
Yuki duduk berdua dengan Sang Ibu, mengabaikan makan malam mereka yang harus tertunda. Nyonya Suzuki bersikeras ingin membicarakan sesuatu berkaitan dengan pria yang baru saja meninggal sepekan yang lalu, Hayato Harada, kepala keluarga mereka.
"Ada apa, Bu?" Pria berwajah rupawan itu menatap wanita 53 tahun yang kini duduk di sampingnya. Mereka berbagi kursi yang sama, hampir tak ada jarak sama sekali. Keduanya memang dekat, terlebih lagi dengan kondisi nyonya Suzuki yang masih terpuruk seperti sekarang, Yuki ingin selalu membersamainya.
Wanita dengan syal di lehernya itu mengeluarkan sebuah album foto dari bawah meja. Dengan gerakan yang anggun, jemarinya bergerak membuka hard cover di hadapannya.
"Ini foto-foto ayahmu ketika masih muda." Wanita itu mulai bernarasi sambil menunjukkan potret Harada muda kala itu, puluhan tahun silam. Tubuhnya tegap, hampir sama dengan pembawaan Yuki saat ini.
"Ayahmu adalah pria yang hangat, selalu memperlakukan ibu dengan baik." Nyonya Suzuki masih saja mengagung-agungkan mendiang suaminya.
Yuki diam, tak merespon ucapan wanita ini. Dia sudah dewasa, jadi tahu tabiat ayahnya selama ini. Yang Yuki tidak tahu adalah pergerakan bisnis ayahnya yang bisa merajai kelompok kriminal sebesar geng Naga Hitam. Ingin sekali Yuki menanyakan hal itu, tapi dirasa waktunya kurang tepat.
"Ayah sudah tenang di surga. Ibu jangan memikirkannya lagi, ya?" Pria dengan tahi lalat di telapak tangannya ini merangkul Sang Ibu, mencoba menguatkan hatinya yang rapuh.
Nyonya Suzuki kembali tersenyum. Dia bersyukur memiliki seorang putra yang begitu menyayanginya.
"Ada sesuatu yang ingin ibu katakan padamu."
"Umm. Aku di sini untuk ibu." Yuki menunjukkan senyum terbaiknya.
"Ada rahasia yang selama ini ayah dan ibu simpan rapat-rapat di depan kalian, anak-anak ibu."
Yuki menatap nyonya Suzuki dengan kening berkerut. Sedikit banyak dia bisa memperkirakan apa yang akan ibunya bahas kali ini. Kemungkinan tentang dunia bawah tanah yang digeluti ayahnya saat masih hidup.
"Kamu pernah dengar tentang geng Naga Hitam sebelumnya?" tanya wanita itu sambil mengelus kepala putra sulungnya ini.
Yuki terhenyak. Dia tidak menyangka akan mendapat pertanyaan itu.
"Ano... Aku seperti pernah mendengarnya sekilas, tapi tidak yakin." Yuki berdalih, tidak ingin ibunya curiga.
"Maaf karena ayah atau ibu tidak pernah mengungkapkan hal ini."
Yuki tidak berkomentar. Dia tidak ingin mengganggu penjelasan dari ibunya.
"Hitam tidak selalu buruk. Dan putih juga tidak bermakna suci." Wanita ini mulai bernarasi. "Dan ayahmu, dia tidak dalam golongan keduanya. Wilayahnya abu-abu."
Nyonya Suzuki mengambil napas dalam-dalam, memilah kata yang tepat untuk berbicara rahasia besar yang tersimpan rapat selama ini.
__ADS_1
"Ayahmu menjalankan bisnis ilegal. Dia menjadi pemimpin geng kriminal yang berkembang pesat di Nagano, tempat kelahiran ayahmu."
Yuki menahan napas. Benar perkiraannya, ibu memang akan mengungkap sisi lain ayahnya. Jawaban yang dia cari kesana kemari, ternyata tersimpan rapat di dalam hati wanita kesayangannya. Dan bisa dipastikan bahwa informasi ini akurat, tidak akan keliru. Seorang ibu tidak mungkin membohongi putranya sendiri.
"Sejak awal ibu tidak tahu jika ayahmu adalah penjual senjata api ilegal. Kami bertemu di acara sosial dan menjadi dekat setelahnya." Memori nyonya Suzuki berputar cepat, kembali pada bertahun-tahun yang lalu saat perjumpaannya dengan Harada muda.
"Dia memesona. Membuat ibu jatuh cinta pada pandangan pertama."
Yuki mengepalkan tangannya di belakang punggung. Sejujurnya, dia tidak sabar ingin mendengar sisi lain mendiang ayahnya. Tapi, dia juga tidak ingin merusak momen nostalgia ibunya.
"Ayahmu menyembunyikan bisnisnya dari ibu hingga beberapa tahun kemudian. Bahkan ibu tidak tahu sama sekali apa yang dia lakukan di luar rumah."
Yuki menunjukkan senyum simpul terbaiknya. Dia harus menambah stok kesabarannya lagi demi mendengar cerita masa muda ayah dan ibunya.
"Ibu tidak sengaja menemukan laporan keuangan Naga Hitam yang ada di meja kerja ayahmu."
"Apa yang terjadi berikutnya, Bu? Apa ayah marah?"
Nyonya Suzuki tersenyum. Dia menggelengkan kepalanya. "Ayahmu tidak marah. Dia tidak pernah sekali pun marah pada ibu. Sama sepertimu yang tidak pernah bisa marah pada istrimu saat itu."
Ckiit
"Maaf, ibu tidak bermaksud mengungkit masa lalumu." Nyonya Suzuki merasa bersalah setelah mendapati wajah putranya jadi sedih.
"Aku baik-baik saja." Yuki berdalih. "Bisa ibu lanjutkan cerita ibu tentang ayah?"
"Ah, iya."
Keduanya saling pandang.
"Ayahmu seorang kriminal. Dia penjahat kelas kakap," aku wanita dengan kerutan halus di sekitar matanya ini. "Dia menyelundupkan banyak senjata api ilegal dari Rusia dan Italia. Menjualnya dengan harga tinggi dan mengumpulkan begitu banyak uang untuk masa depan kita."
Glek!
Yuki menelan salivanya dengan paksa, tidak menyangka bahwa ayahnya memang telah menjalani bisnis gelap ini sejak dia belum terlahir ke dunia ini.
"Seiring berjalannya waktu, bisnisnya sedikit terpuruk. Beberapa petugas kepolisian sengaja meminta upeti dengan jumlah yang besar."
__ADS_1
"Apa yang ayah lakukan untuk mengatasinya?"
"Dia menyingkirkan orang-orang itu dengan bantuan tuan Yamazaki Subaru."
Yuki terhenyak. Inilah yang ingin dia dengar. Awal mula hubungan ayahnya dengan orang-orang dari keluarga Yamazaki itu.
"Setelahnya, bisnis ayahmu kembali ke jalurnya. Bahkan, dengan bantuan dan koneksi tuan Yamazaki, pundi-pundi uang yang berhasil terkumpul semakin banyak. Dua atau tiga kali lipat dari sebelumnya."
"Apa yang mereka inginkan sebagai imbalannya?" Yuki tahu, tidak ada yang gratis di dunia ini. Tidak mungkin tuan Yamazaki dan orang-orangnya tidak memiliki pamrih apapun atas kerja keras mereka.
"Kamu cerdas," puji nyonya Suzuki pada anaknya. "Tentu saja mereka meminta imbalan, yaitu perizinan."
"Heih?" Yuki heran. Perizinan apa yang ibunya ungkapkan?
"Tuan Besar Yamazaki tidak kekurangan apapun. Yang dia inginkan adalah akses lebih lanjut dengan penguasa negara ini." Nyonya Suzuki menarik napas dalam-dalam sebelum melanjutkan. "Dia ingin ayahmu masuk ke dunia politik."
Netra sipit Yuki terbelalak, tidak menyangka ada kesepakatan seperti itu di dunia yang dijalankan oleh ayahnya. Ternyata hubungan kakek Yamazaki dan ayahnya tidak sederhana, semacam simbiosis mutualisme. Kerjasama yang saling menguntungkan.
"Kelompok kejahatan yang terorganisir seperti para yakuza dan geng Naga Hitam melakukan serangkaian tindakan kriminal untuk meraih keuntungan dari berbagai aktivitas ilegal. Mereka harus bertahan dari berbagai sisi yang mungkin melemahkannya. Tak jarang, mereka harus menyuap anggota lembaga pemerintahan dan sistem peradilan pidana."
"Mereka sengaja menggunakan ayah sebagai payung hukum dari segi politik?"
"Benar. Mereka memiliki tujuan yang hampir sama, yakni memonopoli pasar dan meraih keuntungan sebanyak-banyaknya. Selain aktivitas yang ilegal itu, mereka juga melakukan sejumlah tindakan kriminal sampingan lain yang ditujukan untuk menyembunyikan bisnis haram itu."
Yuki berhasil menangkap informasi yang wanita ini sampaikan. Dia akhirnya tahu bagaimana hubungan kakek Yamazaki dan ayahnya terjalin.
"Apa ibu tahu apa yang terjadi lima tahun yang lalu? Kenapa hubungan Naga Hitam dan kakek Yamazaki memburuk?"
Nyonya Suzuki terhenyak. Dia tidak menyangka akan mendapatkan pertanyaan itu. Darimana Yuki tahu tentang permasalahan rahasia antara Naga Hitam dengan klan yakuza terbesar di Jepang ini?
* * *
Penasaran gimana kelanjutannya? See you,
Hanazawa Easzy
__ADS_1