
Yamaken membuka lembaran kertas di tangannya satu per satu, mengembuskan napas berat beberapa kali. Tampak wajahnya sedikit terbebani dengan informasi yang baru saja ia baca bermenit-menit yang lalu.
"Maaf membuat Anda menunggu." Suara Kosuke berhasil membuat Yamaken menoleh, menatap asisten pribadi kakaknya yang baru saja kembali dari ruang rapat.
"Tidak masalah. Aku tahu kamu memang sibuk. Justru aku yang harus meminta maaf karena sudah mengganggumu."
Kosuke menggeleng pelan sebelum menundukkan kepala. "Apa ada yang ingin Anda tanyakan, Tuan?"
"Ah, ada." Yamaken kembali menatap deretan huruf di atas kertas. "Dia Anna yang Ken katakan?" Pria rupawan itu menunjuk potret seorang wanita Rusia yang tercetak di atas kertas.
"Benar, Tuan."
"Apa dia pernah datang ke Jepang sebelumnya?" Yamaken tampak berpikir, "Maksudku, sebelum kedatangannya kali ini."
Kosuke membuka kembali ingatannya. Dia pernah mencari informasi itu sebelumnya atas perintah Ken.
"Tunggu sebentar. Saya masih menyimpan hard copy-nya jika tidak salah." Kosuke segera berlalu, membuka filling kabinet berisi dokumen rahasia milik Ken. Selama pria itu tidak ada, maka pengelolaan ruangan ini dan seluruh isi di dalamnya dilimpahkan pada Kosuke dan Minami.
"Jadi, kamu sudah mencari informasi tentang wanita itu sebelumnya?"
Kosuke mengangguk, mengiyakan pertanyaan tamunya. Kedua tangannya sibuk memilah dokumen mana yang akan diambilnya. Ada begitu banyak data rahasia yang ia himpun dari seluruh klien dan juga mitra bisnis tuannya.
"Tuan selalu menyuruh saya menghimpun data orang-orang itu, berjaga-jaga jika mungkin suatu saat dibutuhkan.
"Aku juga mendapat ini darinya." Yamaken menunjukkan lembaran kertas yang disatukan di tangannya.
"Itu hanya data diri. Yang saya miliki adalah data mobilitasnya yang pantas untuk dicurigai."
Pernyataan Kosuke membuat Yamaken mengerutkan kening. "Maksudmu, kakak selalu mengintai orang meski mereka tidak membuat masalah sama sekali?"
Kosuke kembali mengangguk, bahkan kali ini terpancar ekspresi kekaguman dari wajah pria 30 tahunan ini.
"Tuan selalu menjaga jarak aman dengan semua orang yang ada di sekitarnya. Jika mereka maju satu langkah, maka Tuan sudah mengambil langkah kedua. Begitu seterusnya."
Yamaken mengangkat satu sudut bibirnya. Dia tidak tahu kakak kembarnya begitu tanggap terhadap mereka yang bersinggungan dengannya sehari-hari.
"Jadi, bisa dikatakan bahwa orang-orang yang bertemu dengannya selalu melalui screening awal?"
Kosuke mengangguk. "Betul. Hanya ada satu orang yang tidak pernah saya cari datanya." Kosuke menghentikan gerakan tangannya, "Ah, lebih tepatnya saya tidak bisa menemukan data pribadi tentang orang itu. Sampai sekarang."
Seketika kening Yamaken berkerut. "Maksudmu?"
"Ada satu orang yang datanya benar-benar rahasia, tidak dimiliki oleh siapapun. Data pribadinya dilindungi negara, bahkan lebih rahasia dibandingkan kebijakan kepala negara itu sendiri. Saya tidak memiliki akses untuk menyentuhnya. Hanya Tuan Besar yang pernah melihatnya."
"Heih? Kakek?" Kerutan di kening Yamaken semakin dalam. "Ada orang seperti itu? Sampai membuat kakek turun tangan? Sehebat apa dia?" gumamnya lirih, tapi Kosuke masih bisa mendengarnya.
"Dia sangat hebat. Bahkan sampai sekarang keberadaannya seringkali membuat Tuan Muda kewalahan. Rasanya, dunia bisa orang itu jungkirbalikkan hanya dengan satu kata dari mulutnya."
Yamaken tidak bisa menahan rasa penasarannya lagi. "Siapa dia? Apa aku pernah bertemu dengannya?"
Kosuke terkekeh. "Tentu saja. Anda bahkan sangat mengenalnya."
"Eh? Aku mengenalnya?"
Yamaken menelengkan kepalanya ke samping kiri, membuka memori satu per satu tentang orang yang dikenalnya selama ini.
"Laki-laki atau perempuan?"
"Perempuan," jawab Kosuke, mengambil satu stopmap warna hitam yang bertuliskan nama Anna di bagian depannya.
"Perempuan? Mone-chan rasanya tidak mungkin. Dia tidak terlalu berbahaya."
Kosuke duduk di depan Yamaken, membuka dokumen di tangannya dan sekilas membaca deret tulisan yang berbaris rapi di sana deret demi deret.
"Apa itu Yu?"
Kosuke menggeleng, masih memusatkan atensinya pada kertas putih di depan matanya. Segaris senyum terlukis di wajah ovalnya, sedikit bermain tebak-tebakan dengan tuan muda keluarga Yamazaki yang jarang ditemuinya ini.
__ADS_1
"Ah, bukan Yu, ya? Aku bahkan sudah lama tidak melihatnya." Yamaken sibuk dengan narasinya sendiri. "Dia bukan orang yang berbahaya untuk kakak."
"Kaori-chan?"
Untuk kesekian kalinya pria dengan pakaian kotak-kotak itu menggeleng.
"Dia lebih berbahaya dari Tuan Muda. Mungkin hampir setara dengan kemampuan Tuan Besar. Dia bisa melakukan berbagai hal yang tak terduga dan mengejutkan siapa saja."
Seketika netra pemuda tampan 28 tahun ini segera membola. "Kakak ipar!" tukasnya tanpa keragu-raguan sama sekali. Selain ibu dan kakeknya, hanya Aira-lah satu-satunya yang berbahaya.
Kosuke mengangguk. "Benar. Itu nona Aira. Data pribadinya tidak pernah terekspose ke publik sama sekali. Bahkan saya kesulitan untuk mencari nama kecilnya dan seluruh cerita masa lalunya."
"Bagaimana bisa? Dia terlihat biasa saja." Yamaken mengingat sosok kakak iparnya. Dia terlihat sama saja seperti wanita lain pada umumnya, hanya jilbab penutup kepalanya saja yang membuatnya berbeda.
"Dia seorang agen khusus. Bukan hal yang sulit untuk menutup semua data pribadi seorang agen negara, menghapus seluruh jejak masa kecilnya dan menggunakan dokumen baru untuk menyelamatkan identitas aslinya."
Yamaken menggeleng cepat, tidak menyangka ada hal-hal seperti itu. "Bagaimana bisa ada rahasia itu dan aku tidak tahu?"
Kosuke terkekeh. Dia benar-benar merasa respon tuannya ini lucu.
"Jangankan Anda, Tuan Kenzo saja tidak menyadarinya. Nona menutupi identitasnya dengan begitu baik. Yang tahu hanya Tuan Besar dan tentu saja tuan Kobayashi yang menghimpun semua data pribadi nona dari ketua agen rahasia di Indonesia."
"Tapi..." Yamaken benar-benar belum bisa mempercayai hal itu. "Jika kakak ipar seorang agen rahasia yang begitu berbahaya, kenapa dia tidak melawan saat kakak menyiksanya malam itu?" Yamaken ingat beberapa waktu setelah Aira sah menjadi nyonya muda Yamazaki, Ken pernah menyabetnya dengan ikat pinggang sampai berdarah-darah.
"Kenapa kakak ipar tidak melakukan apapun saat itu. Membiarkan punggungnya terluka dan hampir pingsan."
Lagi-lagi calon ayah itu tersenyum. Dia juga pernah berpikir hal yang sama begitu tahu identitas Aira yang sebenarnya.
"Bukan seperti itu logikanya, Tuan."
"Maksudmu?" Yamaken melupakan tujuan utamanya datang ke tempat ini untuk bertanya segala sesuatu tentang Anna, justru sekarang sibuk membahas tentang kakak iparnya, Khumaira Latif.
"Kita berpikir bahwa dengan identitas nona Aira yang sebenarnya bisa menggunakan segala macam senjata, bahkan bisa melumpuhkan seratus orang musuhnya seorang diri, bukan hal yang sulit untuk melawan. Tapi, nona Aira justru memiliki kelas yang lebih tinggi dari itu."
"Hah? Kelas yang lebih tinggi?"
"Dan jika orang-orang ini tidak menyukai keberadaannya, dia bisa tumbang kapan saja tanpa persiapan apapun. Bukan hal yang mustahil bagi Tuan Kenzo untuk melumpuhkan satu orang ini, meski ia memiliki kemampuan yang begitu mumpuni sekalipun."
"Tapi aku tidak tahu kenapa kakak ipar tidak melakukan apapun untuk menjaga dirinya. Dia rela terluka, menahan perih yang tak terkira itu."
"Karena nona seorang petarung sejati."
"Petarung sejati?"
"Dia berpura-pura lemah, tapi justru itulah kekuatan terbesarnya, bertahan dalam kesakitan. Harga dirinya sebagai seorang agen rahasia lebih penting dari apapun."
"Dan kakek tahu tentang itu semua?"
Kosuke lagi-lagi mengangguk, mengiyakan prasangka lawan bicaranya. "Itu sebabnya Tuan Besar menerima nona Aira. Beliau bahkan melakukan segala cara agar nona tidak berpisah dengan tuan muda."
"Anda masih ingat saat Tuan Besar menghukum Tuan Muda dengan rotan?" Kosuke menggali ingatan kejadian yang terjadi setahun lalu, dimana kakek Subaru memukul betis Ken dengan rotan. "Bukan hanya satu rotan saja, bahkan sampai membuat beberapa batang kayu setengah kering itu patah jadi dua. Anda pasti bisa membayangkan seperti apa rasanya."
Yamaken bergidik ngeri. Ia masih ingat saat kecil juga pernah mendapat hukuman yang sama seperti itu, tapi tidak sampai membuat rotannya patah.
"Tuan Besar melakukan itu untuk 'menahan' nona Aira agar tidak pergi meninggalkan Tuan Muda."
"Heih? Aku sama sekali tidak tahu kisah di balik cerita itu. Aku terlalu abai dan tidak mengira hal seperti itu akhirnya terjadi pada saudara kembarku." Ekspresi kekaguman tergambar jelas di wajah aktor tampan satu ini. "Akhirnya dia mendapat seseorang yang tepat untuknya."
"Ah, ini yang Anda ingin tanyakan sebelumnya." Kosuke memberikan file di tangannya pada Yamaken. "Data mobilitas Anna."
Kening Yamaken berkerut. Dia hampir saja lupa jika Kosuke tidak menarik garis merah percakapan mereka sebelumnya.
"Anna pernah... ah, lebih tepatnya sudah mengunjungi Jepang beberapa kali. Dia cukup dekat dengan mendiang tuan Kamishiraishi Shu."
"Kami-Kamishiraishi Shu? Ayah kekasihku?"
Kosuke tak menyangkal, terlihat dari anggukan kepalanya. "Ya, benar, Tuan."
__ADS_1
Yamaken segera membuka lembar demi lembar kertas di tanganya. Disana tertulis jelas data kedatangan Anna ke Jepang bertahun-tahun yang lalu. Semua lengkap termasuk tanggal pulang dan pergi serta tujuannya datang kemari.
"Awalnya nona Anna datang untuk mengurus bisnis mendiang ayahnya. Dia sangat dihargai oleh orang-orang yang dulu berkiblat pada ayahnya. Hanya dalam sekejap saja, Anna mengambil alih bisnis dan bekerjasama dengan tuan Shu."
"Bahkan ada kabar burung bahwa keduanya terlibat urusan asmara, tapi tidak ada yang tahu kebenarannya kecuali dua orang itu sendiri. Banyak orang hanya menduga-duga saja. Dan seringkali praduga mereka itu tidak tepat atau bahkan melenceng jauh."
"Apa Mone tahu tentang hal itu?" Kali ini fokus Yamaken kembali teralihkan pada keadaan psikis calon istrinya. Mungkinkah dia tahu cerita seperti itu tentang mendiang ayahnya?
Kosuke tampak berpikir sejenak. "Saya tidak tahu detailnya. Tapi, nona Mone masih terlalu kecil saat itu. Mungkin dia belum mengerti keadaan yang ada."
"Bagaimana hal itu bisa teratasi?"
"Itu berkat tuan Takeshi, salah satu saudara jauh tuan Kamishiraishi. Beliau menikah dengan Anna dan menghalau semua kabar tidak menyenangkan yang ada. Setelah itu, hubungan Anna dan tuan Kamishiraishi tak lagi menjadi pergunjingan khalayak umum."
Yamaken bungkam. Dia terlalu sibuk dengan kamera dan lampu sorot, sampai tidak tahu masa lalu kekasihnya, calon istrinya.
"Bertahun-tahun setelahnya baik nona Anna maupun tuan Takeshi tidak pernah pulang ke Jepang. Mereka hanya datang berkunjung satu kali setiap tahunnya saat nona Mone merayakan ulang tahunnya. Hingga puncak kejadian dari semua itu adalah saat perayaan yang ke lima belas."
"Tentang penembakan itu?" Yamaken pernah mendengar kejadian itu.
"Ya. Penembak jitu yang diam-diam masuk ke pesta justru salah sasaran, atau lebih tepatnya tuan Kamishiraishi yang menggunakan tubuhnya sebagai tameng untuk melindungi anak angkatnya, Oguri-sama. Kejadian tak terduga itu membuat nona Mone kehilangan ayah kandungnya dan kemudian menghilang bertahun-tahun setelahnya."
"Anna menyesatkannya." Yamaken mengepalkan tangan di atas paha. "Ah bukan hanya Anna, suaminya itu juga tidak berbuat apapun. Dia pantas untuk disalahkan."
"Benar, Tuan." Kosuke mengangguk. "Tuan Takeshi tidak bisa melawan kehendak istrinya. Dia memilih mengorbankan dirinya agar Anna mati bersamanya. Tapi siapa yang menyangka bahwa masih ada yang bisa selamat dari ledakan hebat itu? Benar-benar berkat yang luar biasa untuk Anna."
Yamaken tidak berkomentar. Dia tidak terlalu peduli dengan keadaan Anna ataupun Takeshi. Yang menjadi fokus utamanya adalah keselamatan Mone nantinya.
"Ah, jadi dia tidak lagi datang setelah peristiwa malam itu?"
Kosuke menggeleng. Tidak sama sekali, Tuan. Tiba-tiba dia datang lagi dan menemui tuan Yuki. Menurut pengamatan Tuan Muda, Anna sengaja menyentuh 'orang luar' untuk mengambil nona Mone nantinya. Dan orang luar itu adalah tuan Yuki dan nona Kaori."
"Bisa jelaskan dengan lebih rinci?" Yamaken tidak bisa berpikir jernih. Fokusnya terganggu oleh bayang-bayang Mone dengan statusnya sebagai seorang Black Daimond.
"Kemungkinan besar Anna mengganggu kehidupan pribadi Kaori dan Shun, dengan menhadirkan Yuki diantara kehidupan pribadi keduanya. Dengan begitu, wanita itu berpikir bahwa Mone tidak akan ada lagi yang menjaganya."
"Dia ingin mengambil Mone kembali?"
Kosuke mengangguk. "Ya. Tuan Kenzo berpikir demikian. Calon istri Anda itu wanita yang sangat berharga. Dibandingkan sepuluh mafia biasa, tentu nona lebih berharga."
"Jadi tujuan utamanya adalah gadis milikku?" Yamaken menarik satu sudut bibirnya ke atas, membuat wajahnya begitu mirip dengan kakak kembarnya, Yamazaki Kenzo.
"Kalau begitu, ayo ikuti permainannya. Biarkan dia menyentuh orang luar. Kita cukup melihat sebelum akhirnya dia masuk ke dalam lubang yang digalinya sendiri."
Glek!
Kosuke menelan ludahnya. Dia tidak menyangka akan muncul aura menyeramkan dari pria tampan yang biasanya selalu tersenyum ini. Bagaiamanapun juga, darah yakuza mengalir di dalam tubuh pria 178 cm ini. Kosuke hampir saja melupakannya. Entah hal mengerikan apa yang bisa dilakukan oleh pria ini. Mungkin saja ia memiliki insting berburu yang sama dengan saudara kembarnya.
"Maaf, Tuan. Apa yang bisa saya bantu?" Kosuke kesulitan mencari kata yang tepat. "Maksud saya, kedatangan Anda kemari untuk..."
"Ken memintaku menggunakan earpiece kedepannya. Apa kamu punya? Dan tolong ajari aku bagaimana menggunakannya."
"Ah, saya sudah menyiapkannya. Tunggu sebentar, Tuan." Kosuke beranjak. Ia mengerti sekarang. Pantas saja Ken mengirimkan pesan, memintanya agar menyiapkan satu set alat komunikasi canggih seperti yang ia dan Minami selalu pakai.
"Apa tidak masalah bagiku menggunakan alat seperti ini?" Yamaken tampak meragu. Dia belum pernah melakukan misi rahasia ini sebelumnya, tentu saja merasa ragu dengan kemampuannya sendiri.
Meskipun pernah melihatnya di drama layar kaca, bukan berarti cara penggunaan earpiece akan semudah itu. Mereka yang memakainya di dunia nyata adalah orang-orang yang terlatih sebelumnya. Bahkan latihan fokus mereka memiliki tantangan tersendiri agar tetap produktif namun tidak mengabaikan komando dari suara di telinganya.
Kosuke tersenyum. "Bukan masalah sama sekali. Mari saya jelaskan cara menggunakan alat ini dan juga fungsinya."
Yamaken mengangguk, siap mendengarkan penjelasan dari Kosuke. Keduanya duduk berdekatan, sama-sama menatap kotak segi empat di tangan Kosuke yang siap di-unboxing detik berikutnya.
"Apa yang sedang kalian lakukan?" tanya sebuah suara, membuat dua pria beda kasta itu menoleh bersamaan, memaku pandang pada seorang wanita yang berdiri di ambang pintu.
* * *
Siapa yang datang? Sampai jumpa di bab berikutnya. See you...
__ADS_1
Hanazawa Easzy