Gangster Boy

Gangster Boy
Gangster Boy : Hadiah Anniversary


__ADS_3

"Terima kasih atas waktu yang Anda luangkan, Tuan. Saya berhutang banyak pada Anda," ucap Yuki sembari menundukkan kepala. Ia berpamitan karena urusannya dirasa sudah selesai.


"Tidak perlu sungkan. Ini sudah menjadi kewajiban saya," jawab Ken lugas.


Yuki menatap Kaori yang berdiri beberapa langkah darinya. Ia juga melirik seorang pria yang terlihat begitu cemburu, pria itu adalah calon suami Kaori. Entah siapa namanya, Yuki tidak tahu dan tidak ingin tahu.


"Ah, Ka-chan, sesekali pulanglah ke rumah. Ibu menantikanmu sepanjang waktu. Dia sangat merindukan kedatangan menantunya." Yuki mendekat ke arah Kaori yang tertegun mendengar ucapannya barusan.


"Semoga kamu bahagia dengannya. Selamat tinggal," bisik Yuki tepat di depan telinga Kaori. Ia mengucapkannya dengan sangat lirih, hanya Kaori yang dapat mendengarnya.


Cup


Yuki mencium kening Kaori beberapa detik, sebuah ciuman perpisahan. Hatinya bergemuruh, matanya berkaca-kaca saat menyadari bahwa ia harus merelakan cinta pertamanya yang sudah bertunangan dengan pria lain.


Hati Kaori mencelos, membuatnya menundukkan kepala. Kecupan Yuki di keningnya, membuat hatinya terasa perih. Luka masa lalu itu kembali berkelebat di kepalanya dan menyiksa batinnya. Pria yang ia cintai, tak bisa berbuat apa-apa saat ia diusir dari apartemen mereka. Bahkan Yuki juga tak berkutik saat ayahnya menunjukkan kediktatorannya, mendeportasi Kaori kembali ke Jepang dengan alasan izin tinggal sudah habis. Padahal jelas-jelas Kaori baru memperbarui izin tinggalnya dua bulan yang lalu. Namun Kaori memilih diam. Ia pulang ke tanah kelahirannya dengan hati hancur.


Langkah Yuki terasa begitu berat. Ia tidak ingin meninggalkan Kaori. Ia ingin bercengkerama lebih lama lagi, menanyakan bagaimana keadaannya, bagaimana keadaan ibu dan ayahnya. Ingin sekali ia datang mengunjungi ibu Kaori, namun itu mustahil. Ayahnya pasti akan menghukumnya jika beliau tahu.


Perpisahan mereka tiga tahun lalu adalah kehendak ayahnya, tuan Hayato Harada. Ia dan Kaori sebenarnya masih saling mencintai satu sama lain. Tapi dominasi pria paruh baya itu membuat hubungan mereka tak bisa lagi dilanjutkan. Pernikahannya dengan Kaori yang baru berjalan setengah tahun, harus kandas dihempas kekuasaan ayahnya. Ayah yang pemaksa dan mementingkan egonya sendiri.


"Jaga dirimu baik-baik. Aku pergi," pamit Yuki sebelum benar-benar melangkah keluar dari ruangan ini. Ia menguatkan diri, berusaha terlihat baik-baik saja di depan semua orang. Padahal hatinya kembali sakit, seolah ada luka sayatan yang dalam dan memanjang di sana.


Yuki masuk ke dalam mobilnya yang bergerak meninggalkan pelataran parkir Miracle Corporation. Ia kembali mengingat masa-masa indahnya dengan Kaori saat masih bersama. Yamada Kaori, wanita itu berhasil membuatnya jatuh hati. Mereka tidak sengaja bertemu di pantai saat liburan musim panas. Saat itu Kaori yang berusia lima belas tahun, baru belajar selancar bersama teman-temannya. Tiba-tiba ombak besar datang dan membuat gadis mungil itu hampir tergulung ombak. Ia panik dan membuatnya tenggelam detik berikutnya.


Yuki yang saat itu ada di atas papan seluncurnya, siap menerjang ombak, memilih melepaskan kait yang ada di kakinya. Ia menyelam demi menyelamatkan Kaori. Sejak saat itu mereka intens berkomunikasi dan akhirnya saling jatuh cinta. Ia pula yang mengajari Kaori berselancar.


Hubungan mereka mendapat restu dari orang tua masing-masing dan akhirnya menikah saat Kaori berusia 25tahun. Sayang sekali, kisah manis mereka harus terhenti enam bulan kemudian. Kaori kembali ke Jepang dan mereka tidak pernah berkomunikasi sama sekali. Hanya Ayana, adik Yuki, yang sesekali berkirim pesan menanyakan keadaan masing-masing.


Dari Ayana jualah, Yuki tahu bahwa Kaori sudah bertunangan dengan seorang pria yang satu tahun lebih muda darinya.


"Tuan...."


Lamunan Yuki terhenti saat mendengar panggilan dari supirnya di balik kemudi. Ia segera mengatur emosinya dan bersikap sebiasa mungkin.


"Kita kembali ke kantor atau ada tempat yang ingin Anda kunjungi?" tanya pria berpakaian hitam itu dengan sopan.


"Kita ke pantai," jawabnya getir. Ia ingin membuang penat sejenak. Bersiap merelakan kenangannya bersama Kaori, untuk selanjutnya mendoakan kebaikannya. Ia mencintai Kaori, tapi takdir berkata lain. Mereka harus berpisah, jadilah ia harus merelakannya. Satu-satunya hal yang bisa ia lakukan adalah mendoakan kebaikan dan kebahagiaan untuk wanita cantik itu.


Yuki duduk diam di atas pasir pantai hingga matahari terbenam. Ia tak peduli pada pakaiannya yang kotor terkena pasir. Ia baru pergi saat matahari benar-benar tak terlihat lagi. Ia memutuskan untuk pulang ke rumah menemui ibunya.


Perasaannya pada Kaori harus ia hentikan disini. Sudah saatnya ia menyelesaikan permasalahan yang menyangkut ibunya, nyonya Suzuki Harada.


"Kamu sudah pulang, Sayang?" sambut wanita lima puluh tahunan itu pada putra sulungnya. Ia mendekat begitu melihat Yuki turun dari mobil hitamnya.


"Ibu, mari bicara." Yuki berucap dengan nada dingin dan tegas, membuat nyonya Suzuki terhenyak.


"Ada apa denganmu? Ada masalah di kantor? Atau ada klien yang menyebalkan? Bisakah kamu mengatakannya pada ibu? Biarkan ibu dan ayah yang akan mengurus mereka," ucap wanita itu. Ia mengikuti langkah kaki Yuki dengan tergesa.


"Sayangku, ada apa? Kenapa ada pasir di bajumu? Kamu pergi ke pantai?" nyonya Suzuki berdiri di depan Yuki yang duduk di kursi sofa. Ia heran melihat penampilan anak kesayangannya ini yang tampak kacau, tidak seperti biasanya.


"Dimana ayah?" tanya Yuki, mengabaikan pertanyaan beruntun ibunya.


"Ayah? Ayahmu? Dia belum pulang. Ada apa?" heran nyonya Suzuki.

__ADS_1


"Bu," lirihnya dengan suara tercekat di tenggorokan.


"Umm. Ibu disini," jawabnya lemah lembut. Ia siap mendengarkan segala keluh kesah yang akan putranya sampaikan.


"Aku bertemu Kaori," ungkap Yuki lirih, namun masih bisa tertangkap indera pendengaran ibunya.


Deg!


Tangan nyonya Suzuki yang sedari tadi bertengger di atas kepala Yuki, seketika kembali ke sisi badannya sendiri. Ia menelan ludahnya dengan paksa, guna membasahi kerongkongannya yang mengering.


"Apa dia baik-baik saja?" tanya nyonya Suzuki dengan suara bergetar. Ia sangat menyayangi mantan menantunya itu, namun suaminya melarangnya menemui Kaori.


Yuki mengangguk, "Ya. Dia baik-baik saja. Bahkan sangat baik," jawabnya lirih. Ia tidak tega mengatakan pada ibunya bahwa Kaori akan menikah dengan orang lain. Bisa-bisa wanita itu menangis tersedu-sedu, sedih dan kecewa berkepanjangan.


"Bu, bagaimana pengobatan wajah yang ibu lakukan? Semuanya lancar?" tanya Yuki berusaha mengalihkan pembicaraan dari hal yang cukup sensitif ini.


Nyonya Suzuki menghapus air matanya. Ia tersenyum pada Yuki yang tahun ini genap memasuki usia kepala tiga.


"Tidak ada masalah. Wajah ibu sudah sembuh sekarang. Lihat lah, jadi semakin cantik kan?"tanyanya mencoba berkelakar.


Yuki tersenyum, "Syukurlah. Aku ikut berbahagia untuk ibu. Tapi, bisakah ibu ceritakan bagaimana awalnya?"


Dan nyonya besar di keluarga Harada itu menceritakan semuanya pada putranya ini. Ia mengakui kesalahannya yang gemar memakai dua atau tiga produk perawatan kecantikan secara bersamaan. Ia juga berjanji tidak akan melakukan kesalahannya lagi di masa yang akan datang.


...****************...


Matahari terbit di ufuk timur saat Aira membantu Ken mengambil pakaian di lemari. Ia sendiri sudah rapi, dalam balutan gaun berwarna merah muda. Jilbab dengan warna yang sama sudah terpasang rapi menutupi mahkotanya.


"Ken, belum selesai?" tanya Aira setelah mengetuk pintu kamar mandi di depannya.


"Aku akan segera keluar."


Detik berikutnya, sesosok pria tampan berdiri di ambang pintu. Ia mengenakan kimono mandi seperti biasanya, dengan rambut basah yang tertutup handuk.


Sebelumnya, Ken sama seperti orang-orang Jepang lainnya. Ia hanya akan mandi satu kali di malam hari, sepulang mereka bekerja. Mereka beranggapan pagi hari tidak perlu mandi karena tubuh mereka tidak berkeringat saat tidur. Cukup cuci muka dan sikat gigi, kemudian pergi bekerja.


Tapi, semenjak menikah dengan Aira, ia jadi rajin mandi pagi. Selain karena kewajibannya untuk menyucikan diri setelah bergulat dengan Aira, nyatanya itu membuat ia lebih bersemangat dan fresh. Seperti yang terjadi pagi ini. Ia dan Aira tidak melakukan apapun semalam, hanya berdiskusi mencari titik terang permasalahan rumit ini. Tapi, paginya Ken tetap mandi dan membasahi rambutnya.


"Sudah ku katakan jangan membasahi rambutmu. Kamu bisa sakit!" titah Aira. Ia meletakkan pakaian yang ada di tangannya ke atas ranjang dan segera mendekat ke arah suaminya yang duduk di depan cermin.


Tangannya sigap mengusap handuk di kepala suaminya, menyerap air dari sana sebanyak-banyaknya.


"Itu hanya mitos." Ken berkilah. Ia menyerahkan hairdryer berwarna hitam pada istrinya, meminta bantuan untuk mengeringkan rambut.


"Dasar manja! Kamu bisa melakukan itu sendiri!" ketusnya sambil tersenyum, namun tak ayal menerima benda bulat itu dengan suka rela. Pandangan mereka beradu melalui bayangan yang terpantul di cermin, saling mengulas senyum terbaik yang mereka miliki.


"Besok anniversary pertama kita. Apa yang kamu inginkan?" tanya Ken di sela-sela deru hairdryer yang bergerak di atas kepalanya.


"Apa? Aku tidak bisa mendengar pertanyaanmu," ungkap Aira. Suara Ken terlalu lemah, kalah dari mesin kecil di tangannya ini.


Srett


Ken berbalik setelah mencabut kabel berwarna hitam dari stop kontak, membuat dinamo kecil yang ada di dalam alat pengering rambut itu berhenti berputar. Ia memeluk pinggang Aira dengan erat.

__ADS_1


"Besok satu tahun pernikahan kita. Apa kamu ingin sesuatu?" tanya Ken lembut. Ia menengadahkan kepalanya, menatap wajah bulat Aira dari bawah.


"Tidak. Aku tidak menginginkan apapun." Aira tersenyum dan menangkup kedua pipi suaminya setelah meletakkan pengering rambut itu di atas meja, di belakang Ken.


"Sungguh? Tidak ingin apapun?" tanya Ken memastikan.


"Umm. Aku sudah memiliki segalanya. Suami yang mencintaiku, anak-anak yang menggemaskan, keluarga yang hangat. Apa lagi yang kurang?" Aira sedikit menundukkan badannya, menempelkan hidungnya di atas hidung mancung Ken.


Ken tersenyum. Ia bangga pada istrinya yang begitu sederhana ini. Biasanya, para wanita akan meminta perhiasan edisi terbatas, mobil mewah, tas branded, wisata kapal pesiar, ataupun liburan ke luar negeri sebagai kado ulang tahun pernikahan pertamanya. Tapi Aira? Ia tidak menginginkan apapun. Padahal ia tahu, Ken pasti mampu mewujudkan semua yang ia inginkan. Materi bukan hal yang penting untuknya. Ia memiliki pundi-pundi uang yang banyak, tidak akan habis meski mereka berkeliling dunia setahun penuh.


"Kamu tidak bertanya padaku, apa yang aku inginkan?" goda Ken.


"Tidak. Aku sudah tahu apa yang kamu inginkan." Aira menggeleng tanpa menarik diri. Bahkan kini kening mereka saling menempel, membuat Ken bisa merasakan embusan napas hangat yang keluar dari hidung istrinya.


"Memangnya apa yang aku inginkan?" tanya Ken mengetes Aira. Ia ingin tahu apa jawaban istrinya.


"Pasti kamu akan menjawab, 'Aku menginginkanmu'. Iya 'kan?"


"Salah!"


Srett


Ken mengangkat tubuh mungil istrinya sebelum mendudukkannya di atas pangkuan. Ia menghirup aroma lavender yang menempel di jilbab Aira.


Aira mendorong dada Ken, membuat mereka kembali berjarak. "Memangnya apa yang kamu inginkan?" tanya Aira pada akhirnya. Ia sendiri penasaran dengan keinginan suaminya. Pasti itu berhubungan dengan hasrat terpendamnya. Aira tahu itu.


"Kamu akan mengabulkannya?"


"Tidak tahu." Aira mengangkat kedua bahunya. "Tergantung permintaanmu."


"Kamu benar-benar ingin tahu yang kuinginkan?" pancing Ken.


"Tidak mau mengatakannya ya sudah," ketus Aira, enggan menanggapi pancingan suaminya.


"Aku ingin anak perempuan untuk menemani Aya bermain," bisik Ken di telinga istrinya.


Blush


Wajah Aira memerah seketika. "Dasar mesum!" pekik Aira sembari meninggalkan suaminya. Ia pergi keluar dari kamar ini, menghindar dari bahaya yang mengancamnya.


Melihat respon istrinya, membuat Ken tersenyum lebar. Airanya yang malu-malu kucing saat digoda, sungguh menggemaskan. Ken sangat menyukainya.


"Sayang, aku akan bersabar beberapa hari ini. Setelahnya, jangan harap aku akan melepaskanmu!" gumam Ken dengan senyum iblis terukir di wajah tampannya.


...****************...


Waaaahhh bahaya nih. Aira bener-bener dalam bahaya 😂😂😂😂


Author ngga ikut-ikutan yaa Ai, hahaha 😆😆


See you,


Hanazawa Easzy

__ADS_1


__ADS_2