Gangster Boy

Gangster Boy
Season 2 : Memancing di Air Keruh


__ADS_3

Udara dingin membasuh wajah cantik seorang wanita berhijab. Dia berdiri di belakang portal pembatas di atap gedung dimana butiran salju beterbangan bebas di udara. Tangannya bersembunyi di masing-masing saku baju hangatnya, mencoba meredam dingin yang mengusik tubuh mungilnya yang tengah berbadan dua.


"Ayo pulang." ajak Ken untuk ke sekian kalinya namun tak ditanggapi oleh wanita di sampingnya ini. Dia masih diam seribu bahasa. Menatap gemerlap bintang yang terlihat indah.


"Ini tidak benar kan?" Aira akhirnya bersuara. Semua informasi yang ia dengar sungguh tidak masuk akal. Circle kehidupannya sudah cukup rumit sejak kecil, tapi ia kini menemukan kebahagiaannya bersama Ken. Bagaimana dengan Mone?


"Sebelum Shun menghilang, dia mengatakan bahwa Takeshi Kaneshiro adalah dalang di balik terbunuhnya tuan Kamishiraisi Shu (ayah Mone) lima tahun yang lalu."


Kalimat yang Yoshiro ucapkan sungguh tidak bisa dipercaya oleh akal sehatnya. Aira merasakan sesak di dalam dadanya, seolah ia ikut terluka saat mendengarnya. Orang yang membunuh ayah Mone, sekarang berpura-pura menjadi malaikat penolongnya. Bagaimana mungkin Aira tega membongkar hal itu?


Jika misi mereka terus berlanjut, itu artinya ia akan menampar Mone dengan kenyataan pahit yang ada. Tapi jika tidak diungkap, bukankah itu artinya ia ikut menambah luka pada gadis 20 tahun itu? Sepandai-pandai tupai meloncat, pasti akan jatuh juga. Selihai apapun Takeshi menutupi kejahatannya, pasti suatu saat akan terungkap juga cepat atau lambat. Aira yakin itu.


"Meskipun senior (Shun) menyebalkan, tapi aku mengakui kejujurannya. Dia tidak pernah berbohong pada Yoshiro. Apa yang ia ucapkan pasti bisa dipertanggungjawabkan." jawab Ken dengan berat hati.


"Jadi apa yang akan kita lakukan sekarang?" tanya Aira lirih. Ia tidak lagi bersemangat melanjutkan apapun agenda yang akan mereka lakukan. Ia tidak ingin menyakiti Mone.


"Kita tidak bisa berhenti begitu saja. Apa yang sudah kita mulai harus kita selesaikan." tegas Ken.


Aira menatap tepat di manik mata hitam suaminya. Ia meragu namun suaminya menguatkan. Ken membawa Aira ke dalam pelukannya, mengikis keraguan yang tengah menyelimuti perasaan istrinya.


*******


Seorang pria masuk dengan tergesa ke dalam ruangan kedap suara yang ada di lantai dua rumah mewah ini. Nafasnya memburu menandakan ia datang dengan berlari.


"Tuan, ini darurat." lapornya setelah berhadapan langsung dengan Takeshi Kaneshiro yang duduk tenang di kursinya.


"Ada apa?" tanya Takeshi tanpa mengalihkan pandangan dari tumpukan dokumen di depannya.


"Beberapa orang asia berkulit putih membuat kekacauan semalam di gudang senjata milik kita. Mereka memasang 5 buah bom di sana. Kami sedang berusaha menjinakkannya saat bom itu justru meledak. 10 anggota kita tewas seketika. Dan kami tidak bisa menyelamatkan satu senjata pun. Ledakannya begitu dahsyat sebelum api menyambar bangunan itu." lapornya dengan ketakutan yang terlihat jelas di matanya.

__ADS_1


Takeshi sontak berdiri. Matanya menatap tajam ke arah bawahannya itu. Ia mendekati pria berbaju hitam dengan tergesa. Tampak kemarahannya tak bisa ia bendung lagi.


BUGH


"Bodoh!!" hardiknya sambil menendang dada pria di depannya yang sedang menunduk. Wajahnya menghantam lantai yang terasa dingin itu. Darah merah menyembur dari mulutnya, menimbulkan rasa sesak yang seketika menyerang ulu hati. Ia mencoba berdiri namun limbung detik berikutnya.


Tendangan Takeshi begitu kuat, bentuk emosi yang tidak akan bisa ditahan oleh siapapun. Ia melangkah pergi dari ruangannya dan segera membawa mobil hitam miliknya menembus malam.


Kakinya dengan leluasa menjejak pedal gas hingga kecepatan 250 km/jam. Membuat kuda besi itu meluncur bebas menuju area perbukitan tempat dimana gudang senjata miliknya berada. Ia ingin menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri apa yang terjadi di sana.


Beberapa kali mobilnya harus menukik tajam saat melewati perbukitan yang cukup curam dimana ada jurang di sisi kanan dan bukit berbatu di sisi kirinya. Dengan kelihaiannya itu, Takeshi bisa melewati jalanan berkelok ini dengan mulus tanpa halangan yang berarti.


Ciiiit


Decit rem yang memekakkan telinga membuat orang-orang segera mengalihkan pandangannya ke arah Takeshi Kaneshiro. Mereka menundukkan badan begitu pemegang kekuasaan tertinggi dalam organisasi mereka datang.



Takeshi mengepalkan tangannya. Tidak ada yang bisa ia lakukan sekarang kecuali mencari dalang di balik kerusuhan ini. Ia akan membuat perhitungan dengan orang itu, tidak peduli siapapun dia. Tapi ada satu nama yang sudah ada dalam perkiraannya, Yamazaki Kenzo.


Seorang pria dengan bekas luka di wajahnya mendekat ke arah Takeshi. Ia berlari setelah menyapu peluh yang membanjiri wajahnya. Ia baru selesai menyisir area ini, memeriksa keadaan menyeluruh di sekitar bangunan yang tengah di lalap api.


"Mark, laporkan hasilnya malam ini juga!" perintah Takeshi begitu tangan kanannya sampai di depannya.


"Baik, tuan." jawab pria Rusia itu sambil menundukkan kepala.


Takeshi berjalan menyusuri tempat kejadian perkara, mencari petunjuk yang mungkin ditinggalkan oleh para pembuat onar kemarin malam. Seperti laporan sebelumnya, para pembuat onar itu berasal dari Asia, sama sepertinya. Kemungkinan besar mereka orang-orang suruhan Ken, atau bahkan Ken yang turun tangan sendiri. Belum ada laporan spesifik mengenai hal itu jadi Takeshi hanya bisa menduga-duga.


Sementara itu, Shun ikut bergabung memadamkan api. Ia menyamar dengan badge dan pakaian milik pria yang berhasil dilumpuhkannya dini hari kemarin. Ia mengukir seulas senyum kemenangan yang tak diketahui oleh siapapun. Selain memakai helm pelindung diri, keadaan sekitar juga cukup gelap. Puas rasanya melihat Takeshi bermuram durja.

__ADS_1


'Pertunjukan baru dimulai. Bersiaplah paman.' ucap Shun dalam hati.


Takeshi sampai di bagian belakang gedung. Ia melihat sebuah benda berwarna putih di dalam semak-semak, terlihat seperti kantong plastik atau sejenisnya. Pria dengan tubuh tegap itu segera mendekat dan memeriksanya. Matanya membola seketika.


"Ini..." rahangnya mengerat setelah menemukan benda yang tidak seharusnya ada di sana. Kecurigaannya semakin kuat, ada orang yang berusaha memperkeruh keadaan. Atau mungkin saja ada yang ingin memancing di air keruh. Ia harus segera menemukan jawabannya.


*******


Hello readers tercinta author 😘😍😍


Unch unch unchh.... Maaf yaa baru sempet update setelah sekian purnama 😢😣 *lebay amat dah 😅


Author sungguh-sungguh minta maaf karena telaaaaaaaat banget update episode ini. Padahal author juga pengen update tiap hari, atau kalo bisa crazy up sekalian (biar pendapatan bisa naik drastis) 😂🙊 *canda kok eh tapi serius gapapa. Nyatanya author ngga akan nolak sii kalo dikasih rejeki lebih. Eh, tadi lagi ngomong apa ya?


Ah, iya... Author off karena lagi banyak kerjaan di dunia nyata. Selain itu author lagi ngblank, atau bahasa kerennya kena writers block syndrome. Ngga tau mau nulis apa, udah buka aplikasi seketika blank. Jadi terpaksa ditunda nulis dulu daripada hasilnya makin amburadul.


Author usahakan nanti malam up juga, kalo keburu 😊


Jadi setelah 2 atau 3 hari kemarin blank, tiba-tiba sore ini dapet ide banyak banget. Sampe bingung nulisnya yang mana dulu. Mana novel lain juga udah lama ngga update, sampe lupa jalan ceritanya *parah ini siih.


Meskipun sangat sangat singkat, tapi semoga kalian suka. Ini author sempetin nulis di waktu jeda ishoma. Selamat malam minggu buat yang udah punya kekasih halal, dan selamat sabtu malam buat para singlelillah kaya author 😂😂


Tak apa lah, single pun bisa bahagia kok. Percaya aja deh, laki-laki yang baik untuk perempuan yang baik juga 😍🤗 *oke makin ngawur nih ocehannya.


BIG LOVE FOR YOU ALL 😍😘😘😘😘


Please like, vote & comment ya 😉


Jaa ne... 🤗

__ADS_1


With love,


Hanazawa easzy 💜


__ADS_2