Gangster Boy

Gangster Boy
Season 3 : Basah Kuyup


__ADS_3

Yu terbangun dari tidurnya di pagi hari di sebuah tempat yang terasa asing. Udara hangat dan aroma bunga sakura yang menyapa indera penciuman, membuat gadis 23 tahun itu segera beranjak dari tidurnya. Ia bahkan berlari demi melihat bunga sakura yang tadinya hanya terlihat melalui bingkai jendela kamarnya.


Ya, setelah Yoshiro membawanya dengan paksa dari kediaman keluarga Ebisawa, ia terlelap di dalam mobil. Matanya terasa berat setelah menangis. Ia bahkan tidak terusik sedikitpun saat Yoshiro menggendongnya menuju heli yang membawanya terbang menuju Okinawa. Kendaraan super cepat itu Yoshiro pinjam dari tuan muda Yamazaki, yakni Ken, orang yang kini mempekerjakannya.


Jarak Tokyo-Okinawa sekitar 3 jam perjalanan flight. Bila menggunakan jalan darat dan sesekali berhenti, menghabiskan waktu tempuh hingga 5 jam atau bahkan lebih. Dan selama rentang waktu itu, Yu seolah terjebak di alam bawah sadarnya yang paling dalam. Ia tidak menyadari tubuhnya yang membubung tinggi bersama kendaraan besi itu.


Pertengkaran kecil yang terjadi pada keduanya, membuat Yu marah dan berakhir duduk di tepian sungai. Ia bahkan merendam kakinya di sana, membiarkan air tanpa warna itu mengalir di sela-sela organ tubuhnya. Jemari kakinya menari dengan lincah di dalam sana dan menimbulkan kebahagiaan tersendiri baginya.


Tapi, tampaknya kebahagiaan yang ia rasakan hanya sekejap saja. Gadis itu tampak begitu murung detik berikutnya, membuat Yoshiro iseng mendorong Yu ke dalam air. Ia sengaja melakukannya agar Yu segera melupakan kesedihannya.


Sweater yang melekat di tubuhnya kini menempel di badan, membuat lekuk badannya terlihat. Belum lagi pakaian dalam berwarna hitam yang Yu gunakan, tercetak jelas dari luar. Sungguh memalukan.


"Mau ku bantu?" tanya Yoshiro, mengulurkan tangan pada gadis di depannya yang berusaha naik.


Yu tidak mempedulikan Yoshiro. Ia naik sendiri dan melangkahkan kakinya dengan cepat, menjauh dari orang yang telah merebut dunianya.


"Yuzuki-chan! Yamete!" teriak Yoshiro saat melihat Yu semakin menjauhinya.


(Berhenti!)


Yu bingung sendiri dengan tubuhnya yang seolah tidak bisa ia kontrol. Langkahnya terhenti otomatis saat Yoshiro meneriakinya.


Yoshiro berlari sambil melepas jaketnya. Ia memakaikan baju dua lapis itu dari belakang, membuat tubuh mungil Yu tertutup sempurna.


"Eh?" Yu menoleh ke samping kiri dimana Yoshiro kini berdiri. Pria itu tersenyum sambil mengangkat sebelah alisnya, membuat kening Yu bertaut. Kesepuluh jemarinya bertahta di sisi kanan dan kiri Yu, mencegah gadis itu agar tidak pergi satu milimeter pun. Hal itu sontak membuat jantung Yu berdetak lebih cepat. Ia takut pria ini akan melakukan hal-hal di luar akal sehatnya.


"Apa yang kamu ... AAA ...." Pertanyaan Yu terhenti dan berubah menjadi sebuah teriakan saat tiba-tiba Yoshiro mengangkat tubuhnya ala bridal style dan membawanya kembali mendekat ke arah sungai.


Srett


Yu menarik dasi merah yang melingkar di leher Yoshiro dengan erat, membuat pria itu sedikit tersentak. Matanya membulat saat dirasa kain panjang yang tak terlalu lebar itu seperti mencekik lehernya, menyempitkan jalan nafasnya. Yu bisa menebak apa yang akan kakak angkatnya ini lakukan, jadi hanya inilah satu-satunya cara agar Yoshiro mengurungkan rencana gilanya.


"YU, KAMU!" geram Yoshiro saat merasa pasokan oksigen di dalam dadanya semakin menipis, sebentar lagi habis. Namun, tampaknya Yu sama sekali tidak berniat melepas kain yang melilit tangannya. Gadis itu justru semakin erat menariknya. Wajahnya merah padam menahan amarah yang kini memuncak.


BYURR


Yu melepas tangannya dari dasi Yoshiro sesaat sebelum tubuhnya mendarat di air. Ia menutup mata dan menahan nafasnya agar cairan tanpa warna ini tak masuk ke saluran pernafasannya. Namun, tubuhnya basah kuyup sekarang. Ia tidak bisa mencegahnya dan hanya bisa pasrah karena sepagi ini ia sudah harus mandi di sungai dua kali.


"Uhuk uhuk," Yoshiro terbatuk-batuk dan segera melepas dasi sialan yang telah mengacaukan rencananya. Bukannya menceburkan Yu kembali ke sungai, justru ia yang harus ikut terjun bebas dan membuat hidungnya kemasukan air.


Yoshiro kehilangan konsentrasi saat pasokan oksigen di otaknya menipis, membuat fokusnya berada di titik terendah dan mengabaikan rencana awal yang telah ia susun. Bagaimana tidak? Ia baru saja bisa bernapas lega saat cekalan tangan Yu terlepas. Yoshiro berusaha mengisi oksigen banyak-banyak untuk memenuhi rongga udara di dalam paru parunya.

__ADS_1


Namun, sepersekian detik berikutnya, seluruh tubuhnya justru mendarat di sungai dengan posisi tertelungkup. Wajahnya masuk ke dalam air, membuat kedua lubang hidungnya tak sengaja menghisap benda cair itu. Belum lagi mulutnya yang terbuka, membuat air pegunungan yang dingin dengan bebas ia telan bergelas-gelas. Sungguh kegagalan yang sempurna tiada tara.


"Puft," Yu menutup mulutnya dengan tangan. Ia menyembunyikan tawanya agar tak terdengar atau terlihat oleh pria yang masih terbatuk-batuk sambil mengusap wajahnya yang basah.


Yoshiro menepi dan duduk di atas pondasi yang membatasi sungai dengan tanah coklat di kanan kirinya. Ia bahkan mengabaikan sebelah sepatunya yang kini menjauh terbawa aliran sungai. Sesekali ia masih terbatuk dan merasakan perih di pangkal hidungnya.


"Gomen," ucap Yu merasa bersalah karena penampilan Yoshiro menjadi kacau sekarang, padahal ia harus segera kembali ke Tokyo untuk bekerja.


(Maaf)


"Ayo kembali." Yoshiro naik lebih dulu dan membantu Yu setelahnya. Mereka jalan bersisian menuju penginapan yang terletak tak jauh dari sana. Keduanya sama-sama bertelanjang kaki, menjejak langkah di atas tanah dan meninggalkan bekas tetes air dari pakaian dan tubuh mereka masing-masing.


"Apa kamu marah?" tanya Yu. Ia berdiri di depan Yoshiro, menghalangi pria itu yang bersiap masuk ke kamar yang ada di lantai dua penginapan ini


"Aku harus segera pergi. Menyingkir dari jalanku." Yoshiro mengucapkan dua kalimat itu dengan ketus. Wajahnya benar-benar tidak sedap dipandang. Sepertinya dia sangat marah.


Yu tertegun, ada satu tusukan kecil yang terasa menyakiti hatinya. Sikap dingin Yoshiro inilah yang ia takutkan. Ia bergeser satu langkah ke samping, membuat jarak yang bisa Yoshiro gunakan untuk masuk ke bangunan yang didominasi oleh kayu ini.


"Jadi, begini rasanya diabaikan?" lirih Yu dengan suara gemetar. Ia menuruni anak tangga dengan langkah gontai. Ia ingin segera pergi dari tempat ini. Tapi, langkahnya terpaksa berhenti saat tiba-tiba seorang wanita menghadangnya di anak tangga terbawah.


"Nona, silakan ikut saya," ucapnya setelah menundukkan kepala sejenak.


"Apa pedulimu?" ketus Yu pada wanita dengan kimono merah yang melekat di tubuhnya.


"Itu tidak perlu!" Yu tetap berusaha pergi saat wanita cantik 25 tahunan itu mencekal lengannya dengan sangat erat.


"Saya mohon menurutlah, Nona."


Kalimat yang terlontar dari mulut wanita itu cukup lirih, namun penuh penekanan di setiap katanya. Jelas, wanita ini bukan orang biasa. Meskipun menyunggingkan senyum manis, nyatanya kedua bola mata bulat itu menatap Yu dengan tajam. Kemungkinan terbesarnya adalah wanita ini adalah orang suruhan Yoshiro.


Yu terpaksa menuruti permintaan wanita aneh ini. Ia berjalan di belakangnya dengan hati gondok. Untuk apa Yoshiro mengirimkan wanita ini? Bukankah pria itu mengabaikannya tadi?


Yu masuk ke sebuah tempat pemandian khusus wanita. Ia segera membersihkan diri dan masuk ke sebuah kamar yang wanita kimono itu tunjukkan. Ah, entah siapa namanya, Yu malas untuk sekadar menanyakan hal sepele itu.


Greg!


Yu menutup pintu geser di belakangnya dengan sebelah tangan. Kamar itu terlihat begitu girly, bahkan disana sudah ada beberapa set pakaian yang tergantung di almari transparan. Jangan lupakan berpuluh-puluh sepatu juga terlihat di rak paling bawah, berjejer rapi dari ujung ke ujung.


"Chotto mate," Yu keluar dari kamar dan memanggil si Wanita Kimono yang bersiap pergi.


(Tunggu sebentar)

__ADS_1


"Ada apa, Nona? Ada yang bisa saya bantu?" tanyanya dengan senyum terkembang di wajah, tatap matanya yang tajam tersembunyi dengan baik.


Yu memegang tengkuk lehernya karena canggung, "Sepertinya aku salah masuk kamar."


"Tidak. Tuan Yoshiro menyiapkan ini untuk Anda sejak beberapa bulan yang lalu. Sayangnya, beliau terlalu sibuk jadi baru kali ini bisa mengajak Anda kemari," jelasnya sopan.


"Untukku?" Yu membeo, menirukan ucapan wanita di hadapannya.


"Benar, penginapan ini adalah milih tuan Yoshiro dan kamar ini khusus dipersiapkan untuk Anda."


Yu terhenyak. Dia tidak menyangka Yoshiro melirik bisnis penginapan seperti ini. Ia tidak tahu sama sekali karena hubungan keduanya memang tidak terlalu dekat sebelumnya. Ada hal-hal yang cukup diurus sendiri tanpa melibatkan orang lain, termasuk keluarga atau kekasihnya sendiri.


Lagipula, hubungan mereka tidak seperti ini sebelumnya. Baik Yu maupun Yoshiro, keduanya dulu menganggap bahwa kedekatan mereka hanyalah interaksi wajah antara kakak dan adik. Meskipun, Yoshiro bersedia melindunginya, nyatanya Yu tidak pernah merasa bergantung padanya. Saat ada anak lain yang merisak (bully) Yu, Yoshiro dan Erina lah yanh menjadi pagar hidup untuk melindungi adik kecil mereka ini.


Yoshiro juga tak segan menuruti semua keinginan Yu saat gadis ini menangis. Pernah sekali waktu Yoshiro kelelahan karena menggendong Yu lima kali putaran. Yu yang saat itu masih berusia tujuh tahun, begitu sedih atas kematian ibunya. Tapi, Yu masih terlalu kecil untuk mengerti tentang perasaan. Dan apa yang Yoshiro lakukan, memang pantas sebagai bentuk kasih sayang dan tanggung jawabnya seorang kakak pada adiknya.


Semakin dewasa, Yu seolah menjaga jarak dari Erina dan Yoshiro karena perbedaan perlakuan yang diberikan oleh ayahnya. Tuan Ebisawa Oda selalu membelikan oleh-oleh untuk kedua putra putrinya, tapi tak sekali pun membelikan untuknya. Hal itu membuat Yu merasa tidak pantas bersama Erina dan Yoshiro lagi. Ia memilih tinggal di asrama dan hanya pulang sesekali jika Erina memintanya. Ketiganya seolah hidup di ruang dan dimensi yang berbeda.


Lain dengan sekarang. Hanya karena Yoshiro bersikap dingin padanya, sudah membuat gadis ini merasakan sakit hati. Ia bahkan berniat pergi beberapa saat yang lalu. Hubungan mereka ini sungguh aneh dan Yu hampir menyerah sebelumnya. Ia begitu terpukul jika Yoshiro sungguh meninggalkannya.


Yu sendiri tidak tahu kapan tepatnya ia memberikan perhatian lebih pada kakak angkatnya ini. Sebelumnya, hubungan mereka hanya sebatas kakak adik yang mengenal satu sama lain sejak kecil, tidak lebih. Tapi, cinta berhasil menyatukan keduanya.


"Sampai kapan kamu hanya akan berdiri diam di sini?"


"Ya?" Yu mengangkat wajahnya dan menatap pria yang kini berdiri satu langkah di depannya. Entah sejak kapan pria ini datang, Yu bahkan tidak menyadarinya sama sekali. Ia terlalu sibuk dengan pemikirannya sendiri.


Mengabaikan keterkejutan Yu, Yoshiro justru langsung masuk ke dalam kamar dan mengambil salah satu pakaian yang ada di bagian tengah almari. Ia melepas baju itu dari hanger dan mengulurkannya pada Yu, "Lain kali jangan gunakan pakaian tipis seperti itu lagi. Pakailah ini atau aku tidak yakin apa yang akan aku lakukan setelahnya!"


Wajah Yu memerah. Ia baru menyadari jika sekarang ia hanya memakai kimono mandi berwarna putih dengan tetes-tetes air yang turun dari ujung rambutnya yang basah. Bulir bening itu turun melewati dada hingga ke bagian dalam kimono. Pria mana saja, termasuk Yoshiro, pasti akan tergoda melihat kulit mulus Yu yang cukup terekspos di sana sini.


'Astaga!' batin Yu. Ia segera meraih pakaian yang Yoshiro berikan dan masuk ke dalam kamar mandi dengan tergesa-gesa. Wajahnya memerah seperti kepiting rebus, membuat senyum simpul otomatis terlukis di wajah Yoshiro.


"Gadis itu ..," lirih Yoshiro hampir tak terdengar. Hatinya kembali berbunga-bunga karena berhasil membuat wajah gadisnya memerah dan tersipu malu.


...****************...


Holla .... Jumpa lagi sama author.



Sebagai permohonan maaf author, aku kasih bonus pict Yoshiro sama Yu pas bangun tidur. Cocok kaan? Ehehehehee

__ADS_1


See you tomorrow,


Hanazawa Easzy 😄


__ADS_2