
Langit berwarna gelap seluruhnya, menandakan hari akan berganti dalam beberapa jam. Ratusan bintang gemintang tersebar di langit dunia, menunjukkan adidaya Tuhan Yang Maha Kuasa.
Sepasang suami istri tengah berdiam di kamar pribadi mereka. Hubungan keduanya sudah kembali membaik setelah sempat terasa sedikit canggung pagi tadi saat sarapan pagi bersama. Sang Istri sibuk melakukan perawatan dengan wajahnya, sementara Si Suami tengah berkutat dengan laptop di pangkuannya.
"Huh!" Ken mengembuskan napasnya dengan kasar. Ia kesal karena laporan di depannya tidak sesuai dengan harapannya. Tadinya ia berniat menghabiskan waktu akhir pekan ini bersama istri dan ketiga anak-anaknya, namun itu hanya menjadi angan-angan saja. Nyatanya, ada berbagai
"Ada apa?" tanya Aira sembari menatap pantulan wajah suaminya di dalam cermin.
"Penjualan kosmetik Miracle seperti jalan di tempat, tidak ada kemajuan signifikan. Sejak rumor produk palsu itu muncul, penjualan merosot tajam. Meski sekarang sudah lebih baik dari sebelumnya, tapi tetap belum bisa memenuhi target." Ken mengurut pelipisnya yang terasa pusing. Ia terpaksa menutup komputer jinjing di depannya dan kini menatap istrinya dari belakang.
"Sayang sekali, aku tidak bisa membantumu apa-apa karena aku tidak begitu tahu tentang bisnis." Aira kembali menyapu wajahnya dengan kapas yang sudah dibasahi toner. Ini ritual rutinnya setiap malam sebelum tidur.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Ken spontan. Seketika ia tertarik untuk berbincang dengan istrinya tentang kosmetik. Mungkin saja wanita itu bisa memberikan pandangan tak terduga sebagai pencerahan seperti yang sudah-sudah.
"Aku?" tanya Aira menunjuk hidungnya sendiri. Ia berbalik demi melihat ekpresi wajah suaminya.
"Umm." Ken menjawabnya sembari meletakkan laptop di pangkuannya ke atas ranjang. Ia mendekat ke arah Aira dan duduk di sampingnya, memperhatikan wanita itu dengan seksama.
"Aku sedang membersihkan wajahku sebelum tidur. Takutnya akan ada jerawat. Itu akan mengganggu pemandangan 'kan?" jawab wanita Indonesia itu, kembali berkutat dengan aktivitasnya.
Ken memperhatikan beberapa produk perawatan wajah yang istrinya gunakan. Kesemuanya produk asli Indonesia, bukan buatan Jepang, apalagi Miracle. Itu membuat keningnya berkerut cukup dalam. Selama ini ia tidak memperhatikan apa yang istrinya gunakan sehari-hari.
"Kamu memakai ini setiap hari?" tanya Ken sembari mengangkat satu botol segenggaman tangan yang berisi air bening. Di bungkusnya bertuliskan toner dengan gambar mentimun.
"Iya. Kenapa? Ada masalah?" tanya Aira, belum mengerti kenapa suaminya tiba-tiba bertanya tentang produk perawatan yang ia pakai.
"Kenapa kamu tidak memakai produk Miracle satu pun? Sebagai seorang istri wakil direktur, bagaimana bisa kamu tidak menggunakan produk suamimu sendiri?"
Aira tersenyum mendapat pertanyaan seperti itu. Sebenarnya ia sudah lama menantikan hal ini. Sejak ia menikah dengan Ken setahun yang lalu, dia memang tidak menggunakan satu pun produk Miracle. Tapi dasar lelaki, mereka tidak memperhatikan hal-hal kecil seperti ini.
"Kenapa aku harus memakainya? Apa keunggulannya?" pancing Aira, coba mengetes seberapa jauh pengetahuan Sang Suami tentang produk-produk di perusahaannya.
"Itu...." Ken tidak bisa menjawab pertanyaan Aira. "Ada begitu banyak produk Miracle, bagaimana mungkin aku bisa menghafal itu semua," kilahnya. Sebenarnya ia kesulitan mencari jawaban yang istrinya inginkan. Ia memang tidak begitu memperhatikan hal ini. Fokusnya tertuju pada sistem pemasaran dan monopoli perdagangan di lapangan. Tujuan utamanya adalah mencari keuntungan sebesar-besarnya, bukan tentang manfaat masing-masing produk. Itu urusan bagian produksi dan sales marketing.
__ADS_1
"Hey, lihatlah dirimu sendiri. Bagaimana bisa wa-kil di-rek-tur tidak mengetahui keunggulan produknya sendiri?" cibir Aira dengan menekankan setiap suku kata saat menyebut wakil direktur. Ia gemas pada suaminya yang seketika salah tingkah. Pria ini jelas-jelas kehilangan kata untuk membela dirinya sendiri. "Kamu ingin tahu jawaban kenapa aku memakai produk Indonesia?"
"Kenapa?" tanya Ken cepat. Ia penasaran apa yang akan istrinya ucapkan.
"Ugh, pundakku. Mengurus tiga orang bayi benar-benar melelahlan." Aira menggerak-gerakkan bahunya, memberi kode pada Ken bahwa ia ingin dipijat.
Kenzo, ayah tiga anak itu segera tahu apa yang istrinya inginkan. Dia berdiri di belakang Aira dan langsung memijat bahu istrinya sambil menatap pantulan wajahnya di dalam cermin.
"Sebelah sini," Aira menunjukkan bagian atas bahunya, mendekat ke arah leher. "Lebih keras lagi," sambungnya, sengaja mengetes kesabaran suaminya. Pagi ini Ken mengetesnya dengan makanan hambar, sekarang waktunya untuk Aira membalasnya.
Ken menggertakkan giginya, merasa kesal karena Aira sengaja melakukannya.
"Kesabaranku ada batasnya, Sayang," bisik Ken tepat di telinga Aira yang tak terhalang apapun. Ia bahkan sengaja menggigitnya, membuat wanita itu menggelinjang. Bulu romanya meremang mendapat perlakuan seduktif itu.
Aira berdiri dan segera menjauh dari Ken. Jantungnya berdegup kencang menatap wajah iblis yang kini tengah ditampilkan oleh suaminya. Dia lupa bahwa pria ini seperti seekor serigala, sangat sulit untuk menjinakkannya jika sudah terbawa emosi. Aira salah langkah kali ini.
"Jangan coba menguji kesabaranku, atau kamu akan tahu seperti apa rasanya harus bersabar semalaman!"
Deg!
"Baiklah. Ayo kita bicarakan hal yang lainnya." Aira menuntun suaminya untuk duduk. Ya, salah satu cara saat seseorang emosi atau marah maka mengajak mereka duduk, menurunkan tensi yang ada, mencoba berbicara dengan kepala dingin.
"Ada masalah apa?" tanya Aira pada Ken. Ia membimbing suaminya untuk berbaring, meletakkan kepala di pangkuannya.
"Target penjualan Miracle Indonesia untuk bulan ini belum tercapai. Aku berusaha mencari penyebabnya tapi tidak ada data yang meyakinkan, semua sebatas dugaan dari mereka. Besok akan ada pertemuan dengan dewan direksi lagi, itu membuatku sedikit pusing. Saat melihatmu memakai produk lain, aku jadi bertanya-tanya apa yang salah dengan Miracle."
Aira tersenyum. Ia menyadari ada permasalahan sepele namum cukup pelik yang tengah suaminya hadapi. Ini bukan masalah besar, tapi membuat pria ini mudah terpancing emosi.
"Tidak ada yang salah. Kamu juga tidak melakukan kesalahan apapun." Aira membelai surai hitam suaminya dengan lembut. Sebagai seorang istri, sudah seharusnya ia menjadi tempat suaminya mendapat kedamaian, fisik maupun mental. Itu harus.
"Hmm?" gumam Ken, menatap wajah istrinya dari bawah dengan kening berkerut. Ia menantikan kalimat demi kalimat yang akan ia dengar detik berikutnya.
"Aku akan menjawab pertanyaanmu yang sebelumnya. Kenapa aku memakai produk Indonesia, dan bukan produk skincare dari Miracle. Itu karena kulit wajahku berbeda dengan kalian yang terbiasa hidup di negeri empat musim ini sejak kecil." Aira mulai menjelaskan, tangannya masih sibuk memainkan anak rambut halus yang ada di kening suaminya.
__ADS_1
"Kulit wajah orang Jepang secara umum berbeda dari penduduk di Asia Tenggara sepertiku. Kalian memiliki wajah putih yang cenderung pucat, sedangkan aku? Kamu bisa lihat sendiri, kuning langsat agak kecoklatan. Itu hanya satu perbedaan mendasar, namun berpengaruh pada produk yang berbeda. Aku tidak cocok memakai produk yang didesain untuk wanita berkulit putih, begitu juga sebaliknya."
Ken memperhatikan penjelasan istrinya dengan seksama. Ada sudut pandang baru yang selama ini tidak ia perhatikan, yakni keadaan konsumen yang memakai produk-produk kecantikan keluaran perusahaannya.
"Ini masih ada hubungannya kenapa produk Miracle mengalami penurunan angka penjualan. Ada banyak penyebabnya, karena selama ini perusahaanmu baik-baik saja saat masih bekerjasama dengan brand lokal kan?"
Ken mengangguk. Ia mengiyakan pendapat istrinya. Selama ini, Miracle Indonesia memang menciptakan produknya dengan berkolaborasi dengan brand loka. Namun, saat brand lokal itu memiliki nama sendiri, banyak orang yang mulai beralih dan meninggalkan Miracle.
"Kamu tahu dengan jelas perbedaan masyarakat di Indonesia dan Jepang. Maka, produk-produk kecantikan itu sejatinya harus terus berinovasi dengan menciptakan sesuatu yang sesuai untuk kulit wajah wanita di Asia Tenggara, khususnya Indonesia yang hanya ada dua musim yakni kemarau dan penghujan."
Ken diam. Otaknya mulai menghubungkan penjelasan istrinya dengan fakta yang ada. Tanyannya meraih tangan kiri Aira yang terbebas dan meletakkannya di dada, berharap bisa mendapat ketenangan yang lebih agar ia bisa berpikir jernih.
"Selain perbedaan kulit wajah itu, jangan lupa bahwa Indonesia memiliki jumlah penduduk muslim sebagai mayoritasnya. Produk kosmetik harus menyesuaikan pasar muslim di Indonesia, seperti memadankan kebutuhan wanita muslim yang harus mencuci muka lima kali sehari untuk menunaikan salat, maka kosmetik harus dibuat yang mudah hilang saat mencuci muka tetapi mudah pula diaplikasikan kembali."
"Bahkan, meskipun perusahaanmu sudah menyesuaikan hal ini, masih ada tantangan yang lebih besar, yakni keadaan pasar. Akhir-akhir ini ada begitu banyak produk luar negeri yang menggempur pasar skincare Indonesia. Tidak hanya produk kosmetik impor yang menjadi tantangan, tapi produk kosmetik lokal mulai bermunculan dan tumbuh pesat." Aira memainkan alis mata suaminya, menjalankan jarinya dari kanan ke kiri dan sebaliknya, begitu terus berkali-kali.
"Faktanya, pengembangan industri kosmetik di Indonesia terus meningkat secara signifikan, aku membacanya baru-baru ini. Baik pemerintah ataupun pihak swasta menilai sektor ini memiliki potensi untuk dikembangkan sehingga dapat berkontribusi positif terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia di masa-masa yang akan datang.
"Optimisme pertumbuhan ini didorong oleh permintaan pasar dalam negeri dan ekspor yang terus naik setiap tahunnya. Hal ini seiring tren masyarakat yang mulai memperhatikan produk perawatan tubuh sebagai kebutuhan utama. Namun, peluang untuk merebut pasar Indonesia bukanlah sebuah hal yang mustahil untuk Miracle. Indonesia merupakan pasar terbesar di Asia Tenggara dengan populasi mencapai 260 juta jiwa."
Ken semakin memperhatikan istrinya. Wanita itu benar-benar akan membantunya dalam menyelesaikan permasalahan ini.
"Masih ada begitu banyak penjelasan tentang hal ini. Apa kamu masih ingin mendengarkanku?" tanya Aira sembari mendekatkan wajahnya pada Sang Suami.
"Umm," jawab Ken singkat. Ia benar-benar menantikan ide istrinya.
"Cium dulu," pinta Aira sambil mengerlingkan matanya.
...****************...
Masih ada kelanjutannya loh, see you next episode. Jangan lupa like, komen, vote, share, dll yaa.
Big love for you all ❤😚😚
__ADS_1
Jaa mata ne,
Hanazawa Easzy