Gangster Boy

Gangster Boy
Gangster Boy : Potongan Puzzle


__ADS_3

Matahari tepat menghilang di ufuk barat saat sebuah kendaraan roda empat terhenti di tempat parkir. Seorang pria keluar dari mobil limited edition itu sebelum melangkah menuju anak tangga di sudut tempat ini. Dia mengabaikan pintu lift di sebelah kiri badannya. Pria ini memang sengaja ingin mengambil jalan lain.


"Aku menulis surat wasiat bahwa anak itu bukan darah daging Yuki, melainkan benih dari pria bernama Shun Oguri. Itu sebabnya tuan Harada begitu menentang keberadaan Kaori. Cepat atau lambat, pria bodoh itu pasti membacanya. Dan kemudian.... BOOOMM!!! Dia akan menghancurkan Shun Oguri."


Pernyataan dari seorang wanita yang didengarnya sore ini membuat Yuki berpikir ulang. Dia harus memilih dan memilah informasi yang dia dapatkan sejauh ini. Siapa kawan dan siapa lawan!


Tuk tuk tuk


Sepatu pantovel mengilat yang dipakai pria ini terdengar nyaring, menapaki anak tangga satu per satu. Pikirannya melanglang buana, merangkai potongan puzzle yang tersimpan di dalam memori otaknya.


"Jika Anna berusaha mengadu domba kami, kenapa dia harus menyerahkan data keuangan Naga Hitam?" Yuki bergumam.


"Dia mengatakan bahwa hubungan ayah dan kakek Yamazaki memburuk sejak lima tahun yang lalu. Itu tidak lama setelah Yamazaki Kenzo mengambil alih semua lahan bisnis yang ada. Apa itu ada hubungannya?"


Yuki terus berjalan. Papan di sudut kanan tangga menunjukkan bahwa dia mulai menapaki lantai dua. Masih ada beberapa lantai lagi sebelum dia sampai ke huniannya.


"Tapi... " Yuki berhenti melangkah. Dia menatap langit-langit, mengingat ekspresi Kenzo saat ditemuinya kemarin. "Dia tidak terpengaruh sama sekali saat aku membahas Naga Hitam. Dia yang terlalu pandai menyembunyikan fakta sebenarnya, atau aku yang terlalu bodoh karena tidak bisa menerka ekspresi wajahnya?"


Denyutan di kepala Yuki semakin kuat. Dia tidak tahu siapa yang benar-benar ada di sisinya. Dengan langkah konstan, Yuki terus melangkah. Sesekali pria itu mengurut pelipisnya, meredakan sakit kepala yang dia rasakan tiada henti. Bukannya membaik, justru semua semakin runyam.


Tadinya Yuki berniat menemui Anna, ingin menanyakan beberapa hal padanya. Tapi dia justru dikejutkan oleh suara wanita yang seolah memprovokasi Anna untuk mengadu domba dirinya dengan Shun Oguri. Apa yang harus dia lakukan?


Tit tit tit


Yuki menekan kombinasi password melalui panel di hadapannya, membuat kunci pintunya terbuka. Ada perasaan gamam dan tidak sabar yang dia rasakan saat ini. Dia ingin segera mengetahui dalang dibalik kematian ayahnya beberapa hari yang lalu.


"Tadaima," ucap Yuki begitu membuka  pintu. Dia menunduk, melepas sepatu yang sedari  tadi melekat di kedua kakinya.


"Okaeri," jawab seorang wanita 53 tahun sambil tersenyum. Dia adalah nyonya Suzuki, ibu kandungnya.


"Maaf, Bu, aku pulang terlambat." Yuki mendekat dan mencium pipi ibunya. Wanita ini terlihat semakin kurus sejak kepergian suaminya, tepat satu pekan hari ini.


"Apa ibu sudah makan?" Yuki mengajak wanita ini duduk, kemudian menggenggam tangannya erat-erat.


Nyonya Suzuki menggeleng. Dia tidak berselera untuk makan. Bahkan dia juga berubah jadi pendiam akhir-akhir ini, enggan berbicara pada siapapun kecuali pada putra sulungnya ini.

__ADS_1


"Aku akan membuatkan sesuatu untuk ibu. Tunggu sebentar." Yuki beranjak berdiri saat tangan wanita ini menahannya.


"Ibu tidak lapar."


Yuki menggeleng. "Tidak. Ibu pasti belum makan apapun hari ini. Pagi tadi menolak makan, apa malam ini ibu juga tidak ingin makan?"


Wanita dengan wajah putih bersih ini bungkam, diam seribu bahasa.


"Jika ibu sakit, siapa yang akan mengurusku?"


Pria 31 tahun itu melepaskan tautan tangan Sang Ibu, segera beralih ke dapur dan membuatkan makan malam untuk ibunya. Isi kepalanya semakin banyak dan runyam, tapi dia tidak bisa mengabaikan kesehatan wanita kesayangannya ini.


"Mulai besok, aku akan mempekerjakan orang untuk tinggal bersama ibu. Dia harus memastikan ibu makan tiga kali dalam sehari. Jika tidak, aku akan menghukumnya."


Nyonya Suzuki tetap diam. Dia tahu bahwa putra sulungnya ini pria yang bertanggung jawab dan penuh kasih sayang. Jika bukan karena keras kepala mendiang suaminya, mungkin Yuki tidak perlu berpisah dengan Kaori.


"Besok aku ada urusan dan harus pergi ke Nagano pagi-pagi sekali. Mungkin baru akan kembali esok atau lusa." Yuki mulai mengocok telur di dalam mangkuk sebelum menyiramkannya di atas wajan. "Apa ibu ingin ikut ke sana?"


Wanita dengan syal di lehernya ini menggeleng. Dia tidak ingin pergi ke kota kelahiran suaminya, Hayato Harada.


Nyonya Suzuki menatap tubuh tegap anaknya dengan pandangan haru. Tabiatnya sangat mirip dengan Sang Ayah. Merka sama-sama pria yang penyayang, membuat dirinya merasa dihargai.


"Apa ayahmu sudah makan?"


Deg!


Detak jantung Yuki seolah berhenti sepersekian detik. Dia menutup mulutnya rapat-rapat. Lidahnya terlalu kelu untuk menjawab pertanyaan yang ibunya ucapkan. Dia tahu wanita ini amat sangat mencintai suaminya dan belum rela jika keduanya sekarang ada di dunia yang berbeda.


"Apa dia tidur dengan nyenyak?"


Pertanyaan kedua membuat Yuki kembali tergeragap. Hatinya sakit, tidak bisa memberikan jawaban yang bisa membuat wanita ini merasa lebih baik.


"Dia memang bukan pria baik-baik. Tapi dia selalu baik padaku." Ucapan nyonya Suzuki semakin melemah. Pandangan matanya kosong. Dia tidak memiliki semangat hidup lagi setelah mengetahui kematian pria cinta pertamanya.


"Jika dia mendengarkan perkataanku, mungkin kita masih bisa makan malam bersama hari ini."

__ADS_1


Yuki semakin bingung. Ibunya begitu larut dalam kesedihan hatinya. Apa yang bisa dia lakukan untuk membuat ibunya kembali ceria?


Grep


Yuki memeluk ibunya, membawa kepala wanita itu dalam dekapannya. Meski tanpa kata, dia ingin membuat perasaan ibunya sedikit lebih baik.


Iisak tangis wanita ini tak lagi tertahankan. Dia menangis dalam pelukan anaknya. Hatinya masih rapuh, ditinggalkan oleh pria yang membersamainya 35 tahun terakhir.


Berbagai macam hal mereka lalui bersama, tangis, canda, tawa, dan berbagai emosi lainnya. Hubungan mereka bukan hanya sekadar suami - istri, melainkan sudah menjadi tambatan hati. Satu terluka, maka yang lain ikut merasakanya.


Cup


"Aku akan selalu ada untuk ibu." Yuki mencium puncak kepala wanita ini, berharap kesedihannya sedikit teruraikan. Hanya satu hal yang menjadi prioritasnya saat ini, melindungi ibunya semaksimal mungkin.


Nyonya Suzuki mengurai pelukan anaknya setelah isak tangisnya mereda.


"Ada sesuatu yang ingin ibu katakan," ucapnya dengan suara yang lemah. Netranya mengarah pada manik mata hitam milik Yuki.


"Kita bisa membicarakannya lain kali. Tapi sebelumnya, ibu harus makan dulu."


Nyonya Suzuki menggeleng. Dia tidak ingin menunda lagi. Ada rahasia yang ingin dia katakan pada putranya ini.


"Ini tentang ayahmu."


Langkah kaki Yuki terhenti. Dia menatap wanita yang paling dia hormati dengan pandangan penuh tanda tanya. "Tentang ayah?"


"Umm. Kemarilah. Dengarkan ibu."


* * *


 


Rahasia apa yang ingin nyonya Suzuki ungkapakan pada anaknya? Mungkinkah itu ada hubungannya dengan permasalahan pelik yang dihadapi oleh Yuki?


Sampai jumpa di episode berikutnya. Jangan lupa tinggalkan jejak kalian supaya Author semangat buat crazy up. See you,

__ADS_1


Hanazawa Easzy


__ADS_2