Gangster Boy

Gangster Boy
Gangster Boy : Aset Hidup Paling Berharga


__ADS_3

Suara tapak sepatu menyapa indera pendengaran Anna, membuat netranya terbuka seketika.


"Dobroye utro, Ann," sapa bibi Maria, melontarkan senyum terbaiknya pada Sang Nona.


*Selamat pagi, Ann (bahasa Rusia)


"Umm," gumam wanita yang kini justru menarik selimut menutupi kepalanya, menyembunyikan diri dari sinar  matahari yang mulai masuk ke dalam kamarnya.


"Masih mengantuk?" tanya bibi Maria yang kini justru menarik tirai di hadapannya semakin lebar. Dua tangannya melepas pengait besi yang tertaut ke bingkai di bawah jendela. Udara segar segera masuk, menyapa wanita yang kini berbalik badan.


"Apa kamu lupa agenda kita hari ini, Ann?" Wanita 55 tahun itu menarik selimut Anna dengan paksa, membuat wajah nonanya terlihat.


"Agenda kita?" Kening Anna bertaut. Dia tidak ingat apa yang pengasuhnya ini katakan. Tubuhnya terlalu lelah semalam, tidak mengingat rencana penting mereka pagi ini. "Apa yang kita rencanakan sebelumnya?"


Bibi Maria tersenyum. Dia tahu sejak ledakan besar berbulan-bulan lalu, kemampuan otak Anna sedikit terganggu. Terlebih lagi jika baru saja terbangun dari mati surinya seperti sekarang. Butuh beberapa menit sampai ia kembali mengingat memori yang ia ciptakan semalam.


"Tutup matamu," pinta wanita yang kini duduk sambil menggenggam tangan Anna. "Kamu tidak boleh melupakannya. Ingat lagi rencana kita memberikan hadiah untuk orang-orang itu."


Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Anna menurut. Dia menutup kedua kelopak matanya, mencari memori tentang 'hadiah' yang bibi Maria bicarakan.


"Hadiah, ya?" gumamnya lirih, hampir tak terdengar.


Satu per satu ingatan ia dapatkan, tentang Kaori, Shun, Yuki, sampai rekaman video dari drone camera yang ia utus kemarin. Dekorasi ruangan tempat tinggal Kaori segera tergambar jelas di kepalanya.


Puk puk


"Sudah ingat?" tanya wanita itu, menepuk punggung tangan Anna yang baru saja membuka matanya.


"Umm." Anna mengangguk. "Aku sudah mengingat semuanya. Apa bibi sudah menyiapkan hadiahnya?" Wajah Anna yang tadinya seperti orang linglung dan sedikit bingung, kini berubah jadi menyeramkan. Rasanya iblis di dalam dirinya kembali datang. Kepribadiannya kini didominasi oleh sisi psyco dan suka menyiksa orang.


Maria tersenyum penuh arti. Dia sudah menantikan pertanyaan ini sejak kemarin malam. Sayang sekali, saat ia kembali, Anna sudah terlelap dalam tidurnya. Dan kemarin mereka sama sekali tidak membahas kejutan rahasia ini. Karena Anna hampir hilang kendali setelah berbicara dengan seseorang di telepon, dan sepertinya itu Mone.


Bibi Maria tidak lagi membahas rencana 'hadiah' ini lagi, dan fokus mendoktrin Anna dengan kata-katanya yang beracun. Tapi sekarang, Anna berhasil ia provokasi. Permusuhannya dengan Shun segera dimulai. Tentu saja demi mendapatkan Mone, apapun akan bibi Maria lakukan. Gadis itu adalah aset hidup paling berharga di dunia mafia. Semua orang menginginkannya.


"Makanya bangun. Ayo lihat. Kamu pasti akan menyukainya." Bibi Maria membuka selimut yang menutupi kaki Anna, memaksa wanita cantik ini mengikuti langkah kakinya.


"Tunggu. Aku haus." Anna membelokkan arah langkahnya, menuju dapur dan mengambil segelas air putih. Dalam waktu beberapa detik saja, tenggorokannya yang kering telah berhasil terselamatkan.


"Apa itu?" tanya Anna, membawa gelas air putih yang lain, mendekat ke arah Maria yang duduk dengan sebuah dus berbentuk balok di pangkuannya.


"Kamu pasti akan terkejut. Siapkan kedua matamu."


Kening Anna berkerut. Dia tidak tahu apa yang akan bibi Maria tunjukkan padanya. Wanita ini seringkali memberikan kejutan tak terduga untuk orang-orang spesial yang mereka targetkan. Setidaknya itu akan


membuat mereka menjerit ketakuatan atau bahkan pingsan.


"Kamu siap melihatnya?" Maria menunjukkan senyum miringnya, menantikan respon wanita yang sangat disayanginya ini. Bagi Maria, Anna adalah segalanya, lebih berharga dari nyawanya sendiri. Anna adalah masa


depannya, seluruh dunianya.


"Bukalah," pinta wanita yang hanya mengenakan piyama tanpa lengan kesukaannya. Dia terbiasa mengenakan pakaian tipis seperti itu saat istirahat.


"Aku akan hitung mundur. Kamu tidak boleh menjerit saat melihatnya."


Kali ini Anna terkekeh, memutar bola matanya. Dia tidak suka saat bibi Maria mempermainkannya seperti sekarang. "Kenapa harus menjerit? Aku sudah melihat hal yang paling mengerikan di dunia ini dan itu pasti sesuatu yang biasa saja.


"Aku nantikan keterkejutanmu." Bibi Maria masih begitu percaya diri bahwa Anna akan terheran-heran dengan hadiah khusus yang ia sengaja siapkan untuk Kaori.


"Aku akan melihatnya dengan mata terbuka. Cepatlah!" paksa Anna, tak bisa menambah stok kesabaran di dalam dirinya.


"Tri..." Bibi Maria membuka ujung penutup dus itu, bersiap menunjukkan isi di dalamnya.


"Dva..." hitungan mundur itu terus berlangsung, membuat Anna semakin tidak sabar, terlihat dari kerutan di tengah keningnya yang terlihat semakin dalam.


Anna semakin penasaran. Napasnya seolah tercekat di tenggorokan, manantikan isi bingkisan itu yang sekejap lagi tertangkap indera penglihatannya.


Sreet


"Odin." Maria membuka tutup kardus itu lebar-lebar, membuat seluruh bagian dalam bingkisan spesial yang ia siapkan semalaman itu akhirnya terlihat.


PRANGG


Gelas kaca yang ada di genggaman Anna terlepas seketika, mendarat di lantai marmer di bawah kakinya. Jangan tanya seperti apa bentuknya sekarang, hancur berkeping-keping.

__ADS_1


"Bagaimana? Kamu suka?"


Tanpa berkedip, Anna menganggukkan kepalanya beberapa kali. Kedua bola matanya terlihat berbinar seolah baru saja menyaksikan sesuatu yang begitu dinanti-nantikannya.


"Katakan padaku jika ada sesuatu yang perlu ditambahkan."


Anna menggeleng detik itu juga. "Tidak ada. Ini sempurna. Benar-benar sempurna."


Maria tersenyum bangga. Dia tahu Anna akan menyetujui apa yang ada di dalam kepalanya.


"Dibandingkan menyerang mereka dengan senjata, lebih baik menghancurkan mental orang-orang di sekitarnya. Dengan begitu, semuanya akan menggila dengan sendirinya." Maria mengungkapkan pemikirannya.


"Kapan kita akan mengirimkan hadiah ini?"


"Aku sudah mengaturnya. Kamu tenang saja." Maria menunjukkan senyuman iblis kebanggannya,


"Ku pikir bibi sudah mengirimkannya kemarin." Anna kembali ke dapur, mengambil gelas yang lain dan mengisi benda transparan itu dengan air seperti sebelumnya.


Maria beranjak berdiri setelah menutup kotak rahasia itu lagi. Tanpa menunggu waktu lama, dia membersihkan lantai dari pecahan gelas kaca yang Anna jatuhkan beberapa menit lalu.


"Bersabarlah sedikit, Sayangku. Biarkan mereka tenang sejenak. Bukankah badai yang datang setelah lautan tenang itu lebih terasa menyeramkan?"


Anna mengangkat satu sudut bibirnya ke atas. "Lalu apa yang akan kita lakukan sekarang? Aku bosan tidak melakukan apapun."


"Pertunjukkan akan kita mulai hari ini. Kamu cukup duduk di atas kursi sambil memakan popcorn kesukaanmu saja. Kita lihat mereka teriak ketakutan setelah ini."


Anna mengangguk. "Kalau begitu buatkan popcorn untukku. Aku akan menyiapkan drone sekarang."


"Tentu saja, Dear. Aku akan segera menyiapkannya."


Bibi Maria melangkah ke dapur, bersiap menyiapkan camilan yang ia katakan sebelumnya. Wanita ini paling tahu, Anna selalu suka popcorn sejak kecil. Dan kudapan ringan itu pula yang selalu ia makan sembari menunggu Mone


menyelesaikan misi bertahun-tahun yang lalu.


Terpisah jarak ribuan kilometer, tampak Aira dan Ken saling pandang. Keduanya masih menatap layar laptop lekat-lekat.


"Apa yang Maria siapkan? Aku tidak bisa melihatnya." Aira mengerucutkan bibirnya. Dia tidak sempat melihat benda apa yang ada di dalam box sampai membuat Anna begitu terkejut dan meloloskan gelas di


tangannya.


penampakan hadiah yang Maria siapkan semalaman kemarin lusa.


"Apa itu ada hubungannya dengan boneka bayi yang ia bawa pulang?" Aira menajamkan ingatannya, menggali memori yang pernah ia lihat dua malam sebelumnya.


"Boneka?" Kerutan di kening Ken muncul.


"Untuk Kaori?!" tebak Ken dan Aira bersamaan. Mereka satu pemikiran.


Detik berikutnya, Aira meletakkan Azami ke atas ranjang, melepas tautan persusuan bayi menggemaskan itu dengan sedikit paksa.


Ken sedikit khawatir, menepuk-nepuk bokong putra bungsunya agar melanjutkan tidur dan tidak terbangun. Jemarinya yang imut bergerak-gerak tanpa arah, seolah mencari keberadaan ibunya. Ken sigap, memasukkan ibu jari tangan kanan Azami ke dalam mulutnya sendiri. Dia pernah melihat Aira melakukannya.


Dan benar saja, bayi menggemaskan itu kembali tenang. Dia menyedot ibu jarinya sendiri, menganggap itu adalah sumber zat gizi yang selama beberapa menit lalu berada di dalam mulutnya.


Ken tersenyum. Dia selalu saja terpesona pada setiap tingkah laku putra putrinya. Mereka lucu dan selalu menyenangkan untuk dilihat, 24 jam dalam sehari, 7 hari dalam seminggu. Rasanya, tak akan ada bosan-bosannya melihat tumbuh kembang anak-anaknya.


"Aku akan memberitahu Kaori." Aira meraih telepon gengam yang ada di atas nakas. Dia khawatir Kaori akan syok melihat boneka bayi atau apapun itu yang akan dikirimkan oleh Anna dan Maria.


Grep!


Dengan sigap, Ken mencegah perbuatan istrinya. "Kamu tidak boleh mengacaukan rencana mereka."


"Huh?" Aira menyentak cekalan tangan Ken. "Kenapa? Aku tidak akan membiarkan rubah wanita itu membuat Kaori terluka." Aira masih saja menggebu-gebu dengan pendapatnya. Dia khawatir akan keadaan Kaori nantinya jika benar hadiah itu ditujukan padanya. Pastilah itu sesuatu yang buruk.


Lagi-lagi Ken menggeleng tegas. "Jangan bodoh!"


"Apa maksudmu? Kamu menganggapku bodoh?" Aira tidak suka karena Ken mengingatkannya untuk tidak bertindak bodoh. "Siapa yang bodoh di sini? Apa kamu akan membiarkan mereka beraksi? Bagaimana jika nantinya Kaori mengalami depresi? Apa kamu bisa menyembuhkannya?!"


Ken bungkam. Dia bukan praktisi medis, mana bisa menyembuhkan orang yang mengalami gangguan psikis atau semacamnya. Tapi, dia juga tidak bisa membiarkan Aira mengungkap rahasia yang dengan hati-hati mereka jaga. Jika Anna atau Maria menyadari pergerakan mereka, habislah sudah. Tidak ada gunanya kesepuluh kamera pengawas dan penyadap suara di kediaman wanita Rusia itu.


"Tidak bisa, 'kan?!" ketus Aira, membela diri akan pendapatnya yang dirasa paling benar.


"Kamu ingin membuat Anna dan wanita itu menyadari bahwa kita menyadap kediaman mereka?"

__ADS_1


Glek!


Ibu tiga anak itu meneguk salivanya dengan paksa. Tentu saja dia tidak ingin hal itu terjadi. Bagaimana mungkin dia 'bunuh diri' setelah berbagai kesulitan yang sudah Kosuke lalui?


"Tenang, Sayang. Ada Mone dan Shun yang bersama Kaori. Aku yakin mereka bisa melindungi Kaori. Dan lagi, kamu tidak tahu apa yang akan terjadi jika misi pertama mereka gagal. Mungkin saja cara kasar akan mereka


tempuh. Dan itu lebih berbahaya.


Kini Aira yang bungkam. Dia tidak berpikir jernih, terlalu impulsif karena panik akan keadaan Kaori nantinya.


"Kita tunggu pergerakan mereka selanjutnya. Jika itu sesuatu yang berbahaya, Yamaken akan langsung memusnahkan mereka berdua. Percayalah." Ken menarik tubuh mungil Aira, membuatnya terduduk seketika di depan badan pria 28 tahun ini.


"Apa yang kamu katakan barusan?" Aira mengerutkan kening, menuntut jawab pada perkataan Ken sebelumnya. "Yamaken akan memusnahkan mereka berdua?"


Pemikiran Aira yang saling bertentangan membuat fokusnya terpecah. Dia bahkan tidak menyadari jika pria di belakangnya ini mulai membuat jalinan kesepuluh jarinya di depan perut.


"Sejak kapan dia bisa beladiri? Apa dia juga bisa menggunakan senjata? Kamu pasti tidak akan lupa siapa Anna Vyatcheslavovna itu!" Aira bersikeras mengingatkan Ken, memintanya berpikir dua kali akan pernyataan yang ia ucapkan barusan.


Bukannya menjawab pertanyaan Aira, Ken justru meletakkan dagunya di atas bahu dan mulai memejamkan mata. Pelukannya semakin mengerat, disertai senyuman penuh kebahagiaan yang tampak di wajahnya.


"Kenapa tersenyum? Apanya yang lucu?!" ketus Aira, merasa sebal karena Ken mengabaikan pertanyaannya. Pria itu tampak begitu santai, seolah tak ada aral melintang yang tengah mereka hadapi.


"Ken?!" Aira bersungut kesal. "Jawab pertanyaanku!"


"Pertanyaan yang mana? Kamu terlalu banyak bicara. Aku tidak mendengarnya."


Merasa kesal, Aira memutar bola matanya. Dia merasa pria ini sengaja mempermainkannya. Rentetan kata yang sedari tadi keluar dari mulutnya, tak ada satu pun yang masuk ke telinga seorang Yamazaki Kenzo. Bahkan jika sempat masuk pun, akan keluar dengan sendirinya.


"Huh!" Aira mengembuskan napas kasar dari mulutnya. Dia tidak bisa menghadapi Ken dengan emosi atau pria ini semakin bersemangat menggodanya. Dan Aira tidak ingin itu. Dia ingin mendengar penjelasan Ken tentang saudara kembarnya. Apakah dia bisa menggunakan senjata? Itu saja.


"Apa yang kamu katakan tentang Yamaken sebelumnya?" Aira mengulang pertanyaan pertanyanya. "Aku ingin tahu."


Lagi-lagi Ken tersenyum. Dia senang membuat Aira marah seperti sekarang. Dan kesenangannya yang kedua itu berasal dari rabaaan yang ia lakukan di perut wanitanya. Aira sama sekali tidak menyadari tangan pria ini


menyusup ke dalam blouse yang dipakainya.


"Berjanjilah kamu akan menuruti permintaanku jika aku menjawab pertanyaanmu."


"Lupakan saja! Aku tidak ingin mendengarnya." Aira mengerucutkan bibirnya untuk kesekian kali. Dia berniat bangun, beranjak dari penguasaan suaminya. Wanita ini paham betul apa yang akan suaminya minta. Terlebih lagi setelah dukungan yang ibunya berikan kemarin tentang memiliki anak lagi. Ken semakin agresif menggodanya, berharap bisa bercengkerama sepanjang waktu dengannya dan akhirnya melakukan 'itu'.


"Sayang," goda Ken, kembali memainkan jemarinya, kali ini menyusur punggung tangan wanita yang telah resmi menjadi istrinya setahun terakhir. "Aku tahu rahasia besar adikku. Kamu pasti akan terkejut mendengarnya." Ken sengaja berbisik di telinga Aira, membuat bulu romanya meremang seketika.


Pria ini benar-benar membuat Aira harus menambah stok kesabaran di dalam dada. Rasanya ingin sekali menggantung kaki Kenzo dengan kepala di bawah. Setidaknya itu bisa membuat aliran darah di otak yakuza muda ini bisa bekerja dengan benar, tak lagi-lagi mempermainkannya di situasi yang mulai terasa genting sekarang ini.


"Kalau itu rahasia, kenapa kamu harus mengatakannya? Diamlah dan biarkan itu tetap menjadi rahasia kalian berdua. Aku tidak peduli!" ketus Aira, enggan meladeni permintaan suaminya. Tanpa disanggupi sekalipun, pria ini akan mencari kesempatan dalam segala situasi. Benar-benar pria penggoda istrinya.


"Baiklah, baiklah. Aku akan menjawab pertanyaanmu." Ken menarik Aira kembali ke dalam dekapan setelah terpisah sejenak barusan. Dada bidang Ken bersentuhan dengan pungguh Aira . "Umm, apa tadi yang ingin kamu tahu?"


Aira bungkam. Dia menekuk tangannya di depan dada, memasang wajah garang yang dimilikinya.


"Ah, tentang Yamaken, ya?" Ken bermain tarik ulur dengan istrinya, sengaja membuatnya kesal seperti anak kecil. Dia sengaja mempermainkan pemilik hatinya itu.


"Aku akan menceritakan siapa sebenarnya adikku itu. Tapi, kamu tidak boleh jatuh cinta padanya!"


Kedua netra Aira membola, mendengar permintaan pria ini barusan. Jelas-jelas hanya Ken satu-satunya pria yang ia pedulikan, menghuni seluruh hatinya hingga penuh. Kenapa sekarang meminta jangan sampai jatuh cinta? Dan lagi, itu adik iparnya sendiri.


"Astaga! Logikaku masih bisa bekerja dengan baik, Yamazaki Kenzo. Aku tidak akan tertarik padanya jika kamu masih hidup!" ketus Aira tanpa di buat-buat. Dia kesal setengah mati, melihat suaminya seolah begitu menikmati saat membuatnya penasaran menantikan jawaban seperti sekarang. Benar-benar, ya!


"Aku percaya." Ken menoel pipi tembam istrinya sebelum kemudian mencubitnya cukup keras.


"Aww! Singkirkan tanganmu!" protes wanita yang kini membenahi blouse warna hijau toska yang dipakainya itu. "Aku hanya ingin mendengar tentang adik ipar. Bukan yang lain!"


Ken terkekeh geli. Akhirnya Aira menyadari keberadaan tangannya di balik baju wanita ini dan menyingkirkannya.


"Jauhkan tanganmu dariku. Aku tidak akan segan--,"


"Yamaken hampir sama denganku. Dia bisa melakukan banyak hal, apa saja bisa ia lewati dengan mudah. Tapi, dia menyembunyikan dirinya dengan baik seperti kamu menyembunyikan identitasmu."


"Heih?" Kening Aira berkerut. Sebenarnya dia tidak tahu seperit apa sifat asli adik iparnya itu. Beberapa kalimat dari mulut Ken barusan membuat otaknya berpikir jauh.


Ada apa sebenarnya? Penjelasan seperti apa yang Akan Ken sampaikan padanya?


Nantikan bab berikutnya. See you,

__ADS_1


Hanazawa Easzy


__ADS_2