
Sebuah kendaraan warna hitam melaju dengan cepat, membelah jalanan yang sedikit lengang. Kosuke membawa mobil ini menjauh dari pusat kota agar tidak menjadi pusat perhatian media masa. Dia tidak ingin membuat masalah dengan publik, itu bisa mengganggu kredibilitas perusahaan.
Mereka terpojok di saat sekumpulan robot berbentuk lalat itu kembali berdatangan. Setidaknya satu koloni yang membentuk bulatan besar tampak di kejauhan. Hal itu membuat Kosuke panik. Dia tidak tahu bagaimana harus bersikap sekarang.
"APA KAMU BODOH? TAMBAH KECEPATAN MOBILNYA!" titah Yamaken, meminta asisten pribadi yang terbiasa mendampingi kakak kembarnya ini untuk menginjak pedal gas semakin dalam.
Calon ayah ini tidak langsung menuruti perintah tuan mudanya. Dia memiliki pendapat sendiri. Jika ia semakin mempercepat laju kendaraan ini, bisa dipastikan mereka akan semakin dekat dengan bahaya yang menghadang mereka. Itu sama saja dengan bunuh diri, 'kan?
Dan otak Kosuke jelas-jelas menolak ide itu. Rasanya ia ingin mencari solusi lain yang lebih aman. Kedua neteranya masih menatap ke samping dengan gelisah.
"Apa yang kamu pikirkan?" Suara dingin Yamaken berhasil membuat Kosuke merinding. Nada bicara dan pembawaannya benar-benar sama seperti saudara kembarnya, Yamazaki Kenzo.
"Detik itu juga, Kosuke menekan pedal gass dengan kakinya. Dia tidak bisa melawan kehendak pria ini lagi. Bahkan napasnya ikut tercekat, tak berani bernapas sebelum Yamaken mengalihkan pandangan tajamnya.
Ya, sejak dua detik sebelumnya, pria yang terkenal memiliki senyum menawan ini justru menatap Kosuke dengan pandangan mematikan. Darah yang mengalir melalui pelipisnya semakin menambah kesan garang yang ada padanya.
Glek
Kosuke menelan salivanya dengan paksa. Rasanya lebih baik ia tidak mencari perkara dengan pria ini. Entah akibat seperti apa yang akan dia dapatkan nantinya jika melawan titah satu ini.
Seorang Yamaken yang lembut dan ramah ternyata memiliki sisi gelap yang tak kalah mengerikannya dibandingkan dengan Yamazaki Kenzo. Mereka sungguhan Gangster Boy.
Jarak mereka dengan koloni itu semakin dekat, Kosuke menarik napas dalam-dalam. Dia hanya harus percaya pada pemberi perintah yang kini bergerak cepat, mengeluarkan pistol dari kedua sisi pinggangnya. Kepala Yamaken keluar melalui jendela, membidik bulatan hitam itu dengan pandangan tajam seperti elang.
Dor dor dor
Entah berapa tembakan Yamaken lesatkan, tapi bukan pada koloni lalat itu, melainkan pada pipa air yang ada di sisi jalan. Hanya dalam hitungan detik, air memancar dari masing-masing saluran itu, menyeruak keluar dengan paksa. Tentu saja hal itu menimbulkan efek semacam air mancur yang menyembur ke sana kemari tanpa arah yang pasti.
Krakk krakk
Koloni lalat itu terpecah, tak lagi membentuk gumpalan besar. Mereka mulai berpencar, terbagi jadi banyak ke berbagai arah. Beberapa bahkan tampak tergeletak di jalan. Bagaimanapun juga, lalat-lalat busuk itu hanya piranti elektronik biasa. Jika tidak dilengkapi teknologi anti air atau semacamnya, artinya itulah kelemahan mereka.
Yamaken berhasil berpikir cepat, mengingat adanya asap yang keluar dari robot mungil ini ketika di pelabuhan. Asap akan padam dengan air. Dan dia berhasil membuktikan teorinya. Meski tidak bisa menghabisi koloni itu, setidaknya mereka memiliki waktu lebih untuk bernapas.
__ADS_1
Dan Kosuke baru memahami kenapa tuannya ini memintanya mempercepat laju kendaraan. Semakin cepat mereka bergerak, maka semakin besar daya yang bisa Yamaken hasilkan dari pelurunya.
Jika mereka hanya melaju dengan kecepatan sedang atau bahkan rendah, maka pipa saluran air di pinggir jalan hanya akan merembes, tidak akan terpelanting seperti tadi. Benar-benar keputusan yang tepat. Sangat-sangat tepat.
Masalah di depan mobil ini sedikit terurai, sedangkan masalah besar masih menghantui seorang Mone. Dia tidak lagi memiliki senjata untuk melawan tiga lalat hijau berkepala hitam ini. Seketika kata-kata Yamaken kembali terngiang di kepalanya.
"Jika kamu dalam bahaya, patahkan kepala bonekanya dan asap pekat akan segera muncul. Kamu bisa kabur jika situasi mendesak dan tidak memungkinkan untuk menyerang mereka."
Seketika Mone meraba saku celananya di samping lutut sebelah kanan. Seingatnya, ia selalu membawa benda itu kemanapun dirinya pergi. Sepersekian detik gadis bertubuh mungil ini menatap boneka buatan Yamaken dengan pandangan tidak rela.
"Ini aku buat dengan sepenuh hatiku."
Menahan gemuruh di dalam hatinya, mau tak mau Mone harus merelakan benda itu. Toh, ia bisa meminta kekasihnya untuk membuatkan lagi lain kali.
'Ah, jika masih ada lain kali,' gumam Mone tanpa suara. Hatinya mencelos. Dia tidak yakin seberapa besar kemungkinannya untuk selamat dari situasi ini. Satu yang pasti, ia harus melakukan apapun dengan sekuat tenaga. Hasilnya biarlah Tuhan yang berbicara.
Klek
Kesempatan itu tak disia-siakan oleh Mone. Dia beranjak bangun dari posisinya yang berjongkok sejak bermenit-menit yang lalu.
"Minami-chan, dimana kalian menyimpan senjata?" Mone yang tidak tahu tata letak ruangan ini, terpaksa bertanya. Tapi, Minami tidak menjawabnya. Dia sedang sibuk berbicara dengan Aira melalui headphone yang terpasang di kedua sisi kepalanya.
Dengan gerakan super cepat, Mone membuka satu per satu laci yang ia jumpai. Tidak ada pistol lagi. Hanya ada senjata laras panjang yang tersimpan di sana. Rasanya itu terlalu berlebihan. Tiga lalat itu hanya butuh tiga peluru. Tapi, tidak ada pilihan lain. Mone harus segera mengakhiri pertempuran sengit ini.
Dengan tenaga yang tersisa, gadis berdarah Indonesia - Jepang ini mengambil senjata AK-47 yang ditemukannya. Dia siap menghabisi ketiga lalat busuk itu hanya dalam sekali tembakan. Dia bertekad akan melakukannya. Lalat-lalat tidak tahu diri ini sudah mengambil benda berharga buatan kekasih hatinya.
Mone berdiri di ambang pintu, siap menembakkan peluru begitu lalat itu keluar dari kepulan asap yang ada di udara. Kecepatan mereka sedikit menurun, terhalang bom asap ciptaan Yamaken.
TRRR TAT TAT TAT!
Sesuai tekad di dalam hatinya, Mone melumpuhkan lalat sialan itu dalam sekali bidikan. Mereka meledak di udara, membiaskan percikan bunga api yang tidak terlalu kentara. Lain halnya jika hal itu terjadi saat langit gelap, pasti seperti sedang berlangsung festival kembang api.
Mendengar suara yang tidak biasa, Yamaken segera menoleh ke belakang dan mendapati Mone menurunkan AK-47 ke lantai. Gadis itu mengambil tiga buah granat dan melemparnya sekaligus ke udara.
__ADS_1
DUAARR!
Koloni yang sempat terpecah karena aksi Yamaken sebelumnya, kini mulai berkumpul. Mobil ini berhasil melewatinya, membuat sekumpulan lalat-lalat hijau hitam itu tertinggal di belakang. Dan sedetik yang lalu, calon istrinya yang mungil dan menggemaskan itu melemparkan tiga buah peledak sekaligus.
Tanpa melihatnya saja Yamaken sudah tahu, pertempuran sengit ini mereka menangkan setelah drama yang terjadi. Mereka berhasil menyingkirkan segala halang rintang yang ada.
Cup
"Arigatou," ucap Yamaken yang tiba-tiba sudah berdiri di belakang Mone, memeluk wanita ini dengan erat. Sebuah kecupan di pipi menjadi hadiah terima kasih atas bantuannya kali ini.
Deg!
Detak jantung Mone seolah berhenti saat itu juga. Dia tidak menyangka akan mendapat kecupan singkat dari kekasihnya. Kedua tangan gadis mungil ini segera meraih lengan Yamaken yang ada di depan dadanya.
"Umm," jawabnya malu-malu sambil menganggukkan kepala.
Yamaken membalik tubuh mungil nona yang akan merayakan ulang tahunnya dua bulan kedepan ini. Dia berniat memberikan hadiah lain yang lebih spesial dibanding kecupan di pipi barusan.
Wajah Mone merah merona. Dari gelagat yang pria ini tunjukkan, terlihat jelas bahwa Yamaken ingin merasai bibirnya. Dan dia juga tidak ingin menolaknya. Ketegangan yang sedari tadi mereka hadapi, setidaknya harus sedikit terelaksasi. Salah satu caranya adalah dengan memicu hormon dopamin di dalam otak mereka.
Yamaken semakin mendekatkan kepalanya, menatap manik mata Mone dengan penuh cinta.
Di saat yang sama, Mone juga merasakan hatinya menghangat. Dia memejamkan mata, bersiap menerima sentuhan bibir yang pria ini lakukan detik berikutnya.
Embusan napas hangat beraroma mint segera tercium di hidung Mone. Bahkan pafrum yang Yamaken pakai berjam-jam yang lalu, tertangkap indera penciumannya. Matanya yang terpejam justru mengaktifkan keempat indera lainnya.
Jarak keduanya hanya tersisa beberapa centimeter saja. Yamaken mencengekeram lengan Mone dengan erat, tidak inign wanitanya ini menjauh dan ciuman mereka mungkin saja akan gagal. Yamaken tidak ingin itu terjadi.
Apa yang terjadi selanjutnya? Berhasilkan Yamaken memberikan kecupan mesra di bibr wanitanya?
Kita nantikan bab berikutnya. Jangan lupa tinggalkan jejak kalian yaa dengan tulis komentar, like, vote, rate, atau berikan hadiah biar Author lebih semangat lagi di tempat ini. Terima kasih atas waktu kalian. See you,
Hanazawa Easzy
__ADS_1