
Seorang pria datang melapor pada Yoshiro bahwa pria bertato yang menculik Aira tempo hari, berhasil kabur dari pengawalan Yu.
"Sial !! Tutup semua akses keluar kota ini, periksa CCTV ! Aku akan menyusul Yu." Yoshiro melepas jas putih yang sedari tadi dipakainya dan membuangnya sembarang. Ia berlari keluar dari ruangannya tanpa melihat seringai yang muncul di wajah pria yang datang melapor padanya.
"Semudah itu menipu kalian." gumam pria itu lirih sambil membawa pergi laptop yang menjadi pusat perhatian Yoshiro sebelum kedatangannya.
Hanya dengan menyebut nama Yu bisa membuat Yoshiro hilang fokus. Jangan tanya lagi seberapa paniknya ia saat mendengar Yu sedang mengejarnya. Penculik itu terlalu berbahaya untuk kekasihnya. Aira saja bisa pria itu kalahkan, padahal dia memiliki kemampuan diatas Yu. Lalu bagaimana dengan nasib wanitanya?
Hal kedua yang membuatnya panik adalah karena pria tadi mengatakan tawanannya kabur. Ken memintanya untuk memastikan keselamatan orang itu sampai istrinya melahirkan. Setelahnya, entah rencana apa yang akan Ken lakukan pada penculik istrinya itu.
Yoshiro keluar dari dalam lift dan segera berlari melewati resepsionis. Saat itu juga Yu masuk dengan nafas tersengal dan segera mendekat ke arah kekasihnya. Yu mencoba menormalkan detak jantungnya yang berpacu lebih cepat. Berbanding terbalik dengan Yoshiro yang justru menghembuskan nafas lega melihat keadaan Yu baik-baik saja.
"Dia kabur dari rumah sakit setelah istrinya melahirkan," ucap Yu, "Aku sedikit lengah dan dia berhasil pergi."
"Aku tahu. Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Yoshiro sembari menatap wajah pucat Yu karena berlari sekuat tenaga mengejar buruannya. Tangan Yoshiro memegang lengan mungil di depannya.
"Dia mencuri pakaian pengawal dan datang kemari. GPS yang tertanam di tubuhnya menunjukkan dia masuk ke gedung ini beberapa menit yang lalu." jelas Yu.
"Jangan-jangan pria itu..." mata Yoshiro membulat menyadari kemungkinan terburuk dari penjelasan Yu. Mungkinkah orang yang melapor padanya adalah orang yang sedang mereka cari-cari.
"DAMN !! Dia menipuku !!" Yoshiro berlari ke arah resepsionis. Wajahnya merah padam, kemarahannya memuncak menyadari situasi yang terjadi sekarang.
(SIAL !!)
"Tutup semua akses keluar dari gedung ini. Siagakan tenaga keamanan. Cari pria dengan tato di belakang lehernya!" perintahnya dengan sekali tarikan nafas pada dua orang resepsionis yang masih mematung melihat pria di depannya murka.
"Yu, pergi ke ruang kendali. Lihat kemana orang itu pergi !" perintah Yoshiro sebelum berlari menaiki lift kembali ke ruangannya. Ia terlalu fokus dengan data penelitian Aira dan kehilangan kewaspadaan saat orang itu tiba-tiba masuk. Jika saja ia lebih waspada, rencana busuk pria itu pasti bisa ia gagalkan.
Sejak awal pria itu muncul di depannya, sudah membuat Yoshiro tak suka. Semua pengawal dan karyawannya selalu memanggilnya Yoshiro, tapi pria itu memanggilnya dengan Ebisawa, marga keluarga angkatnya. Dan kedua, hanya orang-orang tertentu seperti keluarga dan teman-teman di akademi yang boleh memanggil kekasihnya dengan nama kecilnya. Selain mereka, semua orang memanggilnya Ebisawa. Apalagi untuk seorang pengawal di sekitar mereka, tidak pantas memanggilnya Yu.
Netra Yoshiro menatap monitor kecil di atas pintu lift yang menampilkan angka dengan lambat. Ia tak sabar ingin segera menemui pria yang telah menculik Aira beberapa bulan yang lalu dan menghajarnya hingga babak belur.
Ting
Lift terbuka dan Yoshiro segera berlari masuk ke ruangannya namun hasilnya nihil, tak ada siapapun di sana dan laptopnya pun menghilang.
__ADS_1
Drrt drrt
Ponsel Yoshiro bergetar, telepon masuk dari Yu.
"Dia ada di atap." lapor Yu singkat sambil berlari, ia meninggalkan ruangan CCTV dan segera menaiki lift yang membawanya ke lantai paling atas gedung ini. Di waktu yang sama, Yoshiro menaiki tangga dengan berlari, berharap bisa secepatnya sampai di atas sebelum orang itu kabur.
Samar-samar terdengar suara baling-baling helikopter mendekat, membuat Yoshiro semakin mempercepat langkahnya. Dua anak tangga ia lewati sekaligus untuk mempersingkat waktu.
BAAMM
Yoshiro berhasil membuka pintu besi yang menjadi penghubung gedung dengan atap dan melihat helikopter itu mulai naik ke udara membawa seonggok daging bernyawa yang ia cari. Ia terlambat beberapa detik dan tidak berhasil menangkap target buruannya.
Pria itu tersenyum pongah sambil melambaikan laptop Yoshiro yang ada di tangannya. Ada begitu banyak data penting disana, tidak ada seorangpun yang berani menyentuhnya, bahkan Yu sekalipun. Dan sekarang ia memilikinya, sesuai perintah 'orang itu'.
BUGH
Yu sampai di atap saat Yoshiro sedang meninju tembok di depannya, melampiaskan kemarahan yang sedari tadi ia tahan. Ia kehilangan tawanannya dan data penelitian Aira. Apa yang harus ia katakan pada Ken nanti?
Kerlap kerlip lampu di seluruh penjuru kota metropolitan ini terlihat cantik, berpadu indah dengan gelapnya malam yang menyelimuti bumi. Seharusnya itu pemandangan yang menakjubkan, tapi tampaknya Yoshiro tak peduli dengan segala keindahan itu. Ia kesal, marah, merasa bodoh dan menyesal atas apa yang telah terjadi. Ia gegabah dan tidak bisa berpikir jernih.
"Gomen ne, Ai-chan.." lirih Yoshiro dengan rahang menegang, urat lehernya menonjol menunjukkan betapa murkanya ia saat ini. Dahinya menempel di tembok menyadari kebodohannya. Ia berjanji pada Ken akan secepatnya memberikan obat untuk kesembuhan Aira, namun kenyataannya ia justru kehilangan semua data yang ia butuhkan.
(Gomen ne : maaf)
"Aku bisa melacak micro chip yang ada di tubuhnya." ucap Yu sembari memegang bahu Yoshiro dari belakang, membuat pria itu seketika berbalik menatapnya.
"Kapan kamu menanamnya?" tanyanya heran.
"Saat dia tidak sadarkan diri setelah Ken membantainya." sebuah senyum miring tergambar di wajah cantiknya.
"Itu sudah terlalu lama, bukankah perlu pembaharuan agar lokasinya akurat?"
Yu menggeleng sambil tersenyum, "Itu hasil temuan Rara-chan saat di akademi." jawab Yu membanggakan Aira. Ya, ia lebih suka memanggil Rara daripada Aira. Dan si empunya nama tak pernah mempermasalahkan hal itu.
__ADS_1
"Kita bicarakan di ruanganku." Yoshiro menarik tangan gadisnya dari tempat lapang dengan huruf H besar di tengah lingkaran yang disebut helipad. Tampak dua helipad di atap gedung berbentuk oval itu.
Helipad adalah landasan untuk helikopter. Karena sifat helikopter yang bisa mendarat dan terbang secara vertikal, helipad tidak membutuhkan tempat yang terlalu luas dan bisa berada di mana saja selama tersedia cukup ruang bagi rotor/baling-baling helikopter. Helipad seringkali ditemui di atap gedung, rumah sakit, anjungan lepas pantai ataupun di atas kapal perang. Agar kelihatan dari udara, helipad ditandai dengan lingkaran dengan huruf H di tengahnya, atau cukup dengan huruf H saja.
"Aira menciptakan micro chip khusus?" tanya Yoshiro begitu keduanya menuruni tangga darurat. Ia menggenggam jemari Yu dengan erat dan menatap wajah cantiknya dari samping.
"Seharusnya aku tidak boleh mengatakan ini pada siapapun. Apa aku bisa mempercayaimu?" tanya Yu sangsi. Ia takut Yoshiro akan mengatakan ini pada Ken.
"Apa aku seasing itu untukmu?" Yoshiro sedikit tersinggung dan mengunci tubuh Yu ke tembok. Amarahnya masih tersisa, membuatnya tak bisa berpikir jernih dan menganggap Yu tak mempercayainya.
Sebuah senyum miring terlukis dengan sendirinya membuat Yoshiro menautkan kedua alisnya. Ia heran kenapa Yu tersenyum?
"Aku masih ingat saat kamu mengatakan bahwa tidak ada seorangpun yang bisa menjaga rahasia, kecuali ia menjadi mayat." jelasnya singkat.
Yoshiro melepaskan tangannya yang menempel di tembok. Ia melepaskan genggaman Yu dan berlanjut menuruni anak tangga di bawahnya dengan wajah datar. Ia menyadari satu fakta baru tentang dirinya. Sekarang ia mulai bodoh, seperti Ken yang menjadi bodoh di depan Aira. Karena apa? Tentu saja karena cinta.
'Cinta? Cih, menjijikkan.' Yoshiro berucap dalam hatinya, mempertanyakan perasaannya sendiri. Selain Erina dan Aira, tidak ada wanita yang terlihat menarik di matanya. Tapi entah kenapa ia justru jatuh ke dalam pelukan Yu setelah memutuskan untuk merelakan wanita dari Indonesia itu.
Ebisawa Yuzuki. Adik angkatnya yang terpaut 6 tahun darinya. Yuzuki berarti bulan yang lembut. Namun perangainya berbanding terbalik dengan artian itu. Yu adalah gadis tomboy yang sering berkelahi dengan temannya di sekolah dan akhirnya masuk ke akademi yang sama dengannya beberapa tahun kemudian. Tempat yang mempertemukannya dengan Aira.
"Apa kamu marah?" Yu menyusul Yoshiro dan berjalan dengan tergesa. Yoshiro mempercepat langkahnya agar Yu tak bisa melihat wajahnya yang memerah. Ia malu karena tiba-tiba saja ia lepas kendali. Perasaannya mengalahkan logika yang selama ini ia andalkan dalam menghadapi segala rintangan yang ada di depannya. Cinta menjadi kelemahannya saat ini.
Pertama, ia gagal fokus yang mengakibatkan pria itu berhasil mencuri laptopnya. Dan kedua, emosinya mudah tersulut hanya karena sedikit kata yang Yu ucapkan. Ia mulai mengerti kenapa Ken bisa bersikap sebegitu mengerikannya pada Aira. Tentu saja agar ia tidak kehilangan orang yang ia cintai dan mereka tetap bersama.
"Yoshiro-kun, berhenti atau aku tidak akan menceritakan tentang micro chip buatan Aira !!" ancam Yu.
***********
See you next day minna-san 🤗
Author lagi ngga feel cuap-cuap panjang lebar. Thanks buat kalian semua 😘😘
With love,
Hanazawa easzy ^,^
__ADS_1