
Kaori menemani Aira check up ke dokter, tapi tiba-tiba direktur memanggilnya. Kaori harus pergi dan membiarkan Aira mengambil sendiri obatnya di apotek.
Sebuah tangan mencengkeram lengan Aira dan menariknya ke sebuah ruangan yang lebih tersembunyi dan sedikit gelap. Pencahayaan yang minim membuat wanita hamil itu tidak bisa menilai dengan jelas siapa sosok yang tengah membekap mulutnya.
Jantungnya berdegup kencang mendapati fakta bahwa ia seorang diri berada dalam ancaman seorang pria yang lebih tinggi darinya. Sekilas ia mencium aroma parfum yang terasa tidak asing di inderanya. Ia pernah mencium aroma ini sebelumnya. Parfum yang membuatnya jijik sampai membiarkan tubuhnya basah kuyup di bawah shower selama lebih dari satu jam untuk menghilangkan baunya. Parfum pria itu.
"Surprise.." bisik pria itu tepat di telinga kiri Aira.
(Kejutan)
'Shun Oguri?' batin Aira.
Seketika memori traumatik di dalam otak Aira kembali berputar, membuat tubuhnya gemetar hebat. Nafasnya memburu dengan cepat, ia takut kejadian serupa akan terjadi lagi. Atau bahkan pria ini menjadi lebih gila dari sebelumnya?
"Bawa Mone ke hadapanku dan akan ku berikan antivenom itu padamu." ucap Shun tanpa mempedulikan keringat dingin yang kini membanjiri wajah bulat di hadapannya. Ia justru menikmati raut ketegangan yang terpasang di rahang mungil Aira yang kemudian menutup kelopak matanya.
'Semua akan baik-baik saja. Ya Allah, tolong hamba-Mu ini yang lemah.' Aira mencoba berdamai dengan pikirannya yang kacau dan mulai mengumpulkan kekuatan. Ia harus bisa berpikir jernih.
Aira membuka matanya. Ia menarik lengan kanan Shun dan mencengkeramnya dengan kuat. Ketakutan yang semula terpancar dari matanya, kini berganti menjadi tekad yang kuat untuk menghadapi gangguan di depannya.
Detik berikutnya ia berbalik menunggangi pria itu dan sedikit membungkukkan badan, membuat Shun heran apa yang akan wanita mungil ini lakukan.
BRUKK
Aira membanting pria 184 cm itu ke lantai marmer dengan keras. Ia tidak akan kecolongan seperti sebelumnya. Dengan segala ketakutan yang menggerogoti hatinya, ia harus berani menghadapi pria tak tahu diri yang kini terkapar di hadapannya.
Hening
Seketika Shun menatap wanita hamil yang berjarak satu meter di atasnya dengan pandangan terluka. Mata bulat itu tampak sedikit redup dengan nafas yang tidak beraturan. Sepersekian detik berikutnya, sebuah smirk terukir di bibirnya.
*smirk : tersenyum separuh/hanya mengangkat sebelah bibirnya.
"Hahahaha...." Shun tertawa dengan keras sambil memukul-mukul telapak tangannya ke lantai. Ia tidak menyangka akan mendapat perlawanan dari Aira. Dari fisiknya, jelas tidak bisa dibandingkan siapa yang akan menang jika beradu. Tapi kenyataannya, wanita 153 cm itu mengalahkannya dengan telak. Aira menang KO.
*KO adalah singkatan dari istilah dalam bahasa Inggris Knock Out yang berarti suatu kondisi kemenangan dalam beberapa olahraga beladiri full-contact seperti tinju, kickboxing, dan lain-lain. Atau bisa juga diartikan tumbang/jatuh/kalah.
Mendengar tawa Shun membuat Aira bergidik ngeri. Ia mundur beberapa langkah sampai tubuhnya menabrak dinding di belakangnya.
Tok tok tok
Sementara itu, Kaori tiba di lantai 3 rumah sakit. Ia mengetuk pintu berwarna putih di depannya dengan gugup. Ia tidak tahu apa yang akan mereka bicarakan.
"Masuk." terdengar suara dari dalam.
__ADS_1
"Apa ayah memanggilku?" tanya Kaori pada dokter senior yang merupakan direktur/pemilik rumah sakit ini.
Pria yang duduk di balik mejanya itu mengerutkan kening. Ia tidak tahu apa yang dikatakan oleh putrinya. Beliau bahkan tidak tahu jika Kaori sedang ada di rumah sakit pagi ini.
"Aku tidak... " ucapan ayah Kaori menggantung, "Apa kamu datang dengan Shun?" tanyanya kemudian.
"Shun?" Kali ini kening Kaori yang berkerut karena heran. Kenapa ayahnya menanyakan pria gila itu?
"Dia menghubungiku beberapa menit yang lalu, katanya dia meminta sedikit bantuanku nanti." jawab pria 50 tahun itu dengan tenang.
Kaori membulatkan matanya. Ia tahu apa artinya 'meminta sedikit bantuan' yang Shun katakan. Pria itu akan mencatut nama ayahnya agar Kaori meninggalkan Aira seorang diri.
"Ah, itu.. Kami sarapan bersama pagi ini. Aku datang untuk mengantar seorang teman memeriksakan kandungannya. Mungkin Shun ingin membooking pendaftaran lebih dulu. Tapi itu tidak perlu. Kami sudah selesai sekarang." terang Kaori dengan sikap setenang mungkin. Ia tidak akan bersikap gegabah yang bisa membuat ayahnya khawatir.
"Baiklah." jawab ayah Kaori sambil mengangguk beberapa kali, "Pulanglah ke rumah, ibu merindukanmu." pintanya dengan senyum tersimpul di wajah.
Kaori mengangguk, "Aku akan kembali sekarang. Temanku menunggu di bawah." pamitnya sebelum menghilang di balik pintu.
Kaori berlari melewati koridor panjang yang membawanya menuju lift. Ia takut sesuatu terjadi pada Aira saat ini. Ia tidak tahu hal gila seperti apa yang ada dalam pikiran Shun. Satu yang pasti, ia harus segera menemukan Aira.
Ting
Pintu lift terbuka menampilkan lorong panjang lantai 1 dimana ia meninggalkan Aira sebelumnya. Netranya menatap sekeliling tapi tidak melihat sosok wanita berjilbab yang dicarinya.
Deg
Kaori takut Shun melakukan hal tidak senonoh lagi pada Aira. Ia segera mendekati ruangan di sisi kiri lorong ini dengan langkah hati-hati. Ia memejamkan matanya sebelum membuka pintu besi di hadapannya. Ia menenangkan diri, mencoba membangun pertahanan mentalnya agar tidak terkejut dengan apa yang akan dilihatnya nanti.
"Kaori-chan..." suara lembut itu membuat Kaori membuka matanya.
"Ada apa?" tanya Aira kemudian.
Kaori meraih kedua lengan Aira di depannya, "Apa terjadi sesuatu? Apa yang pria gila itu lakukan padamu?"
Pertanyaan Kaori membuat Aira terkesiap, ia tidak menyangka Kaori melihat kepergian Shun. Aira tidak mungkin mengatakan bahwa ia sudah membanting pria itu ke lantai kan?
"Ai-chan.." panggil Kaori dengan menggoyangkan lengan Aira. Ia benar-benar khawatir.
"Aku baik-baik saja. Tidak ada yang terjadi." jawab Aira sambil tersenyum.
Kaori mengamati penampilan Aira dari ujung kaki ke ujung kepala. Ya, wanita di depannya ini masih terlihat rapi. Jika Shun melakukan sesuatu padanya, pasti pakaian atau jilbabnya sedikit kusut.
'Astaga, apa yang aku pikirkan?' batin Kaori menyerah pada prasangka buruknya beberapa saat yang lalu.
__ADS_1
"Ayo ambil obatnya." cetus Aira sembari menggandeng lengan Kaori. Mereka berjalan bersisian menuju tempat menebus obat yang berada di bagian depan rumah sakit.
*****
Moskow, Rusia
"Pemotretan selesai. Terima kasih atas kerja sama kalian semua." teriak producer-director (yang biasa disingkat PD) pada semua kru yang bekerja hari ini.
*Producer-Director yang merupakan gabungan dua profesi tersebut, punya dana dan menyutradarainya. Dalam manajemen film, posisi producer lebih tinggi, karena dialah yang membayar honor sutradara (director). Namun terkadang satu orang merangkap dua posisi itu sekaligus. Ia yang mendanai dan ia juga yang mengarahkan artisnya.
Orang-orang berkulit putih itu meninggalkan ruangan pemotretan dengan membawa perlengkapannya masing-masing. Tersisa Mone dan seorang wanita yang sepertinya menjadi asisten gadis kelahiran Jepang itu.
"Apa kamu lapar sayang? Mommy bawakan ubi panggang kesukaanmu."
"Terima kasih." jawab Mone sambil tersenyum.
"Anna, putrimu libur besok. Tapi lusa ada pemotretan jam 5 pagi." ucap PD Simon yang memimpin pemotretan hari ini.
"Jam 5 pagi? Yang benar saja." protes wanita Rusia yang dipanggil Anna barusan.
"Ah, ada sebuah perusahaan kosmetik dari Jepang yang menginginkan putrimu menjadi bintang iklan untuk produk mereka." PD Simon meletakkan sebendel dokumen kontrak kerjasama bertuliskan Miracle Cosmetics.
"Jepang? Kenapa tidak memakai model lain saja? Kamu tahu putriku tidak mau menerima apapun yang berhubungan dengan mereka (orang-orang Jepang)."
PD Simon berlalu tanpa mempedulikan apa yang dikatakan oleh Anna. Masih banyak hal yang harus ia urus selain modelnya yang paling imut itu.
Simon adalah seorang pemimpin agensi model di Rusia. Di antara semua anggotanya, hanya Mone seorang yang berasal dari Asia. Tentu saja hal itu membuat gadis 20 tahun itu menjadi yang paling imut di antara semuanya. Dia hanya memiliki tinggi 152 cm. Tapi karena Simon berteman baik dengan Anna, jadi ia mau menerima Mone menjadi modelnya dan membuat namanya terkenal di seluruh Rusia sebagai bintang iklan.
"Sayang, aku akan berbicara dengan Simon dan menolak kerjasama ini." Anna berjanji sambil menggenggam jemari putri angkatnya.
Mone hanya mengangguk mengiyakan apa yang ibunya katakan. Wanita di depannya ini sangat menyayanginya dan paling mengerti alasan kenapa ia enggan bekerja dengan orang-orang yang serumpun dengannya. Ia tidak mau mengungkit luka di hatinya yang akan mengingatkannya pada kematian ayahnya. Sejujurnya ia juga sedikit merindukan kakaknya, Shun Oguri. Tapi kemarahan di hatinya memadamkan kasih sayang seorang adik yang ia simpan untuk pria itu.
"Ayo pulang." ajak Anna sambil mengangkat tas besar berisi perlengkapan milik Mone.
Mone lagi-lagi hanya mengangguk, menuruti Anna. Di depan wanita itu, Mone bersikap baik dan penurut layaknya seekor kucing lucu. Berbanding terbalik saat di belakangnya, ia adalah pembunuh berdarah dingin yang membuat Takeshi Kaneshiro selaku ayah angkatnya menggelengkan kepalanya. Dia adalah mesin pembunuh dalam dunia gelap mafia.
*****
See you next day..
Thanks untuk semua like, komen, vote dan waktu yang kalian sempatkan disini. Jaga kesehatan kalian yaa 🤗
Mata ne,
__ADS_1
Hanazawa easzy ♡