
Note : Author cantumkan artikel di bawah ini yang bersumber dari google. Untuk readers yang kurang berkenan, bisa di skip aja.
Selamat membaca 🤗
*******
"Semuanya sudah disini. Ayo berangkat!!" ucap Yu antusias.
"Apa kalian melupakanku?" tanya Shun dengan kepala sedikit miring ke samping.
Netra Kaori membulat melihat sosok yang tengah menenteng tas kecil di tangannya. Hal yang sama juga terjadi pada Ken, Aira, Kosuke, Minami dan Yu. Mereka terkejut melihat kedatangan pria tak diundang ini.
"Aku yang mengajaknya." ucap Yoshiro tanpa ekspresi.
"APAA?" pekik Yu.
Plakk
Yu memukul lengan pria yang berdiri di hadapannya, "Apa kamu gila?" tanya gadis berambut panjang itu dengan gigi yang mengerat. Ia jelas-jelas menunjukkan ketidaksukaannya pada pria yang tengah tersenyum penuh arti menatap Aira.
Ken segera berdiri di depan Aira, menghalangi pandangan pria tak tahu diri itu. Shun memalingkan wajahnya ke samping melihat respon cepat Ken yang begitu protektif pada istrinya.
"Tunggu apa lagi. Ayo.." ucapnya sambil mengipaskan paspor di depan wajah. Ia mengerlingkan matanya saat melewati Aira, membuat wanita hamil itu meraih lengan Ken dan memeluknya dengan erat. Bagaimanapun juga ia sedikit takut berhadapan dengan Shun. Ia masih mengingat kejadian tak terduga yang pria itu lakukan padanya. Rasa trauma masih ada di alam bawah sadarnya.
"Tidak apa. Aku akan selalu ada di sisimu." ucap Ken menenangkan Aira. Ia merangkulnya menuju tempat pengecekan dokumen.
Beberapa petugas tampak berjaga di belakang counter masing-masing. Staff airport berseragam biru itu tampak melakukan tugasnya dengan cermat, meneliti keaslian dokumen yang ada di tangannya.
Seorang wanita 30 tahunan menerima dokumen milik Aira. Keningnya sedikit berkerut saat memeriksa paspor dan tiket itu. Sepertinya ia heran saat membaca nama di depannya. Khumaira Latif, seperti bukan nama orang Jepang.
"Ada masalah?" tanya Ken menyelidik. Ia tampak tidak suka dengan petugas wanita yang sekarang sedang mengamati Aira dari ujung kaki sampai ke ujung kepala.
"Maaf. Silahkan lanjutkan perjalanan Anda." ucapnya sambil menundukkan kepala setelah menyerahkan paspor Aira kembali.
Ken mendengus kesal. Emosinya tersulut hanya karena masalah sepele. Sebenarnya masalah utamanya bukan pada petugas check in tadi, tapi keberadaan Shun yang membuat Ken tidak tenang.
Pria itu sesekali mencuri pandang pada Aira yang ada di sebelah Ken. Ingin rasanya Ken memukulnya, tapi kewarasannya masih terjaga dengan baik. Bukan menyelesaikan masalah, hal itu justru akan membuat keadaan mereka semakin rumit dan mungkin membuat perjalanan mereka terganggu. Biarlah, ia akan memaafkannya kali ini.
Shun dan Yoshiro berjalan bersisian menuju pesawat. Keduanya tampak akrab, membicarakan sesuatu yang serius. Sesekali Yoshiro mengangguk tanda menyetujui gagasan atau apapun itu yang Shun katakan.
Tak butuh waktu lama, rombongan itu mulai masuk ke dalam lambung pesawat dan duduk di kursi masing-masing. Ken memesan jet pribadi VVIP class demi kenyamanan mereka semua. Selain itu, waktu tempuh jet pribadi lebih cepat dibandingkan pesawat komersil pada umumnya. Bagi pengusaha berkantong tebal sepertinya, uang bukan masalah.
Selain menghemat waktu, jet pribadi bisa ke bandara di manapun di dunia. Asal bandara itu dijaga petugas ATC maka pesawat dipastikan bisa mendarat. Entah itu bandara komersial atau non komersial sekalipun.
Di angkasa, jalur jet pribadi juga terbilang eksklusif. Ketinggian jet pribadi ini bisa mencapai 45.000 kaki sedang pesawat komersil lainnya hanya di ketinggian 30.000 kaki.
__ADS_1
Orang yang sering menggunakannya yakni para pengusaha tambang dan perminyakan, para pejabat atau politisi hingga artis. Jet pribadi juga sering disewa untuk penerbangan medis.
Ada begitu banyak pabrikan pesawat jet pribadi, mulai dari Embraer, Gulfstream, Hawker, Beechcraft, Bombardier, Airbus, hingga Boeing. Semakin besar pesawat maka sewanya juga semakin mahal.
Jet pribadi dimulai dari small jet yang memiliki 6 seat, medium 8 seat, super mid size 13 seat dan heavy jet sampai 17 seat. Atau, bila ingin menyewa dengan lebih dari 20 kursi bisa menggunakan Boeing 737 800 BBJ atau Airbus A320 ABJ. Dan yang Ken pilih adalah jet medium untuk delapan penumpang karena Yoshiro mengatakan akan mengajak seseorang, tapi Ken tidak tahu bahwa orang itu adalah Shun Oguri.
Ken memasangkan seat belt yang melingkupi tubuh mungil Aira. Mereka duduk di bagian depan pesawat, persis di belakang ruang pilot dan co-pilot yang bertugas mengendalikan burung besi ini sampai ke tujuan. Di bagian tengahnya ada kursi panjang yang bisa digunakan untuk bersantai sejenak jika bosan duduk di single seat. Warna hitam putih dipadu dengan warna krem membuat suasana tenang namun tetap terkesan elegan.
*seat belt : sabuk pengaman
*single seat : kursi pribadi/tunggal
Sementara di bagian belakang pesawat itu ada beberapa kamar yang bisa digunakan untuk beristirahat. Masih dengan warna yang sama, hitam dan putih mendominasi dekorasi ruangan 2x3 meter itu.
Pesawat terbang super eksklusif itu lepas landas menuju angkasa, mengarungi langit serta menembus awan yang terlihat bagai gumpalan kapas putih yang saling bersisian.
"Ken.." panggil Aira seraya menyentuh punggung tangan Ken yang duduk di sebelah kanannya.
"Hmm?" jawabnya sambil mengamati wajah istrinya yang sedikit pucat, "Kamu sakit?" kejarnya kemudian. Tangannya segera memeriksa dahi Aira, takut kalau-kalau istrinya merasa tidak enak badan atau mungkin demam.
Aira diam sejenak, ia tampak mengambil nafas panjang sebelum menjawab, "Nafasku sedikit berat." ucapnya lirih.
Grep
Yoshiro menahan lengan sahabatnya saat di akademi itu. Dia menggelengkan kepala, tidak ingin Shun membuat masalah dengan Ken sekarang. Namun cekalan itu ditepis dengan mudah oleh Shun membuat Yoshiro tak bisa berbuat apapun selain mengawasinya. Ia harus siap siaga akan kemungkinan apapun yang terjadi pada kedua sahabatnya itu, baku hantam misalnya.
Langkah Shun terhenti di depan Ken. Ia mengulurkan tangannya, "Berikan ini padanya."
Ken mendongak menatap seniornya dengan pandangan tidak senang, "Menyingkir dari hadapanku!" hardiknya.
"Kondisinya tidak akan membaik tanpa antivenom ini. Racun dalam tubuhnya kembali bereaksi. Seharusnya ia mendapatkan antivenomnya minggu lalu tapi kamu mengabaikan pesan yang ku kirimkan. Bersyukurlah karena istrimu masih bisa bernafas sampai hari ini." ucap Shun meremehkan.
Ken terdiam. Ia memang sengaja tidak memberi tahu Aira tentang pesan Shun yang meminta istrinya datang ke kediaman pria gila itu. Ia hanya berkonsultasi dengan Kaori dan memberikan vitamin untuk memperkuat imunitas tubuh Aira saja.
"Kaori-chan, multivitamin itu hanya memperlambat, tidak akan menyembuhkan." Shun menatap Kaori yang duduk di belakangnya. "Siapkan jarum suntik sekarang." lanjutnya lirih dengan tekanan di setiap katanya.
"Eh?" Kaori tampak terkejut dengan perintah tiba-tiba itu.
"Aku tidak akan mengatakannya dua kali!" tegas Shun.
Kaori segera berdiri dan menyerahkan jarum suntik steril yang ia ambil dari tas miliknya. Benda persegi itu berisi peralatan medis yang memang sengaja ia siapkan sebagai seorang dokter. Mengantisipasi kejadian tak terduga yang mungkin mereka temui secara tiba-tiba.
__ADS_1
"Shun, biar aku yang melakukannya." pinta Kaori menengadahkan tangan, meminta botol kaca mungil di tangan Shun.
Shun tidak mempedulikan ucapan gadis di belakangnya. Ia mengambil jarum suntik itu dan segera mengisinya dengan antivenom berwarna biru yang ada di tangannya.
"Singsingkan lengan bajumu." perintah Shun setelah bersimpuh di depan Aira, membuat wanita hamil itu tertegun detik berikutnya. Jarak mereka terlalu dekat.
Ken mengeratkan rahangnya menahan emosi. Jelas-jelas Aira sedang bersamanya tapi Shun berani mencuri kesempatan untuk mendekati Aira. Ken tidak tahu apa yang ada dalam kepala pria di hadapannya. Ingin rasanya melempar orang ini sekarang juga agar tidak membuat masalah lagi dengannya.
"Lidah istrimu akan mati rasa dan kesulitan bernafas jika antivenom ini tidak segera masuk ke dalam tubuhnya." ucap Shun dengan pandangan menusuk, tepat di mata Ken.
Ken mendengus kesal mendengar penuturan Shun, "Biarkan Kaori yang melakukannya." ucapnya pada akhirnya.
"Buka lengan bajumu!" perintah Shun tanpa mempedulikan perintah Ken.
Aira meragu, satu sisi ia takut dengan peringatan Shun tapi di sisi lain ia juga tidak ingin membantah keinginan suaminya. Ketegangan itu membuat tidak ada seorangpun yang berani bersuara. Shun bersikeras dengan keinginannya dan Ken juga kukuh dengan larangannya.
"Ken.." lirih Aira membujuk keras kepala suaminya. Ia meraih tangan Ken untuk menyentuh perutnya, seolah mengatakan ini semua demi buah hati mereka. Hal itu membuat Ken memalingkan wajah dan memilih pergi detik berikutnya. Ia harus menenangkan diri agar tidak melayangkan tinjunya pada Shun. Kali ini pria itu yang menang.
Sial!!
Ken hanya bisa mengumpat dalam hati. Ia pergi ke ruang tengah dan menatap gumpalan awan di luar dengan mengepalkan tangan.
Sementara itu, Shun yang merasa di atas awan segera mengambil posisi duduk di kursi yang Ken tinggalkan. Ia menyuntikkan antivenom itu di lipatan dalam siku Aira dengan hati-hati. Tanpa merasa malu, Shun memamerkan senyumnya pada Aira membuat wanita hamil itu memalingkan wajah, enggan bersitatap dengannya.
Cup
Shun mencium punggung tangan Aira, membuat pemiliknya membulatkan mata tak percaya dan segera menarik tangannya. Jantungnya berdegup kencang dengan nafas yang memburu, trauma penyerangan Shun sebelumnya kembali berkelebat di kepala Aira.
Aira segera pergi dari tempat itu dengan wajah memerah karena malu sekaligus marah. Shun melakukan itu tanpa ragu, di depan semua orang kecuali Ken.
"Gila!!" umpatnya lirih dan dalam. Ia berjalan menyusul Ken yang ada di bagian belakang pesawat dan segera memeluknya begitu mereka tak lagi berjarak.
"Ken... Aku mau istirahat." ucap Aira sambil menyembunyikan wajah di dada suaminya. Ia berusaha menenangkan diri dengan menghirup parfum yang dipakai suaminya.
*******
Hai minasan, Gangster Boy come back...
Gomen (maaf) baru bisa update sesiang ini. Niatnya mau up tadi malem, eh author tepar. Nah pagi ini ada pekerjaan mendadak jadi ngga sempet buka Mangatoon.
See you next day, please like & comment supaya author makin semangat menghalu 😂😂 *btw kok banyak banget silent readers yaa? Author sedih karena kalian ngga meninggalkan jejak ataupun like buat author ðŸ˜ðŸ˜
Tapi author tetep ucapkan terima kasih buat kalian semua, jaga kesehatan yaa...
Jaa mata ne (sampai jumpa),
__ADS_1
Hanazawa easzy ^^