Gangster Boy

Gangster Boy
Gangster Boy : ASI Eksklusif


__ADS_3

Aira kembali marah karena Ken lagi-lagi kehilangan kendali atas dirinya, padahal mereka baru saja menghabiskan malam bersama. Pria itu mencium Aira dengan ganas tanpa mempedulikan putra sulung mereka yang ada dalam dekapan. Ken lupa diri, bahkan sampai menahan tangan Aira ke belakang agar tidak bisa melawan.


Ibu tiga anak itu terpaksa menggigit lidah suaminya agar bisa lolos dari serangannya. Ia kembali mendiamkan Ken, membiarkannya merasa bersalah. Bahkan Ken sampai mengabaikan rasa ngilu yang terasa akibat lidah yang istrinya gigit beberapa detik lalu. Semua orang pasti pernah menggigit lidah mereka sendiri secara tidak sengaja saat makan, 'kan?


"Ai-chan, maafkan aku." Ken menghadang istrinya yang bersiap meletakkan putranya kembali ke dalam box.


Lagi-lagi Aira memilih bungkam, enggan bercengkerama dengan pria di hadapannya. Ia memilih berjalan memutar demi meletakkan Akari kembali ke tempat tidurnya.


"Sayang," Ken meraih jemari istrinya yang kini terbebas, baru saja selesai membenahi pakaian anaknya. "Maafkan aku."


Ken menarik Aira ke hadapannya. Ia mengunci wanita itu dengan melingkarkan tangannya di belakang pinggang istrinya.


"Maaf, aku khilaf," lirih Ken sungguh-sungguh.


Ia meletakkan kepalanya di pundak Aira, menyesap wangi sampo istrinya yang menguar di sela-sela rambut panjang yang tergerai bebas ke bawah. Ken benar-benar merasa bersalah pada istrinya. Entah kenapa ia selalu saja loss control saat hormon laki-laki mendominasi seperti beberapa saat yang lalu. Aira menjadi candu untuknya, membuatnya tak bisa berhenti sebelum berhasil mendapatkan apa yang ia inginkan.


"Maafkan aku." Entah permintaan maaf ke berapa kali yang pria itu ucapkan, namun tetap tak mendapat respon dari istrinya.


"Sayang, jangan seperti ini. Aku tahu salahku. Tolong jangan menyiksaku seperti ini. Kamu boleh menghukumku apa saja asalkan jangan mendiamkanku." Ken masih coba membujuk wanitanya.


Hening


Sebulir air mata jatuh membasahi pipi bulat itu, membuat Ken tergeragap. Ia segera menghapusnya sebelum cairan tak berwarna itu menetes di bawah rahang istrinya.


"Ai-chan, tolong maafkan aku. Ku mohon," ucap Ken sambil meraih kedua tangan istrinya.


Cup


Cup


Ken mengecup kedua punggung tangan istrinya, meminta maaf dengan tulus. Ia menyesal karena telah kehilangan kontrol dan membuat Aira tidak nyaman. Padahal Ken sudah bertekad dalam hati, tidak akan membuat istrinya menangis. Tapi, ternyata ia melanggar sumpahnya sendiri.


"Ai-chan, aku akan melalukan apa saja untukmu asalkan kamu mau memaafkanku." Ken masih memohon pengampunan pada istrinya, wanita yang sudah membawa ketiga putranya sampai ke dunia ini. Pengorbanan yang Aira lakukan selama ini, tak akan bisa Ken balas dengan apapun selain perhatian dan cinta tulus yang ada di dalam hatinya.


"Jangan melakukannya lagi." Aira mengucapkannya dengan suara bergetar menahan tangis.


Sebenarnya, tadi Aira menitikkan air mata karena terharu pada sikap suaminya, bukan karena sakit hati atau semacamnya. Tapi, ego di dalam dirinya lebih mendominasi, mencegahnya agar tidak begitu saja memaafkan Ken. Dia harus menemukan momen yang tepat, bahkan mungkin bisa mendapat keuntungan dari situasi ini.


"Umm. Aku tidak akan menyakitimu lagi. Aku janji." Ken memeluk istrinya, menyalurkan rasa cintanya yang meluap-luap tanpa bisa ia bendung.


Cup


Sebuah kecupan mendarat di pipi Aira. Kali ini Ken tidak mendominasi sama sekali. Dia melakukannya dengan tenang dan penuh perasaan cinta, bukan obsesi seperti sebelumnya.


"Sudah. Anak-anak bangun," ucap Aira sembari berusaha melepaskan diri dari suaminya. Ia mendorong dada Ken menjauh, membuat mereka sedikit berjarak.


Aira segera menjauh dari suaminya dan mendekat ke keranjang bayi dimana ketiga anaknya berada. Tampak Azami menggeliatkan badannya sebelum menatap kedua orangtuanya. Sebuah senyum terukir di wajah bulatnya, sungguh menggemaskan.


Wanita 26 tahun itu mengambil putra bungsunya dari dalam box dan membawanya ke atas ranjang.


"Apa kamu lapar, Sayang?" tanya Aira sembari memainkan pipi bakpao Azami. Sepertinya, putranya ini mewarisi pipi bulat miliknya.


Aira membuka bajunya, siap menyusui Azami yang sudah membuka mulutnya. Bayi itu sepertinya tahu bahwa sebentar lagi perutnya akan terisi oleh ASI dari ibunya ini.


Ken menatap interaksi ibu dan anak di depannya dengan hati yang menghangat. Ia senang karena Aira tidak marah padanya. Ia merebahkan badannya sambil meraih jemari Azami yang mereka-reka di udara.


"Ai-chan," panggil Ken lirih. Ia menatap tepat di manik coklat pekat istrinya.

__ADS_1


"Hmm?" gumam wanita 26 tahun itu.


"Lidahku sakit. Kamu menggigitnya terlalu keras." Ken mengadu seperti anak kecil.


"Salahmu sendiri. Wleee...." Aira menjulurkan lidahnya, bersikap sama kekanakannya dengan Sang Suami. Hal itu membuat Ken cemberut. Ia mendekat ke arah putranya yang masih asik melahap sarapan paginya. Satu-satunya sumber gizi yang boleh masuk ke perutnya sebelum ia berusia enam bulan.


Ya, Aira bertekad akan memberikan ASI eksklusif selama enam bulan kepada ketiga buah hatinya. Sekarang stok ASInya masih melimpah, bahkan sesekali masih bisa ia perah dan menyimpannya dalam botol steril. Setidaknya air berwarna putih itu bisa bertahan selama enam bulan jika disimpan dalam keadaan beku.


Sebelum pulang ke Indonesia, ibunya mewanti-wanti Aira agar makan yang banyak demi bisa memenuhi kebutuhan gizi Akari, Ayame, dan Azami. Wanita 49 tahun itu melarang Aira memberikan makanan pendamping apapun pada ketiga cucunya sebelum mereka memasuki bulan ke tujuhnya. Ada begitu banyak manfaat saat seorang bayi mendapatkan ASI eksklusif.


"Ai-chan, apa mereka bisa kenyang hanya dengan minum ASI darimu?" tanya Ken, takut anak-anaknya tidak cukup kenyang karena hanya minum cairan putih yang ibu mereka salurkan.


"Kenapa bertanya seperti itu? Mereka itu masih bayi, tidak sama denganmu yang makan begitu banyak makanan." Aira mengelus pipi Ken yang ikut berbaring bersamanya dan Azami. Ia merasa gemas melihat wajah tampan suaminya yang tengah mengaktifkan baby mode andalannya. Pria dewasa itu jelas-jelas menujukkan kecemburuan pada putranya sendiri.


"Aku lapar." Ken meraih jemari istrinya dan memasukkan ujung-ujungnya ke dalam mulut.


Glek


Aira menelan ludahnya dengan paksa. Suaminya ini sengaja menggodanya dengan melakukan hal aneh seperti ini, merangsang saraf yang ada di setiap ujung jarinya. Perasaan aneh segera menyergap Aira, membuat bulu romanya meremang. Sial, Ken berhasil merangsangnya hanya karena jarinya tersapu lidah hangat Ken.


"Apa yang kamu lakukan? Jangan berulah. Aku sedang menyusui putramu, bukan orang lain!" ketus Aira sambil menarik tangannya menjauh. Ia tidak ingin mandi dua kali pagi ini.


Ken terkekeh melihat respon istrinya. Ia tahu bahwa Aira hanya berusaha mengelak dari godaan yang ia lancarkan. Menggemaskan.


"Kenapa seorang bayi harus menyusu pada ibunya?" tanya Ken dengan wajah polosnya. Entah dia sungguh-sungguh tidak tahu alasan seorang bayi hanya diperbolehkan minum ASI, atau hanya berpura-pura tidak tahu. Entahlah.


"Kalau bukan menyusu pada ibunya, apa mungkin menyusu pada ayah mereka?" canda Aira, membuat senyum terkembang di wajah tampan suaminya.


Pasangan suami istri muda itu saling pandang dan tersenyum. Pagi ini terasa begitu damai, seolah malaikat rahmat menurunkan ribuan cinta pada dua insan berbeda jenis ini.


"Air susu ibu (ASI) adalah makanan utama bayi pada enam bulan pertama kehidupannya di dunia. Tidak ada asupan yang lebih baik untuk bayi selain ASI. Air susu yang diproduksi alami oleh tubuh seorang ibu mengandung nutrisi yang penting untuk tumbuh kembang bayi. Ada vitamin, protein, karbihidrat, dan lemak. Komposisi alami itu akan lebih mudah dicerna di dalam perut bayi dibandingkan susu formula apapun." Aira mulai menjelaskan ilmu yang didapatkannya dari kelas ibu hamil dan artikel kesehatan yang sering ia baca untuk mengisi waktu luangnya.


"Kalau soal gizi, kenapa tidak memberikan mereka jus buah saja? Bukankah itu juga alami? Bahkan ada rasanya." Ken menyuarakan pendapatnya. Logikanya berpikir bahwa jus buah bisa diberikan pada bayi mereka sebagai makanan pelengkap selain ASI.


"Mereka belum mengenal rasa. Yang mereka butuhkan adalah gizi, bukan rasa atau apapun itu yang ada dalam pikiranmu." Aira tersenyum, geli dengan pendapat suaminya ini.


"Apa itu bermanfaat untuk mereka?"


"Tentu saja. Ada begitu banyak manfaat saat seorang bayi diberikan ASI sampai usianya dua tahun." Aira melepaskan Azami dan mengelap air susu yang ada di pipi putranya.


"Dua tahun? Kamu akan menyusui mereka sampai usia dua tahun? Kenapa lama sekali?!" Mata Ken membola. Ia tidak tahu akan begitu lama ketiga anaknya ini akan bermanja-manja pada Sang Ibu, berbagi cinta dengan wanita kesayangannya ini. Ya, ia mengakui bahwa dia seorang pencemburu, bahkan pada anak-anaknya sendiri.


"Apa kamu tidak rela jika aku memeluk mereka seperti ini?" Aira mendekatkan Azami ke dalam pelukan. "Bagaimana kalau aku menciumnya?" Aira tak segan-segan menghujani putranya dengan kecupan di berbagai sisi wajahnya sampai ke leher, membuat bayi itu tertawa tanpa suara.


"Huh?!" Ken membuang mukanya, enggan melihat kemesraan istrinya dengan Sang Anak.


Aira terkekeh, "Ugh, bayi besarku marah lagi. Lucunya...." Aira sengaja menusuk-nusuk pipi Ken dengan jari telunjuknya.


"Kamu juga mau susu?" pancing Aira, berusaha mendapat atensi dari suaminya.


"Boleh?" tanya Ken yang mengira bahwa ia bisa mendapat sarapan pagi spesial dari istrinya.


"Umm. Aku akan membuatnya di dapur. Tolong jaga dia sebentar," cetus Aira sambil meletakkan Azami kembali ke atas ranjang, bersiap beranjak dari ranjang empuk di bawahnya.


Ken mengerutkan keningnya, membuat dua alisnya hampir bertaut. "Di dapur?"


"Umm. Mau coklat atau vanila?" tawar Aira, memberikan dua pilihan rasa susu yang ada.

__ADS_1


Bukannya menjawab, Ken justru mencebikkan bibirnya seperti anak kecil. Ia salah mengira. Tadinya ia pikir akan mendapat susu alami istrinya, ternyata....


"Sudahlah. Lupakan saja!" Ken menahan lengan Aira agar tetap ada di hadapannya. "Kenapa mereka boleh minum ASI sedangkan aku tidak?" ketusnya dengan wajah tertekuk.


"Astaga, kamu masih cemburu?" tanya Aira, tak habis pikir dengan suaminya yang benar-benar luar biasa ini. Mengurus bayi besar ini benar-benar lebih merepotkan dibandingkan baby triplet kesayangannya.


"Air susu ibu mengandung zat antibodi pembentuk kekebalan tubuh yang bisa membantunya melawan bakteri dan virus. Jadi, bayi yang diberi ASI berisiko lebih kecil untuk terserang penyakit, seperti diare, asma, alergi, infeksi telinga, infeksi saluran pernapasan, konstipasi, sindrom kematian bayi mendadak, dan meningitis. Bayi yang diberi ASI juga berisiko lebih rendah untuk mengalami obesitas dan diabetes tipe 2 di kemudian hari dibandingkan bayi yang tidak diberikan ASI eksklusif." Aira berusaha memberikan pengertian pada suaminya agar tidak selalu merasa cemburu pada anak-anaknya sendiri.


"Aku tahu!" ketus Ken, masih dengan wajah jeleknya.


"Apa kamu tidak ingin anak-anakmu menjadi seorang jenius di masa depan nanti?" pancing Aira. Ia menarik tangan Ken, menyentuhkan jemari suaminya pada pipi Azami yang begitu menggemaskan.


"Apa hubungannya menyusu dengan seorang yang jenius?" Nada bicara Ken sudah sedikit melunak. Jemarinya mukai mengelus pipi putra bungsunya dengan sayang.


"Kamu tidak tahu. Menurut para ahli, asam lemak yang terdapat pada air susu ibu memiliki peranan penting bagi kecerdasan otak bayi. Mereka yang mendapat ASI, memiliki tingkat kecerdasan yang lebih tinggi dibandingkan dengan anak-anak yang hanya mengonsumsi susu formula."


Aira menghembuskan napasnya, merasa lega karena Ken tak lagi merajuk. Ia bahkan kini sibuk memainkan jemarinya di atas perut Si Bungsu.


"Mereka akan memiliki berat badan yang ideal nantinya karena ASI lebih sedikit merangsang produksi insulin dibandingkan susu formula. Hormon insulin dapat memicu pembentukan lemak. Sedangkan, ASI tidak banyak memicu pembentukan lemak pada bayi. Selain itu, bayi yang diberi ASI juga memiliki kadar leptin lebih tinggi. Leptin adalah hormon yang memiliki peranan dalam menimbulkan rasa kenyang dan dalam metabolisme lemak."


Ken tampak mulai tertarik dengan penjelasan istrinya. Sorot matanya berubah menjadi antusias saat mendengar penuturan ilmiah yang disampaikan oleh Aira.


"Bayi yang diberi ASI selama tiga bulan atau lebih, memiliki tulang leher dan tulang belakang lebih kuat dibanding yang diberikan ASI kurang dari tiga bulan atau tidak sama sekali. Karena itu ASI eksklusif berperan penting dalam menunjang pertumbuhan tulang bayi yang kuat."



"Cepatlah tumbuh besar, Nak. Papa mengandalkanmu untuk menjaga Mamamu." Ken tersenyum. Ia semakin mendekatkan diri pada putranya dan mulai menciumi lehernya, membuat bayi itu membuka mulut karena merasa geli. Tangan kanannya menempel di leher Sang Ayah, sementara tangan kirinya menjangkau udara di depannya, seolah meminta pertolongan dari serangan tiba-tiba dari ayahnya ini. Benar-benar interaksi yang menggemaskan.


Ken mengangkat Azami dari atas kasur dan berusaha menopangnya dengan tangan. Ia menciuminya lagi-dan lagi, menyesap aroma bayi yang ada di tubuh putranya. Sepertinya ini akan menjadi candu baru untuknya, menciumi aroma bayi di pagi hari. Aira senang karena melihat kesungguhan Ken yang berusaha menjadi ayah yang baik untuk putra putrinya.


"Setelah ini, tidak cemburu pada mereka lagi ya?" tanya Aira sembari mengerlingkan sebelah matanya, meminta persetujuan dari suaminya.


Ken menghentikan gerakannya yang menciumi Azami dan menatap Aira dengan pandangan mematikan.


"Haih, ada apa dengan wajahmu? Jangan bilang kamu tetap akan cemburu saat aku bersama anak-anak?!"


"Aku yang bertemu denganmu lebih dulu. Tentu saja aku yang lebih berhak mendapat perhatianmu dibandingkan mereka!" tegas Ken dengan penuh percaya diri.


"Astaga!"


Plakk


Aira menepuk jidatnya sendiri, menyadari suaminya yang tetap begitu kekanak-kanakan seperti biasanya. Sepertinya ia akan semakin sibuk kedepannya. Aira pikir setelah masa nifasnya selesai, ia bisa kembali menjalankan ibadah rutinnya dengan tenang. Tapi, agaknya bayi besarnya ini tidak akan melepaskannya begitu saja.


Hormon laki-lakinya begitu kuat setelah berpuasa dua bulan. Akan berbahaya jika dia tidak mendapat pelampiasan yang tepat dalam bercocok tanam. Terlebih lagi, dia masih terobsesi ingin memiliki anak perempuan yang akan menemani Aya bermain. Aira menundukkan kepalanya dalam-dalam, berharap bisa melalui hari-hari dengan tenang kedepannya. Tapi, pasti akan sulit mengurus satu bayi besar dan tiga bayi kecil.


Huftt!!


...****************...


Adududuh travelling lagi kan otak gua gara-gara obsesi Abang 😂😂 Btw si Azami comel amat yaak. Pengen bawa pulang deh ah 😍😍


Ada yang mau kerjasama sama Author buat nyulik Si Bungsu? Kalo bisa sii sekalian nyulik Papanya buat dipelihara di rumah 🤗😆😆


Maafkan ketidakjelasan Author yang sedang lapar ini. Jangan lupa tinggalkan jejak yaa. See you, 😘


Hanazawa Easzy

__ADS_1


__ADS_2