat dengan kekasihnya.


"Boleh?" tanya Yamaken mengonfirmasi.


Mone kembali mengangguk, membuat sebuah senyum terukir di wajah pria lesung pipi itu. Ia senang karena sekarang perasaannya sungguh sudah terbalaskan, Mone juga menyukainya.


Yamaken mendekatkan wajahnya pada Mone, membuat gadis itu kalang kabut. Ia meremas ujung bajunya dengan erat, mencari pelarian dari rasa gugup yang tengah menderanya.


Jarak keduanya hanya tersisa beberapa centimeter, membuat deru napas mereka terasa oleh satu sama lain.


Deg


Deg


Deg


Mone memejamkan matanya, bersiap menerima perlakuan dari Yamaken sembari menahan napasnya.


Ctakk


"Apa yang kamu pikirkan?" Bukannya mencium kekasihnya, Yamaken justru menjentikkan jarinya tepat di kening Mone, membuat gadis itu membulatkan mata seketika.


"KAMU?!" geram Mone, memelotot pada kekasihnya.


"Apa kamu begitu sangat ingin aku cium?" celoteh Yamaken sembari berlari meninggalkan Mone. Ia berhasil mengerjai gadisnya itu.


"YAMAZAKENN!!" Mone menghentak-hentakkan kakinya ke tanah, marah atas perlakuan pria 28 tahun itu. Ia marah sekaligus malu karena masuk ke jebakan yang pria itu siapkan untuknya.


"Ahahahahaa... " Yamaken tertawa-tawa sambil memegangi perutnya, merasa sangat puas pada respon gadisnya. Kencan pertamanya sukses seperti yang ia harapkan.


"Awas saja, aku pasti akan membalasmu!" sumpah Mone dengan menahan gondok di hatinya.


...****************...


Suka sama couple satu ini đŸ’•


With love,


Hanazawa Easzy

__ADS_1


__ADS_2