
BAMM
Mone membanting pintu di belakangnya dengan emosi. Ia berjalan menjauh dari tempat itu dengan langkah cepat, meninggalkan Ken dan Aira yang terpaku di tempat mereka berdiri.
"Apa dia marah?" tanya Ken sedikit merasa bersalah. Dia terlalu merindukan istrinya, ingin segera memeluknya, sampai lupa tidak memperhatikan keadaan sekitar dimana ada gadis manis yang tak sengaja menyaksikan adegan manis suami istri itu.
"Sepertinya begitu." Aira mengangkat kedua bahunya. "Biarkan saja. Nanti aku akan bicara dengannya."
Ken mengangguk. Ia membantu Aira duduk di atas ranjang mereka yang tertutup selimut berwarna coklat, senada dengan warna dominan di kamar ini.
"Apa kamu baik-baik saja? Ada yang luka?" Aira mengamati wajah, tangan, sampai kaki suaminya. Semuanya tampak normal, tanpa ada bercak darah atau luka apapun yang terlihat.
"Aku baik-baik saja. Apa kalian juga baik? Apa mereka merindukanku?" tanya Ken sembari mendekatkan wajahnya ke perut Aira.
"Hello baby boy, apa kalian merindukan daddy?" Ken tampak antusias menunggu respon anak-anaknya. Ia bahkan sampai menempelkan telinganya ke perut Aira, seolah tengah mendengar bisikan mereka.
Aira tersenyum haru, melihat Ken yang begitu menyayanginya dan anak-anak. Sosoknya yang sekarang sungguh begitu menawan dengan senyum lebar di wajahnya, berbanding terbalik dengan sikap dan ekspresi wajah yang ia lihat sepuluh bulan yang lalu. Ya, ia masih ingat dengan jelas seperti apa iblis di depannya ini, juga semua perlakuan buruknya yang menjadi penyebab Aira ingin pergi.
Ken masih asik dengan kesibukannya berbincang dengan anak-anak. Ia bertanya banyak hal, kemudia berpura-pura mendengar jawaban dari mereka. Ia bahkan tertawa dan menepuk perut Aira pelan, seolah sedang hi-five dengan putranya di dalam sana.
*Hi-five/high five/toss adalah gerakan tangan antara dua orang yang secara bersamaan mengangkat tangan dan menepuk telapak tangan satu sama lain. Gerakan tangan ini biasanya didahului kata-kata "tos" atau "tos dulu" dalam bahasa Indonesia. Arti dari gerakan ini bisa beragam, seperti salam, ucapan selamat, atau perayaan.
"Ken," panggil Aira lembut. Ia menangkap jemari Ken yang ada di perutnya, membuat pria itu seketika mendongakkan kepala. Ia menatap wajah Aira yang terlihat semakin bulat akhir-akhir ini
"Apa yang terjadi?" tanya Aira penasaran. "Aku tidak bisa menghubungimu. Bahkan Minami dan Kosuke juga tidak menjawab pesan yang ku kirimkan satu pun.
Ken mengangkat kepalanya dan mengembuskan napas dengan kasar. "Jangan khawatir. Semua sudah selesai. Mereka berdua sibuk jadi tidak sempat menjawab panggilan atau pesanmu," jawab Ken lirih. Ia mengelus puncak kepala Aira dengan sayang, meredam kekhawatiran yang tergambar jelas di wajah wanita hamil itu.
"Apa yang terjadi?"
Ken meraih bahu istrinya, menariknya untuk tidur telentang dengan menggunakan pahanya sebagai bantal.
"Aku menyerahkan semua masalah ini pada G. Sisanya, Kosuke dan Minami yang akan membereskannya." Ken tampak enggan. Ia seolah tidak ingin membahas hal yang telah berlalu beberapa jam sebelumnya.
"Kamu tidak ingin menceritakannya padaku?" Aira menarik dasi merah marun yang melingkar di leher suaminya, membuat pria itu sedikit menundukkan kepalanya sekarang.
Ken tersenyum mendengar pertanyaan yang diajukan oleh istrinya. Ia tahu Aira pasti akan penasaran dengan apa yang terjadi hari ini. Itu sebabnya ia meneleponnya lebih dari tiga puluh kali, namun tak satupun ia jawab.
"Kamu sungguh ingin mendengarnya?"
Aira tidak menjawab. Ia mengerucutkan bibirnya, sebal pada Ken yang sengaja berbelit-belit.
"Mereka menyimpan black powder di dalam dinding, bersiap meledakkan tempat itu dan membuatku tewas dengan dalih kecelakaan."
Sontak mata Aira membulat, ia melepaskan cekalan tangannya pada dasi Ken. Detik berikutnya, ia duduk dan berbalik menghadap suaminya dengan pandangan khawatir. Jemarinya meraih jemari Ken, menggenggamnya dengan sangat erat.
__ADS_1
"Apa yang terjadi selanjutnya? Apa kamu sungguhan baik-baik saja?" Aira kembali menyapukan pandangannya pada Ken, memeriksa apakah ada luka yang suaminya alami. Padahal ia sudah melakukan itu beberapa menit yang lalu.
"Apa kamu begitu mengkhawatirkan suamimu ini? Bukankah itu artinya kamu sangat sangat sangaaaat mencintaiku sampai tidak rela melihatku terluka?" Ken sengaja menggoda Aira, ia bahkan mengerlingkan matanya dengan genit.
"Hah?" Aira melepas genggamannya seketika. Rasa empatinya menguap seiring kata-kata Ken yang terdengar menjijikkan.
'Astaga, kenapa mulutnya manis sekali? Sejak kapan dia pintar menggoda wanita? Darimana dia belajar kata-kata yang... Agh,' Aira kehabisan kata-kata dan hanya bisa menggelengkan kepalanya, tak habis pikir dengan kelakuan suaminya yang luar biasa ini.
"Kamu mengkhawatirkanku?" Ken memeluk Aira yang kini duduk membelakanginya. Tangannya tak tinggal diam, mengelus perut buncit istrinya dengan lembut.
"Berhentilah berbicara omong kosong. Aku hanya ingin mendengar apa yang terjadi," ketus Aira dengan nada datar. Ia malas berbicara dengan pria over confidence ini. Rasanya ingin menendangnya saja ke ujung dunia.
*over confidence : terlalu percaya diri
Ken mengambil ponselnya yang ada di dalam saku dan membawanya ke depan, di atas perut Aira, bertumpu pada satu tangannya yang lain. Jemarinya lihai menekan kombinasi password ponsel pintarnya. Ia membuka sebuah laman berita online yang menampilkan judul yang cukup menarik : HOTNEWS! Runtuhnya Circle K, Perusahaan Kimia Asal Korea Selatan di Jepang.
*password : kata kunci
"Ini ..." Aira merebut ponsel milik Ken dan mulai membaca artikel yang ada di sana. Ia bahkan sampai menahan nafasnya kala membaca bait demi bait yang menjelaskan tentang kejadian beberapa jam yang lalu.
Artikel itu sendiri baru muncul tiga jam yang lalu, dimana menampilkan wajah nyonya Hanako yang tertunduk pasrah dengan dikawal beberapa petugas kepolisian. Sebuah borgol terpasang di pergelangan tangannya.
Aira meng-klik berita selanjutnya, yang berhasil membuatnya menelan ludah dengan paksa. Ia terlalu fokus pada gawai di tangannya sampai melupakan keberadaan Ken yang kini tengah menciumi bahunya. Kecupan itu bahkan mengarah pada lehernya yang tak terhalang apapun.
"Penggelapan pajak, money laundry dan rencana pembunuhan CEO Miracle? Apa kamu sengaja menjebak nyonya Hanako?" tanya Aira, jelas-jelas menunjukkan rasa tidak sukanya. Ia menarik diri, menjauh dari jangkauan Ken. Aira tidak ingin suaminya bermain trik kotor untuk menyingkirkan musuhnya.
"Aku tidak melakukan apapun, sebenarnya G yang membuka kedok wanita rubah itu dengan meminjam tanganku."
"G? Kwon Ji Yong?" tanya Aira tak percaya. "Bukankah dia sangat membencimu?"
Ken tersenyum. Ia membelai surai hitam istrinya dan membawanya helaian lembut itu ke belakang telinga, membuat pipi chubbynya tampak semakin bulat.
"Dia tidak memiliki alasan untuk tetap membenciku. Kematian tangan kanan ayahnya bukanlah karena penyiksaan yang dilakukan oleh orang-orangku. Dia meninggal karena gagal jantung, itu fakta mengejutkam yang selama ini disembunyikan dengan baik oleh nyonya Hanako. Menghasut tuan Kwon dan putranya untuk membenciku, bahkan memusuhiku. Nyatanya dialah yang telah membunuh pria itu diam-diam."
"Bagaimana mungkin? Dari mana kamu mendapat fakta itu? Apa itu bisa dipercaya?" tanya Aira sangsi.
"Entahlah. G menemuiku semalam dan mengungkapkan semuanya. Dia sudah melepaskan semua hak miliknya pada Circle K, jadi dia tidak bisa berbuat apapun. Satu-satunya cara untuk menyelamatkan perusahaan yang telah diperjuangkan oleh ayahnya selama bertahun-tahun adalah dengan menyingkirkan nyonya Hanako dan membuat Miracle mengakuisisi Circle K."
"G akan membiarkan Miracle mengakuisisi Circle K?"
"Hem. Tidak ada cara lain." Ken menatap manik mata istrinya dalam-dalam.
*Akuisisi adalah situasi dimana sebuah perusahaan membeli mayoritas atau bahkan seluruh saham perusahaan lain. Karena sebagian besar saham telah dimiliki oleh perusahaan pembeli, maka segala kendali atas perusahaan lain tersebut akan diambil alih.
"Kamu mempercayainya? Bagaimana jika ternyata G memiliki rencana lain di belakang?"
__ADS_1
"Aku sudah memeriksanya. Dia sungguh tidak memiliki satu persen saham pun di perusahaan ayahnya. Semua sudah berpindah tangan menjadi milik nyonya Hanako. Dengan segala kejahatan yang telah ia lakukan, bisa dipastikan dia akan mendekam di balik jeruji besi selama beberapa tahun. Dan itu artinya, kekuasaan nyonya Hanako tidak ada artinya lagi. Saham Circle K merosot tajam, membuat siapa saja enggan mengambil perusahaan itu. Dan G akan mengambil alih semuanya. Ia berjanji akan mengembalikan semua kerugian yang telah dikorbankan Miracle untuk perusahaan itu dalam waktu dua tahun saja."
"Apa syarat yang G minta?"
Ken lagi-lagi tersenyum mendengar pertanyaan cerdas yang Aira lontarkan.
"Dia hanya ingin mengelola perusahaan ayahnya. Dia akan mengurus agensi artis miliknya sembari menata ulang Circle K. Itu saja," pungkas Ken.
Aira bernapas lega mendengar penuturan Ken. Meski sulit dipercaya, nyatanya Ken sudah mengambil keputusan. Tentu saja ia harus mendukung langkah suaminya itu. Ia percaya seratus persen padanya.
"Kamu membuatku khawatir," lirih Aira sembari menangkap jemari Ken yang tengah membelai kepalanya dengan sayang. "Jangan membahayakan nyawamu sendiri. Aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri jika sampai terjadi sesuatu padamu."
Ken meraih bahu istrinya, membawanya ke dalam pelukan, "Aku akan lebih berhati-hati lagi nanti. Aku tidak akan membiarkan mereka lahir ke dunia tanpa melihat ayahnya. Aku akan tetap ada di sisimu, merawat mereka bersama-sama hingga seratus tahun ke depan," Ken mengelus perut istrinya dengan lembut, menyalurkan segala rasa cinta pada buah hatinya di dalam sana.
"Gombal!" Aira mencubit lengan Ken dengan gemas.
"Tapi kamu suka, benar 'kan?" goda Ken lagi dan lagi.
Wajah Aira memerah, tidak tahan dengan kata-kata manis dari mulut suaminya.
Cup
Aira mengecup bibir Ken sekilas agar suaminya diam, tak lagi menggodanya.
"Kamu yang memulainya. Jangan salahkan aku jika tidak bisa berhenti nanti." Ken bersiap membalas perlakuan istrinya.
Tok tok tok
Ketukan pintu mengganggu keduanya, membuat Ken terpaksa melepaskan istrinya dan melihat siapa yang ada di depan pintu kamar mereka.
"Sudah waktunya makan malam, Tuan." ucap seorang pelayan yang berdiri sambil menundukkan kepalanya.
"Aku tahu."
Ken dan Aira keluar dari ruangan pribadi mereka. Keduanya berjalan menuju ruang makan melalui koridor pendek yang disinari lampion di sisi kanannya. Dari kejauhan tampak seorang berjalan dengan menundukkan kepala.
"Yamaken, apa yang terjadi?" tanya Ken saat melihat noda darah pada kemeja putih yang dipakai adik kembarnya.
...****************...
Kurang hot? Berjemur gih biar hot 😂
Author tunggu like, vote n komen kalian.
See you next day 🤗
__ADS_1
Hanazawa Easzy 😄