Gangster Boy

Gangster Boy
Season 3 : Bento Ayam Bakar


__ADS_3

"Apa yang akan kamu lakukan?" tanya Aira.


"Bukankah kamu yang memulainya? Jadi terimalah akibatnya!" Ken semakin mendekat ke arah istrinya.


Tok tok tok


Seseorang mengetuk pintu di belakang Ken, membuatnya terpaksa melepas kunciannya pada Aira.


'Sial!' umpat Ken dalam hati.


Aira tersenyum melihat suaminya yang menahan emosi karena keinginannya tidak terpenuhi.


"Aku akan membunuh orang itu jika dia tidak memiliki sesuatu yang penting di sini," geram Ken dengan emosi tertahan. Rahangnya mengerat, terlihat dari urat lehernya yang menonjol.


"Mungkin dokter Tsukushi," tukas Aira mencoba meredam kemarahan suaminya.


Klek


Pintu berwarna putih itu terbuka sebelum Ken sampai di sana.


"Rara-chan," panggil Yu begitu matanya bersitatap dengan temannya saat di akademi.


"Yu, apa kabar?" Aira merentangkan tangannya, membalas pelukan gadis 23 tahun itu.


"Baik. Bagaimana denganmu?" Yu memandangi Aira dari atas ke bawah dan mengelus perut buncit di depannya.


"Seperti yang kamu lihat."


Aira dan Yu kembali berpelukan, mengabaikan wajah masam Ken di depan pintu. Ia kecewa karena dua hal. Pertama, ia tidak akan bisa melaksanakan niatnya untuk membunuh pengganggunya, karena Yu bukan seseorang yang bisa ia lenyapkan dengan mudah. Kedua, kedatangannya kemari pasti tidak sendiri. Dan mereka baru akan pergi berjam-jam kemudian, ia yakin itu.


"Ada apa dengan wajahmu? Masih 'lapar' ya?" sindir Yoshiro dengan wajah mengejek. Ia melihat dengan jelas saat Ken berusaha mengunci kepala istrinya. Dia juga yang telah mengetuk pintu, sengaja ingin melihat Ken marah.


Ken semakin kesal karena dugaannya benar. Yu tidak datang seorang diri, melainkan dengan kakak angkat yang kini berstatus sebagai kekasihnya.



"Untukmu." Yu menyerahkan beberapa tangkai bunga mawar putih yang Yoshiro berikan sebelumnya.


Aira menerima pemberian dua sejoli itu. "Terima kasih."


Ken duduk di atas kursi sofa dan mulai memainkan ponselnya. Ia malas meladeni dua orang yang telah mengganggunya ini. Mereka datang di saat yang tidak tepat.


"Kalian lucu sekali, membuatku iri saja." Aira memperhatikan penampilan kedua tamunya yang terlihat begitu kompak. Hari ini Yu dan Yoshiro memakai sweater couple, satu berwarna putih dan yang lainnya berwarna krem. Terlebih lagi, mereka memakai kacamata bulat yang sama.


"Kenapa harus iri? Kalian juga sangat manis sebelumnya." Yu menatap Ken dan Aira bergantian. Ia melihat dengan mata kepalanya sendiri saat Aira menghujani wajah Ken dengan kecupan.


"Manis apanya? Dia itu pemaksa dan menyebalkan. Tidak ada satu hari pun yang tenang jika dia ada di dekatku." Aira membantah pendapat temannya ini.


'Ah, menyebalkan,' gumam Ken dalam hati. Ia memilih diam dan pura-pura sibuk dengan gadget di tangannya.


*gadget : ponsel


"Apa kamu sudah makan?" tanya Yoshiro pada Aira.

__ADS_1


"Astaga. Apa yang sudah aku lewatkan? Apa kalian sudah berbaikan?" tanya Aira antusias saat melihat tangan Yoshiro merangkul pinggang Yu dengan erat dan Yu sama sekali tidak menolaknya. Ia bahkan sampai lupa menjawab pertanyaan yang diajukan oleh pria itu.


Yu mengangguk dua kali, mengiyakan prasangka Aira tentang hubungannya dengan Yoshiro.


"Sepertinya musim semi datang lebih cepat tahun ini." Seorang pria masuk diikuti wanita cantik di belakangnya.


"Senior?!" Ken seketika berdiri, menatap kedatangan Shun Oguri yang membawa kotak besar di masing-masing tangannya.


"Kaori-chan!" panggil Aira spontan. Sama seperti Ken, ia juga terkejut dengan kedatangan dua orang yang tidak bisa dibilang dekat ini. Keduanya memang dulu dekat, tapi sejak Shun menolak Kaori, hubungan mereka sepertinya agak sedikit renggang. Tapi entah kenapa sekarang mereka datang bersama.


"Bagaimana keadaan kalian?" tanya Kaori yang kini tengah memeluk Aira, melepaskan rasa rindunya setelah cukup lama tidak berjumpa dengan bumil triplets ini.


"Baik." Aira melepas pelukannya dan menatap Kaori yang tengah tersenyum.


"Dokter Tsukushi mengatakan padaku bahwa kamu ada di rumah sakit, jadi kami semua datang untuk melihatmu. Ku pikir jagoan kalian sudah lahir," ungkap Kaori.


"Belum, hanya kram perut. Doakan saja semoga mereka segera launching."


"Caesar?" tanya Yu, menatap Kaori dan Aira bergantian.


"Semua ibu tentu ingin melahirkan bayinya dengan normal." Aira tersenyum getir sambil menggigit bibir bawahnya. "Tapi aku takut itu tidak mungkin. Sepertinya terlalu beresiko jika aku memaksakan diri."


Melihat istrinya yang seolah butuh ruang pribadi bersama Yu dan Kaori, Ken memutuskan untuk pergi dari ruangan itu. Shun dan Yoshiro mengikutinya, membiarkan ketiga wanita itu berbicara lebih bebas.


"Ken sangat pengertian. Dia sungguh berubah." Yu menatap pintu yang kini tertutup sempurna, menelan ketiga orang yang telah melewatinya. Dia tahu seperti apa tabiat Ken sebelumnya. "Apa dia memanjakanmu?"


"Haish. Dia memang memanjakanku, tapi dia juga sangat manja seperti anak kecil."


"Ya. Dia sangat menyebalkan." Aira mengiyakan ucapan dokter cantik itu.


"Ah, jadi bagaimana keadaan kalian di dalam sana?" Kaori berbicara di depan perut Aira, seolah tengah berbincang dengan penghuni di dalam sana. "Kapan kalian akan keluar? Auntie sudah siapkan hadiah untuk kalian bertiga."


"Dua minggu lagi," jawab Aira. "Kaori-chan, apa mungkin aku bisa melahirkan secara normal?"


"Persalinan bayi kembar memiliki risiko komplikasi yang lebih tinggi dibandingkan persalinan bayi tunggal. Oleh karena itu, dibutuhkan pertimbangan yang matang dan persiapan ekstra untuk menjalani proses melahirkan bayi kembar secara normal ini."


"Aku takut," ungkap Aira.


"Sebagian ibu hamil mungkin merasa khawatir atau takut dengan opsi melahirkan kembar secara normal, tetapi faktanya lebih dari 40 persen proses melahirkan bayi kembar ternyata dilakukan secara normal. Jadi bukan tidak mungkin jika kamu juga bisa melewatinya." Kaori mencoba memberikan dorongan pada ibu hamil kembar tiga ini. "Pastikan kamu dan ketiga bayimu dalam keadaan sehat."


"Apa ada kriteria lain?"


"Ada. Kamu bisa melahirkan normal jika kepala bayimu sudah ada di bawah, karena janin akan lebih mudah melewati jalan lahir. Setelah bayi pertama dilahirkan, bayi kedua biasanya lahir 10-30 menit kemudian bila semuanya berjalan lancar. Faktanya, banyak ibu yang melaporkan jika melahirkan bayi nomor dua sangat mudah dilakukan. Meski begitu, proses persalinan kembar bisa berlangsung lebih singkat atau lebih panjang dari persalinan tunggal."


"Walaupun kamu mungkin ingin melahirkan secara normal, persalinan biasanya tidak dapat diprediksi. Terkadang, persalinan kehamilan kembar lebih aman dilakukan dengan operasi caesar. Operasi caesar dipilih jika kepala bayi pertama (yang paling dekat dengan jalan lahir) tidak berada di bawah, plasenta menutupi serviks menjelang akhir kehamilan, kedua bayi berbagi satu kantung ketuban, atau jika mengandung lebih dari dua bayi, seperti kamu ini."


"Sekitar dua pertiga dari kebanyakan kasus operasi caesar kembar tidak direncanakan. Pada kasus yang jarang terjadi, salah satu bayi bisa lahir secara normal, tetapi yang kedua lahir melalui operasi caesar. Prosedur ini biasanya dilakukan jika bayi kedua berada dalam keadaan darurat atau kondisi ibu yang tidak memungkinkan untuk melahirkan secara normal." Kaori mengakhiri penjelasannya. Ia mengambil kotak makan yang sebelumnya dibawa oleh Shun.


"Dokter Tsukushi mengatakan bahwa kemungkinan besar aku akan melahirkan dengan operasi caesar."


"Tidak masalah. Yang penting kamu dan bayimu terselamatkan." Kaori memberikan satu kotak pada Yu dan menyiapkan kotak yang lainnya untuk Aira. "Ayo makan. Aku sengaja membeli ini di restoran Indonesia. Kamu pasti akan menyukainya."


__ADS_1


"Terima kasih." Aira membuka bento di depannya yang berisi nasi dengan lauk ayam bakar dan tempe goreng. Tak lupa sambal dan potongan jeruk juga melengkapi hidangan makanan ini. Sungguh makanan asli Indonesia.


"Bagaimana cara memakannya?" tanya Yu heran. Ia tidak pernah makan makanan Indonesia sebelumnya.


Kaori dan Aira saling pandang dan tersenyum satu sama lain. "Dengan tangan," jawab keduanya bersamaan.


"Hah?" Yu tampak terkejut. Baginya yang selalu hidup di negeri sakura ini sejak kecil, ia selalu menggunakan sumpit untuk makan atau sepasang garpu dan pisau jika makan di restoran barat. Tapi ini? "Makan dengan tangan? Itu akan terkesan tidak sopan dan menjijikkan."


"Siapa bilang menjijikkan? Kamu belum tahu sensasi rasanya mencabik ayam lunak ini dengan kukumu. Kamu akan merasa seperti menjadi seorang psikopat saat itu juga. Hahaha," canda Kaori yang berhasil membuat Yu menelan ludahnya.


"Kaori-chan, bisa bantu aku turun? Aku ingin mencuci tanganku," pinta Aira.


"Ah, tentu saja. Kemarikan tanganmu. Pelan-pelan."


Kaori membantu Aira turun dari ranjang dan membiarkannya menuju wastafel yang ada di sudut ruang perawatan ini. Ia juga melakukan hal yang sama.


"Dari mana kamu tahu cara makan seperti ini?" tanya Yu heran.


"Aku?" tanya Kaori menunjuk hidungnya. Yu mengangguk.


"Aku dua tahun tinggal di Indonesia saat menjadi relawan bencana beberapa tahun yang lalu. Jika ada kesempatan, aku akan memilih tinggal di sana saja."


"Apa begitu menyenangkan tinggal di negara tropis itu? Pasti panas, 'kan?" Yu mulai membasahi tangannya dengan air di bawah kran dengan sensor otomatis.


"Semua tempat memiliki sensasi rasa masing-masing. Dan aku suka keramahan orang-orang Indonesia. Mereka banyak tersenyum, bahkan menyambut orang asing dengan baik," jelas Kaori.


"Benarkah?" Yu tampak antusias mendengarnya.


Keduanya duduk bersama Aira, bersiap melahap hidangan di hadapannya.


"Kaori-chan, kamu sengaja membelikan ini untukku?"


"Mm, sebenarnya Shun yang berinisiatif membawakan makanan untukmu. Jadi aku memberi saran agar membelinya di salah satu restoran Indonesia yang ada di dekat stasiun," jawab Kaori merasa canggung. Ia segera melahap hidangan di depannya, mencoba kabur dari pertanyaan yang mungkin kedua temannya ini lontarkan.


"Shun?" Yu menaikkan sebelah alisnya.


"Apa kalian berkencan?" tanya Aira detik berikutnya.


"Uhukk," Kaori tersedak makanan yang tengah ia kunyah di mulutnya.


"Ah, jadi kalian sungguh berkencan ya?" Kali ini Yu ikut menggoda wanita yang tengah meminum air putih di tangannya.


"Uhukk uhukk." Lagi-lagi Kaori tersedak, membuat Yu dan Aira tertawa bersama.


...****************...


Berasa reuni yaa kalo mereka kumpul bareng-bareng gitu 😊 Jadi pengen bikin adegan action lagii 💃


Kok jadi laper beneran yaa si author ini. Sapa yang mau berbaik hati beliin bento ayam bakar ke Jepang? haha 😂


Sampai jumpa,


Hanazawa Easzy 😘

__ADS_1


__ADS_2