Gangster Boy

Gangster Boy
Gangster Boy : Tanpa Ekspresi


__ADS_3

Ken menyesali kesalahannya dan merasa tidak pantas menjadi pendamping Aira. Pria itu mengecup putra putrinya, membayangkan bahwa bayi-bayi mungil itu sebagai Aira.


"Ibu kalian benar-benar luar biasa." Ken bermonolog, menatap ketiga buah hatinya dengan pandangan penuh haru. Mereka datang ke dunia ini melalui perantara Aira, wanita yang lagi-lagi ia sakiti.


"Kamu juga pria yang luar biasa."


Deg!


Detak jantung Ken seolah terhenti seketika saat suara Aira menggema.


"Ai-chan," panggil Ken, berbalik menatap wanita berwajah bulat yang kini berdiri di hadapannya. Sebuah senyum simpul tercetak di sana, membuat Ken terbawa perasaan. Tanpa menunggu waktu lama, pria 28 tahun itu segera memeluk Sang Istri, melampiaskan seluruh emosi di dalam hatinya.


"Maaf. Aku tidak akan berbuat bodoh seperti itu lagi." Ken mempererat dekapannya. "Jangan pernah mengabaikanku seperti ini lagi. Aku bisa gila."


Senyum di wajah Aira semakin lebar. Wanita ini luluh, kemarahan di dalam hatinya sirna setelah mendengar berbagai pengakuan suaminya.


"Aku benar-benar takut melihatmu seperti itu." Ken mengurai pelukannya dan menatap ibu dari ketiga anaknya dengan mata berkaca-kaca. "Jangan melakukannya lagi. Lebih baik kamu marah, mengumpat, mencelaku, atau apapun itu, aku tidak masalah. Tapi..." Ken menempelkan keningnya pada Aira, "Jangan pernah meninggalkan atau mendiamkanku!"


Lagi-lagi Aira hanya tersenyum. Wanita ini menatap wajah pria di hadapannya tanpa mengatakan apapun.


"Ada apa?" Ken mulai heran, meraba wajah tampannya. "Ada yang salah dengan wajahku?"


Pertanyaan Ken semakin membuat Aira tergelitik. Dia tidak bisa menahan tawanya saat mendapati ekspresi keheranan Kenzo.


"Hey, kenapa tertawa?" Ken mulai merasa gondok, melihat Aira tengah menertawakannya tanpa sebab.


"Ai-chan!!" ketus Kenzo, merasa diremehkan oleh Sang Istri.


Cup


Pria itu tiba-tiba meraih tengkuk Aira, menariknya dengan cepat dan mencium bibirnya dengan penuh perasaan yang menggebu-gebu.


Blush!


Wajah bulat tembam itu merah merona kala merasakan tautan bibir suaminya. Terlebih lagi kini tubuh mereka tak lagi berjarak, membuat hatinya bergetar. Aroma tubuh pria ini membuatnya terpukau.


"Berhenti menertawakanku atau aku akan membuatmu tak bisa tertawa!" Ken menunjukkan dominasinya, tak ingin diremehkan sama sekali.


Aira masih bungkam. Dia ingin menggoda Ken, bertaruh bahwa pria ini pasti akan panik lagi jika dia tetap diam. Detik berikutnya, wajah Aira berubah seperti sediakala, tanpa ekspresi.

__ADS_1


"Memangnya kenapa kalau aku menertawakan pria bodoh di depanku?" balas Aira tak kalah sengitnya dengan nada bicara Kenzo. Dia menatap suaminya dengan pandangan yang tajam.


"Bu... bukan begitu." Ken tampak mulai panik, bahkan tergagap.


Aira berbalik, meneruskan akting marahnya.


"Jangan pergi!" Ken menahan kepergian Aira dengan memeluknya dari belakang. "Aku salah. Kamu boleh menertawakanku sepuasnya. Tapi, tolong jangan pergi."


Dekapan itu terasa semakin erat saat Aira pura-pura berontak, melepas jalinan tangan Ken di depan perut.


"Ai-chan," panggil Ken dengan nada mengiba. Dia benar-benar takut jika wanita kelahiran Indonesia ini kembali murka padanya.


"Baka!" cemooh Aira lirih, namun tertangkap dengan jelas oleh indera pendengaran suaminya.


(Bodoh!)


"Heih?" Ken segera membalik tubuh Aira dan mendapati wanita itu tengah tersenyum lebar.


"Suamiku benar-benar bodoh!" Aira mengatakan hal yang sama, mencemooh Kenzo yang begitu panik beberapa saat yang lalu.


"Apa kamu bilang?"


"Sudah puas menertawakan suamimu yang bosdoh ini?" Ken meraih pinggang Aira, menariknya dalam dekapan. Jarak mereka begitu dekat, bahkan saling menempel satu sama lain.


Cup


Aira mengalungkan kedua tangannya di leher Ken dan berinisiatif mencium pria ini lebih dahulu. Dengan sedikit berjinjit, Aira berhasil mendapatkan apa yang dia inginkan, bibir seksi Yamazaki Kenzo.


"Kamu memang bodoh. Tapi aku  menyukaimu." Aira mengungkapka hal itu setelah tautan Ken terlepas dari mulutnya.


"Apa kamu sengaja menggodaku?" Jemari Ken meremas pinggang Aira sebelum menghimpitnya ke dinding. "Jangan membangunkan harimau yang sedang tertidur, atau kamu akan merasakan akibatnya!" Ken menekankan kalimat terakhirnya.


"Mana ada harimau?! Yang ada di depanku ini kucing angora, bukan harimau atau serigala. Bukan sama sekali!" Aira bersikeras.


"Benarkah? Kamu yakin?" Ken mulai menempelkan dada bidangnya, membuat wanita ini semakin tertekan. Dia tidak ingin diremehkan, hanya dianggap sebagai kucing, binatang imut yang menggemaskan itu.


"Ai-chan, aku menginginkanmu," bisik Ken dengan hasrat yang semakin menggebu.


Aira tersenyum. Dia pernah membaca artikel kesehatan bahwa salah satu cara untuk memperbaiki hubungan suami istri yang renggang atau bertengkar adalah dengan berc*nta.

__ADS_1


Setiap pasangan pasti pernah merasakan pertikaian atau pertengkaran. Hal itu bisa memicu amarah, frustrasi, dan juga stress berlebih. Dan, b*rcinta diyakini bisa menjembatani kedua orang yang tengah bertikai untuk berdamai kembali. Itu salah satu manfaat hubungan biologis dengan pasangan, yakni melepaskan emosi yang terkekang.


Selain itu, seseorang akan merasa tenang dan lebih santai setelah mendapat pelepasannya. Mereka kembali mengingat kenikmatan yang ada bersama pasangan.


"Ken?!" pekik Aira saat tiba-tiba pria ini mengigit lehernya, membuat tubuhnya lemas seketika.


"Jangan di sana!" peringatan Aira terlambat. Pria yang tadinya dia anggap sebagai kucing angora ini sudah mencicipi leher putih mulusnya, bahkan meninggalkan bekas kemerahan tanda cinta.


"Mesum!" Aira mendorong dada bidang Ken, mencegah agar pria itu tak kehilangan kendali seperti sebelumnya.


Ken tersenyum penuh arti, menatap wajah Aira dengan penuh cinta.


"Kita lihat seberapa mesumnya pria yang berhasil membuahi sel telurmu kembar tiga sekaligus. Bagaimana jika kali ini aku berhasil menanamkan benihku lagi? Berapa bayi yang akan ada di dalam perutmu? Dua, tiga, atau empat?" Ken menyingkirkan helai rambut Sang Istri sebelum mengecup bagian belakang telinganya.


Aira mengendikkan bahu. Rasa geli itu begitu terasa, membuat ribuan kupu-kupu seolah berputar di bagian bawah perutnya. Dia terangsang akan perlakuan suaminya.


"Ken?!" Aira kembali menjauhkan dada Ken menggunakan tangannya. "Ada anak-anak," cegahnya, melirik baby triplet di atas ranjang tanpa penjagaan.


"Memangnya kenapa kalau ada anak-anak? Mereka akan ikut senang jika kedua orangtuanya bahagia."


Ken tak mengindahkan peringatan Aira. Dia sudah tidak bisa menahan diri lagi. Kecupan dan gigitan segera Aira rasakan detik berikutnya. Dan wanita ini sama sekali tidak bisa memungkiri bahwa dia juga menginginkan Ken. Dia merindukan kehangatan yang pria ini berikan padanya.


Perlahan, Ken membimbing istrinya untuk berbaring di sofa, beberapa langkah dari ranjang besar tempat Akari, Ayame, dan Azami berada. Keduanya tak lagi bertengkar, sama-sama menginginkan hal serupa yakni pelepasan dahaga.


"Kamu siap?" tanya Ken, menatap manik mata istrinya dalam-dalam.


Aira mengangguk, memberikan suaminya akses untuk masuk lebih dalam ke dalam permainan panas mereka.


Celotehan ketiga bayi menggemaskan itu, menjadi musik pengiring kedua orangtuanya yang tengah sibuk dengan aktivitas mereka sendiri. Jalinan cinta mereka kembali terjalin, bahkan lebih erat dari sebelumnya.


* * *


Akhirnya bisa up. See you next chapter.


Hanazawa Easzy


 


 

__ADS_1


__ADS_2