Gangster Boy

Gangster Boy
Monstaa?


__ADS_3

WARNING !!


Dilarang meniru adegan dalam cerita ini !


Ini hanya fiktif karangan author, ada kata-kata/cerita yang menjurus ke adegan 'dewasa' jadi buat readers yang masih anak-anak tolong skip episode ini. Author sudah mengingatkan di awal, bijaklah dalam membaca 😔


*******


"Aku tidak akan melepaskanmu." ucap Ken menghempas tubuh mungil istrinya ke dalam mobil.


Aira memberontak dan berusaha membuka pintu di sebelah kanannya. Ken menariknya dengan paksa membuat tubuh mereka beradu, kepala Aira menghantam dada Ken. Ken duduk di samping Aira dengan wajah muram. Kemarahannya telah sampai di ubun-ubun dan tidak akan ada yang bisa mengendalikannya.


"Pulang ke apartemen!" perintah Ken pada supir di depannya. Matanya berkilat marah dengan mulut tertutup rapat. Tangannya mencengkeram pergelangan tangan Aira dengan sangat erat.


"Kita lihat apa kamu bisa pergi dariku." sebuah smirk terukir di wajahnya. Sisi iblisnya kembali bangkit karena merasa diragukan oleh wanita di sampingnya itu. Ia bisa bersikap lembut beberapa saat lalu, dan tiba-tiba saja ia menjadi buas detik berikutnya. Aira menggelengkan kepalanya tak mengerti apa yang akan terjadi padanya. Ia pasrah dan tak memberontak lagi. Percuma saja, tenaganya tak akan kuat melawan suaminya yang tengah menunjukkan sisi iblisnya.


Ken menarik Aira masuk ke dalam lift yang membawa mereka ke lantai 7, tempat dimana apartemen mereka berada. Langkahnya yang panjang membuat Aira sedikit berlari agar bisa mengimbangi suaminya.


"Sakit." lirih Aira saat mereka berhenti di depan pintu. Ken tengah memasukkan password untuk membuka pintu di depannya.


"Sakit? Itu belum seberapa." Ken lagi-lagi menghempaskan istrinya dengan kasar. Kali ini tubuh mungil itu mendarat di sofa yang ada di ruang tamu.


Seketika Ken mendekat dan melepas sepatu Aira dengan lembut. Sebuah senyuman terukir di wajah tampannya membuat Aira bergidik ngeri. Bahaya mengancamnya, sikap Ken yang lembut pasti menyimpan rencana yang lebih mengerikan dari sebelumnya.


Ken duduk di sebelah Aira, meraih tangan istrinya itu dan mencium punggung tangannya dengan penuh cinta, "Apa kamu takut padaku sekarang?"


Aira berusaha pergi tapi Ken menariknya ke dalam pangkuan dan mulai menghujaninya dengan ciuman yang membabi buta. Ken kehilangan akal sehatnya dan tak terkendali. He is a monster.


Aira mencoba mendorong Ken, namun tenaganya tak sebanding. Ia menggigit lengan Ken yang tengah menciumi lehernya.


Plakk


Ken menampar Aira dan menatapnya dengan garang. Ia mengangkat tangannya hendak mengulangi perbuatannya lagi tapi Aira dengan sigap menahan pergelangan tangan suaminya itu membuatnya semakin marah.


"Hahaha.... Kamu ingin melawanku?" Ken tertawa hambar dan memajukan wajahnya sampai kening mereka menyatu. Tatapan tajamnya mengintimidasi Aira seolah ingin menelannya hidup-hidup.


"You are a monster." lirih Aira dengan rahang yang mengeras. Ia kesal karena sifat Ken tidak berubah, kasar dan otoriter tanpa mempedulikan keadaan orang lain.


(Kamu seorang monster)


"Monstaa?" Ken kembali menampilkan smirknya dan mundur satu langkah ke belakang, meninggalkan tangan Aira di udara. Aira membulatkan matanya dan semakin waspada apa yang akan Ken lakukan selanjutnya.


(For your information, monstaa adalah pelafalan monster oleh lidah orang Jepang. Smirk : tersenyum merendahkan, hanya mengangkat sebelah bibirnya)


"Akan ku tunjukkan seperti apa monster yang sesungguhnya."


Tanpa aba-aba Ken mengangkat tubuh Aira di pundak seperti beberapa saat lalu dan membawanya ke kamar. Ken melempar tubuh mungil itu ke ranjang dan mengunci pintunya. Ia tidak mau ada yang mengganggu aksinya.


Aira memandang Ken dengan tubuh gemetar, ia benar-benar takut sekarang. Dengan panik ia mengambil ponsel yang ada di tasnya dan menghubungi Yoshiro. Beberapa detik berlalu tapi tak ada tanda-tanda orang itu mengangkatnya.


Ken memperhatikannya sambil bersedekap, tubuhnya bersandar di dinding dengan senyum yang terukir di wajahnya. Ia sangat menikmati ekspresi istrinya yang dilanda kepanikan luar biasa.


Panggilan kedua dan ketiga Aira tujukan pada Kosuke dan Minami. Tapi hasilnya nihil. Ponsel keduanya di luar jangkauan, ah ini salahnya sendiri yang sudah mengirim mereka untuk berlibur.


Getaran semakin hebat melanda Aira membuatnya berkali-kali menjatuhkan ponselnya. Tangannya yang berkeringat juga membuatnya kesulitan menekan touchscreen ponsel miliknya. Ia mengirim pesan pada Minami untuk segera kembali.


Ken mulai melangkah mendekati Aira sambil melepaskan syal yang melilit lehernya. Berikutnya ia melepas jaket yang sejak pagi menempel di tubuhnya dan membuangnya ke sembarang arah.


Aira turun dari ranjang dan melangkah mundur mencoba menghindari Ken. Ponselnya jatuh dan tidak ada waktu untuk menghubungi siapapun, percuma. Waktunya habis.


"Apa kau takut?" tanya Ken dingin.


Jantung Aira berdegup kencang melihat Ken membuka sweaternya dan menyisakan kemeja biru di bagian atas tubuhnya. Suaminya benar-benar telah berubah menjadi monster. Tatapan lembutnya tak lagi terlihat, berganti dengan pandangan yang mengerikan.


Aira tak dapat bergerak lebih jauh lagi, punggungnya menabrak tembok di belakangnya.


"Where are you go, my little girl?" Ken mengunci pergerakan Aira dengan kedua tangannya di samping kanan dan kiri.


(Kemana kamu akan pergi, gadis kecilku?)


"Menjauh dariku!" lirih Aira dengan suara bergetar.


Ken semakin merasa di atas awan melihat Aira tak berdaya di depannya. Sebelah tangannya membuka kancing kemeja dan membuangnya ke lantai menampilkan dada bidang yang akan membuat wanita manapun terpesona. Tapi tidak dengan Aira, ia membuang mukanya tak ingin melihat Ken yang dirasa sudah gila.


"Apa yang kamu lakukan?!" pekik Aira saat Ken melepas mantelnya dengan paksa. Detik berikutnya ia membuang jilbab segi empat yang Aira pakai menampakkan leher putih mulus di antara helaian rambut yang tampak berantakan membuat libido Ken naik seketika. Ia sudah kehilangan kendali akan dirinya sendiri.


Plakk

__ADS_1


Aira menampar Ken, berusaha membuatnya sadar karena sudah melampaui batasnya. Ia bisa menerima semua perlakuan kasar Ken tapi tak rela saat penutup kepalanya diambil dengan paksa seperti ini.


Air mata yang sedari tadi menggenang di pelupuk matanya akhirnya luruh juga, "APA KAMU GILA?" teriak Aira histeris sambil memejamkan matanya. Tangannya menutup kedua telinganya tak ingin mendengar apapun.


Detik itu juga Ken mencium kelopak mata istrinya yang tertutup dan menahan pergelangan tangan Aira ke tembok. Menguncinya agar tak bisa bergerak atau melawannya lagi.


"You are mine. Only mine." bisik Ken tepat di telinga Aira dan menciumnya berkali-kali menimbulkan geleyar aneh di hatinya. Nafasnya tercekat saat Ken terus menikmati bagian atas tubuhnya dengan seduktif/menggoda.


(Kamu milikku. Hanya milikku)


Ya, ini pertama kalinya Ken melakukan hal gila seperti ini padanya. Sebelumnya Ken selalu bersikap lembut dan tidak pernah memaksa jika Aira menolak keinginannya. Berbanding terbalik dengan pria yang sekarang sedang menjamah bagian sensitifnya itu.


"Ken... Hentikan..." lirih Aira hampir tak terdengar. Ken tersenyum sekejap dan melanjutkan kegiatannya lagi. Ia tak ingin melewatkan seinchi pun bagian tubuh Aira yang sudah menjadi candu untuknya.


'Aku tidak akan menghentikannya sampai kau menyerah untuk pergi dariku.' batin Ken sambil tersenyum penuh kemenangan.


Tangannya mulai bergerak perlahan menurunkan resleting yang ada di punggung dress Aira. Matanya diselimuti kabut gairah dan ia benar-benar mabuk tanpa minum alkohol sekalipun.


Aira memejamkan matanya. Bulir air mata yang jatuh di punggung Ken tak menyurutkan aksinya sedikitpun. Dan akhirnya Aira pasrah dengan keadaan yang ada. Tenaganya tidak akan bisa melawan Ken, lagipula bukankah ini tugasnya sebagai seorang istri?


*******


Bugh bugh bugh


Terdengar ketukan, ah lebih tepatnya pukulan seseorang di pintu kamar Ken dan Aira.


Bugh bugh bugh


"Ken, buka pintunya!" teriak Yoshiro dari luar membuat Aira mengerjapkan matanya beberapa kali. Netranya itu belum terbiasa dengan cahaya lampu yang sangat terang di ruangan ini.


'Tunggu. Lampu?' Aira bingung dengan pemikirannya sendiri. Ia pulang dari Disneyland sebelum tengah hari. Jika ini malam hari, berarti ia tidur sangat lama setelah Ken 'menyerangnya' bertubi-tubi siang ini.


Bugh bugh bugh


"Ken, aku tahu kamu mendengarku. Keluar sekarang atau ku dobrak pintunya!" ancam pria berambut putih itu.


Aira membuka matanya dan melihat Ken duduk di kursi dengan memakai bathrobe berwarna putih sambil menyeruput kopinya. Ya, aroma kopi tercium dengan jelas sampai di indera penciuman Aira yang sudah sadar sepenuhnya.


(Bathrobe : kimono/handuk mandi)


Pria itu beranjak saat tak terdengar teriakan dari luar lagi. Ia yakin seniornya itu sedang mengambil ancang-ancang untuk membuka paksa pintunya.


"Dimana Aira?" Yoshiro bertanya to the point pada Ken yang berdiri di depan pintu seolah menghalanginya agar tidak masuk.


"Ia masih bersembunyi di balik selimutnya. Apa kamu benar-benar ingin melihatnya?" tanya Ken sarkas/menyindir.


"Apa yang kamu lakukan padanya?" Yoshiro mencengkeram kerah bathrobe yang dipakai Ken. Ia yakin sesuatu yang buruk terjadi pada Aira, jika tidak gadis itu tidak akan menghubunginya.


"Apa yang ku lakukan? Tentu saja melakukan tugasku sebagai seorang suami." jawabnya lalu menyeruput kopinya sampai habis.


Yoshiro melepaskan cengkeramannya dan menyingkir saat Ken berjalan menuju dapur. Ia mengambil beberapa potong sandwich dan segelas susu vanila yang sudah pelayannya siapkan beberapa saat lalu.


"Aku harus memastikan dia baik-baik saja." Yoshiro menahan lengan Ken sebelum membuka pintu kamarnya.


"Baiklah," Ken membuka pintu di depannya, "Aku mengizinkanmu mendengar suaranya."


"Jangan masuk," teriak Aira dari dalam. Ia malu karena kamar ini begitu berantakan. Ia tidak akan bisa mengangkat wajahnya di depan Yoshiro jika pria itu sampai melihat pakaiannya dan Ken yang tercecer di sembarang tempat seperti sekarang.


"Aira, daijoubu desu ka?" tanya Yoshiro dari depan pintu.


(Apa kamu baik-baik saja?)


"Um, daijoubu desu." jawabnya dengan nada sebiasa mungkin.


(Ya, aku baik-baik saja)


"See?" Ken berbangga diri karena berhasil mematahkan prasangka buruk seniornya itu.


(Benarkan?)


Yoshiro pergi tanpa mengucapkan sepatah katapun. Ia yakin terjadi sesuatu diantara keduanya, tapi tidak ada jalan baginya untuk ikut campur lebih dalam lagi. Ia hanya bisa mengandalkan peralatan di rumahnya untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi. Ya, dia bisa meretas keamanan di apartemen Ken untuk melihat rekaman CCTV yang terpasang di ruang tamu.


Ken masuk ke kamar dan kembali mengunci pintunya. Ia melihat Aira bergelung di ranjang dengan selimut menutupi hampir seluruh tubuhnya. Ia membelakangi Ken dan menghadap kaca yang memperlihatkan butiran salju yang turun dari langit.


Aira menyukainya pemandangan di luar itu. Setidaknya bisa membuatnya sedikit nyaman dan berdamai dengan kejadian pahit yang terjadi beberapa jam yang lalu.


"Apa kamu lapar, little girl?" tanya Ken sembari duduk bersimpuh di depan Aira. Ia memotong sandwich di depannya dan bersiap menyuapi Aira, "Buka mulutmu." pintanya.

__ADS_1


Aira menurut dan mengunyah makanan khas orang eropa itu dengan perlahan. Ia hampir tidak bisa menelannya, melihat betapa lembutnya sikap Ken saat ini. Berbeda dengan monster yang mengoyaknya tadi siang.


Aira mengakhiri makan malamnya dengan segelas susu vanila yang agak dingin. Ia menatap Ken yang duduk diam di depannya. Pria itu beranjak pergi setelah mengusap puncak kepala istrinya penuh cinta.


"Apa kamu sudah menandatangani suratnya?" tanya Aira setelah Ken kembali dari dapur. Ia menebalkan wajah demi mendapat kejelasan hubungan mereka. Ya, ia ingin secepatnya berpisah dengan pria gila ini. Atau entah kejadian buruk apa lagi yang akan ia alami ke depannya.


"Jangan terburu-buru.." jawab Ken santai. Ia mendekat ke arah Aira yang duduk bersandar pada kepala ranjang berwarna hitam itu. Tangannya kembali mengelus puncak kepala Aira dengan lembut.


Grep


Aira menangkap tangan Ken dan menatapnya tajam, meminta jawaban yang ingin ia dengar saat ini juga.


"Jangan membuatku marah dan kehilangan kendali lagi." Ken mencium punggung tangan istrinya dengan sayang. Aira muak dengan topeng mailakat yang Ken kenakan dan menarik tangannya saat itu juga.


Plakk


Aira menampar Ken untuk yang kedua kalinya hari ini, "Kau ingin marah? Aku yang seharusnya marah padamu! Aku menilaimu terlalu tinggi. Ku pikir kamu seorang yang akan mempertanggungjawabkan janjinya. Tapi kamu hanya pecundang. Pembohong!" teriak Aira sampai suaranya serak.


Aira beranjak pergi dengan kemarahan memuncak, namun detik berikutnya Ken menarik lengannya dan mengunci Aira yang ada dalam kungkungannya. Ia kembali menyerang Aira dan tidak melepaskannya sampai pagi menjelang. Berbagai perlawanan Aira lakukan namun tak sebanding dengan kekuatan pria gila ini. Ken berhenti beraksi saat Aira menutup matanya. Ken menyelimuti istrinya dan ikut terlelap sambil memeluknya dari belakang.


2 jam berlalu. Ken baru selesai mandi dan sedang memakai bathrobe saat terdengar suara gaduh diluar.


BRAKK


Yoshiro, Kosuke dan Minami berhasil masuk ke kamar Ken. Ketiganya terkejut melihat sekeliling kamar yang tampak berantakan dengan pakaian tercecer dimana-mana.


"Apa yang kalian lakukan disini?" tanya Ken dingin, ia tidak suka privasinya diganggu.


Pandangan Yoshiro terpaku pada punggung Aira yang tak tertutup selimut. Ada banyak tanda kemerahan disana. Ia mendekat dan melihat pipi Aira yang bengkak bekas tamparan Ken semalam.


"Aku tidak mengizinkanmu melihat istriku," Ken menarik seniornya itu menjauh.


Bugh


Yoshiro memukul Ken dengan segenap kekuatannya, membuat ujung bibir Ken mengeluarkan darah.


"Apa yang kamu lakukan pada Aira?"


"Apa pedulimu? Kalian tidak punya hubungan apapun. Aku.." Ken menunjuk dadanya sendiri, "Akulah suaminya. Aku berhak melakukan apapun padanya." jawabnya sombong.


Sebuah pukulan kembali mendarat di wajah putihnya itu membuat Ken tergeletak tak berdaya di lantai marmer yang dingin. Yoshiro tidak bisa memaafkan perbuatan Ken kali ini. Ia melihat rekaman CCTV yang terpasang di ruang tamu dan bergegas kemari setelah menghubungi Kosuke dan Minami yang baru keluar dari bandara.


Ya, Minami dan Kosuke langsung kembali saat melihat pesan dari Aira yang memintanya untuk pulang. Keduanya menyesal karena mematikan telepon selulernya seperti yang Aira sarankan sebelum mereka pergi ke Okinawa. Minami pikir tidak akan ada hal buruk yang terjadi, tapi kenyataannya justru sebaliknya.


"Minami, bantu ia membersihkan diri. Kosuke, siapkan paspor dan semua dokumen yang Aira butuhkan." perintah Yoshiro masih tetap menatap Ken dengan tajam.


Minami mencoba membangunkan Aira tapi tak berhasil. Wanita 25 tahun itu tak merespon sama sekali membuat Minami panik dan mengecek tanda vitalnya.


"Tuan, nona Aira pingsan."


Laporan Minami membuat Ken dan Yoshiro membulatkan matanya. Ken berdiri ingin melihat kondisi istrinya. Ia pikir Aira tertidur karena kelelahan, jadi ia membiarkannya.


Bugh


Entah pukulan keberapa yang Yoshiro berikan pada Ken membuat wajahnya babak belur. Hidungnya bahkan mengeluarkan darah karena pukulan yang terlalu keras menghantam tulang hidungnya. Mungkin saja tulang rawan itu patah, namun tak ia hiraukan.


Ken memandang kepergian Yoshiro dengan penuh penyesalan. Seniornya itu membawa Aira yang terbungkus selimut dengan panik. Minami mengikuti di belakangnya. Tersisa Kosuke yang masih terpaku menatap tuannya yang terlihat mengenaskan.


"Pergilah.." lirih Ken saat mata mereka beradu. Ya, Kosuke tahu penyesalan Ken. Dari semua orang, ia yang paling memahami sedalam apa rasa cinta Ken pada Aira. Ia tidak tega meninggalkan tuannya yang tak berdaya itu. Raut kesedihan jelas terpancar dari matanya.


"Tuan.."


Ken hanya mengangguk lemah dan mengisyaratkan dengan tangannya agar Kosuke segera menyusul Aira. Dengan langkah gontai, Ken masuk ke ruang kerjanya dan membuka laci paling bawah tempat dokumen paling penting ia simpan.


"Dimana suratnya?"


*******


Hai readers... Author kambek 😂😂


2292 kata... Beuuhh berasa nulis 2 episode sekaligus. Ini episode terpanjang dari 38 episode yang ada. Demi apa coba? Demi readers tercintaku semuanyaaaaa 😍😘😘😘😘


Author ucapkan terima kasih yang sebanyak-banyaknya untuk semua dukungan yang kalian berikan. Jangan lupa kasih like, komen dan aktifkan tanda favoritnya yaa biar kalian tahu kalau udah update.


Author akan memberikan cerita yang terbaik untuk kalian semua. Mohon maaf jika ada yang kecewa karena 'adegan dewasa'nya kurang detail atau ngga greget, memang author sengaja meminimalisir konten semacam itu karena ada readers yang masih dibawah umur.


See you next day,

__ADS_1


Jaa mata ne,


Hanazawaeaszy ^^ 😘


__ADS_2