Gangster Boy

Gangster Boy
Season 3 : Menjauhlah Dariku!


__ADS_3

Di bawah ini akan Author cantumkan artikel kesehatan lagi ya. Bukan hal yang jorok atau tidak senonoh, ini ilmu. Ilmu agama yang selaras dengan ilmu medis.


Ada beberapa kata atau huruf yang terpaksa author ganti dengan tanda bintang ya, biar ngga kena sensor. Bagi yang kurang berkenan membaca artikel kesehatan lagi dan lagi, bisa langsung di skip aja yaa, hehe


Selamat membaca, jangan lupa tap jempolnya 😉🖒


...****************...


Langit berbintang tampak gelap sempurna, menandakan bahwa mentari tengah ada di belahan bumi yang lain. Malam gelap menyelimuti bumi yang tak terkena bias pusat tata surya itu. Udara yang berembus perlahan membawa uap air yang akan berubah menjadi embun saat pagi menjelang. Uap air itu akan menempel pada benda-benda seperti daun, tanah, gedung, maupun rumput. Permukaan benda-benda tersebut ikut menjadi dingin, sehingga membuatnya mudah menempel.


Aira terbangun tengah malam karena merasa haus dan berkeringat. Ia menyeka dahinya dengan punggung tangan. Seketika gerakannya terhenti saat pelukan di perutnya terasa semakin erat.


Perlahan Aira menyingkirkan tangan Ken dari perutnya, meletakkannya di atas badan suaminya yang tidur menghadap ke samping. Ia duduk di tepi ranjang dan bersiap bangun saat tiba-tiba tangan Ken menahannya.


"Ken," Aira berbalik, membelai pipi suaminya perlahan. "Kamu belum tidur?" tanya Aira. Ia menatap suaminya yang tampak gelisah.


"Jangan pergi," gumam Ken dengan suara serak. Ia berkata tanpa membuka kelopak matanya.


"Aku hanya akan mengambil air minum." Aira melepas tangan suaminya dengan paksa. Ia berjalan ke arah meja bundar di samping pintu masuk dan mengambil segelas air putih.


"Kamu belum tidur?" tanya Aira kembali duduk di tepi ranjang, menatap suaminya yang kini duduk bersandar pada kepala ranjang.


Ken menggeleng tanpa bersuara. Ia menarik lengan istrinya, memintanya naik kembali ke ranjang.


"Ada apa?" tanya Aira penasaran. Sikap suaminya berubah 180° dibandingkan beberapa jam yang lalu saat mereka pulang dari rumah sakit bersalin. Sebelumnya, Ken begitu antusias menggodanya. Tapi sekarang, jangankan menggoda, menjawab pertanyaannya saja hanya dengan isyarat.


Ken meraih kepala Aira, membawanya ke dalam rengkuhan tangan kekarnya. Ia memaksa Aira bersandar pada dada bidangnya yang masih tertutup sweater warna coklat susu yang dipakainya.


"Kamu belum mengganti pakaianmu?" tanya Aira saat menyadari suaminya masih memakai pakaian yang sama seperti saat di Yamashita Koen.


"Maafkan aku," ungkap Ken dengan nada bersalah. Bukannya menjawab pertanyaan istrinya, pria itu justru minta maaf. Ia membelai surai hitam istrinya dengan tangan kiri, sementara tangan yang lainnya menggenggam jemari tangan Aira erat-erat.


"Ada apa?" tanya Aira untuk yang ke sekian kali. Ia sungguh tidak tahu apa yang terjadi pada suaminya sampai membuatnya bersikap aneh seperti sekarang.


"Apa aku menyusahkanmu selama ini?" Suara Ken bergetar, menandakan gemuruh yang menyergap hatinya.


"Apa yang kamu bicarakan?" Aira berusaha mengangkat kepalanya yang menempel di dada bidang suaminya, namun dicegah oleh Ken.


"Jangan bergerak!" Ken menahan puncak lengan istrinya, membuatnya tidak bisa berkutik. "Jawab saja pertanyaanku."


"Kamu aneh. Katakan ada apa sebenarnya!" tegas Aira.

__ADS_1


"Ibu memintaku untuk menjauhimu setelah kamu melahirkan. Apa keberadaanku begitu mengganggumu?"


Kerutan di kening Aira seketika menghilang. Akhirnya ia tahu penyebab suaminya bersikap lain dari biasanya. Ia menggerakkan tangannya melingkari perut Ken. Kepalanya tertengadah menatap rahang kokoh suaminya dari bawah.


"Sayang, kamu tidak menggangguku sama sekali. Aku justru sangat senang saat kamu begitu memperhatikanku. Tapi, memang ada hal-hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan setelah seorang wanita melahirkan. Termasuk, kamu tidak boleh 'menyentuhku'. Bukankah itu yang ibu katakan padamu?"


Ken mengangguk, membuat senyum lebar merekah di wajah istrinya.


"Itu adalah budaya di sini?"


"Benar." jawab Ken singkat.


"Tahukah kamu, itu bukan hanya budaya bagiku? Itu adalah ajaran Islam, agama kita. Saat seorang wanita melahirkan, akan ada darah yang keluar dari rahimnya yang disebut nifas. Darah nifas keluar selama empat puluh hari setelah melahirkan, bahkan beberapa orang mengalaminya sampai hari ke-60. Selama masa nifas, seorang perempuan dilarang untuk salat, puasa, dan berhubungan intim dengan suaminya."


Wajah Ken bersemu merah saat mendengar beberapa kata terakhir yang diucapkan oleh Aira. Ken baru menjadi mualaf hampir setahun ini, ia merasa apa yang tengah dibicarakan oleh istrinya adalah hal yang tabu, tidak patut untuk dibicarakan. Padahal itu adalah perkara yang cukup penting.


"Tubuh wanita akan mengalami perubahan, yaitu adaptasi dari masa kehamilan dan melahirkan, sampai berangsur-angsur kembali lagi ke keadaan seperti sebelum hamil. Sebagian besar wanita tidak mengetahui proses pemulihan yang dialami tubuhnya selama masa nifas. Padahal, ini penting diketahui agar dapat melakukan perawatan yang tepat setelah melahirkan." Aira menjelaskan dengan sabar ilmu yang ia dapat saat kelas maternity. Itu sama dengan tuntunan agama yang dianutnya, Islam.


"Dokter Tsukushi mengatakan bahwa setelah seorang wanita melahirkan, biasanya mereka merasa sangat lelah dan nyeri tak tertahankan. Tubuh umumnya membutuhkan waktu selama 6-8 minggu untuk pulih, dan kemungkinan membutuhkan waktu lebih lama lagi jika harus  melahirkan secara caesar."


"Apa kamu akan baik-baik saja?" tanya Ken khawatir. Jemarinya semakin posesif memeluk pinggang istrinya dengan erat.


"Apa itu sungguh menyakitkan?" Ken menatap manik mata istrinya dalam-dalam.


"Kamu sungguh ingin mendengarnya?" tanya Aira memastikan. Ken menjawabnya dengan anggukan.


"Mungkin akan terdengar membosankan. Aku hanya akan mengatakan sebatas yang dokter sampaikan padaku."


"Tak apa. Aku siap mendengarkannya. Lagi pula, aku akan merasa semakin bersalah jika tidak tahu apa yang terjadi padamu," ucap Ken sebelum mencium kening istrinya.


"Baiklah. Aku akan mengatakannya." Aira tersenyum. "Setidaknya ada lima organ yang terkena dampak langsung akibat kelahiran normal. Yang pertama adalah organ reproduksi wanita atau v*gina. V*gina yang mengalami peningkatan aliran darah dan pembengkakan, akan kembali seperti semula dalam waktu 6 sampai 10 minggu. Pada ibu yang menyusui, kembalinya kondisi ****** akan lebih lama karena kadar estrogen yang rendah."


"Yang kedua, ada perineum. Perineum adalah bagian yang ada di antara v*gina dan *nus. Pada proses persalinan, bagian ini dapat robek baik karena proses mengejan atau karena tindakan episiotomi. Ketika masa nifas, vulva yang membengkak akan kembali pulih dalam waktu 1-2 minggu, sedangkan kekuatan otot-otot perineum akan kembali ke keadaan semula selama enam minggu setelah persalinan. Namun pada sebagian kasus, kekuatan otot perineum ini mungkin tidak akan sempurna seperti sediakala akibat beratnya robekan yang terjadi."


"Itu pasti membuatmu tidak nyaman," Ken mengelus perut istrinya dimana ketiga jagoannya tengah aktif bergerak kesana kemari.


"Mungkin mereka sedang ikut mendengarkan penjelasanku bersama ayahnya," canda Aira.


Wanita hamil itu menyentuh punggung tangan suaminya yang lagi lagi hanya bisa membuat calon ayah itu tersenyum.


"Masih mau mendengar penjelasanku?"

__ADS_1


Ken mengangguk, "Anggap saja sedang mengikuti seminar bersama dokter kandungan," celoteh Ken. "Apa lagi yang ikut terpengaruh saat kamu melahirkan?"


"Rahim," jawab Aira. "Ketika hamil, berat rahim sendiri bisa mencapai 1000 gram atau satu kilogram. Ukuran rahim akan terus menyusut, dan berat rahim pada minggu keenam setelah melahirkan hanya sekitar 50-100 gram. Debit darah yang keluar pun terus berkurang, dengan warna yang berubah dari merah menjadi putih kekuningan."


"Organ berikutnya ada leher rahim (serviks). Bagian ini juga berangsur-angsur kembali seperti semula, meski bentuk dan ukurannya tidak dapat benar-benar kembali sama seperti ketika sebelum hamil."


"Dan yang terakhir adalah dinding perut. Dokter Tsukushi mengatakan jika ingin dinding perut kembali kencang, diperlukan latihan secara rutin. Sebab, beberapa minggu setelah melahirkan, bagian ini akan mengendur."


"Itu saja?" tanya Ken ingin tahu.


"Emm, sebenarnya masih ada satu bagian lagi. Itu... p*yudara. P*yudara wanita yang memasuki masa nifas akan terasa kencang, penuh, dan nyeri. Hal ini merupakan proses alami, karena tubuh mempersiapkan diri untuk proses menyusui bayi. Pada masa nifas, dokter menyarankan ibu hamil untuk menyusui dengan rutin agar ASI dapat tersalurkan kepada bayi. Menyusui pada masa nifas juga dapat membantu mengurangi rasa nyeri pada p*yudara setelah melahirkan." Aira menjelaskan panjang lebar seperti yang pernah disampaikan oleh dokter Tsukushi padanya.


"Kamu cocok jadi dokter kandungan," canda Ken untuk yang ke sekian kalinya.


Aira tersenyum. "Ken, masa nifas juga berpengaruh kepada emosiku. Mungkin kedepannya, aku bisa merasa bahagia karena kehadiran seorang anggota baru di tengah keluarga, namun di saat yang bersamaan, Anda mungkin juga merasa lelah dan cemas karena memiliki tanggung jawab baru dalam mengurus bayi."


"Ada juga wanita yang mengalami sindrom baby blues pada masa nifas. Sindrom ini biasanya dimulai di hari kedua atau ketiga setelah melahirkan dan cenderung mereda beberapa hari kemudian. Namun, ada juga wanita kondisi baby blues disertai keinginan untuk menyakiti diri sendiri atau bayi, dan mengarah ke depresi."


"Pada dasarnya, perawatan pada masa nifas difokuskan agar kondisi ibu tetap sehat, baik secara fisik maupun mental. Dokter Tsukushi memintaku agar memanfaatkan masa ini untuk memulihkan diri, menguatkan ikatan dengan anak-anak, dan mengatur rutinitas untuk merawat mereka bertiga. Jadi, untuk beberapa waktu ke depan, kamu sungguh harus membatasi dirimu sendiri. Itu demi kebaikan kita bersama," pungkas Aira mengakhiri penjelasan sambil mengelus pipi suaminya.


"Hem. Nampaknya itu akan menyulitkanku," gumam Ken, menahan tangan Aira dan menciumnya.


"Bersabarlah, Dad. Menjauhlah dariku!"


"Baiklah. Aku akan berusaha sebaik mungkin," janji Ken.


Cup


Ken mencium kening istrinya. "Ayo tidur, ini masih tengah malam," ucapnya setelah melirik jam dinding di atas pintu yang menunjukkan pukul satu dini hari.


Aira mengangguk dan membenahi posisinya berbaring. Kini keduanya tidur saling berhadapan, Ken memeluk pinggang istrinya dengan posesif dan Aira membenamkan wajahnya di depan dada bidang suaminya.


...****************...


Baper 😣😟


Dahlah, cuma bisa menikmati keromantisan mereka di dalam dunia khayal. Single mah bisa apa selain halu 😅😂😂


Jaa,


Hanazawa Easzy 💃

__ADS_1


__ADS_2